Ice Princess

Ice Princess
Menghancurkan Terotenia


__ADS_3

Letticia mengamati markas Terotenia dari jauh. Dia berusaha tidak membuat suara sedikitpun. Sejauh ini, musuh belum mendeteksinya sama sekali.


"Kau benar-benar gila," bisik Amara.


"Aku tidak gila," bantah Letticia.


Letticia memutuskan untuk mengadu domba empat penjaga di pintu depan. Dia melempar sebuah bola petir berkekuatan sangat rendah pada seorang penjaga. Walau berkekuatan rendah, namun serangan dari bola petir itu masih cukup untuk memberi sedikit rasa setrum.


"Aww! Siapa yang melempar bola petir ini padaku?!" seru penjaga itu kesal. Dia menatap teman-temannya satu persatu.


"Bukan aku," jawab salah satu penjaga.


"Aku juga bukan," jawab penjaga yang lain.


"Berarti kau!" seru penjaga itu pada salah satu penjaga yang dari tadi hanya diam dengan kepala tertunduk.


Penjaga yang kesal itu menyerang temannya dengan bola air. Karena diserang dengan bola air, penjaga yang diam itupun kaget dan menaikkan kepalanya.


"Hey, kenapa kau menyerangku dengan bola air saat aku tidur?!" seru penjaga itu tak terima.


Tanpa basa basi, penjaga yang terkena bola air itu menyerang penjaga yang menyerangnya tadi dengan bola api berkekuatan rendah. Api itu menghanguskan seragam penjaga itu.


"Hey, ini seragam kesayanganku!" seru penjaga itu omarah karena seragamnya sudah hangus.


"Itu salahmu melempar bola air padaku," jawab penjaga itu acuh tak acuh.


Akhirnya, kedua penjaga itu saling bertarung. Dua penjaga lainnya berusaha memisahkan mereka.


Dalam keadaan itu, Amara berlari ke arah mereka berempat dan langsung membunuh mereka dengan petirnya.


"Kerja bagus," kata Letticia.


Letticia, Amara, Lucia, Charlotte, dan Ashley mengendap masuk. Sebenarnya mereka tidak perlu diam-diam seperti ini, karena ada Letticia bersama mereka. Tapi Letticia tidak mau mengambil resiko.


Mereka membunuh semua orang di dalam markas tanpa ampun. Semua orang itu mati dalam diam dan tidak menimbulkan keributan.


"Aku akan masuk sendirian ke dalam," kata Letticia, "Kalian tetap di pintu."


Letticia membuka sebuah gerbang besar. Di dalam, tampak seorang pria berumur sekitar 30 tahun sedang duduk di sofa sambil minum anggur. Pria itu tampak agak terkejut saat melihat ada yang berhasil menerobos masuk ke dalam markasnya. Tapi dia berusaha menguasai diri.

__ADS_1


"Siapa kau berani menerobos ke dalam?" tanya Willy marah.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Dan aku datang untuk membunuhmu."


Saat itu, Willy tidak bisa melihat wajah Letticia. Karena Letticia memakai pakaian seperti ninja yang hanya memperlihatkan matanya.


"Kau tidak tahu bahwa kekuatan api dan petirku sudah mencapai level 6?" tanya Willy sombong.


Letticia tidak mau berargumen lagi. Dia segera menyerang Willy dengan sihir api berkekuatan sedang. Tentu saja Wily bisa menangkisnya dengan mudah.


"Hanya ini kekuatanmu?" kata Willy dengan smirknya.


Letticia tak menjawab. Willy menyerang Letticia dengan sambaran petir berkekuatan tinggi. Bahkan markas itu sampai bergetar.


Letticia membuat perisai. Sambaran petir level 6 Willy sama sekali bukan tandingannya.


"Kau bisa menahannya?!" seru Willy agak terkejut.


Letticia tak banyak omong. Dia menjerat Willy dengan tanaman rambat dan memasukkannya ke dalam venus flytrap.


