
Letticia hanya melotot melihat Halley. Dia mengenakan pakaian serba hitam dan topeng seperti pencuri.
"Hhh... Kurasa ini bahkan lebih gila dari ide Letticia mencari pohon putih beberapa hari yang lalu," Amara memijat kepalanya.
"Aku tidak gila," bantah Halley. Dia hanya ingin menyelidiki teman sebangku yang misterius. Dari ekspresi Pershe, Halley sudah menebak bahwa gadis itu memiliki waktu yang tidak menyenangkan di hidupnya. Itulah yang harus Halley selidiki dan mencoba mendekati Pershe.
Setelah bersiap, Halley terbang ke luar kamar dengan kekuatan anginnya. Letticia hanya memelototi Halley yang mungkin memiliki kemungkinan besar masuk rumah sakit jiwa karena didiagnosis memiliki obsesi berlebihan pada Pershe dan bahkan mengambil resiko nyawa untuk itu.
"Kurasa aku tidak gila sendirian," canda Letticia.
"Mungkin kau benar," balas Ashley.
...****************...
"Di mana ini?"
Karena terlalu bersemangat, kini Halley tersesat dan entah berada di mana. Dia menyesal menolak Charlotte yang berniat mengajarinya denah kota ini.
Halley berputar-putar tanpa arah. Hingga dia sampai di atas sebuah hutan. Di bawah, Halley bisa melihat sekelompok orang yang terdiri dari sebagian besar pria dan beberapa wanita. Di depan barisan, tampak seorang pria dengan seorang wanita di sampingnya yang sepertinya adalah istrinya.
"Pasti mereka berdua adalah kepala suku dan istrinya," batin Halley, "Untung aku pakai celana. Kalau tidak, akan kelihatan dari bawah sana."
Tiba-tiba, Halley merasa pusing. Dia merasa tidak bertenaga dan sihir anginnya perlahan melemah. Hal ini membuat Halley jatuh dengan kecepatan tinggi.
Alih-alih rasa sakit yang diberikan malaikat pencabut nyawa, Halley merasa ditangkap. Dalam hati, dia bersyukur dan berterima kasih pada siapapun yang sudah menyelamatkan nyawanya. Halley membuka mata dan melihat beberapa anggota suku yang menangkap dirinya.
"Terima ka-"
"Kau kami sandera!"
"Apa?!"
...****************...
Letticia berjalan berputar-putar. Dia merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Seperti telah terjadi sesuatu yang buruk.
"Ada apa?" tanya Amara heran melihat sahabatnya yang terus berputar seperti gasing dan bolak-balik seperti setrika.
"Aku punya firasat buruk," jawab Letticia gelisah. Sangat jarang firasatnya salah. Kini dia punya firasat buruk. Tapi siapa yang sedang mengalami hal itu saat ini?
"Halley belum kembali," kata Lucia yang mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Apa mungkin dia..."
...****************...
Halley membuka mata. Dia merasakan sedikit rasa sakit pada tubuhnya. Sepertinya suku itu membuatnya pingsan.
Tiba-tiba, pintu ruangan tempat Halley berada terbuka. Muncul kepala suku yang dia lihat tadi beserta beberapa pengawalnya. Kepala suku itu memperhatikan Halley dari atas sampai bawah.
"Jangan sentuh aku!" seru Halley saat kepala suku itu mulai mendekat.
Kepala suku tertawa, "Haha aku sudah punya istri dan anak. Lagipula apa menariknya kau?"
Halley kesal. Kepala suku ini mengejeknya. Memang benar postur tubuh Halley tidak menarik, tapi dia sangat tidak suka kalau ada orang yang membicarakannya. Sekarang dia harus menahan diri untuk tidak marah pada kepala suku ini. Halley tidak sepenuhnya bodoh, dia masih bisa membaca situasi. Kini dia berada di wilayah musuh. Akan sulit baginya untuk berontak dan kabur.
"Jadi kau Halley?" tanya kepala suku.
"Ya," jawab Halley singkat. Dia sudah membenci kepala suku ini, bahkan sejak pertama melihatnya. Halley bisa merasakak aura tidak baik dari kepala suku ini.
__ADS_1
Kepala suku berputar mengitari Halley. Dia memeriksa setiap anggota tubuh Halley, kecuali area pribadi tentu saja. Setelah selesai memeriksa, kepala suku itu tampak cukup puas.
"Kau memenuhi syarat untuk dikorbankan besok."
Halley kaget. Dikorbankan? Apa maksud semua omong kosong ini?!
"Kenapa aku? Aku tidak membuat kesalahan apapun dan kalian ingin mengorbankanku begitu saja?" tanya Halley tidak terima.
"Yah, itu nasibmu. Andai kau tidak cocok, kami akan melepaskanmu. Sayangnya kau cocok. Jadi kami akan mengorbankanmu," jawab sang kepala suku seolah tak bersalah. Halley menjadi semakin geram karenanya.
"Jaga dia dengan baik. Kalian akan mati kalau dia kabur. Aku sudah memblokir sihir transportasinya," kata kepala suku.
"Baik, tuan," jawab ketiga penjaga sambil membungkuk. Lalu kepala suku meninggalkan ruangan.
"Tidak, aku harus kabur," batin Halley. Dia belum mau mati. Selagi hidup, ada kesempatan.
Halley mengamati ketiga penjaga di sekitarnya. Ketiga penjaga ini terlihat bodoh. Sepertinya mereka adalah lawan yang cukup mudah. Hanya perlu sedikit dikelabui saja.
Halley mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia melihat sebuah jendela kecil yang terletak cukup tinggi. Tapi Halley tidak bisa terbang secara terang-terangan, karena para penjaga akan langsung menyerangnya yang bisa membuatnya kehilangan fokus dan keseimbangan. Karena itu, Halley harus melumpuhkan penjaga-penjaga ini dulu.
"Kepala suku kalian sungguh bisa memblokir sihir teleportasi?" tanya Halley.
"Tentu saja."
"Wow dia sangat hebat."
"Haha dia memang sangat hebat. Seharusnya kau merasa terhormat dikorbankan untuk suku dengan kepala suku yang kuat seperti suku kami."
Halley tersenyum puas. Penjaga ini arogan dan membanggakan kepala sukunya berlebihan. Ini akan jauh lebih mudah.
"Aku tidak berniat meragukan, tapi aku ingin mencobanya," kata Halley, mulai menjalankan rencana.
"Kau meragukan kepala suku kami?!"
"Kau akan mati. Bagaimana bisa bekerja sama?"
"Kalian hanya tidak tahu. Setelah mati, sihir milik orang tersebut akan pindah ke orang yang membunuhnya. Karena itu, aku akan menyesuaikan sihirku dengan sihir kepala suku."
Note : Itu tidak benar.
Penjaga berpikir sebentar. Dua penjaga maju dan melepas ikatan Halley. Kini Halley bebas. Rencananya tinggal beberapa tahap saja.
Halley mulai berkeliling ruangan, seakan memeriksa aura dan kekuatan sihir kepala suku. Nyatanya, dia membuat perisai kedap suara, sehingga ketiga penjaga bodoh itu tidak bisa minta bantuan nanti.
Halley mengangguk-angguk. Wajahnya menunjukkan kalau sihir kepala suku memuaskan. Halley memang sangat pandai dalam hal akting. Kadang, dia dan saudara-saudaranya membuat drama sewaktu kecil. Dan akting Halley adalah yang terbaik.
"Sihir kepala suku kalian sangat bagus," puji Halley.
"Haha tentu saja. Kepala suku memang harus kuat."
"Tapi maafkan aku."
"Hah?"
Halley mengikat ketiga penjaga itu dengan petir. Lalu dia segera terbang ke jendela dan pergi ke luar.
"Sial! Kau menipu kami!"
Halley terbang dengan tergesa-gesa, tapi berusaha menenangkan diri, atau dia bisa jatuh. Hanya butuh hitungan detik bagi anggota suku yang lain untuk menyadari kepergiannya. Kini mereka mulai mengejarnya.
__ADS_1
"Sial! Seharusnya aku mempelajari sihir menghilang!" umpat Halley. Dia tidak tahu sihir itu akan sangat berguna sekarang.
Halley melihat ke belakang. Kepala suku sudah mulai mengejarnya. Kepala suku juga menggunakan sihir angin untuk terbang. Kini mereka berdua kejar-kejaran di langit.
Halley mempercepat lajunya. Dia tidak boleh tertangkap, atau kemungkinan tidak akan ada kesempatan lari lagi.
"Kutangkap kau!"
Saat Halley berbalik, tangan kepala suku akan segera menggapainya. Halley menutup mata, bersiap untuk yang terburuk. Dia sudah berusaha mengikhlaskan semuanya dan siap dengan apa saja yang akan terjadi dengannya.
Anehnya, Halley tidak merasakan tangan apapun yang menyentuhnya. Sakit juga tidak. Sebaliknya, Halley merasa dipeluk seseorang dari belakang.
Halley membuka mata. Tampak Letticia terbang dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi darinya tadi.
"Bodoh! Kau akan kuhukum nanti!" omel Letticia. Halley mungkin akan mati kalau tidak diselamatkan.
"Maaf," ucap Halley merasa bersalah. Ini hari pertamanya dan dia sudah hampir mati.
Kepala suku tidak menyerah. Dia mempercepat kecepatannya dan terus mengejar tanpa tahu siapa lawannya.
"Sepertinya kepala suku dan suku itu harus dilenyapkan, atau mereka bisa membuat masalah lagi," batin Letticia.
Letticia turun perlahan ke tanah. Dia menyerahkan Halley pada Amara dan teman-temannya tanpa berkata apa-apa. Lokasi ini cukup jauh dari suku tadi, jadi kecil kemungkinan mereka akan sampai ke sini. Kecuali kepala suku. Tapi Letticia akan segera membereskan pria itu.
Letticia segera kembali terbang. Walau bingung dengan apa yang Letticia lakukan, Halley tidak berkata apa-apa dan yakin Letticia tahu apa yang dilakukannya.
"Hoho anak itu kabur. Tapi kau bisa menjadi penggantinya," kata kepala suku angkuh saat melihat Letticia.
Letticia tidak bicara. Dia langsung menyerang kepala suku dengan angin, membuat sang kepala suku hampir kehilangan keseimbangan.
"Menyerang tiba-tiba itu tidak baik, nona," kata kepala suku.
Kepala suku langsung menyerang Letticia dengan tornado petir. Dia tertawa puas, karena sangat jarang ada orang yang bisa bertahan terkena tornado petir saat terbang.
Tiba-tiba, muncul sesuatu dari balik tornado kencang dengan petir menyambar. Tidak. Itu bukan sesuatu. Itu seseorang.
"Wah, wah, wah. Tidak disangka aku bertemu lawan yang selevel," kata kepala suku cukup kagum Letticia bisa selamat dari tornado petir tanpa luka.
Letticia menyerang kepala suku dengan satu serangan. Tapi satu serangan sudah cukup untuk membuat kepala suku angkuh itu jatuh dan pingsan.
"Aku harus membunuhnya," batin Letticia.
Letticia turun ke bawah. Dia menyerang kepala suku. Kepala suku tersebut langsung mati. Tak sampai disana, Letticia memusnahkan ingatan dari jiwa dan tubuh kepala suku. Ini agar sang kepala suku masih bisa bereinkarnasi, tapi tidak memiliki ingatan sehingga tidak bisa balas dendam.
Awalnya, Letticia berniat membunuh seluruh anggota suku tersebut, karena mereka bisa menciptakan masalah nanti. Tapi dia kasihan karena melihat banyak dari mereka punya keluarga, sehingga Letticia hanya mengurung mereka dalam sebuah kubah dimensi lain.
Letticia kembali ke teman-temannya.
"Berhasil?" tanya Flo.
"Tentu saja," jawab Letticia, bangga dengan dirinya sendiri.
"Kurasa nasibmu tidak akan baik?" bisik Emily pada Halley saat melihat Letticia menatap Halley dengan tatapan yang tidak biasa.
Halley gugup. Dia hampir mati hari ini dan sudah merepotkan teman-temannya. Dan itu semua terjadi karena dia tidak mendengarkan Letticia.
"Kau tahu salahmu?" Letticia mulai menginterogasi Halley.
"Tahu..." jawab Halley lesu. Mungkin setelah ini akan lebih buruk daripada dikorbankan suku tadi.
__ADS_1
"Maka kau harus bertanggungjawab."
...****************...