
Dari Danau Aryale, rombongan MMS berpindah ke Gunung Kanekoto.
Gunung Kanekoto adalah gunung yang dianggap memiliki aura paling mistis. Dengan kata lain, gunung ini disebut angker dan menurut rumor, banyak hantu dan makhluk mengerikan berkeliaran dan tinggal di Gunung Kanekoto.
"Kau yakin kita ke sini?" tanya Halley merinding.
"Tenang. Ada para guru dan aku," jawab Letticia menenangkan.
Tak lama, Persailes sampai di puncak Gunung Kanekoto. Aura mistis terasa sangat kuat, dan samar-samar tercium bau melati dan cengkeh.
"Kita pulang saja," kata Amara yang meremas tangan Letticia tanpa sadar karena ketakutan.
"Hey, tidak akan ada yang menyakiti kita selama aku di sini," kata Letticia, "Lepaskan tanganku."
Mereka semua berbagi tugas. Beberapa mencari kayu bakar di hutan, beberapa berburu binatang, dan tugas lainnya. Untuk tugas yang melibatkan memasuki hutan, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok memiliki dua guru dan tiga murid level atas untuk keamanan.
Letticia sendiri berkeliling gunung. Dia ingin menjelajahi gunung ini. Mungkin bisa menemukan sesuatu.
Bruk!
"Aww!"
Batu itu adalah batu biasa yang berukuran sedang. Tapi dalam sekejap, batu itu sudah tidak ada. Tentu terkena serangan Letticia yang sedang marah. Batu itu tidak punya harapan lagi.
"Batu sia*an," umpat Letticia.
Letticia melanjutkan jalannya. Dia tidak mau terhenti oleh batu kecil tidak tahu aturan itu. Letticia terus berjalan dan berhenti saat dia sampai di depan sebuah gua. Dia berniat masuk dan melihat isi gua itu.
Tiba-tiba, sesosok bayangan seolah lewat di belakang Letticia. Letticia hanya diam tidak merespon. Saat bayangan itu lewat untuk kedua kalinya, Letticia segera menangkapnya dengan kecepatan kilat dan mengikatnya dengan tali es.
"Lepaskan aku," hantu itu meronta. Dia berbentuk sesosok pria biasa berpakaian petani.
"Tidak. Kau sudah mencoba menakutiku," balas Letticia, "Yah, walau itu tidak akan berhasil, hantu bodoh."
Diam-diam, hantu itu mencoba memutuskan tali. Tentu saja hal itu tidak berhasil.
"Tali itu dibuat dari esku. Tidak akan bisa diputus dengan mudah," kata Letticia.
Hantu itu cemberut. Dia tidak menyangka gadis cantik ini sangat kejam dan menyebalkan.
Letticia berjalan dan duduk di samping hantu itu. Dia mengisyaratkan hantu tersebut untuk duduk. Hantu itu hanya bisa menurut dengan pasrah. Dia merasa kalau membangkang dan tidak menuruti perintah Letticia, maka nyawanya melayang saat itu juga.
"Beritahu aku semuanya. Kenapa gunung ini dikenal angker? Apa kalian bangsa hantu berulah?" Letticia menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan curiga.
"Ah, ya. Ada banyak hantu nakal yang menakuti dan menculik manusia," jawab sang hantu.
"Sepertinya aku harus membunuh mereka," kata Letticia dengan ekspresi kejam yang membuat hantu itu merinding.
"Tolong jangan bunuh mereka. Kau bisa memberitahu mereka untuk tidak mengganggu manusia lagi," hantu itu memelas. Walau hantu-hantu itu nakal dan jahat, dia tidak bisa membiarkan Letticia membunuh mereka begitu saja.
"Baiklah. Bawa aku ke dunia hantu."
Letticia melepas tali hantu itu. Hantu tersebut tidak berani lari walau talinya sudah dilepas. Dia segera membawa Letticia ke dalam gua yang akan membawa mereka ke alam hantu. Setelah berjalan agak dalam, hantu itu mengarahkan tangan ke depan. Sebuah portal muncul, dan mereka berdua masuk ke dalam.