"Hanya tanaman rambat? Aku bisa memotongnya," ujar Willy.


"Hey level berapa kekuatanmu?!" seru Willy.


"Kau mau tahu?" Letticia berjalan mendekat, "Kekuatan alamku sudah mencapai level 8."


Willy terkejut. Bagaimana seorang gadis remaja bisa memiliki kekuatan level 8? Bahkan Willy berusaha dan berlatih selama bertahun-tahun untuk mencapai level 6.


"Aku menyerah," ujar Willy saat mengetahui seberapa kuat lawannya ini. Dia sudah sombong dengan kekuatan level enamnya, tanpa mengetahui bahwa lawannya bahkan memiliki kekuatan level 8.


Tentu Letticia tidak melepaskan Willy begitu saja. Dia mengurung Willy di dalam sebuah toples khusus. Tubuh Willy menjadi kecil dan sekarang terperangkap di dalam toples kaca kecil itu. Kekuatannya tidak berfungsi di dalam toples.


"Mungkin kau masih bisa digunakan," kata Letticia.


Tiba-tiba, markas bergetar. Mungkin pertarungan tadi memiliki efek pada bangunan ini, walau sudah ada sihir perlindungan. Mungkin karena dua orang level atas bertarung.


"Letticia! Cepat keluar! Bangunan ini akan segera runtuh!" seru Amara di dalam pikiran Letticia.


Note : Letticia sudah mengajari sahabat-sahabatnya cara berkomunikasi lewat pikiran beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Letticia hanya bisa pasrah. Sulit untuk berteportasi di saat seperti ini. Apalagi, bangunan ini sepertinya sudah khusus dirancang untuk menekan sihir teleportasi. Takutnya, kalau memaksa berteleportasi, Letticia akan tiba di sebuah tempat asing.


Di ruangan ini juga tidak ada jendela. Reruntuhan bangunan menutup pintu keluar, membuat tidak ada jalan keluar dari ruangan ini.


...****************...


"Letticia!" seru Amara, "Di mana kau?!"


Amara, Flo, Emily, Lucia, Charlotte, Ashley, Maria, dan beberapa guru mencari Letticia di reruntuhan markas Terotenia.


"Dia sangat hebat bisa menghancurkan dan menaklukkan Terotenia," ujar Miss Sera.


Tiba-tiba, sebuah batu besar terlempar dari tempatnya. Seorang gadis berdiri dan mengedarkan pandangan ke sekitar.


"Letticia!" seru Amara langsung berlari ke arah Letticia dan memeluknya.


"Hebat sekali. Dia bahkan tak terluka bahkan setelah terkena reruntuhan," ujar Miss Hanna kagum.


"Itu bukan apa-apa. Dia adalah keturunan kerajaan Morton. Akan aneh jika dia tidak kuat," celetuk Miss Talie.


"Di mana Willy?" tanya Miss Sera.


Letticia mengeluarkan sebuah toples dari dalam ruang penyimpanannya. Nampak Willy yang memukul-mukul toples dan memohon agar dibebaskan.


"Hoho akhirnya berandal kecil ini tertangkap," kata Miss Hanna puas melihat Willy.


"Nyalimu sangat besar sampai nekat menghancurkan Terotenia seorang diri," puji Miss Talie.


"Ya. Aku ingin pulang sekarang," kata Letticia.


"Tentu saja kita akan pulang," kata Maria.


Mereka pulang dan kembali ke kamar. Letticia langsung mandi dan beristirahat. Dia agak lelah dan tubuhnya kotor terkena debu reruntuhan. Jika ini orang biasa, maka sudah dipastikan orang itu sudah mati. Tapi Letticia adalah putri dan calon ratu kerajaan Morton. Kekuatannya jauh di atas rata-rata.


"Putri kecilku sangat hebat," canda Amara.


"Kau membesarkannya dengan baik," balas Ashley.


"Tidak," jawab Amara, "Dialah yang sudah membesarkanku."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2