Ice Princess

Ice Princess
Rapat Lima Kerajaan


__ADS_3

Ternyata tidak hanya kerajaan Morton, kerajaan-kerajaan lain pun turut diserang monster. Ada satu induk monster di tiap kerajaan, tapi hanya kerajaan Morton yang berhasil membunuh induk itu. Beritanya tersebar, dan kini Letticia pergi ke mana-mana untuk membunuh induk monster yang bisa dia habisi dalam lima menit.


"Bagus. Sekarang aku jadi artis," sungut Lettica. Dia membuang surat kabar di tangannya ke lantai dan menenggelamkan kepala di dalam lipatan tangan.


Letticia mulai berpikir. Apa kerajaan lain sebegitu lemahnya? Mereka yang terlalu lemah, atau dia yang terlalu kuat?


Brianna memasuki kamar Letticia. Dia memanggil Letticia untuk pergi ke kerajaan Norn, kerajaan selanjutnya yang meminta Letticia membantai monster di kerajaan mereka. Mau tak mau, Letticia pergi dan berdiri untuk bersiap pergi ke kerajaan Norn.


Dalam perjalanan ke kerajaan Norn, Letticia menggerutu dalam hati. Mungkin dia harus membuka sekolah sihir sendiri untuk mengajari seluruh warga dunia bagaimana menjadi penyihir baik.


Setibanya di kerajaan Norn, mereka disambut banyak monster bahkan sebelum benar-benar masuk ke kerajaan. Sepertinya kerajaan Norn tidak bisa membunuh monster dengan baik.


Tanpa banyak bicara, Letticia membunuh monster yang ada. Dia hanya ditugaskan membunuh induk monster. Sekarang dia harus mencari induk monster itu dan membunuhnya agar masalah ini cepat selesai dan mereka bisa pulang.


"Ketemu kau, induk monster s*alan," kata Letticia begitu melihat induk monster yang memproduksi monster secara terus menerus. Induk monster itu melihat Letticia dan meraung.


Kini, banyak monster menyerang Letticia. Tapi mereka tidak bisa mengalahkan Letticia yang sedang jengkel. Dia menggunakan pedang untuk menebas mereka semua. Kini tinggal induk monster yang membuat Letticia memiliki dendam pribadi padanya.


SLASH!


"Selesai," ujar Letticia santai sambil menyarungkan pedangnya.


Setelah membunuh induk monster, Letticia kembali ke pasukan yang mengantarnya, lalu memerintahkan segera pulang. Mereka tercengang, tapi langsung mengantar sang putri pulang.


...****************...


"Aldrian, apa kerajaan lain sangat lemah?" tanya Letticia. Dia menyandarkan lengan pada meja dan menggunakan tangan untuk menaruh kepala.


"Bukan mereka yang terlalu lemah, tapi kau yang terlalu kuat," batin Aldrian.


"Jawab pertanyaanku," desak Letticia karena Aldrian tidak menjawab pertanyaannya dan malah diam seperti orang bisu.


"Mereka tidak terlalu lemah," jawab Aldrian.


"Huh mereka bahkan tidak bisa membunuh bedebah kecil," sungut Letticia, mengingat sudah berapa kerajaan yang dia kunjungi hari ini.

__ADS_1


"Monster-monster itu memang kuat. Induknya lebih kuat lagi," Aldrian menyeruput teh, "Tanpamu, mungkin kerajaan ini juga akan kesulitan."


Letticia terdiam. Dia berpikir bagaimana keadaan kerajaan ini selama bertahun-tahun sebelum dia datang. Saat dia pertama kali kembali ke sini setelah dibawa ke Bumi, kerajaan ini terlihat sangat makmur. Dan dari kabar yang sering dia dengar, semua itu berkat kerja keras Aldrian.


"Kau harus menjadi raja," kata Letticia tanpa sadar. Dia menutup mulutnya secara spontan karena kaget mengatakan sesuatu tiba-tiba.


Aldrian melongo, lalu tertawa, "Saya tidak punya darah kerajaan dan tidak mungkin menjadi seorang raja."


Kata-kata Aldrian ada benarnya. Dia tidak punya darah kerajaan, jadi tidak mungkin menjadi seorang raja. Tapi dalam benak Letticia, dia punya ide bahwa itu bisa terjadi dengan pernikahan. Tapi Letticia merasa Aldrian adalah orang yang mengabdi ke kerajaan dan tidak memikirkan soal hal seperti itu. Lagipula, bagaimana cara membuat seorang putri tertarik pada Aldrian dan menikahinya? Aldrian memang tampan, tapi pernikahan bukan hal sederhana. Apalagi bagi keluarga kerajaan.


"Aku akan mencarikan calon seorang tuan putri untukmu," tekad Letticia.


Aldrian tertawa kecil, "Tidak perlu, tuan putri. Saya sudah senang dengan berada di sisi tuan putri dan bisa melindungi tuan putri sebagai ksatria."


Diam-diam, kata-kata Aldrian barusan membuat Letticia merasa.. senang? Itu masuk akal, tapi entah kenapa ada suatu perasaan yang membuat Letticia bahagia.