Dunia hantu hampir sama seperti dunia manusia. Bahkan juga ada pasar yang ramai.
Hantu itu membawa Letticia ke sebuah penginapan. Dia meminta Letticia menginap di sana terlebih dahulu, sementara ia mengumpulkan hantu-hantu nakal. Letticia hanya mengangguk. Hantu tersebut memesankan kamar untuk Letticia. Lalu Letticia pergi ke kamarnya.
Kamar di penginapan ini cukup bagus. Hanya saja, auranya sangat menyeramkan bagi manusia. Tentu saja, karena ini adalah penginapan hantu. Dan aura hantu-hantu yang tinggal di sini sebelumnya masih terasa jelas. Tapi itu tidak berpengaruh pada Letticia. Dia bukan manusia biasa. Mungkin dengan kelakuan putri ini, dia bisa disamakan dengan iblis.
Malamnya, pegawai penginapan mengantarkan makanan. Tapi Letticia bahkan tidak mau memakannya. Makanan ini sangat menjijikkan, karena ini adalah makanan hantu.
Letticia segera membuat salad dengan kekuatan tumbuhan sebagai makan malamnya. Ini lebih baik daripada makan makanan itu atau tidak makan sama sekali. Salad juga tidak buruk. Bagus untuk kesehatan.
"Sepertinya dunia manusia masih lebih baik," gumam Letticia.
Letticia memutuskan untuk mandi. Tapi ketika ia memasuki kamar mandi, ruangan itu bahkan lebih buruk dari yang terburuk. Airnya hitam dan sangat menjijikkan serta bau. Letticia menjepit hidung dengan jari dan menutup kamar mandi. Dia memberi harum wangi pada kamar, karena sepertinya sedikit bau kamar mandi keluar ke kamar. Setelah dipastikan tidak bau lagi, Letticia membuka hidungnya dan bernapas lega.
"Kenapa semua di dunia ini sangat menjijikkan?" umpat Letticia. Dia bahkan tidak bisa mandi di penginapan jelek ini.
Karena tidak bisa melakukan apapun, Letticia berbaring di kasur dan memutuskan untuk tidur. Untungnya, penginapan ini menyediakan selimut. Walau hantu biasanya tidak memakai selimut.
Letticia akan menginap di sini selama beberapa hari. Dia tidak perlu mengkhawatirkan guru dan teman-temannya. Dunia hantu dan dunia manusia memiliki perbedaan waktu. Satu hari di dunia hantu hanya sekitar 10 atau 15 menit di dunia manusia. Entahlah, Letticia tidak terlalu ingat. Dia uring-uringan saat Miss Pen si guru galak mengajari ini. Miss Pen memarahinya waktu itu karena tidak memperhatikan. Sayangnya, dia memarahi Letticia yang moodnya sedang buruk. Letticia membekukan Miss Pen dan baru membebaskannya 1 jam kemudian.
__ADS_1
...****************...
"Hoahmm..." Letticia menguap, lalu melihat jendela. Di luar gelap, yang berarti sudah malam. Tapi terdengar suara ramai. Mungkin ada pasar malam atau semacamnya.
Mendengar suara ramai, Letticia tidak bisa menahan diri untuk tidak turun dan keluar penginapan. Akan bagus kalau itu adalah pasar malam atau festival. Letticia sangat menyukai pasar malam dan festival sejak kecil. Nalie sering mengajak Letticia dan Ansley ke pasar malam. Letticia sangat menikmatinya waktu itu, sampai-sampai Nalie harus mati-matian membujuknya untuk pulang.
Seperti dugaan Letticia, ada pasar malam di luar, tepat di depan penginapan. Siapa sangka pasar malam dunia hantu tak kalah ramai dan meriah dibandingkan pasar malam dunia manusia. Ada permainan, stan makanan, dan lain-lain. Seperti pasar malam pada umumnya. Untungnya, ada banyak makanan normal. Jadi Letticia tidak perlu ragu kalau mau bermain dan mendapatkan hadiah makanan.
"Ugh aku tidak punya uang dunia hantu," batin Letticia yang baru mengingat hal itu. Bagaimana dia menikmati pasar malam tanpa uang?
