
"Sepertinya Chelsea masih dendam denganmu," kata Maria melihat Chelsea yang menatap Letticia tajam.
"Biarkan saja," balas Letticia cuek. Baginya, Chelsea hanya seujung jari darinya.
Maria paham. Wajar Letticia tak peduli. Chelsea bukan apa-apa jika dibandingkan dengan putri kerajaan Morton.
Kejadian Letticia yang menghajar Evoria belum tersebar. Itu karena Letticia memerintahkan agar tidak ada yang menyebarkan kejadian itu. Tentu tidak ada yang berani membantah.
Letticia kembali ke kamar. Di sana ada Amara dan Lucia yang sedang mengobrol. Entah apa yang mereka obrolkan.
"Kalian tidak berlatih?" tanya Letticia, "Arena Parlet akan tutup satu jam lagi."
Note : Arena Parlet hanya dibuka dari jam 9 pagi-7 malam untuk anak kelas 1.
"Aku lelah hari ini," jawab Amara. Dia terlalu memaksakan diri saat berlatih bersama Charlotte tadi.
Letticia mengangguk paham. Dia menghempaskan diri ke kasur dan menatap Amara dan Lucia.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Letticia penasaran.
"Kau tahu, Chelsea bukan murid terkuat di sekolah ini," jawab Amara.
"Yah tentu saja bukan. Kalau orang yang kekuatannya seperti dia adalah murid terkuat di sekolah ini, maka sekolah ini benar-benar menyedihkan," kata Letticia.
"Itu bagimu. Kekuatan Chelsea itu bisa membunuh seorang murid biasa dengan satu serangan," kata Lucia. Baginya, kekuatan Chelsea itu benar-benar mengerikan.
"Besok aku akan mengajari kalian," kata Letticia.
__ADS_1
...****************...
Kini penghuni kamar nomor 17 dan Maria sudah berada di Arena Parlet. Letticia akan mengajari mereka.
"Siapa yang berelemen air di sini?" tanya Letticia. Amara dan Lucia mengangkat tangan.
"Baiklah, aku akan mengajari kalian cara mengendalikan air."
Letticia mengajari mereka cara mengendalikan air yang sama sekali berbeda dengan cara Evoria. Cara yang Letticia ajarkan ini jauh lebih mudah dan sederhana, tapi menghasilkan hasil yang sama.
"Wow kenapa aku tidak tahu cara ini sebelumnya," kata Lucia kagum.
"Kesalahan sekolah ini adalah mempekerjakan guru abal-abal," kata Letticia kesal, "Aku berniat mengganti beberapa pengajar di sini."
"Bagaimana kau akan menggantinya?" tanya Flo.
Setelah mengajari Amara dan Lucia, Letticia lanjut mengajari yang lain. Bahkan dia juga mengajari siswi-siswi yang juga sedang berlatih di sana bersama mereka.
"Letticia!"
Letticia berbalik ke belakang. Nampak seorang gadis berambut ungu dan bola mata kuning. Dia menatap Letticia tajam seolah ingin membunuhnya.
"Siapa kau?" tanya Letticia. Dia merasa tidak mengenal orang ini.
"Aku?" gadis itu tertawa.
"Iya, kau," jawab Letticia kesal.
__ADS_1
"Kau ingat Chelsea, Vira, dan Lilian yang kau hajar beberapa hari yang lalu? Mereka adalah teman-temanku," kata gadis itu tidak senang, "Dan perlu kau tahu, kekuatan Chelsea bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kekuatanku."
"Pertama, beritahu aku namamu dulu," kata Letticia.
"Baiklah. Namaku Camille Cordelia Efendy, anak Marquis Efendy."
"Oke, serang aku sekarang," kata Letticia santai.
"Haha waktu itu aku menonton pertarungan kalian. Dan ternyata setelah aku amati, kekuatanku masih jauh lebih kuat," kata Camille angkuh.
"Bisakah kau menutup mulut busukmu itu dan serang aku?" ujar Letticia kesal. Sepertinya gadis ini hanya bisa membual.
"Baik, jika itu maumu," kata Camille dengan smirknya.
Camille segera melancarkan badai api miliknya. Kekuatan api Camille sudah mencapai level 5 awal.
Letticia mengeluarkan ombak air yang sangat besar. Ombak itu langsung menelan api Camille tanpa sisa.
"Bagaimana mungkin?! Bahkan elemen air level 4 puncak tidak akan bisa memadamkan apiku!" seru Camille terkejut.
"Tentu saja bisa," balas Letticia.
Tak mau membuang tenaga dan waktu, Letticia langsung mengeluarkan tanaman venus flytrap raksasa yang langsung memakan Camille.
"Sekarang dia tidak akan bisa keluar dari sana sampai ada guru yang membantunya," kata Letticia puas, "Ayo kita lanjut berlatih."
...****************...
__ADS_1