
Pagi ini adalah pagi dimana seisi villa menjadi heboh. Teriakan para putri terdengar di mana-mana. Banyak langkah kaki yang terdengar buru-buru. Ya, pagi ini adalah ulang tahun Alvaro dan semua putri sibuk mempersiapkan diri masing-masing. Mereka berusaha tampil paling cantik di acara nanti. Para dayang dan pelayan sibuk mendandani putri masing-masing. Tak terkecuali Letticia.
Froze membangunkan Letticia jam 5 subuh. Letticia menggeliat, belum rela melepas mimpi indahnya. Tapi Froze terus berjuang membangunkan Letticia dan akhirnya Letticia pun bangun dengan terpaksa.
Amara juga bernasib sama. Dia kesal karena terus dibangunkan. Akhirnya Amara bangun juga walau dengan sebelah mata tertutup.
Ternyata 'ritual' mandi hari ini berbeda dengan hari biasa. Pertama Letticia dipijat untuk melemaskan otot tubuh, lalu ia mandi dengan bak penuh kelopak bunga mawar. Dia diberi sabun dan dibilas 3-4 kali. Wajahnya dibasuh dengan krim khusus. Walau membuat wajah Letticia bersih dan terlihat lebih cantik, krim ini membutuhkan waktu setengah jam untuk bekerja. Seluruh tubuh dan ketiaknya juga diberi krim yang sama agar putih bersih.
Setelah mandi, tubuh Letticia dilap dengan handuk sampai benar-benar kering. Rambutnya juga dikeringkan dengan sihir angin yang diberi sedikit sihir api. Cara kerjanya jadi seperti hairdryer.
Lalu, Letticia dipakaikan korset. Ia berpegangan pada tiang kasur sementara Brianna menarik kencang-kencang tali korsetnya. Proses ini sangat menyakitkan. Letticia sampai hampir menangis.
"Aww sebenarnya apa kegunaan korset ini?" umpat Letticia. Dia merasa perutnya sudah cukup ramping tanpa bantuan korset.
Letticia dipakaian gaun yang sudah dibuat dan dipesan khusus untuknya. Pemakaian gaun ini ribet dan memakan waktu hampir satu jam.
Setelah gaun, Letticia didandani oleh seorang profesional. Dia mendandani Letticia dengan banyak dandanan. Mungkin wajah Letticia terasa seperti kanvas lukis bagi wanita ini.
Selesai didandan, Letticia dipakaian beberapa aksesoris. Kepalanya juga dihiasi mahkota putri dan beberapa dekorasi lain.
"Aku lelah..." batin Letticia. Namun ketika ia hendak duduk, Sarah menghentikannya.
"Tuan putri tidak boleh duduk dulu. Nanti gaunnya kusut," Sarah memperingatkan. Letticia hanya bisa pasrah dan tidak jadi duduk.
"Menyebalkan. Aku harus bersiap sampai seperti ini hanya untuk datang ke pesta Alvaro," kata Letticia.
"Semua putri di villa ini juga mengalami hal yang sama, tuan putri," ujar Catherine.
"Pantas dari tadi aku dengar banyak suara teriakan dan omelan," batin Letticia.
__ADS_1
...****************...
"Tuan putri Letticia Chandealer Morton memasuki aula!"
Letticia dan Amara memasuki aula pesta. Semua mata tertuju pada mereka, lalu kembali pada urusan masing-masing.
Everyl melambaikan tangan pada Letticia. Letticia langsung merespon dan menarik Amara ke sana, tempat Everyl, Alice, dan Fia berkumpul.
Letticia mengambil segelas minuman. Bukan alkohol, karena Letticia tidak minum minuman seperti itu. Alkohol bisa merusak tubuh dan memberikan efek buruk lainnya.
"Kau tidak minum alkohol?" tanya Alice.
"Tidak," jawab Letticia singkat. Alice langsung mengerti dan tidak bertanya lagi. Memang ada beberapa orang yang tidak suka minum alkohol atau memang tidak bisa minum alkohol.
"Pangeran Alvaro Jin Wilcox memasuki aula!"
