
Tok! Tok! Tok!
"Sepertinya mereka tidak bisa mendengar kita karena sibuk bernyanyi," kata Letticia geli.
Akhirnya, Letticia menggunakan sihir teleportasi untuk masuk ke dalam kamar. Kalau tidak, mungkin mereka harus menunggu semalaman untuk bisa masuk.
Sontak, kedatangan Letticia dkk membuat ketiga gadis itu kaget. Kedua orang yang sedang bernyanyi langsung meminta gadis satunya yang tidak ikut bernyanyi untuk menghentikan musik. Ternyata sihir gadis itulah asal musik yang menjadi backsound mereka.
"Oh, maafkan kami," kata gadis berambut pirang dan bermata biru yang tidak ikut bernyanyi tadi.
"Tidak apa," jawab Letticia.
Ketiga gadis itu menunjukkan kasur mereka. Kamar itu memang sangat luas. Masih sangat besar walau untuk 7 orang.
"Ngomong-ngomong, siapa nama kalian?" tanya Letticia setelah membenahi barang-barangnya.
"Namaku Lucia Loti Eiden, putri Duke Eiden," jawab gadis berambut merah bata dan mata hijau.
"Namaku Charlotte Cherry Eiden, saudara kembar Lucia," kata gadis di sebelah Lucia yang memang sangat mirip dengannya. Bedanya, Charlotte berambut hitam legam.
"Namaku Ashley Orville Chaer, putri Duke Chaer," kata gadis yang tidak ikut bernyanyi tadi.
"Namaku Amara Cherry Chehade," kata Amara.
"Namaku Florence Reina Nigel," kata Flo.
"Namaku Emily Playa Choer," kata Emily.
"Namaku Letticia Chandealer," kata Letticia.
"Tidak ada marga?" tanya Ashley.
"Tidak," jawab Letticia.
Letticia sengaja menyembunyikan marganya, untuk menghindari perlakuan berlebihan dan teman palsu atau fake friend.
"Oh, maafkan aku," kata Ashley. Dia mengira Letticia adalah anak sebatang kara dan tidak mengetahui orangtuanya.
__ADS_1
"Hah?" tanya Letticia bingung.
"Tidak ada apa-apa. Tunggu sebentar, aku akan memberi kalian daftar pelajaran," kata Ashley.
Ashley mengobrak-abrik tasnya. Akhirnya dia menemukan tiga lembar kertas. Kerta itu adalah daftar pelajaran yang Miss Smith suruh dia untuk diberikan kepada murid baru.
"Ini," Ashley memberi mereka masing-masing satu.
"Terima kasih," ucap Letticia.
"Kalian mau nyanyi?" tanya Charlotte, "Aku belum puas bernyanyi."
"Hoho kalahkan aku," kata Lucia.
"Ayo," Amara menerima ajakan mereka.
Ashley memulai musik. Kali ini dia ikut bernyanyi. Ashley memang agak jarang bernyanyi. Dia lebih suka melihat kedua temannya bernyanyi walau terkadang suara mereka agak sumbang.
Lucia dan Charlotte memulai. Mereka bernyanyi dengan cukup bagus, terutama Charlotte. Walau terkadang ada nada yang cukup tinggi dan suara mereka crack.
Sekarang giliran Flo dan Emily. Mereka berdua dari awal memang tidak suka dan kurang berbakat bernyanyi. Sehingga hasilnya tidak terlalu bagus. Tapi mereka hanya tertawa bersama.
"Wow, aku tidak menyangka kau berbakat nyanyi," kata Emily.
"Kenapa kau tidak menjadi penyanyi?" canda Flo.
Tentu mereka semua terkejut dengan suara Letticia. Mereka semua belum pernah mendengar suara yang lebih bagus dan sempurna daripada ini. Bahkan penyanyi terkenal sekalipun akan tergeser karirnya jika Letticia menjadi artis.
"Kau benar-benar harus menjadi penyanyi, kawan," kata Charlotte.
"Aku tidak menyangka sahabatku ini benar-benar berbakat dalam segala hal," Amara merangkul Letticia.
Puas bernyanyi, mereka pergi ke kantin. Hari itu, Lucia, Charlotte, dan Ashley diminta khusus oleh Miss Smith untuk menyambut teman sekamar VVIP mereka yang baru. Jadi mereka tidak perlu masuk kelas hari ini.
"Aku traktir," kata Lucia.
Letticia mengangguk saja. Sebenarnya dia tidak enak hati. Pasalnya, dia tentu jauh lebih kaya daripada mereka semua. Tapi Letticia menerima saja ditraktir.
__ADS_1
"Ini namanya sup pelangi. Rasanya enak dan manis dan merupakan salah satu makanan andalan kantin ini," kata Charlotte, "Sup ini diciptakan oleh salah satu penjual kantin dan masih laris sampai saat ini."
"Sepertinya sekolah ini punya banyak keunikan," kata Amara. Dia bergidik melihat air bekas cuci tangan yang dikumpulkan di sebuah wadah khusus. Lalu seorang wanita membuatnya menjadi air minum.
"Wanita itu adalah bu Hoven. Kekuatannya adalah memurnikan air. Jadi air bekas cuci tangan atau air selokan dan air limbah pun dijamin aman kalau sudah dimurnikan olehnya," kata Ashley sambil menyeruput milkshake.
"Hiyy tapi tetap saja," kata Amara, "Kurasa aku akan minum air yang aku buat sendiri mulai sekarang."
"Oh dan satu informasi tambahan yang tidak boleh kalian lupakan. Kekuatan kalian harus cukup kuat atau kalian akan dibully," kata Lucia.
Letticia tenang saja mendengar hal itu. Kalau dia mau, dia bisa mengalahkan dan membunuh semua orang di sekolah ini sekarang.
"Ngomong-ngomong, apa kekuatan kalian?" tanya Emily.
"Kekuatanku elemen tanah level 3 dan elemen air level 2," jawab Lucia.
"Aku elemen petir level 3 dan elemen alam level 3," jawab Charlotte.
"Aku elemen api level 2 dan elemen tanah level 3," jawab Ashley.
"Ada levelnya juga?" tanya Flo.
"Iya. Biasanya murid baru kekuatannya hanya level 1 atau paling tinggi level 2. Bahkan ada yang tidak berlevel," kata Ashley, "Tapi tenang saja. Kalau berlatih giat, level dan kekuatan akan meningkat."
Setelah makan, mereka berkeliling sekolah. Sekolah ini punya berbagai keunikan. Misalnya tentang air bekas cuci tangan yang dijadikan air minum tadi.
"Ini Hoven Garden. Taman ini adalah tempat murid-murid biasa bersantai," jelas Ashley.
Hoven Garden tempat mereka berada sekarang ini sangat indah. Dipenuhi bunga-bunga berbagai warna yang sangat harum. Lebah dan kupu-kupu terbang mencari nektar. Tenang, lebah ini tidak menyengat manusia.
"Ini Carl Arena. Konon, arena ini adalah tempat Carl Arsyi Anderson melangsungkan pertarungan pertamanya," jelas Lucia. Carl adalah salah satu penyihir terkuat yang pernah ada. Dia adalah raja beberapa generasi sebelumnya, itu berarti dia masih sedarah dengan Letticia.
Mereka berkeliling kesana kemari. Karena terlalu bersemangat dan sudah lama berjalan tanpa henti, mereka mulai kelelahan dan kembali ke kamar.
"Di sekolah ini, ada sebuah batu kristal bernama Ice Queen Crystal," kata Charlotte sambil membaringkan dirinya di kasur.
"Ice Queen Crystal?"
__ADS_1
...****************...