
Letticia cemberut sepanjang jalan. Dia disuruh pulang karena sebentar lagi akan ada pesta dansa kerajaan dan Letticia wajib hadir sebagai tuan putri. Hampir semua gadis bangsawan Morton Magic School juga izin selama beberapa hari untuk menghadiri pesta dansa. Jadi sekolah itu pasti kosong melompong sekarang.
Dulu, Letticia menyukai kisah dan fantasi tentang kerajaan. Biasanya, di cerita kerajaan pasti akan ada pesta dansa. Letticia sering menari sendiri dan membayangkan seorang pangeran tampan menari dengannya lalu menikahinya.
Tapi itu dulu. Sekarang Letticia sudah tak terlalu tertarik dengan hal semacam itu. Terlebih saat dia mengetahui repotnya seorang putri bersiap. Belum lagi gaun ribet dan mahkota yang menurutnya haya menambah beban kepalanya saja. Ada juga aksesoris lain yang tak kalah merepotkannya.
"Tersenyumlah," kata Amara melihat Letticia yang cemberut sedari tadi. Letticia masih cemberut. Dia tak menyukai hal ini.
"Mungkin kau akan dilamar seorang pangeran," canda Lucia.
"Nona Lucia, aku tidak ingin menikah," balas Letticia. Baginya, menikah bahkan tidak ada gunanya dan hanya menambah beban hidupnya. Dia tidak boleh melirik laki-laki lain, harus menjaga perasaan suami, punya mertua. Kalau bertengkar, beberapa pria bisa mengucapkan kata-kata kasar atau bahkan memukul istrinya dan melempar barang di sekitar. Apalagi kalau punya anak. Dia harus begadang sepanjang malam hanya untuk menjaga seorang bocah!
"Kalau kau tidak menikah, kerajaan ini tidak punya pewaris," kata Halley. Apa yang dia katakan masuk akal. Letticia adalah pewaris tunggal kerajaan Morton, dan anaknya akan menjadi pewaris tahta selanjutnya. Kalau bukan anaknya, siapa lagi?
"Anak Aldrian bisa jadi pewaris tahta," Letticia mencoba membela diri.
"Maaf aku mengatakan ini. Tapi Aldrian tidak memiliki darah kerajaan Morton dan dia hanya memegang tahta sementara," kata Charlotte, mengatakan kebenaran. Dia takut Letticia marah.
Letticia diam. Itu benar. Aldrian hanya memegang tahta sementara karena kedua orangtua Letticia meninggal dan Letticia sendiri dilarikan ke Bumi.
Tak lama, kereta kuda yang mereka naiki berhenti di depan istana. Penjaga membukakan gerbang dan memberi hormat pada Letticia dan teman-temannya.
Sesampainya di kamar, keempat dayang Letticia nampak sudah menyiapkan gaun pesta, gaun cadangan, aksesoris...
"Ya ampun. Akan seberapa berat tubuhku nanti??" keluh Letticia.
"Tuan putri harus terlihat paling cantik," jawab Catherine.
"Hhhh... Sepertinya besok tidak akan mudah."
...****************...
15.00
"Bangun, tuan putri!" seru Froze yang membangunkan Letticia dari tidur siangnya.
"Mmh... Pesta dansanya kan jam 8 malam..." kata Letticia yang masih mengantuk.
"Kita harus bersiap dari sekarang, atau kita akan terlambat," kata Brianna.
Akhirnya, Letticia bangun dengan terpaksa. Dia heran. Untuk apa bersiap dari jam 3 siang padahal pestanya jam 8 malam? Lebih baik menghabiskan waktu 5 jam itu untuk tidur.
Letticia kira, dia hanya perlu mandi dan berpakaian lalu berdandan. Ternyata ini tidak sesederhana itu.
Pertama Letticia dipijat agar kuat berdansa sepanjang malam tanpa kelelahan. Walau pada faktanya semua orang akan lelah berdansa semalaman walau dipijat seharian.
Lalu Letticia diajari berdansa oleh guru profesional. Setidaknya Letticia sering berdansa sendirian sewaktu kecil, jadi ini tidak terlalu sulit.
__ADS_1
Setelah berdansa, Letticia dipijat lagi. Dia lelah. Ternyata pijat tadi memang tidak berguna.
Selanjutnya, Letticia dimandikan. Dia dimandikan dengan lebih ribet dari biasanya.
"Tambah bunganya!"
"Airnya kurang hangat!"
"Airnya terlalu panas!"
"Gosok rambutnya dengan benar!"
Begitulah kira-kira kehebohan saat ini. Dan ini hanya karena memandikan satu orang yang bahkan tidak peduli dengan penampilannya. Yang dia pedulikan hanya matanya yang hampir tertutup karena mengantuk. Sepertinya persiapan pesta dansa harus ada persiapan agar tidak mengantuk.
Selesai mandi, Letticia berpakaian. Ternyata berpakaian untuk pesta dansa tidak segampang yang Letticia kira. Dia harus mencoba satu gaun, didandani, kalau kurang bagus, maka diganti lagi. Begitu terus sampai mendapat satu tampilan yang cocok.
"Apa benar-benar harus seperti ini memilih tampilan?" tanya Letticia kesal. Dia harus mengganti gaun, make-up, dan aksesoris setiap saat hanya karena tidak cocok. Padahal di rumah, Letticia biasanya hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek.
