Ice Princess

Ice Princess
Hantu Kecil


__ADS_3

Hari Minggu ini, Letticia dan Amara memilih pulang ke Bumi. Mereka akan menginap di rumah Amara.


Letticia membuka portal. Mereka berdua masuk ke dalam dan sampai di kamar Amara yang luar biasa berantakan. Banyak sampah tisu dan bekas bungkus snack bertebaran, kasur tidak rapi, pakaian berceceran di lantai. Letticia sudah terbiasa dengan pemandangan ini, karena dia sudah sangat sering ke rumah Amara. Dan kamar Amara selalu terlihat seperti ini.


Amara sendiri tidak terlalu peduli dengan kebersihan dan kerapian kamarnya. Dia nyaman seperti ini dan kalau sebuah kamar nyaman, maka tidak ada masalah.


Bugh!


Setelah menaruh tas, Amara langsung menghempaskan diri ke kasur. Letticia hanya geleng-geleng kepala dan menata beberapa barang.


Prang!


Sebuah pajangan kaca di dekat Letticia jatuh. Padahal Letticia tidak merasa menyentuh atau menjatuhkan pajangan itu.


"Heemmmm Letti...," Amara memandang dengan pandangan menyelidik.


"Bukan aku," kata Letticia, "Aku bahkan tidak menyentuhnya."


"Aneh. Apa itu jatuh sendiri?" Amara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia jelas melihat pajangan itu tidak ditaruh di pinggir tadi.


CCTV kamar Amara rusak beberapa bulan sebelum pergi ke kerajaan Morton. Jadi tidak ada yang rekaman apa yang terjadi barusan.


Letticia memalingkan pandangan, lalu pergi mengambil sapu untuk menyapu pecahan pajangan. Kalau dia menyuruh Amara melakukannya, anak itu baru akan melakukan hal ini sepuluh tahun lagi. Bahkan pecahan-pecahan itu akan bosan menunggu sampai Amara menyapu mereka.


Swish! Swish!

__ADS_1


Suara sapu terdengar. Sepertinya Amara tertidur. Letticia memandang Amara dan pandangannya terkunci pada Amara. Amara terlihat seperti anak kecil ketika tidur. Terkadang, Letticia merasa dia telah membesarkan Amara layaknya seorang ibu. Amara yang kekanakan dan selalu menghibur.


Wush!


Gorden tertiup. Selama beberapa detik, Letticia mengira itu hanya angin. Tapi dia kemudian sadar bahwa tidak ada angin sama sekali barusan. Apa gorden itu bisa bergerak sendiri?


Masih berusaha tidak mempedulikan, Letticia selesai menyapu pecahan kaca. Dia membuang pecahan-pecahan tersebut ke tong sampah yang ada di kamar.


Jujur, Letticia merinding saat ini. Siapa juga yang tidak takut kalau hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat terjadi padamu? Dan Letticia termasuk ke dalam tipe orang yang buksn penakut, tapi juga tidak bisa dibilang berani.


Brak!


Pintu kamar tertutup sendiri. Sekarang Letticia benar-benar takut. Dia mengguncang tubuh Amara untuk membangunkannya. Amara berkedip dan menguap lebar.


"Apa?" tanya Amara dengan nada tidak suka karena tidurnya diganggu.


Dua kata itu sudah cukup untuk membuat Amara langsung menarik selimut dan bersembunyi di dalamnya. Dia adalah orang yang penakut, dan Amara tidak menyangkalnya.


Tiba-tiba, sesosok hantu menyeramkan muncul. Bentuknya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Letticia ketakutan. Dia reflek menggunakan sihir yang dia pelajari dari buku di perpustakaan dan katanya bisa digunakan untuk hantu.


Puff!


Di hadapan mereka, tidak ada lagi hantu menyeramkan. Hanya sesosok hantu kecil yang terlihat seperti arwah, masih menggunakan pose seperti mumi dan mengeluarkan suara seram, bermaksud menakuti Letticia dan Amara tanpa menyadari wujudnya sudah berubah.

__ADS_1


Melihat bentuk sebenarnya dari sang 'hantu menyeramkan', Letticia tertawa dan Amara mengelus dada. Sepertinya hantu kecil itu hanya sekadar mengubah wujud untuk jahil menakuti manusia. Sayang, dia menakuti orang yang salah.


"Rawwrhh!" raung hantu kecil itu, masih belum menyadari apapun. Mendengar suaranya yang justru seperti anak-anak, hantu itu sadar dan melihat sekujur tubuhnya di cermin.


"Tertangkap kau, hantu kecil," Letticia menjerat hantu tersebut dengan rantai khusus.


"Hey, lepaskan aku. Maaf sudah menakuti kalian," kata hantu itu panik.


"Sepertinya kau masih anak-anak?" selidik Amara.


"Iya. Teman-temanku sekolah sementara aku sakit. Ayah dan ibu menyuruhku tetap di rumah. Tapi aku bosan," kata hantu itu. Mendengar pernyataan yang diberikan hantu kecil tersebut, Letticia dan Amara paham perasaannya dan menjadi iba. Dia cuma bosan dan bermain ke dunia manusia.


"Baiklah, aku akan melepaskanmu kali ini. Tapi jangan menakuti orang seperti itu lagi," Letticia memperingatkan.


"Terima kasih, manusia baik," kata hantu kecil imut itu.


Letticia melepas rantai. Hantu kecil itu melambai mengucapkan selamat tinggal, lalu menghilang, kembali ke dunianya.


"Hantu itu imut, ya," kata Amara. Dia tertarik dengan anak kecil. Menurutnya, anak-anak adalah berkat dan mereka sangat lucu, imut, serta terlihat polos.


"Kenapa kau tidak menjadikannya adikmu?" canda Letticia.


"Aku ingin. Tapi aku tidak bisa punya adik yang seorang hantu," tawa Amara. Kalau hantu tadi adalah manusia, dia tidak akan menolak membujuk ayah dan ibunya menjadikan hantu kecil itu anak mereka, yang secara tidak langsung menjadi adik angkat Amara.


Sementara, hantu kecil tadi diam-diam mengamati dari dunianya. Dia terlihat sedih saat Amara mengatakan dia tidak bisa menjadikan hantu sebagai adiknya. Jauh di dalam lubuk hati hantu kecil itu, dia tertarik dengan Amara. Dan hantu kecil itu adalah anak tunggal, yang berarti dia tidak punya saudara. Karena itulah dia menginginkan saudara sejak lama.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin menjadi manusia," batin hantu kecil itu, lalu pergi.


...****************...


__ADS_2