
"Hahh..."
Kemarin, baru saja kembali dari Bumi, Letticia disambut berita buruk. Banyak monster menyerang kerajaan. Pasukan berusaha membantai mereka, tapi tidak semuanya mati. Dan raja monster itu bahkan jauh lebih menyeramkan. Aldrian dalam keadaan lemah, dan tidak ada orang lain yang bisa membuat portal.
Sekarang Letticia pergi membantai monster itu. Dia menghela napas dan takut monster-monster itu lebih kuat dari perkiraaan dan membunuhnya.
"Jangan takut, tuan putri. Kalau anda tidak mampu melakukannya, maka tidak ada orang lain yang bisa," kata Ksatria Laisha, salah satu ksatria utama Letticia.
"Terima kasih. Aku akan berjuang semampuku," Letticia tersenyum, menemukan kembali semangatnya.
Sesampainya di tempat kejadian di mana monster dilaporkan menyerang, Letticia terperangah. Tempat itu persis seperti neraka dengan api dan monster di mana-mana.
Blarr!!
Serangan petir dari salah satu monster gagal mengenai pasukan. Letticia bangun dari lamunannya dan mulai fokus.
"Ksatria Laisha, urus monster di sana. Kild, urus yang di sana," komando Letticia sambil menyerang monster-monster.
Pasukan terkendali dengan baik. Tidak ada korban jiwa sejauh ini. Hanya ada dua orang yang terluka.
Mereka terus menyerang, tapi monster tidak ada habis-habisnya. Seakan terus bertambah.
Letticia heran. Bagaimana monster-monster ini bisa terus ada? Apa bangsa monster memang sangat banyak dan hampir tidak ada batasnya? Atau ada yang memproduksi mereka terus menerus?
"Tidak ada pilihan lain. Jihan dan Inare, pimpin pasukan untuk menahan monster-monster ini. Aku akan mencari sumber mereka," kata Letticia pada Jihan dan Inare, dua penyihir dan petarung terkuat di kerajaan.
Setelah memastikan semua cukup terkendali, Letticia terbang mencari penyebab semua ini. Di kejauhan, tampak monster yang jauh lebih besar dari monster lain. Dia tampak mengeluarkan banyak sekali telur yang menetas menjadi monster baru.
"Ternyata ini induknya," batin Letticia.
Tanpa membuang waktu, Letticia menebas dan memecahkan telur satu persatu, sehingga yang keluar hanya monster berbentuk tidak jelas yang langsung dihabisi oleh Letticia.
"GRAWWLL!!" raung induk monster itu marah karena telur-telurnya dipecahkan.
__ADS_1
Induk monster itu mengayunkan tangan ke arah Letticia. Letticia menepis dan terbang sambil menebas anggota tubuh si induk monster, menyebabkan darah hitam mengalir dari luka-luka yang ia ciptakan.
Monster itu semakin marah. Dia menggunakan kekuatan dan sihirnya melawan Letticia. Letticia hanya menghindar sambil balas menyerang, membuat monster itu jengkel. Tapi dia tidak punya cukup akal untuk berpikir lebih jauh.
"Aku menemukan kelemahannya," batin Letticia.
Letticia meloncat. Dengan satu serangan menggunakan pedang di tangannya, dia menusuk tepat di sebuah batu kecil di dahi monster.
Bruk!
Seketika, monster itu ambruk ke tanah. Batu kecil itu bisa dibilang sumber kekuatannya. Tanpa itu, dia tidak berdaya.
Letticia terengah-engah. Sebenarnya dia takut pada hal menyeramkan seperti monster dan lain-lain. Tapi kali ini, dia harus melawan mereka dengan gagah berani. Seperti yang dikatakan Ksatria Laisha, kalau Letticia tidak bisa melakukannya, maka tidak ada orang lain yang bisa. Kalau Letticia gagal, maka mereka juga akan mati.
Batu kecil di dahi monster itu bersinar. Sinar itu menghilang dan menunjukkan sebuah batu permata berwarna separuh hitam dan separuh putih. Letticia berjalan ke arahnya dan mengambil batu itu.