Letticia berjalan ke sebuah stan makanan. Dia memilih sebuah sosis bakar berukuran cukup besar dengan saus tomat. Letticia merogoh sakunya untuk membayar dan menemukan kantong berisi bola-bola emas kecil. Letticia membuka kantong tersebut.
"Apa aku bisa menggunakan ini?" tanya Letticia sambil menyodorkan satu bola emas.
"Maaf, nona. Pembayaran di sini menggunakan daun. Harga sosis ini satu daun," tolak penjual tersebut.
"Daun?" batin Letticia bingung. Walau begitu, dia menggunakan kekuatan tanaman untuk memberinya sekantong daun.
Letticia memberi satu daun pada penjual itu. Penjual tersebut menerimanya dan memberi sosis yang Letticia beli.
Letticia kembali mengelilingi pasar malam sambil memakan sosisnya. Terkadang dia merasa aneh melihat hantu yang menembus benda-benda. Letticia bisa melakukannya, tapi dia sudah lama tidak melakukan itu. Beberapa hantu bahkan berjalan menembus Letticia, seolah dia tidak ada.
Pasar malam ini sangat menyenangkan. Letticia mencoba banyak permainan. Dia mendapat beberapa hadiah dari permainan-permainan itu. Ada boneka, pil hantu, dan lain-lain.
Note : Pil hantu bisa memberi kekuatan hantu pada seseorang. Misalnya menembus benda, membuat portal ke dunia hantu, dan lain-lain.
"Setidaknya hadiahnya normal," Letticia menghela napas lega, teringat kesan pertamanya pada kamar penginapan tempat ia menginap.
...****************...
"Ini beberapa anak nakal yang suka mengganggu manusia di Gunung Kanekoto," kata Azuile, hantu yang Letticia temui di gunung tadi.
Para hantu yang masih anak-anak itu hanya menunduk dengan keringat dingin. Letticia tidak terlihat seperti orang sembarangan dan bisa membunuh mereka kalau dia mau. Sekarang mereka merasa menyesal tidak tobat karena sering mengganggu manusia. Mereka tidak punya kesempatan tobat lagi kalau Letticia membunuh mereka semua hari ini.
Letticia memandang anak-anak hantu yang ketakutan. Dia mengeluarkan smirknya yang terlihat menyeramkan dalam beberapa situasi.
"Semoga beruntung, anak-anak," batin Azuile. Dia tidak tahu nasib anak-anak itu nanti. Yang penting, nyawanya sudah terselamatkan, yang membuat Azuile bisa sedikit bernapas lega.
Salah satu anak mengangkat tangan, izin menjawab. Letticia mengangguk, lalu anak itu mulai bicara,
"Pertama, kami sangat bosan. Kedua, terkadang kami melihat manusia menyakiti hewan dan tanaman. Jadi kami berpikir mereka adalah makhluk jahat atau iblis."
Letticia tertegun. Dia tidak bisa menyangkal hal itu. Selain angker, Gunung Kanekoto juga terkenal dengan sumber daya alam yang berlimpah. Juga banyak tanaman langka. Sayang, beberapa manusia serakah sering mengambil sumber daya secara berlebihan, yang dilihat oleh anak-anak hantu yang sering bermain di Gunung Kanekoto.
Letticia menghela napas, "Aku tidak bisa menyangkal kalau beberapa manusia memang serakah. Tapi kalian tidak bisa menakuti semua orang dan membuat Gunung Kanekoto jadi angker."
Anak-anak hantu tersebut menyesal, "Maafkan kami."
"Ya, aku memaafkan kalian. Jangan ulangi lagi," kata Letticia, "Tolong beritahu orang lain yang suka mengganggu Gunung Kanekoto untuk berhenti."
Setelah memberi nasihat, Letticia mempersilahkan anak-anak itu untuk pergi. Azuile terkesan dengan Letticia yang terlihat keren dan berwibawa saat menasihati anak-anak itu. Padahal dia mengira Letticia adalah orang yang kuat, polos, dan semena-mena. Ternyata gadis ini lebih hebat dari perkiraannya.
