Ice Princess

Ice Princess
Mencari Tanaman#2


__ADS_3

Letticia berjalan hendak memasuki kuil suci. Mungkin dia bisa mendapat sedikit informasi tentang pohon putih di sini. Putih adalah lambang kesucian. Mungkin ada yang mengetahui tentang pohon itu.


"Ada perlu apa anda masuk?" tanya penjaga.


"Aku ingin bertanya beberapa hal. Izinkan aku masuk," jawab Letticia.


"Hm kami harus bertanya pada guru besar terlebih dahulu."


Kedua penjaga itu masuk ke dalam kuil. Letticia menunggu di luar. Dia tidak marah karena penjaga itu tidak mengizinkannya masuk. Orang yang tidak berkeperluan memang tidak boleh masuk sembarangan. Walau dia seorang putri, dia harus tetap menaati peraturan. Letticia harus memberi contoh yang baik pada rakyatnya. Dia bertekad menjadi ratu yang baik.


Seorang pria tua dengan jenggot sedada menghampiri Letticia. Sepertinya pria itu adalah guru besar kuil ini.


Letticia sedikit membungkuk memberi hormat pada pria tua tersebut, "Salam, nama saya Letticia Chandealer. Dan saya hanya ingin menanyakan beberapa hal."


"Nak, bagaimana kalau kau tinggal di sini saja? Sepertinya kau adalah seorang pengembara. Aku akan menerimamu sebagai muridku," tawar guru besar tersebut. Dia merasa kasihan melihat anak seumuran Letticia berkelana sendirian di dunia yang kejam ini.


"Saya menerima niat baik tuan. Tapi saya baik-baik saja seperti ini," jawab Letticia. Dia cukup terkesan dengan seberapa baik dan ramahnya guru tersebut.


"Baiklah jika itu pilihanmu," kata guru besar, "Mari masuk."


Pria tua tersebut membawa Letticia masuk ke dalam kuil. Mereka berdua duduk di kursi kayu dengan meja di tengahnya. Seorang anak yang sepertinya salah satu murid sang guru menyuguhkan teh dan kue kering.


"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?" tanya pria tua tersebut sambil menyeruput teh hijau hangatnya.


"Saya hanya ingin bertanya tentang pohon putih," jawab Letticia.

__ADS_1


"Aku hanya punya sedikit informasi mengenai pohon itu," kata guru besar. Dia berkata jujur.


"Tak apa. Aku sangat membutuhkannya."


Guru besar mulai menjelaskan hal tentang pohon putih yang diketahuinya.


Pohon putih adalah sebuah pohon yang hanya ada satu di dunia ini. Ada yang mengatakan bahwa ada dua, tapi yang satunya lagi tidak pernah ditemukan. Masing-masing pohon dijaga oleh tujuh peri.


10 tahun lalu, seorang pengembara, entah bagaimana caranya, berhasil menemukan pohon putih. Lalu dia memetik beberapa daun dari pohon tersebut dan membawanya.


Setahun kemudian, penyakit demam merah muncul. Penyakit ini cukup langka, namun obatnya belum ditemukan. Adik sang pengembara juga terkena penyakit ini. Pengembara itu mencoba membuat obat dari apapun yang ada di rumahnya, termasuk daun pohon putih.


Adik pengembara tersebut berhasil sembuh. Pengembara itu mencatat bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat obat demam merah.


Pengembara itu pernah bercerita tentang penemuan pohon putih pada adiknya. Pembicaraan mereka tak sengaja didengar oleh salah satu tetangga. Tapi dia tak mempedulikan hal itu dan menyangka pohon putih hanya dongeng yang dibuat sang pengembara untuk adiknya. Setelah sang pengembara meninggal, barulah tetangga tersebut menyadari bahwa kisah itu nyata.


Tetangga itu menceritakan pada keturunan-keturunannya tentang pohon putih dan berharap suatu saat nanti ada yang bisa menemukannya.


"Dan aku adalah cucu tetangga itu," kata guru besar.


"Benarkah? Di mana pohon putih itu?" tanya Letticia.


"Konon pohon putih berada di puncak sebuah gunung es yang menyentuh langit," jawab sang guru besar, "Itu yang diceritakan nenekku pada ayahku, dan ayahku menceritakannya padaku."


Letticia manggut-manggut mengerti. Mungkin petunjuk ini cukup untuk mencari pohon putih. Tapi di mana ada gunung es yang menyentuh langit?

__ADS_1


"Kau harus berterima kasih padaku. Aku tak memberitahu semua orang tentang ini," canda guru besar sambil tertawa.


"Terima kasih, guru besar," Letticia membungkukkan badan, "Kalau boleh tahu, kenapa guru besar memberitahuku dengan begitu mudah?"


"Karena aku merasa ada yang spesial denganmu," jawab guru besar, "Instingku tidak pernah salah."


Letticia tertawa. Insting sang guru memang tepat.


...****************...


Letticia berpikir keras. Gunung es yang menyentuh langit? Apa ada gunung seperti itu di dunia ini?


"Hanya ada 3 gunung es di dunia. Gunung Harvemort di kerajaan Morton, gunung Gargleye di kerajaan Ye, dan gunung Chankai di kerajaan Chaka," guman Letticia. Dia menghela napas, "Tapi tidak ada satupun dari mereka yang menyentuh langit."


Yang paling tinggi dari ketiga gunung itu adalah gunung Chankai dan yang paling rendah adalah gunung Gargleye. Tapi gunung Chankai tidak sampai menyentuh langit.


"Ya ampun, sepertinya aku berhalusinasi," ujar Letticia saat melihat ayah dan ibu kandungnya di sudut ruangan. Mungkin ini efek dari rasa rindu karena melihat lukisan mereka beberapa hari yang lalu.


"Sebentar... Ilusi?"


Letticia melamun sejenak. Sepertinya dia menemukan titik terang dari masalah ini.


"Benar! Sepertinya itu hanya ilusi!" serunya senang, "Aku harus pergi ke gunung Chankai sekarang."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2