Hampir semua gadis di ruangan tersebut berteriak heboh. Alvaro mengeluarkan smirknya yang membuat mereka berteriak lebih keras lagi. Seolah tidak pernah melihat seorang pria.
"Kau memperhatikan putri dari kerajaan Morton itu?" tanya Arta, raja Wilcox. Dia menyadari Alvaro yang melihat dan tersenyum kecil ke arah Letticia tadi.
Alvaro mengangguk. Dia tidak akan menyangkalnya. Yah, mungkin nanti Alvaro akan memberitahu ketertarikannya dengan Letticia pada ayah dan ibunya. Direstui lebih baik daripada terus menyembunyikan cintanya.
"Ibu setuju kalau kau bersamanya," kata Zenith, ratu Wilcox.
Alvaro merona. Dia memang berharap direstui, tapi tidak dengan kata-kata yang terlalu direct seperti ini.
"Aku senang ibu merestui kami," Alvaro tersenyum.
...****************...
__ADS_1
Sekarang adalah saatnya memotong kue. Kue yang sangat besar dibawa ke tengah aula. Raja Arta dan Ratu Zenith turut menyaksikan momen penting putra mereka.
Letticia mempersiapkan kameranya. Dia harus mengabadikan momen ini dan akan memberikannya pada Alvaro nanti. Sebenarnya Letticia sudah mulai memotret berbagai hal sejak pesta dimulai. Dia juga mengambil beberapa video dan sudah siap merekam.
Semua orang bersorak menunggu lilin ditiup. Alvaro berdoa dan berharap semua harapan dan impiannya terkabul. Lalu ia meniup lilin, diiringi sorakan semua orang. Kejadian itu tak luput dari rekaman Letticia. Dia mengambil dari angle terbaik.
Kemudian, Alvaro sendiri yang memotong kue dan akan dibagikan ke semua tamu undangan. Potongan pertama ia taruh di piring dan memotongnya lagi dengan garpu. Lalu Alvaro menyuapi ayahnya, lalu ibunya.
"Keluarga mereka sangat harmonis," batin Letticia, "Kalau ayah dan ibu masih ada, apa kami akan seperti ini juga?"
Setelah menyuapi Raja Arta, Ratu Zenith, dan tentu dirinya sendiri, Alvaro memotongkan kue satu persatu untuk semua tamu undangan. Saat memberi kue ke Letticia, diam-diam Alvaro memperhatikan wajahnya. Wajah kecil dan mata besar membuat pesona Letticia tak terkalahkan.
"Apa ini hanya di penglihatanku atau dia terlihat menonjol di kerumunan?" batin Alvaro. Walau bebrapa gadis-gadis putri dan bangsawan lain tak kalah cantik, tapi di matanya, Letticia tampak menonjol. Ia bisa menemukan Letticia di manapun ia berada, walau di kerumunan orang sekalipun.
Rasnaya Alvaro ingin memeluk Letticia sekarang juga. Menghangatkannya dalam pelukannya. Tapi tentu ia tidak bisa melakukan itu sekarang. Mungkin Letticia akan langsung menjadikannya patung es.
Setidaknya untuk sekarang.
Letticia lama-kelamaan merasa risih karena Alvaro terus menatapnya seperti itu. Tentu Letticia tidak cukup bodoh untuk tidak mengetahui ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Apalagi Alvaro mengikutinya diam-diam.
Menggunakan komunikasi lewat pikiran, Letticia memperingatkan Alvaro untuk tidak memandang dan mengikutinya lagi.
"Tapi kenapa?" tanya Alvaro.
"Kau membuatku risih."
Letticia memutuskan koneksi. Wajah Alvaro kosong. Dia pergi meninggalkan tempat ia berada. Alvaro hanya sedikit terpukul dengan hal ini. Dirinya membuat Letticia risih?
"Maafkan aku, Alvaro. Tapi aku tidak bisa memaksakan diri untuk mencintai seseorang. Suatu saat, kau akan menemukan yang lebih baik dariku."
__ADS_1
...****************...