"Apa ada masalah atau tempat menarik di dunia hantu?" tanya Letticia tiba-tiba, membuat Azuile kaget.
"Saat ini tidak ada masalah. Dunia hantu sedang berada pada salah satu masa paling damai. Mengenai tempat menarik di dunia hantu, aku merekomendasikan Semenanjung Bundaire" jelas Azuile lancar, setelah diam beberapa saat karena tadi Letticia mengagetkannya.
"Antar aku ke sana besok."
...****************...
Keesokan hari, Azuile mengantar Letticia ke Semenanjung Bundaire. Suasana semenanjung ini lebih suram dari semua tempat yang pernah Letticia kunjungi di dunia hantu. Hanya ada Letticia dan Azuile di sini. Bahkan Azuile terlihat merinding dan ingin pergi.
"Semenanjung ini adalah tempat untuk membuang orang-orang yang mati dengan cara bunuh diri ke laut. Mereka akan tenggelam ke neraka di bawah," jelas Azuile. Letticia mengangguk paham. Pantas aura Semenanjung Bundaire sangat suram. Orang yang bunuh diri cenderung memiliki kebencian yang sangat besar. Aura kebencian mereka pasti tertinggal dan membekas di sini. Nama Bundaire juga cocok dengan semenanjung ini.
Note : Dalam bahasa kuno dunia hantu, Bundaire berarti bunuh diri.
Walau suram, harus diakui bahwa semenanjung ini cukup indah. Banyak pepohonan rindang dengan buah-buahan. Ada juga bunga-bunga yang harum.-
"Semenanjung ini sangat cantik. Pasti bisa jadi tempat wisata seandainya tidak digunakan untuk membuang orang ke laut," kata Letticia.
"Sepertinya begitu," jawab Azuile setuju.
Tiba-tiba, sesuatu muncul dari dalam pasir. Itu adalah kepiting hantu albino. Tidak hanya satu kepiting. Beratus-ratus kepiting keluar dari pasir. Pemandangan yang cukup langka. Letticia membuka ruang penyimpanan dan mengambil kamera, lalu memotret kepiting-kepiting itu.
__ADS_1
"Mereka pergi untuk hibernasi," ujar Azuile.
Kepiting-kepiting hantu albino itu berjalan ke pohon-pohon di sekitar pantai, lalu mulai berhibernasi. Kejadian ini tidak luput dari sorot kamera Letticia.
"Apa aku boleh membawa dua kepiting?" tanya Letticia.
Azuile berpikir sebentar, lalu menjawab, "Boleh. Tapi tolong rawat mereka dengan baik."
"Tentu," balas Letticia.
Letticia memilih selama beberapa saat, lalu mengambil dua kepiting dari ratusan kepiting yang ada. Salah satu berjenis kelamin jantan, sementara yang satu lagi berkelamin betina. Letticia sengaja memilih sepasang, agar mereka bisa beranak nanti.
Setelah menaruh kepiting dengan baik di dimensi miliknya, Letticia mengajak Azuile kembali. Dia sudah cukup hanya melihat semenanjung ini. Mungkin hal menarik lain menunggu di tempat lain pula.
...****************...
Kamar mandi lantai satu penginapan ini sangat suram. Kalau suram karena hantu, itu sudah biasa. Tapi rasa ini berbeda dari aura hantu biasa. Seperti lebih tajam dan mengintimidasi. Sepertinya ada sesuatu.
"Hm... Ini bisa berbahaya," gumam Letticia sendirian di kamar mandi.
Tok! Tok! Tok!
"Maaf, apa anda sudah selesai?"
"Ah, maaf. Aku akan keluar sekarang," jawab Letticia malu. Dia terlalu lama melamun dan berpikir sampai lupa bahwa ini bukan toilet kamarnya, dan bukan hanya dia yang perlu ke toilet.
Di kamar, sang putri kerajaan Morton kembali melamun sambil memikirkan aura itu. Ini lebih sulit karena hantu tidak hidup dan tidak memiliki darah. Jadi aura hitam hantu jahat lebih sedikit dari manusia jahat dan lebih sulit dilacak. Letticia bisa melacaknya, tapi itu membutuhkan lebih banyak usaha dan energi. Dia sedang tidak ingin melakukan pekerjaan berat sekarang dan hanya ingin bersantai sepenuhnya di dunia hantu.