"Tuan putri harus cantik," jawab Sarah.
Letticia mendengus. Tanpa dia sangka, dengusannya malah membekukan meja rias di depannya.
"Ya ampun," kata Letticia kaget. Apa sihirnya benar-benar sekuat itu sampai satu dengusan saja bisa membekukan sebuah meja rias? Apa dia akan membekukan teman-temannya seperti Elsa membekukan Anna di film Frozen?
...****************...
Pintu besar terbuka. Letticia masuk dengan mengenakan gaun indah dan tiara putri. Cantik sekali. Tapi kecantikan butuh pengorbanan.
"Aku benci gaun ini," umpat Letticia dalam hati. Ingin dia segera mengganti gaun ini dengan kaos oblongnya.
Letticia berkeliaran di pesta. Dansanya belum dimulai. Lagipula, kemungkinan besar Letticia akan melarikan diri saat dansa dimulai. Dia benci berdansa. Dance lebih baik.
"Halo, tuan putri."
Letticia berbalik. Tampak seorang pris tampan berdiri di belakangnya dengan segelas wine di tangan. Dari auranya, sepertinya pria ini seorang pangeran.
"Oh halo," jawab Letticia pendek. Lagipula dia tidak kenal dengan pangeran berambut biru ini. Di mata Letticia, pangeran ini SKSD (Sok Kenal, Sok Dekat).
"Perkenalkan, nama saya Alvaro Jin Wilcox," ujar pangeran tersebut mendekat dan memperkenalkan diri.
"Oh."
Jawaban pendek Letticia membuat Alvato mengerutkan dahi. Biasanya gadis-gadis akan berteriak senang saat bertemu bahkan diajak berkenalan olehnya. Apa mantra tampan itu tidak bekerja pada Letticia? Atau jangan-jangan Letticia tidak suka laki-laki?
"Apa tua putri tidak menyukai wajah tampanku?" tanya Alvaro.
"Kalau aku suka pria tampan, aku akan melihat Aldrian setiap hari," jawab Letticia dengan savagenya. Tapi itu benar. Kalau Letticia menyukai pria tampan, dia bisa saja mengoleksi sampai segudang.
__ADS_1
Alvaro cemberut. Tapi dia jadi terlihat imut seperti anak kecil. Walau Letticia tetap tidak mempedulikannya dan memilih bicara dengan Charlotte.
Tiba-tiba, Alvaro menghampiri Letticia dan Charlotte. Charlotte kaget dengan kedatangan Alvaro dan segera sedikit membungkukkan badan dan mengangkat gaun untuk menunjukkan rasa hormat. Jantungnya berdebar-debar.
"Memangnya dia siapa?" tanya Letticia saat gadis di sekitar mereka mulai berteriak tidak karuan.
"Kau tidak tahu? Dia pangeran Alvaro Jin Wilcox, pangeran dari kerajaan Wilcox, negara tetangga kerajaan Morton," kata Charlotte dengan napas tertahan. Mungkin dia tidak tahu bahwa dia bisa mati kalau tidak bernapas.
"Oh."
Kali ini, Alvaro benar-benar tidak sabar lagi. Perlahan, dia mendekati Letticia dengan diiringi musik yang kebetulan sudah mau mulai. Adegan mereka terlihat seperti drama.
Alvaro berlutut di hadapan Letticia, memegang tangannya dengan romantis, lalu mencium tangan Letticia.
"Maukah kau menjadi pasangan dansa pertamaku malam ini?"
"AAAAA!"
Hampir semua gadis di ruangan berteriak heboh. Banyak yang iri pada Letticia dan berharap bisa ada di posisinya.
Letticia sendiri kini berada dalam dilema. Sebenarnya dia malas berdansa. Tapi kasihan juga pangeran ini kalau ditolak.
"Iya," jawab Letticia pada akhirnya, walau dengan agak terpaksa.
Dansa dimulai. Alvaro dan Letticia berdansa bersama, menciptakan kombinasi yang sesuai.
"Mereka sangat serasi."
Alvaro menatap mata Letticia. Eye contact mereka membuat Letticia merasa canggung dan mengalihkan pandangan.
"Lihat aku," kata Alvaro, yang membuat Letticia mengembalikan penglihatannya ke arah semula.
"Sebenarnya ada apa kau mendekatiku?" tanya Letticia.
"Karena aku menyukaimu?" jawab Alvaro. Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.
Letticia diam. Pipinya merona merah, tanpa ada siapapun yang melihat. Alvaro menyukainya? Entahlah ini kabar baik karena Letticia disukai pangeran tampan atau kabar buruk karena cinta Alvaro bertepuk sebelah tangan.
Setelah dansa pertama selesai, Letticia dan Alvaro saling membungkuk satu sama lain. Lalu keduanya pergi mengurusi urusan masing-masing seolah tidak pernah bertemu sebelumnya.
Charlotte langsung menghampiri Letticia. Dia menggenggam tangan Letticia secara tiba-tiba, yang membuat Letticia agak bingung.
"Wah tangan ini memegang pangeran Alvaro tadi..." gumam Charlotte.
"Apa di sini juga ada yang namanya fangirling?" tanya Letticia dalam hati.
...****************...
__ADS_1