
Siang hari, Amara memutuskan pergi ke mall. Sekedar jalan-jalan dan membeli beberapa barang. Letticia tidak ikut dan lebih memilih tetap di rumah.
Amara pergi ke mall yang tidak jauh dari rumahnya dengan sepeda. Mall ini sudah seperti tempat bermainnya sehari-hari, karena letaknya yang sangat dekat dengan rumah. Itu menyebabkan Amara jadi sedikit boros. Tapi sebenarnya uang bukan masalah besar bagi keluarga Chehade. Walau begitu, ayah dan ibu Amara selalu mengajarkan untuk berhemat dan tidak menghambur-hamburkan uang, serta melatih Amara agar bisa menghasilkan uang dari kerja kerasnya sendiri saat sudah besar nanti, jadi tidak sepenuhnya bergantung pada keluarga Chehade.
Setelah memarkirkan sepedanya, Amara berjalan memasuki pintu khusus untuk pengunjung tanpa kendaraan bermotor, lalu berjalan memasuki mall. Seperti biasa, dia pergi ke sebuah tempat makan di dalam mall terlebih dahulu dan makan untuk mengisi energi agar siap berkeliling dan belanja. Makan harus didahulukan, itu prinsip Amara.
Tiba-tiba, terlihat sosok yang tidak asing bagi Amara. Tentu tidak asing, karena dia memandangi fotonya sepanjang hari. Orang itu tampan dan Amara adalah pengagum rahasianya.
Brandon tampak memesan, lalu menunggu pesanannya sambil main HP. Dia tidak menyadari bahwa Amara terus memperhatikannya sambil membayangkan berbagai hal.
Saat Brandon mengangkat kepala, Amara segera memalingkan pandangan dan kembali makan. Entah kenapa jantungnya berdebar kencang dan dia merasa gugup.
"Ayolah, Amara. Jangan bodoh. Dia hanya seorang laki-laki," Amara memaki diri sendiri dalam hati.
Amara menoleh ke arah Brandon lagi. Sepertinya pria itu bahkan tidak peduli dengan keberadaannya. Bagus, tapi Amara merasa ingin lebih diperhatikan olehnya, walau ada kemungkinan dia akan pingsan kalau begitu.
Pesanan Brandon datang. Dia menutup ponsel dan makan dengan tenang. Sementara Amara, di sisi lain, makan dengan gugup walau bahkan orang yang menyebabkan kegugupan itu tidak peduli dia ada di sana.
Selesai makan, Amara dengan cepat pergi untuk membayar. Dia menoleh ke meja Brandon sambil menunggu kasir menghitung bayarannya. Brandon tidak lagi ada di sana.
"Di mana Brandon?" pikir Amara.
"Totalnya 150 ribu," kata kasir.
Amara merogoh tas dan memberikan selembar uang merah dan selembar uang biru. Kasir itu menerima uang. Mesin memproses, lalu kasir memberikan bukti pembayaran pada Amara. Amara menerimanya dan berniat langsung pergi, namun sesuatu membuat langkahnya terhenti.
Brandon berada tepat di sampingnya, sedang membayar. Pria itu sudah selesai makan. Sepertinya dia makan sangat cepat. Tapi bukan itu masalah saat ini. Masalahnya adalah, Brandon menatap Amara aneh.
Amara diam seperti patung. Dia tidak tahu kenapa itu terjadi, tapi itulah situasi saat ini. Tatapan Brandon seakan membekukan dirinya.
Tap! Tap!
Brandon yang berjalan mendekatinya, membuat Amara berkeringat dingin.
"Kenapa dia berjalan ke arahku?" batin Amara. Pikirannya kacau sekarang.
__ADS_1
"Apa kau Amara?" tanya Brandon.
"Eh?"
Amara terdiam. Brandon melihat dia aneh karena gadis itu tidak menjawab pertanyaannya.
"Apa gadis ini waras?" pikir Brandon. Dia hanya bertanya pertanyaan sederhana dan Amara hanya diam mematung.
"Halo, ada apa denganmu?" Brandon mengayunkan tangannya di depan wajah Amara, mencoba mengembalikan kesadarannya.
"Ah i-iya," jawab Amara gagap. Sepertinya dia menyadari hal itu, lalu menunduk malu.
"Namamu Amara?" tanya Brandon lagi, mencoba bersabar. Wanita itu merepotkan. Bahkan ayah Brandon khusus melatihnya untuk menangani hal ini.
"Iya," jawab Amara singkat, tanpa menatap wajah Brandon.
Brandon mendekati Amara, lalu menyentuh dagu Amara dan mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. Amara membeku selama beberapa saat, lalu wajahnya memanas seperti kepiting rebus.
Plak!
Sebelum Brandon sempat mengatakan apapun, Amara sudah lari meninggalkan dirinya. Brandon tidak mengejarnya. Mereka tidak mungkin kejar-kejaran di dalam mall. Lagipula siapa Amara baginya sehingga ia harus mengejar gadis itu.
Di sisi lain, Amara berhenti setelah agak jauh dari tempat ia bertemu dengan Brandon. Jantungnya berdebar kencang dan wajahnya memerah.
"Apa yang aku lakukan?" Amara menutup wajah dengan kedua tangan. Ini adalah kesempatan emas, dan dia menyia-nyiakannya. Bodoh. Amara merasa dirinya sangat bodoh saat ini.
Brandon Latuna Louise. Kapten tim sepak bola sekolah tempat Amara dan Letticia bersekolah sewaktu di Bumi. Dia tampan dan keren. Banyak yang menyukai dan jatuh cinta padanya. Dan Amara adalah adalah salah satu dari gadis-gadis itu.
"Benar. Aku hanya salah satu dari gadis yang menyukainya. Apa yang aku harapkan," Amara tersenyum pahit.
Setelah berkeliling mall, Amara memutuskan pulang. Jalan-jalan hari ini menyenangkan, walau dia menyia-nyiakan kesempatan dengan Brandon. Tapi jangan pedulikan laki-laki itu untuk sekarang.
Tuk! Brak!
Di tengah jalan, Amara tersandung dan jatuh. Parahnya, sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Pemilik mobil itu memberi sinyal, menyuruh Amara minggir. Sepertinya remnya blong.
__ADS_1
"Ahh... Aku tidak bisa bergerak," rintih Amara. Dia pasrah dan menutup mata, bersiap menerima tabrakan mobil itu.
Tiba-tiba, Amara merasa seseorang mengangkat dan menggendongnya. Dia membuka mata dan melihat Brandon. Amara kaget, tapi dia memutuskan tidak bertindak gegabah seperti tadi. Amara diam dan membiarkan Brandon membawanya.
Brandon menurunkan Amara di sebuah bangku. