Ice Princess

Ice Princess
Keangkuhan Evoria


__ADS_3

Letticia mematut dirinya di depan cermin sekali lagi. Dia ingin melihat bagaimana dirinya memakai seragam sekolah ini.


"Sepertinya seragam ini cukup cocok untukku," pikir Letticia.


"Ayo kita pergi ke kelas. Pelajaran pertama adalah pengendalian sihir dan Miss Evoria akan membunuh kita kalau terlambat," kata Ashley.


"Apa dia galak?" tanya Amara penasaran.


"Dia guru tergalak di sekolah ini," jawab Charlotte, "Dan dia juga masuk dalam 10 besar guru terkuat. Tidak ada murid yang bisa mengalahkannya selama ini."


Letticia santai saja. Mau guru terkuat sekalipun tidak akan bisa melawannya. Terutama sihir es yang menjadi sihir andalannya.


Mereka bertujuh keluar dari kamar. Letticia dan Charlotte melihat Maria yang juga baru keluar dari kamarnya. Hanya dia seorang. Sepertinya dia terlambat dan ditinggalkan oleh teman-temannya.


"Maria!" mereka berdua menghampiri Maria.


Maria menoleh, "Letti! Lotte!"


Letticia tertawa mendengar nama panggilan yang dibuat Maria.


"Kenapa kau sendirian? Di mana Ahase, Ying, Karina, dan Joana?" tanya Charlotte.


"Aku terlambat, jadi mereka terpaksa meninggalkanku. Ahase sakit dan tidak masuk hari ini," jawab Maria.


Mereka berangkat bersama. Letticia mengamati sekolah ini. Guru-gurunya terlihat profesional dan cukup kuat. Walau beberapa guru agak galak, tapi Letticia bisa melihat bahwa mereka hanya berusaha membuat murid-muridnya lebih giat belajar. Menurut Letticia, itulah tipe guru yang bagus.


Tak lama, mereka sampai di kelas pengendalian sihir. Letticia duduk di bangku kosong bersama Amara. Sementara Flo duduk dengan Emily, Lucia dengan Charlotte, dan Ashley dengan Maria.


Beberapa detik setelah mereka duduk, seorang guru yang terlihat angkuh.


"Dia pasti Miss Evoria," pikir Letticia.


"Nampaknya ada 4 murid baru di sini. Silahkan perkenalkan diri kalian," kata Evoria, bahkan tanpa salam terlebih dahulu.


Letticia dan ketiga sahabatnya maju ke depan dan memperkenalkan diri beserta elemen mereka. Letticia hanya menyebutkan elemen air dan petir. Dia tidak ingin membongkar identitasnya kalau tidak terpaksa.

__ADS_1


Selesai memperkenalkan diri, mereka berempat kembali ke kursi masing-masing. Evoria langsung memulai pelajaran.


"Amara, coba bentuk airmu menjadi sesuatu," perintah Evoria.


Amara mencoba. Tapi ternyata dia gagal. Air yang berusaha dia kendalikan jatuh ke lantai. Maklum, ini pertama kali Amara mencoba. Hampir semua orang akan gagal di percobaan pertama.


Evoria marah. Dia tak peduli bahwa ini adalah percobaan pertama Amara. Saat Evoria akan mengurung Amara dalam jeruji petir, Letticia datang secepat kilat dan menyelamatkan Amara.


"Berani-beraninya kau!" seru Evoria marah.


"Ini percobaan pertama Amara. Kenapa Miss begitu marah?" tanya Letticia santai. Dia mendudukkan Amara kembali di kursinya.


Evoria sangat kesal. Dia menyerang Letticia dengan air bercampur petir. Tapi bukan Letticia namanya kalau tidak bisa menghindar dan menyerang balik.


Letticia menggunakan sihir cermin. Sihir itu menahan dan memantulkan serangan Evoria kembali padanya.


"Akhh!" Evoria berusaha mati-matian menggunakan perisai untuk menahan sihirnya sendiri.


"Wow dia bisa menggunakan cermin!"


