
Bahkan seorang raja pun bisa galau. Mereka juga manusia. Itulah yang dirasakan Aldrian saat ini. Dia menggalaukan masalah yang tidak penting kalau sesuai akal sehat. Tapi ini bukan masalah lain, tapi masalah hati.
Kemarin, Stevan melaporkan bahwa sangat banyak surat yang dikirim ke istana. Di antaranya ada raja muda, pangeran, pejabat, ksatria, dan lain-lain. Mereka semua melamar Letticia dan mengirim banyak hadiah.
Yah, seharusnya Aldrian tidak galau dengan itu. Tapi kenapa? Kenapa hatinya terasa sakit?
Tiba-tiba, Stevan masuk. Dia memperhatikan ekspresi Aldrian selama beberapa saat, dan yakin kalau Aldrian galau seharian ini. Pasti penyebabnya adalah surat-surat itu.
"Tuan, kalau anda menginginkan seorang gadis, maka anda harus berusaha mengejarnya, atau dia bisa diambil pria lain," saran Stevan.
"Hey, apa maksudmu?" tanya Aldrian mengerutkan dahi.
"Menyembunyikan perasaan itu tidak baik. Lebih baik mengutarakannya. Bisa membuat lega dan mendapat kepastian."
Aldrian merenungkan kata-kata Stevan. Kata-kata itu ada benarnya. Laki-laki mengejar perempuan. Itu sudah kodrat mereka.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku belum pernah jatuh cinta atau pacaran," tanya Aldrian pasrah. Dia punya banyak pengetahuan kecuali untuk hal ini.
"Saya punya banyak mantan dan pengalaman pacaran," ujar Stefan sedikit menyombongkan diri.
"Entah apa yang dia banggakan dari itu," batin Aldrian. Tapi dia tidak terlalu mempedulikannya saat ini. Yang penting adalah mendapat tips dari sang master percintaan, Stevan.
"Ekhem, jadi tuan, pertama anda harus mengetahui pria tipe tuan putri," ujar Stevan.
"Bagaimana aku mengetahui itu?"
"Anda harus meneliti itu dengan berbagai cara. Bisa dengan mengamatinya atau bertanya pada orang terdekatnya. Sejauh ini, sumber terbaik adalah Amara yang merupakan sahabat tuan pugri sejak lama," jelas Stevan panjang lebar.
Setelah berpikir beberapa saat, Aldrian menyetujui saran itu. Dia segera menyuruh seseorang membawa Amara ke istana.
...****************...
Amara memasuki ruang kerja Aldrian dengan gugup. Dia merasa tidak pernah berbuat perbuatan kriminal. Paling hanya mencuri biskuit teman sekamarnya. Tapi kenapa Aldrian memanggilnya?
"Ya-Yang Mulia, ada apa memanggil saya?" tanya Amara, berbicara sangat formal tanpa sadar. Dia langsung kaget dan malu. Amara adalah sahabat Letticia yang merupakan pewaris tahta sah kerajaan ini. Dan dia bertemu Aldrian beberapa kali sebelumnya, jadi tidak perlu seformal itu.
Mendengar ucapan Amara, Aldrian tertawa. Gadis ini terlihat sangat polos.
Setelah mempersilahkan Amara duduk, Aldrian berjalan ke sofa untuk duduk di depan Amara dan bicara padanya. Dan selama ia berjalan beberapa detik ke sofa, kepalanya dipenuhi pikiran tentang apa yang akan ia tanyakan.
Beberapa menit setelah percakapan dimulai, Aldrian mulai membanjiri Amara dengan pertanyaan. Semuanya berkaitan dengan Letticia. Amara menjawab dengan sabar, walau jauh di lubuk hati yang paling dalam, dia punya perasaan pada Aldrian. Perasaan untuk mengambil mulut pria ini sekarang juga dan membuatnya berhenti bertanya pertanyaan yang tidak penting.
Tak lupa, Aldrian mencatat semua jawaban Amara. Amara mulai melihat Aldrian sebagai salah satu pria gila yang mengejar Letticia, seperti di sekolah lama mereka di Bumi.
__ADS_1
"Maaf, tapi apa kau menyukai Letticia?" tanya Amara hati-hati. Walau perasaan Aldrian sudah terlihat jelas, tapi hanya memastikan dari orangnya langsung.
"Ya," jawab Aldrian singkat, tanpa ragu. Lagipula kalau Amara mengetahui perasaannya, dia bisa membantu mendekatkan Aldrian dan Letticia. Bukankah itu bagus.
Amara mematung beberapa saat. Mungkin karena sudah terbiasa melihat Letticia dan sangat dekat dengannya, Amara jadi tidak menyadari seberapa besar pesona seorang Letticia.
"Ekhem, tujuanku memanggilmu hari in adalah untuk menanyakan beberapa pertanyaan," ujar Aldrian, mengembalikan fokusnya.
