
Penghuni kamar nomor 17 kini dalam PW alias Posisi Wuenak. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan tak memperhatikan pesan Miss Suzy yang bahkan tak mereka baca.
Letticia menaruh HPnya. Lama-lama bosan juga baca komik dii HP. Kebanyakan komik butuh waktu beberapa hari hingga seminggu untuk satu kali update. Isinya juga sangat sedikit. Bahkan ada yang update 2 minggu sekali. Tentu hal itu membuat minat baca Letticia berkurang.
Tok tok tok!
Hanya Letticia yang memperhatikan ketokan pintu itu. Yang lain terlalu sibuk untuk hal ini. Letticia segera berjalan ke pintu dan membukanya.
"HUAA!!"
Letticia hampir terjungkal. Bagaimana tidak, dia melihat seorang gadis dengan rambut hitam legam dan bola mata hitam yang bersinar, serta muka datar yang sepertinya sudah menjadi ciri khas gadis itu. Ditambah rambut hitam panjangnya itu terjatuh ke bawah dan membuat kesan bahwa dia adalah seorang hantu.
Gadis itu segera menyingkirkan rambut yang ada di wajahnya setelah mengetahui hal itu mengagetkan Letticia. Dia tidak mau membuat kesan pertama yang buruk pada teman sekamar baru.
"Salam kenal, namaku Halley Jung Hae, anak kedua Marquis dan Marchioness Hae," ucap Halley. Berbanding terbalik dengan penampilannya, Halley terlihat cukup ramah.
"Wow teman sekamar baru?!" seru Amara yang langsung menerobos Letticia yang berada di depan pintu untuk melihat gadis itu.
"Kau mau mati?" tanya Letticia dengan nada mengerikan.
"Ah ti-tidak," jawab Amara gelagapan. Kini dia sukses membuat putri kerajaan Morton marah. Sungguh akhir hayat yang indah. Dijadikan sate oleh seorang putri lalu digunakan sebagai suap kepada kaum 100 tusuk yang mayoritas penduduknya adalah sundel bolong.
"Silahkan masuk," ucap Letticia pada Halley. Halley agak kaget dengan aura Letticia tadi. Jujur, aura itu sangat menakutkan lebih dari apapun.
Letticia mengantar Halley ke kasurnya yang berada di ujung kanan deretan kasur.
Note : Saat ada murid baru, kasur akan otomatis muncul saat murid tersebut memasuki kamar.
"Terima kasih," ucap Halley. Dia segera mengatur barang-barangnya. Halley juga menaruh bingkai foto. Foto lima orang yang tersenyum bahagia. Sepertinya itu bingkai keluarga Halley.
Semua orang bergantian menyambut Halley. Awalnya mereka agak takut, tapi sifat dan pribadi Halley yang jauh berbeda dari penampilannya membuat mereka senang berkenalan dengannya.
__ADS_1
Tiba-tiba, Ashley melihat Lucia yang sedang tidur lelap. Ashley tersenyum jahil. Dia mendekati semua orang dan berkata pelan agar tidak membangunkan Lucia,
"Lucia sedang tidur. Bagaimana kalau nanti seperti ini..."
...****************...
Lucia membuka mata. Dia merasa lebih baik setelah tidur. Rasanya energinya sudah terisi kembali dan siap beraktivitas.
Baru saja Lucia loading setelah bangun, dia langsung menjerit,
"HANTUUU!!"
Lucia yang pada dasarnya memang takut hantu, langsung melompat dari tempat tidur. Dia tak peduli lagi dengan kakinya yang terbentur kaki kasur. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah lari dari hantu itu.
Lucia mencoba meminta tolong pada teman-temannya. Namun tidak ada siapapun di kamar. Dia berusaha membuka pintu, tapi pintunya terkunci. Alhasil, Lucia jatuh terduduk. Kakinya lemas karena takut dan terbentur kaki kasur.
"Mama... Selamat tinggal," ucap Lucia sambil menutup mata dan terisak saat hantu itu semakin dekat.
"Hey, aku manusia."
Lucia membuka mata. Nampak hantu tadi yang tepat di depannya. Hantu tersebut segera menyingkirkan rambut hitam panjang yang menutupi wajahnya, menampilkan wajahnya yang terlalu manusiawi untuk menjadi hantu.
"Siapa kau?!" seru Lucia. Dia sudah menerima bahwa Halley bukanlah hantu. Tapi sekarang Lucia mengira Halley adalah penyusup!
"Aku Halley Jung Hae, teman sekamar baru," jawab Halley.
Semua teman sekamar mereka muncul satu persatu. Mereka tertawa terbahak-bahak, puas melihat reaksi Lucia yang bertindak seperti dia akan mati saat itu juga.
"Kalian menjahiliku!" seru Lucia kesal. Dia berdiri lalu menghempaskan diri ke kasur. Lucia menutupi dirinya dengan selimut.
"Makanya jangan tidur terus," tawa Charlotte melihat kembarannya. Situasi ini cukup familiar bagi Chalotte. Sewaktu kecil, dia sering menjahili Lucia yang polos. Charlotte mengira Lucia akan berubah seiring bertambahnya usia. Tapi ternyata tidak. Anak itu tetap polos seperti dulu.
__ADS_1
Halley tersenyum. Dia merasa penghuni kamar ini sangat baik dan akrab. Halley berharap bisa berteman baik dengan mereka semua.
"Maaf, kalian semua mungkin harus terkena bencana karena diriku."
...****************...
"Namaku Halley Jung Hae. Salam kenal."
Halley kembali ke kursinya di samping Pershe. Halley menoleh ke arah Pershe. Anak ini terlihat mudah bergaul.
"Hai, namamu Pershe, kan? Namaku Halley," ucap Halley ceria.
"Kau sudah bilang tadi," jawab Pershe dingin.
Halley kesal. Dia tidak terima diperlakukan seperti ini. Tapi ia tidak ingin bertengkar di hari pertamanya sekolah. Jadi Halley hanya mendiamkan Pershe. Dan Pershe nampak tak terlalu peduli dengan itu.
Saat istirahat, Halley meluapkan semua kekesalannya pada teman-temannya. Dia benci orang yang sok dingin seperti Pershe.
"Dia mengacuhkanku," kata Halley kesal.
"Pershe memang seperti itu. Tidak akan mudah berteman dengannya," kata Ashley yang sudah menyaksikan berapa banyak orang yang mencoba berteman dengan Halley. Bahkan ada yang membuat taruhan. Tapi tentu saja tidak ada yang pernah berhasil.
"Apa tidak ada cara mendekatinya?" tanya Halley lesu. Dia tidak ingin memiliki hubungan yang buruk dengan teman sebangkunya. Mungkin dia harus meminta pindah bangku.
"Katanya, Pershe selalu pergi ke taman tua yang ada di sudut kota. Walau mengetahui itu, tidak ada yang berani pergi ke sana. Karena mereka percaya, taman tua itu adalah tempat Pershe melakukan kegiatan mistis," kata Chalotte," Tapi tentu saja itu semua omong kosong."
Halley merenung. Sepertinya anak ini tidak akan mudah ditaklukkan. Sebenarnya Halley sudah menemui beberapa orang seperti ini. Dan kebanyakan dari mereka punya kisah sedih yang membuat mereka seperti itu dan bagai kehilangan semangat hidup. Orang-orang seperti itu memilih menjalani hidupnya tanpa ekspresi dan hanya ingin sendirian.
"Aku akan menyelidiknya," batin Halley.
...****************...
__ADS_1