Note : Sihir cermin adalah sihir yang cukup sulit. Bahkan Evoria sendiri tidak bisa melakukannya.


Letticia sudah terlalu muak dengan keangkuhan Evoria. Dia menggunakan sihir esnya dan membekukan tubuh Evoria kecuali kepalanya, serta menyegel semua sihirnya.


"SIHIR ES!" seru seisi kelas kaget.


Letticia berjalan perlahan ke arah Evoria. Sekarang Evoria tak berdaya, mengetahui Letticia memiliki sihir es.


"Ka-kau..." Evoria tergagap, "Tuan putri?"


"Sekarang kau tahu itu," kata Letticia dingin.


Evoria menggigil ketakutan. Walau guru terkuat atau bahkan kepala sekolah sekalipun melawan Letticia, mereka tidak akan bisa menang. Terutama melawan sihir esnya.


"Dami, lelehkan es ini!" perintah Evoria pada Dami, anak yang memiliki elemen api.

__ADS_1


Dami menurut. Dia takut dihukum. Dami pun mencoba melelehkan es yang dibuat Letticia.


Namun sekuat apapun Dami mencoba, es itu tidak meleleh sedikitpun.


"Es ini tidak akan bisa meleleh dengan elemen api di bawah level 6, Miss Evoria," kata Letticia dengan smirknya.


"A-apa?!" seru Evoria kaget. Di sekolah ini, hanya satu penjaga ruang bawah tanah dan kepala sekolah yang memiliki elemen api level 6.


Note : Elemen api adalah salah satu elemen yang palit sulit ditingkatkan dan elemen ini cukup langka dibandingkan elemen lainnya.


Kini Evoria tak punya pilihan. Dia tidak ingin mati membeku di dalam es itu.


"Maafkan saya, tuan putri. Saya tidak tahu bahwa anda adalah tuan putri kerajaan Morton," ucap Evoria ketakutan.


Letticia hanya menatap dingin. Dia melelehkan es yang dibuatnya dengan elemen api miliknya. Lalu menghilangkan air bekas lelehan yang tersisa di lantai.


Evoria membungkuk pada Letticia. Lalu dia meninggalkan kelas begitu saja. Sepertinya Evoria sudah terlalu ketakutan untuk mengajar di kelas itu lagi.


Letticia kembali ke tempat duduknya dengan santai. Semua murid menatapnya. Mereka bersyukur tidak ikut campur atau mengganggu Letticia selama ini. Jika tidak, maka nyawa mereka bisa melayang detik itu juga.


Beberapa menit kemudian, seorang guru lain datang. Sepertinya dia menggantikan Evoria yang sudah terlalu takut untuk mengajar lagi.


"Ada apa di kelas ini sampai Miss Evoria ketakutan?" tanya Talie pada seisi kelas.


Ashley mengangkat tangan,


"Miss Evoria menyuruh Amara membentuk sesuatu dengan airnya. Tapi ini adalah percobaan pertama Amara, dan tentu saja dia gagal. Tapi Miss Evoria malah marah dan berusaha menyerang Amara. Untungnya, Letticia menyelamatkan Amara. Tapi Miss Evoria menyerang Letticia dan Letticia membekukannya. Lalu dia melelehkan es itu dan Miss Evoria kabur keluar."


Talie menganga. Ternyata gadis ini adalah Letticia Chandealer Morton, yang rumornya dilarikan ke dunia lain beberapa tahun yang lalu demi keselamatan penerus kerajaan.


"Tuan putri, tolong maafkan Miss Evoria untuk hal itu. Temperamennya memang buruk dan dia punya kepribadian yang sombong," kata Talie.


"Aku harap dia berubah," kata Letticia.


"Jangan khawatir. Setelah diberi pelajaran oleh tuan putri, sepertinya dia akan sadar. Selama ini tidak ada yang berani menasehatinya," kata Talie tersenyum. Dia turut senang Evoria akan berubah.

__ADS_1


"Kita lanjutkan pelajarannya," kata Talie.


...****************...


__ADS_2