"Tanyakan saja."
"Apa tipe ideal tuan putri?"
Setelah berpikir sebentar, Amara menjawab, "Aku rasa kami pernah bicara tentang ini sebelumnya. Tipe idealnya adalah pria berkulit seputih dirinya, mata yang indah, tubuh tinggi tegap serta punya six pack, baik, dan kuat."
Note : Tipe ideal Letticia yang berkulit putih tidak dimaksudkan untuk rasis. Setiap orang punya tipe ideal masing-masing, dan tipe ideal Letticia di sini adalah pria berkulit putih.
Aldrian melongo. Gadis ini tidak gampangan rupanya. Aldrian segera mengecek apa dirinya cocok dengan tipe ideal Letticia tersebut.
"Kulitku putih, walau tidak seputih tuan putri. Dia sering memuji mataku indah sewaktu kecil. Tubuhku tinggi tegap dan six pack. Aku juga cukup kuat dan baik," pikir Aldrian. Setelah memikirkan hal-hal itu, dia merasa senang. Sepertinya dirinya sudah memenuhi tipe ideal Letticia.
"Ah, aku lupa. Dia juga suka pria yang humoris, pandai memasak, baik, berbakat seperti idol, tampan..."
Bruk!
"Hiks... Letti..." tangis Aldrian. Setelah itu, dia langsung pingsan.
"Bangun!"
Byurr!
Plak!
"Asisten kurang ajar! Beraninya kau menyiramku?!" omel Aldrian.
"Anda menampar saya!"
"jdksjxjsjsnsbbsjsbdsjjs!"
"jsjdjskdjsjjxjsjdbdndbn!"
"Emm... Aku akan pergi. Lanjutkan saja," kata Amara, lalu langsung pergi secepat kilat dari tempat itu.
...****************...
__ADS_1
Ekskul dance adalah salah satu ekskul favorit Letticia. Dia sudah lama ingin belajar dance agar suatu saat dirinya bisa menyamai idol, bahkan mungkin bisa jadi idol.
Letticia cukup berbakat dalam hal dance. Dia adalah salah satu yang paling berbakat di ekskul ini. Guru ekskul juga mengapresiasi bakatnya.
Tiba-tiba, pintu diketok ketika Letticia sedang memperagakan chorus salah satu lagu di depan cermin. Letticia menghentikan kegiatannya dan membuka pintu.
Ternyata Stevano. Stevano adalah senior Letticia yang juga mengikuti ekskul dance. Dia sangat berbakat. Letticia suka melihat penampilan Stevano. Lama kelamaan, dia tenggelam dalam pesona pria ini.
"Waktu ekskul sudah selesai. Pulang dan istirahat," perintah Stevano tegas. Walau begitu, Letticia tahu bahwa Stevano hanya mengkhawatirkan dirinya. Akhir-akhir ini, ada beberapa murid yang memaksakan diri dan pingsan. Stevano tidak ingin Letticia seperti itu.
"Aku hanya berlatih sebentar, kak. Aku akan pulang sebentar lagi," jawab Letticia.
"Jangan terlalu lama. Istirahat cukup itu penting."
"Iya. Terima kasih sudah memperhatikanku."
Stevano meninggalkan ruang latihan. Sejenak, Letticia berpikir tentang Stevano. Dia bisa dibilang tampan dan cukup banyak yang tertarik padanya. Stevano juga punya pesonanya sendiri, yaitu keren tapi humoris. Saat bertemu Stevano, terkadang Letticia merasa seperti sedang bertemu seorang idol. Karena Stevano hampir tidak ada bedanya dengan idol. Letticia pernah mengintip Stevano bernyanyi dan suaranya cukup bagus.
"Aku akui aku menyukainya..." Letticia menghela napas dan jujur pada dirinya sendiri.
"Hoho menyukai siapa, besti?"
Letticia berbalik. Terlihat Halley muncul dari ruang ganti. Rupanya dia sudah di sana dari tadi.
"Nguping?" tanya Letticia dengan tatapan tajam. Halley hampir mati karenanya.
Halley tertawa malu, "Aku sudah di sana dari tadi. Selesai ganti baju, aku lihat kalian mengobrol dan tampak akrab. Aku tidak mau mengganggu, jadi aku memutuskan tidak keluar dan melihat kalian dari jauh."
"Jangan bocorkan, ya."
"Iya. Ngomong-ngomong, kalian terlihat serasi tadi."
Hening.
Serasi? Yang benar saja. Dan bagaimana Halley bisa bilang mereka terlihat akrab ketika yang mereka ketahui tentang satu sama lain hanya nama?
"Serius. Kalian terlihat sangat cocok," kata Halley lagi.
"Benarkah?" Letticia tersipu malu, dan Halley menertawakannya.
"Yah, begitulah. Mungkin jodoh," canda Halley.
"Mungkiiiinnn?"
__ADS_1
...****************...