Tidak seperti yang selama ini ia tahu dan pikirkan, dunia hantu tidak seburuk itu. Dunia ini memiliki penduduk dan tempat wisata, sama seperti manusia. Hanya saja, cara hidup mereka berbeda. Selain itu, sepertinya tidak ada hal buruk lain.
"Apa aku tinggal di dunia hantu saja?" pikir Letticia. Tapi dia buru-buru menghapus pikiran itu.
Walau Letticia tidak bisa memilih siapa yang lebih bagus, dunia manusia atau dunia hantu, tapi manusia sepertinya jelas lebih cocok tinggal di dunia manusia. Lagipula Letticia tidak bisa memikirkan melihat hal-hal menjijikkan yang sudah ia tekadkan untuk tidak melihat hal seperti itu lagi. Kalau ada, dia akan langsung melenyapkannya.
Di dunia hantu, Letticia melihat beberapa hantu tampan dan berbakat. Mungkin mereka adalah artis yang sudah meninggal. Tapi walau di dunia hantu, penggemar mereka di dunia ini juga banyak. Sepertinya artis tetap artis walau sudah di dunia lain. Baik di dunia manapun, mereka akan punya banyak penggemar.
"Hiks kenapa aku tidak jadi artis saja," keluh Letticia, tiba-tiba memikirkan nasib. Sebenarnya dia cukup berbakat dalam bernyanyi dan dance, bahkan bisa rap sedikit. Visualnya juga tidak main-main. Sayang, darah kerajaan Morton mengalir di darah Letticia. Itu adalah tanggung jawabnya seumur hidup untuk menjadi ratu dan menjaga Morton.
...****************...
Setelah beberapa hari, Letticia memutuskan pulang. Dunia hantu ini cukup bagus dan dia sudah mengunjungi beberapa tempat menarik. Tapi tidak ada hal istimewa lainnya. Misteri toilet belum terpecahkan, tapi itu bisa lain kali. Letticia sudah memasang sihir yang akan memberinya peringatan kalau terjadi sesuatu.
Letticia membuat portal. Azuile sudah mengajarinya kemarin dan Letticia menguasainya dengan cepat. Tidak perlu waktu lama baginya untuk membuat portal yang sempurna.
Portal sudah jadi. Azuile melambai pada Letticia.
"Sampai jumpa," ucap Letticia sambil tersenyum, lalu berjalan memasuki portal.
Portal mengarahkannya pada gua tempat Azuile membuat portal untuk membawanya ke dunia hantu dulu. Setelah berjalan beberapa saat, Letticia keluar dari gua. Dia berjalan menyusuri jalan hutan yang ia ingat, kembali ke guru dan teman-temannya. Letticia berada di dunia hantu selama seminggu, yang berarti sekitar satu jam sepuluh menit di dunia manusia.
Sesampainya di perkemahan, beberapa orang menatap penasaran ke arah Letticia, lalu kembali ke urusan mereka masing-masing.
Amara yang melihat Letticia kembali, segera menghampirinya.
"Ke mana saja kau? Satu jam adalah waktu yang lama untuk masuk hutan dengan tujuan tidak jelas," tanya Amara dengan kesan mengomel. Tapi ada kekhawatiran di nada bicara dan ekspresinya.
"Aku pergi ke dunia hantu," jawab Letticia.
Plak!
"Kenapa kau memukulku?!" seru Letticia kesal bercampur kaget sambil mengelus kepalanya yang dipukul Amara.
"Oh, ternyata kau masih sadar."
Letticia mengernyit. Kalau saja gadis satu ini bukan sahabatnya, maka dia pasti sudah membunuh Amara. Tapi ya sudahlah.
"Kau tidak percaya aku ke dunia hantu?" tanya Letticia kesal. Dia mengatakan yang sebenarnya, tapi Amara sama sekali tidak percaya.
"Tidak," jawab Amara singkat, padat, jelas, dan menusuk.
"Aku akan membawamu lain kali."
...****************...
__ADS_1