"Aku ingin mengadakan pertemuan dengan empat kerajaan lain," kata Letticia, dengan cepat mengendalikan suasana hatinya.


"Untuk apa?" tanya Aldrian heran. Ini pertama kalinya Letticia ingin mengadakan rapat. Biasanya dia bahkan akan kabur demi menghindari rapat. Aldrian pernah menangkap Letticia turun dari jendela dengan kain yang diikat menjadi tali panjang. Padahal dia bisa terbang.


"Untuk melatih mereka agar bisa membuat rakyat dan penyihirnya lebih baik," jawab Letticia melipat tangan di depan dada sambil mendengus. Kerajaan lain harus jadi lebih baik agar bisa melindungi rakyatnya.


Letticia bersandar di kursi. Aldrian memang tampan. Entah bagaimana selama ini dia bisa bertahan ketika ada orang setampan Aldrian ada di sampingnya. Gadis lain mungkin tidak akan tahan dengan pesona yang begitu luar biasa.


"Akhh! Kau pasti gila!" Letticia mengacak rambutnya sendiri, "Baiklah, ini tidak mungkin."


...****************...


Letticia memasuki ruangan. Empat orang berwajah tegang menunggunya di dalam. Terlihat mereka semua ada rasa segan dan takut pada Letticia. Padahal Letticia merasa tidak melakukan apapun yang salah.


"Selamat datang, tuan putri," sambut semua orang dengan sedikit membungkukkan badan, memberi hormat.


"Terima kasih," balas Letticia sopan.


Dengan diiringi pandangan semua orang, Letticia duduk di kursi di ujung meja panjang. Dia minum segelas air lalu memandang orang di sekitar. Semua tampak menunggu apa yang akan ia katakan dan lakukan.

__ADS_1


"Ehem, baiklah. Kita pasti sudah mengetahui nama dan asal satu sama lain, jadi ayo langsung ke intinya. Aku akan mengadakan pelatihan untuk kalian semua," kata Letticia to the point dengan berwibawa.


"Aku setuju," kata Jiole, ratu kerajaan Antares.


"Aku juga setuju," timpal Nicole, raja kerajaan Panekunaka yang masih seumuran dengan Letticia.


"Bolehkah saya bertanya?" tanya Whine, putri kerajaan Qolier yang datang mewakili ayahnya yang sibuk mengurus kerajaan, sementara ibunya sakit keras.


"Silahkan," jawab Letticia mempersilahkan Whine bertanya.


"Kapan pelatihan akan diadakan, seperti apa pelatihannya, dan siapa yang akan dilatih?" tanya Whine menanyakan tiga pertanyaan sekaligus.


Letticia berpikir sejenak, "Pelatihan akan diadakan seminggu lagi. Kalian bisa membawa pasukan sebanyak-banyaknya yang akan dibagi menjadi beberapa kelompok dan dilatih bergantian oleh saya sendiri. Mengenai seperti apa pelatihannya, hal itu belum diputuskan."


"Baiklah, terima kasih," ucap Whine sopan.


Tinggal pangeran Richard dari kerajaan Alexander yang masih diam sedari tadi. Entah dia sedang memikirkan mau setuju atau tidak, atau memikirkan hal lain, atau mungkin dia sama sekali tidak peduli dengan pelatihan ini.


"Apa pangeran Richard setuju?" tanya Letticia yang tidak mau menunggu pangeran itu sampai dia menjawab dengan sendirinya.


"Ya, ya, aku setuju. Hoahmm... Bagaimana kalau kita akhiri rapat ini?" tanya pangeran Richard menguap.


"Ah, baiklah kalau begitu. Rapat hari ini sampai di sini saja. Sampai jumpa," kata Letticia agak canggung.


Setelah semua orang pergi, Letticia duduk dan cemberut serta memaki pangeran tadi dalam hati. Pangeran itu, walau tampan, tapi sangat kurang ajar dan tidak tahu sopan santun. Sepertinya dia memang tidak peduli dengan rapat tadi.


Aldrian melihat Letticia yang kesal dan hanya tersenyum melihatnya. Gadis itu selalu mudah kesal dan cemberut sejak dulu. Untung wajahnya cantik, bahkan saat cemberut. Ekspresi tidak bisa mengubah kecantikan alami yang dimiliki Letticia. Tapi mungkin dia kebablasan dan tidak mempedulikan ekspresinya.


Guru etiket sudah sering mengajari Letticia selalu tersenyum, tapi Letticia merasa senyum palsu itu melelahkan dan merepotkan. Guru etiketnya hanya geleng-geleng kepala dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.


"Hey, aku tahu kau melihatku dari tadi," tegur Letticia.


"Ah, maaf," ucap Aldrian keluar dari balik tembok.


"Pergi," perintah Letticia tegas. Suasana hatinya tidak bagus.

__ADS_1


"Iya," jawab Aldrian patuh. Memicu amarah Letticia adalah neraka. Jadi jangan pernah melakukannya.


...****************...


__ADS_2