"Aku ambil ini, monster jelek," kata Letticia pada monster yang sudah mati itu.
Letticia kembali ke tempat di mana pasukannya masih melawan beberapa monster yang tersisa. Tanpa induk yang memproduksi monster, jumlah mereka tidak akan bertambah.
"Anda kembali,tuan putri. Dan dilihat dari raut wajah anda, sepertinya anda berhasil," sambut Von.
"Ya. Aku sudah membunuh induk monster yang sedari tadi memproduksi monster-monster ini," ujar Letticia senang.
Pasukan akan menangani monster yang tersisa. Letticia berjalan ke bawah sebuah pohon dan duduk di sana. Dia mengeluarkan batu permata tadi.
Batu itu mengeluarkan aura istimewa yang terasa mengerikan namun juga hangat dan nyaman pada saat yang sama. Entah apa fungsi batu ini. Tapi Letticia menyimpannya. Mungkin suatu saat akan berguna, itu yang ia pikirkan.
Ksatria Laisha menghampiri Letticia dan memberi hormat lalu melapor, "Tuan putri, semua monster sudah dihabisi dan tidak ada korban jiwa."
"Bagus. Rawat yang terluka, lalu kita pulang," kata Letticia. Dia tidak suka suasana bekas peperangan ini. Lagipula rumah adalah tempat terbaik.
"Baik, tuan putri," balas Ksatria Laisha. Ia pergi untuk mengatur yang Letticia perintahkan.
__ADS_1
"Aku penasaran apa yang bisa dilakukan batu ini."
...****************...
Di istana, Letticia langsung tidur selama kurang lebih lima jam. Ini pertempuran pertamanya dan terasa sangat melelahkan. Dulu dia sering membaca novel dan komik dan berpikir pertempuran itu seru. Ternyata tidak.
Sewaktu kecil, Nalie pernah menceritakan tentang putri yang berjuang demi rakyatnya dalam perang. Letticia kecil kagum dengan sosok putri dan mengatakan dia ingin jadi seperti itu. Tidak disangka benar-benar terjadi. Sepertinya Tuhan benar-benar mengabulkan apapun yang dikatakan. Mungkin dia harus berhati-hati dengan perkataannya mulai saat ini.
Froze melihat tuan putri yang tidur. Dia tertawa kecil melihatnya.
"Kau mengingatkanku pada seseorang," batin Froze. Dia kembali mengenang masa lalu, saat semuanya begitu indah.
"Sera, jangan lari. Kau bisa jatuh."
"Iya, ma," balas Sera. Dia memperlambat langkahnya lalu berjalan mengitari taman dan kagum dengan setiap hal yang ia lihat.
Baron Robins merangkul istrinya, "Aku harus berterima kasih padamu karena memberiku anak ini."
Baroness Robins tertawa, "Apapun untukmu, sayang."
Tak disangka, hari bahagia bisa berubah menjadi sebuah neraka. Perang pecah dan Sera tertembak. Dia tersungkur. Kedua orangtuanya berlari ke arahnya. Baroness Robins memangku Sera.
"Aku mencintai kalian," ucap Sera sambil tersenyum. Setelah itu, tangannya terkulai. Nafasnya berhenti.
"Sera!"
Kembali pada masa sekarang, Froze alias Baroness Robins kembali mengingat kenangan paling pahit dalam hidupnya. Sekarang ia sudah memiliki satu anak lagi, yaitu Viviz, tapi rasa rindu pada Sera tidak pernah hilang.
"Ibu merindukanmu, nak. Ibu akan menjaga adikmu supaya kejadian itu tidak terulang lagi," ucap Froze. Bulir air mata mengalir.
"Baroness? Ada apa?" tanya Letticia sambil mengucek matanya. Dia baru bangun dan melihat Froze yang mematung seperti teringat sesuatu dan menangis.
"Tidak apa, tuan putri. Saya baik-baik saja," senyum Froze, "Saya akan selalu baik-baik saja."
__ADS_1
...****************...