Ice Princess

Ice Princess
Mendaki Gunung


__ADS_3

Gunung Xoxo, salah satu gunung penting dan terkenal di kerajaan Wilcox. Konon, raja dan ratu pertama kerajaan Wilcox bertemu di sini dan berciuman pertama kali. Karena itulah, gunung ini dinamakan gunung Xoxo.


"Wow gunung ini sangat tinggi," kata Alice kagum. Dia sudah melihat gunung ini dari kejauhan, tapi tidak menyangka akan setinggi ini.


"Ayo mulai mendaki," kata Letticia.


Kelima gadis tersebut mulai mendaki gunung. Mereka tidak membawa dayang, pelayan, atau pengawal. Kalau membawa orang lain, hanya akan menjadi beban. Karena orang biasa tidak memiliki sihir sekuat putri kerajaan.


Gunung ini cukup terjal dan diselimuti es. Amara kedinginan. Dia tidak punya kekuatan api. Untungnya, Letticia menghangatkan Amara dengan kekuatan apinya. Jika tidak, Amara bisa mati kedinginan. Karena suhu di gunung Xoxo memang sangat dingin.


Tiba-tiba, seekor rusa gunung besar berlari menghampiri mereka. Sepertinya rusa gunung ini liar dan tidak berniat baik. Letticia segera membekukan kaki rusa gunung tersebut agar tidak bisa bergerak. Tapi ia tidak membunuhnya.


Letticia memberi isyarat pada Fia. Fia mengerti dan mendekati rusa gunung tersebut. Dia menatap dalam mata rusa gunung itu yang juga menatap mata Fia dengan tatapan tajam.


Tak lama, wajah rusa gunung tersebut tidak lagi terlihat seperti binatang liar. Kini rusa gunung itu terlihat jinak. Tubuhnya tidak lagi memberontak dan dia menjadi lebih tenang.


"Kerja bagus," puji Letticia.


Letticia melepaskan kaki rusa gunung tersebut. Rusa gunung itu mendekati Letticia dan seperti mengucapkan terima kasih karena sudah melepaskannya. Lalu ia berlari pergi.


"Rusa yang imut," kata Everyl.


Perjalanan berlanjut. Mereka mendaki semakin tinggi dan semakin tinggi. Hari semakin gelap dan semakin dingin. Mereka masih merasakan dingin walau sudah menggunakan sihir api. Kecuali Letticia. Sihirnya lebih kuat dari yang lain. Dia membantu menghangatkan mereka semua.


Malam datang. Mereka duduk memandang langit bertabur bintang. Di puncak nanti pasti lebih indah lagi.


Mereka sudah hampir mencapai puncak dan akan melanjutkan perjalanan besok. Karena berbahaya mendaki di malam hari.


Letticia membuka ruang penyimpanannya dan mengambil dua tenda yang sempat ia ambil dari rumahnya. Letticia mendirikan kedua tenda tersebut dalam beberapa menit. Tenda untuk bermalam pun sudah jadi dan siap digunakan.


Selanjutnya, mereka pergi memburu binatang. Tidak terlalu sulit menemukan binatang liar untuk disantap di sini.


Setelah berburu, mereka kembali ke tempat kemah dan membakar hasil buruan. Lumayan enak, walau tidak pakai garam, bumbu, atau semacamnya.


Puk!


Amara berbalik untuk melihat siapa yang melemparinya dengan bola salju. Tampak Letticia tertawa jahil dengan paha ayam di tangannya.


"Kubalas kau!"


Letticia menggunakan sihir cahaya untuk menerangi area sebesar sekitar 200 meter persegi di sekitar mereka. Perang bola salju pun terjadi. Mereka saling melempari satu sama lain dengan bola salju dan tertawa riang.


"Sudah lama aku tidak main bola salju seperti ini," kata Alice.


"Ayo kita buat boneka salju," ajak Flo.


Boneka salju buatan mereka berlima berjejer menghiasi gunung Wilcox. Bentuknya bermacam-macam. Ada boneka salju dengan topi dan hidung wortel, ada boneka salju tanpa hiasan, ada pula boneka salju yang dibuat menyerupai sebuah keluarga kecil.


"Tunggu sebentar," kata Letticia.


