Ice Princess

Ice Princess
Mencari Tanaman#3


__ADS_3

Kini Letticia berada sekitar 50 meter dari kaki gunung Chankai. Dia tersenyum puas, sudah menemukan jalan keluar dari masalahnya. Dan gunung di hadapannya akan menjadi sedikit berbeda sebentar lagi.


"Hoho bahkan peri pun tak bisa mengelabuiku," puji Letticia pada diri sendiri.


Letticia mulai melakukan ritual. Dia menyalakan api lalu membakar daun pohon hitam. Muncullah asap hitam yang mengepul.


Letticia memastikan tidak ada orang dan hewan di sekitar. Lalu Letticia membuat tornado besar yang menerbangkan asap itu sampai mengitari gunung.


Tak lama, gunung Chankai menjadi jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Dugaan Letticia benar. Tinggi gunung ini hanya ilusi yang dibuat oleh peri untuk menyembunyikan dan melindungi pohon putih dari sembarang orang.


Letticia menyembunyikan ketinggian gunung itu dari orang lain selain dirinya. Lalu ia terbang ke puncak gunung, tak sabar melihat dan menyentuh pohon putih.


Sesampainya di puncak gunung, Letticia mendarat dengan mulus. Dia sudah memberi kakinya dengan sepatu berelemen api agar dingin es tak membuat kakinya kedinginan. Tubuhnya juga sudah diselimuti elemen api.


"Wow tanpa elemen api level tinggi, mungkin aku sudah membeku di tempat ini," kata Letticia saat merasakan sedikit sejuk padahal dia sudah menggunakan elemen api level tinggi. Tak heran tidak banyak orang yang nekad mendaki gunung Chankai.


Letticia berjalan menyusuri puncak gunung. Dia bertekad menemukan pohon itu hari ini. Letticia sudah berjanji dan janji harus ditepati.


"Nak, tolong kakek."


Letticia berbalik. Nampak seorang kakek dengan tongkatnya. Kakek itu tampak kelaparan.


"Kakek butuh bantuan apa?" tanya Letticia sopan.


"Bisakah kau buatkan aku sebuah rumah?" tanya kakek itu.


Letticia tertegun. Baru bertemu sudah minta dibuatkan sebuah rumah? Apa-apaan kakek ini? Tapi Letticia mencoba bersabar.


"Maaf kek. Tidak aman bagi kakek untuk tinggal di gunung ini. Aku bisa membawa kakek untuk tinggal di tempat yang lebih baik," ujar Letticia kasihan pada kakek itu.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Aku akan mengirim kakek ke istana sekarang juga."

__ADS_1


Seketika, cahaya terang menyelimuti kakek tua tersebut. Sangat terang sampai-sampai Letticia harus menutup mata atau dia akan buta.


"Tidak perlu membawaku. Aku baik-baik saja."


Letticia membuka mata. Nampak seorang wanita cantik berambut panjang merah menyala dan bola mata dengan warna yang sama. Dia menggunakan gaun merah yang ditaburi permata-permata kecil berwarna merah pula.


"Peri?" tebak Letticia.


"Rupanya kau mengenaliku," peri itu tersenyum, "Kemarilah, aku akan membawamu ke suatu tempat."


"Ke mana?"


"Tempat yang sudah lama ingin kau dan banyak orang lainnya kunjungi."


Letticia mengikuti peri itu. Dia yakin, peri tak akan mencelakainya.


Peri tersebut membawa Letticia ke sebuah tempat di mana sebuah meja bundar terletak di tengah, dikelilingi delapan kursi. Ada dua kursi yang kosong dan enam lainnya diduduki enam peri yang sama cantiknya dengan peri yang mengantar Letticia sekarang.


"Duduklah."


"Letticia, apa kamu bersedia menjadi peri kedelapan di sini?" tanya peri berambut dan bermata biru tiba-tiba.


"Apa?"


"Kau bisa menjadi peri seperti kami," jawab peri berambut dan bermata kuning.


Letticia terdiam. Menjadi peri tentu bagus. Dia juga tidak perlu memikirkan apapun dan hanya akan bersenang-senang. Tapi Letticia teringat keluarganya, Lora, Angel, dan sahabat-sahabatnya.


"Maaf, aku menolak," jawab Letticia ragu-ragu.


"Kenapa?" tanya peri hijau.


"Aku menolak. Aku ingin tetap bersama keluarga dan teman-temanku," jawab Letticia mantap. Kali ini dia terlihat yakin.

__ADS_1


Ketujuh peri terkesan melihat ketulusan dan kesungguhan Letticia. Mereka berdiskusi sebentar. Tak lama, peri merah berdiri dari kursinya.


"Ikuti aku."


Letticia mengikuti peri merah. Peri membawanya ke sebuah taman yang sangat indah. Pohon di sana berwarna-warni. Semua warna ada. Kecuali warna putih.


Mereka berdua masuk cukup jauh ke dalam. Lalu peri merah berhenti, begitu juga Letticia. Kini mereka berada di tengah taman. Terlihat sebuah pohon yang sangat besar, lebih besar dari pohon lainnya.


Inilah pohon putih.


"Ambil sesuai kebutuhanmu."


Letticia menurut. Dia mengambil daun pohon putih dengan senang hati lalu memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan. Letticia mengambil secukupnya. Dia tidak ingin terlihat serakah.


"Peri, kenapa hanya ada satu pohon putih?" tanya Letticia.


Peri merah terlihat sedih. Letticia menjadi khawatir. Apa dia salah bertanya?


"Dulu, kami ada 8 peri. Setiap peri bisa membuat pohon sesuai warnanya masing-masing. Namun baru saja peri putih membuat satu pohon, dia menghilang tanpa jejak. Kami tidak bisa menemukannya selama berabad-abad," cerita peri merah dengan mata berkaca-kaca.


Letticia memeluk sang peri, "Kalian pasti akan menemukannya suatu hari nanti."


"Terima kasih."


Letticia dan peri merah kembali ke meja bundar tempat para peri berada.


"Terima kasih, kakak-kakak peri. Aku akan kembali sekarang," ucap Letticia sedikit membungkuk.


"Secepat ini?" tanya peri hijau sedikit kecewa.


"Kakak dari temanku sangat membutuhkan obat sekarang," kata Letticia.


"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi ingat, kau bisa kembali ke sini kapan saja. Jika ada kesulitan, pergi ke sini dan panggil kami. Kami akan membantu sebisanya," kata peri jingga.

__ADS_1


"Aku pasti akan mengingatnya."


...****************...


__ADS_2