
George memandang setiap sudut hutan dengan teliti. Setiap pergerakan tidak boleh ada yang luput dari pendengarannya. Georgia sedang sakit dan George berharap bisa mendapat hasil buruan yang bagus untuk makanan Georgia hari ini.
Tiba-tiba, semak di dekat George bergerak. George menyiapkan busurnya yang sudah dilapisi sihir api. Tentu saja hanya sedikit, atau sihir George akan cepat habis. Sihirnya tidak terlalu kuat, jadi tidak boleh boros.
CLASH!
"Kena kau!"
George mendekati babi hutan yang berhasil ia panah. Babi hutan ini cukup besar dan bisa dimakan beberapa hari.
George memasukkan babi hutan hasil buruannya ke dalam tas khusus yang selalu ia bawa setiap berburu. George berjalan pulang sambil bersenandung, senang mendapat makanan enak untuk adiknya.
Sesampainya di rumah.
"Georgia, aku pulang!"
Nampak seorang anak perempuan yang sedikit lebih muda dari George. Wajahnya pucat, tubuhnya terkulai lemah dan terlihat kurus. Namun dia masih tersenyum manis saat melihat George.
__ADS_1
"Kak, aku lapar."
"Iya, kakak akan buatkan makanan enak untukmu," kata George menenangkan Georgia sembari mengusap kepalanya dengan sayang.
Georgia adalah satu-satunya keluarga George setelah ayahnya meninggal dan ibunya menghilang entah ke mana. Maka dari itu, George tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau terjadi sesuatu pada Georgia. Dan tanpa Georgia, George bahkan tidak akan bisa hidup.
Sekarang Georgia terkena demam yang cukup parah. Badannya panas berhari-hari. George mencoba yang terbaik untuk menyembuhkan Georgia, tapi sampai sekarang belum berhasil.
George membersihkan babi hutan lalu memotongnya. George mengumpulkan kayu bakar dari hutan sekitar dan menyalakan api dengan sihirnya untuk membakar daging.
Tak lama, hidangan babi hutan buatan George pun selesai. Harumnya menyebar ke seluruh penjuru. Dulu, ibu sempat mengajari George cara memasak. Dan George cukup menyikainya, sehingga dia belajar dan mempraktekkan dengan giat.
"Makasih, kak."
Georgia makan dengan lahap dan tampak menikmati makanannya. Itu membuat George senang. Kebahagiaan Georgia adalah kebahagiaannya juga.
George pergi ke belakang dan mengambil bagiannya yang sudah dia sisihkan tadi. George pergi ke kamar dan duduk di pinggir kasur reot tempat Georgia berbaring.
__ADS_1
Selesai makan, George mencuci piring, lalu kembali ke sisi Georgia. Karena sakit, tidak ada yang menjamin 100% Georgia akan sembuh. Jadi yang bisa George lakukan hanya berusaha menghabiskan waktu yang tersisa bersama Georgia.
"Maaf kakak gak bisa kasih apa-apa," ucap George menyesal. Dia tak bisa membahagiakan Georgia, bahkan di penghujung hidupnya. Andai hidup mereka bisa lebih baik.
Georgia menggenggam tangan George sambil tersenyum, " Menghabiskan waktu bersama kakak adalah hadiah paling berharga untukku."
George terharu. Dia memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang. Dia harus membahagiakan adiknya sebisa mungkin selagi Georgia masih hidup. Tidak, Georgia tidak akan mati. Apapun yang terjadi, George tidak akan pernah membiarkan Georgia mati.
"Aku akan cari cara menyelamatkanmu."
...****************...
"Kak, berjanjilah kau akan pulang," kata Georgia. Dia terlihat sangat sedih dengan kepergian George.
"Tenang saja. Kakakmu sangat kuat, dia pasti akan kembali," kata nenek Mei menenangkan Georgia, walau sebenarnya dia sendiri juga khawatir pada George. Dia memahami niat George, tapi perjalanan ini sangat berbahaya bagi anak seumuran George.
George mengelus rambut Georgia, "Aku pasti akan kembali dan menyembuhkan penyakitmu. Kalau tidak, aku akan merasakan penyesalan seumur hidup."
__ADS_1
...****************...