Letticia membuka portal. Portal itu tepat menuju ke kamarnya. Letticia mencari sesuatu dan akhirnya menemukan benda yang ia cari. Sebuah kamera yang dibelikan Robins sebagai hadiah ulang tahunnya. Setelah mendapatka kamera itu, Letticia kembali ke gunung Wilcox dan tak lupa menutup portal.


"Ini namanya kamera," kata Letticia melihat ketiga temannya yang penasaran dan bingung.


Letticia mendemonstrasikan kegunaan kamera. Dia memotret Amara dan menunjukkan hasilnya pada mereka.

__ADS_1


"Wow ini luar biasa!" seru Everyl kagum, "Mungkin suatu saat aku ingin tinggal di dimensi tempatmu tinggal selama ini."


Mereka mengambil foto dan video yang banyak. Foto dan video ini akan mereka jadikan kenangan yang berharga.


...****************...


Paginya, pendakian berlanjut. Letticia menguap. Dia masih agak mengantuk. Tapi disaat yang bersamaan, dia juga tidak sabar mendaki gunung.


Semakin mendekati puncak, salju yang ada semakin tebal. Letticia jadi sering bermain-main dengan kekuatan esnya karena ada media yang sempurna.


Tiba-tiba, mata Letticia menangkap kejanggalan di sebuah bukit salju di dekat mereka. Dia merasakan kehidupan di sana.


"Tunggu sebentar," kata Letticia, yang membuat semua menghentikan langkah mereka.


Letticia berdiri menghadap bukit salju tersebut. Dia menggunakan sihir api. Seketika, salju di hadapanny meleleh, menunjukkan sebuah mulut gua yang cukup besar. Bagian dalamnya terlihat seperti kegelapan tak berujung.


"Ada gua?" tanya Amara.


"Ya. Ayo masuk. Aku merasa ada sesuatu di dalam," kata Letticia.


Dengan sihir cahaya Letticia sebagai penerangan, mereka memasuki gua tersebut. Tentu dengan perasaan was-was dan hati-hati kalau ada yang tiba-tiba menyerang.


Tiba-tiba, terdengar suara dari dalam gua. Letticia segera berlari menuju sumber suara. Mau tak mau, yang lain mengikutinya.


Seperti yang Letticia duga, ada makhluk hidup di dalam gua tersebut. Tampak beberapa magic pet seperti unicorn, beruang kutub, dam trenggiling raksasa. Mereka semua menatap Letticia dan teman-temannya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Bagaimana kalian tahu ada gua di sini? Kami sudah menutup jalan masuk dengan salju tebal," tanya unicorn heran.


"Tanda kehidupan kalian tidak bisa lolos dariku," kata Letticia dengan smirknya.


"Kau memang memiliki aura yang kuat. Aku bisa merasakan itu," kata unicorn.


Unicorn pergi selama beberapa saat. Kemudian, ia kembali dengan sebuah karung. Karung itu lumayan besar dan sepertinya penuh dengan berbagai barang.


"Ini hadiah dari kami. Kami sudah berjanji akan memberikan karung berisi benda-benda berharga ini pada orang pertama yang berhasil memasuki gua ini. Terimalah," kata unicorn tersebut sambil menyodorkan karung.


Letticia menerima karung itu dengan senang hati dan memasukkannya ke ruang penyimpanan agar aman. Dia mengucapkan terima kasih dan pamit pada para magic pet. Lalu mereka berlima kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung.


"Apa isi karung tadi?" tanya Fia penasaran.


"Kita buka di puncak gunung saja," kata Letticia.


...****************...


Setelah beberapa jam pendakian, kini mereka sampai di puncak gunung Xoxo. Dari atas sini, bisa terlihat pemandangan kerajaan Wilcox dari atas. Manusia pun terlihat seperti semut jika dilihat dari ketinggian ini.


"Wow indahnya," kata Amara kagum. Dia sudah lama ingin mendaki gunung, tapi orangtuanya tidak pernah memperbolehkan dengan berbagai alasan.


"Sayang sekali besok kita harus pulang," kata Everyl sedih.


Mereka berfoto dan bermain lalu makan siang. Tentu makan dengan hasil buruan lagi. Sebenarnya Letticia bisa saja mendapat makanan tanpa harus repot berburu dengan cara pergi ke Bumi dan membeli makanan. Tapi mereka memutuskan benar-benar hidup seperti di alam liar selama pendakian.


