Ice Princess

Ice Princess
Cinta Aldrian


__ADS_3

Pagi biasa di istana Morton. Semua sibuk dengan kegiatan dan tugasnya masing-masing. Aldrian juga sibuk dengan berbagai dokumen yang harus diurus dan ditandatangani. Hari ini juga ada beberapa rapat, di mana dia harus mengambil keputusan penting. Tapi setiap membuat keputusan, mereka juga akan meminta pendapat Letticia melalui batu sihir yang bisa digunakan untuk mengobrol seperti telepon.


"Apa dokumennya memang selalu sebanyak ini?" keluh Aldrian. Dia bekerja sendirian tanpa ada yang membantu.


Aldrian berharap Letticia tidak terlalu lama menikah setelah dinobatkan menjadi ratu. Karena menjadi pemimpin negara adalah tugas yang berat. Tapi kalau yang dinikahi Letticia adalah raja atau pangeran yang akan menduduki tahta, maka Letticia akan pindah ke negara suaminya dan menjadi ratu di sana. Saat itulah ada kemungkinan akan terjadi perebutan tahta.


"Sabar, Yang Mulia," kata Stevan, asisten Aldrian, berusaha menghibur Aldrian yang terlihat seperti ingin mati.


Aldrian menghela napas sejenak, lalu kembali pada pekerjaannya. Dulu dia mengira tugas seorang pemimpin tidak begitu sulit. Ternyata lebih sulit dari yang ia kira. Sebenarnya Aldrian tidak ingin Letticia menduduki tahta. Bukan karena maksud buruk, dia hanya khawatir Letticia tidak bisa menerima semua ini.


Sejak dulu, Aldrian sudah berada di sisi Letticia. Dia dipercaya oleh raja dan ratu untuk melindungi putri semata wayang mereka. Aldrian selalu melindungi Letticia sepenuh hati. Bahkan ia menempatkan beberapa ksatria khusus di MMS, walau kelihatannya selama ini Letticia tidak membutuhkannya.


Satu hal yang tidak Letticia ketahui, Aldrian selalu menyayanginya. Dia bersedia melindungi Letticia dengan segenap jiwa raga. Walau agak sakit karena orang yang dia sayangi bahkan tidak menyadari hal itu, tapi Aldrian tidak peduli. Sayang atau cinta sejati adalah ketika kau mencintai seseorang tanpa syarat. Tidak perlu diperhatikan atau balasan. Berada di dekatnya saja sudah membuatmu bahagia. Dan kau bersedia menerima dia apa adanya, bersama dalam suka dan duka, serta mencintainya selamanya.


Stevan hanya menatap Aldrian yang melamun beberapa saat. Tapi dia tidak menegur Aldrian, karena tahu bahwa melakukan semua pekerjaan ini sendirian sangat sulit. Stevan sudah melihat Aldrian beberapa kali begadang demi menyelesaikan pekerjaannya. Dia masih hidup saja sudah syukur.


"Tuan, apa yang akan anda lakukan setelah tuan putri naik tahta?" tanya Stevan.


Aldrian berpikir sebentar lalu menjawab, "Kemungkinan besar, aku akan kembali menjadi ksatria tuan putri. Sampai sekarang pun aku masih ksarianya. Tapi aku tidak bisa melindungi tuan putri setiap saat karena sibuk dengan pekerjaan."


Stevan menghela napas. Sepertinya Aldrian benar-benar tidak berniat menerima salah satu lamaran yang datang padanya. Surat-surat itu menumpuk di gudang. Aldrian tidak ingin membuangnya, karena ia masih menghargai niat gadis-gadis itu.

__ADS_1


Karena ketampanan dan kehebatannya, banyak gadis yang menyukai Aldrian dan ingin menjadi istrinya. Tapi hati Aldrian tidak ia berikan pada satupun dari mereka. Hanya satu orang yang pantas mendapatkan hatinya, dan Aldrian harus memikirkan orang itu baik-baik.


"Apa tuan tidak berniat menikah?" tanya Stevan hati-hati.


Aldrian menaikkan sebelah alis lalu menjawab dengan singkat, "Tidak."


"Ah, baiklah," kata Stevan kecewa.


"Apa kau berniat menjodohkanku?" tanya Aldrian dengan pandangan curiga.


"Ti-tidak mungkin saya berani melakukan hal seperti itu," jawab Stevan panik.


Tawa Aldrian membuat Stevan mengelus dada. Tuannya ini memang senang membuat Stevan gugup dan mempermainkannya. Tapi Aldrian tidak jahat. Dia hanya jahil.


"Apa anda menyukai tuan putri?"


Setelah melontarkan pertanyaan itu, Stevan terkejut dengan dirinya sendiri. Apa yang dia katakan? Bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti itu? Ala dia reflek mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya selama ini?


Aldrian diam. Suasana berubah mencekam. Stevan gugup, takut Aldrian menghukumnya.


"Ya."

__ADS_1


"Eh?"


"Aku menyukainya."


Stevan hanya melongo. Apa ini benar? Dia tidak sedang bermimpi kan? Stevan menampar diri sendiri untuk yakin ini bukan mimpi.


"Jangan tampar dirimu sendiri. Kau terlihat bodoh melakukannya," kata Aldrian.


"Ah, maaf."


Suasana ruangan itu jadi canggung. Aldrian bersemu merah. Dia bahkan tidak sepenuhnya sadar saat menjawab pertanyaan Stefan dengan jujur. Ini memalukan.


Untungnya, seseorang mengetuk pintu dan mengatakan pada Aldrian untuk segera menghadiri rapat dengan Stevan mendampinginya. Mereka berdua segera pergi ke rapat, walau suasana di antara mereka masih canggung.


Di jalan, Aldrian mendekati Stevan dan berbisik, "Yang tadi tolong rahasiakan ya."


Stevan menatap Aldrian. Dia tertawa dan berkata, "Haha tentu, tuan. Saya akan merahasiakanya."


"Terima kasih."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2