"Ah, aku lupa punya magic pet," Letticia menepuk jidat. Bisa-bisanya dia melupakan magic petnya.


Letticia mengeluarkan magic petnya. Ada Gonix si Golden Phoenix, Bunny si Semi-Golden Rabbit, Seven si rubah ekor tujuh, Nine sj rubah ekor sembilan, Melody si komodo sisik emas, Croco si buaya putih, dan Mina si Minotaurus. Mereka semua kaget dengan tempat mereka berada saat ini.

__ADS_1


"Ini puncak gunung?" tanya Gonix, "Kalian mendaki gunung?"


"Ya," jawab Letticia singkat.


"Kenapa tidak mengeluarkan kami? Aku sudah lama tidak ke gunung," kata Nine. Dia duduk dan memandang pemandangan kerajaan Wilcox.


"Ini tidak terlihat seperti kerajaan Morton," kata Bunny.


"Ini kerajaan Wilcox," balas Letticia, "Aku ke sini untuk menghadiri ulang tahun Alvaro."


Para magic pet bermain bersama. Beberapa menit kemudian, mereka kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat.


Saat Bunny akan duduk bersandar di batu, tiba-tiba batu tersebut bergetar. Bunny kaget. Dia reflek berteriak lalu berlari ke Letticia dan memeluk kakinya.


"Batu itu bergetar," Bunny menunjuk batu tadi.


Letticia memandang batu itu penasaran. Dia mendekati batu tersebut dan melihatnya untuk beberapa saat. Lalu Letticia mengetuk-ngetuk batu itu dan batu itu bergerak lagi.


Batu tersebut terangkat dan mengeluarkan empat kaki. Muncullah satu kepala yang menatap Letticia dan Bunny.


"Kura-kura?" ujar Letticia heran. Apa ini magic pet? Kenapa bisa ada di gunung?


Kura-kura tersebut memandang Letticia penuh arti.


"Kenapa kalian di sini?" tanya kura-kura tersebut heran, "Apa Perang Besar sudah berakhir?"


Note : Perang Besar adalah perang yang melibatkan beberapa kerajaan besar dan berlangsung selama 2 abad.


Letticia tertawa. Sepertinya kura-kura ini berhibernasi terlalu lama.


"Perang Besar sudah berakhir 1 abad yang lalu," jawab Letticia.


"Begitukah?" tanya kura-kura itu dengan wajah polos.


Mereka saling memperkenalkan diri. Ternyata kura-kura itu bernama Kery. Seperti dugaan Letticia, Kery adalah magic pet yang terpisah dari pemiliknya saat Perang Besar terjadi. Entah bagaimana, dia terdampar di puncak gunung Xoxo. Kery bersembunyi dan berhibernasi selama beberapa abad lamanya.


"Pemilikku bernama Mimi," kata Kery sedih. Dia teringat Mimi yang lucu dan imut. Sayang, anak itu kemungkinan besar sudah meninggal. Kecuali kalau sihir Mimi sangat kuat dan berhasil bertahan selama berabad-abad. Tapi Kery tahu, sihir Mimi biasa saja dan hanya beberapa orang tertentu yang memiliki sihir sangat kuat yang bisa bertahan sampai selama itu.


"Emm... Apa kau mau jadi magic petku?" tawar Letticia ragu-ragu. Selain bisa menambah magic pet Letticia, Kery jadi punya pemilik baru.


Kery menggeleng, "Aku akan kembali ke Magical Forest. Kabari aku kalau kalian menemukan Mimi."


Kery memunculkan sebuah hologram dengan foto seorang gadis kecil.


"Ini Mimi," kata Kery.


"Kami akan memberitahumu kalau menemukannya," kata Letticia.


"Terima kasih."


Letticia membantu Kery kembali ke Magical Forest. Kery melambaikan tangan sebelum ia berubah menjadi butiran cahaya yang kemudian menghilang.


Letticia terkesan dengan kesetiaan Kery. Walau kemungkinan pemiliknya masih hidup sangat kecil, tapi ia tetap optimis dan memutuskan mencari pemiliknya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2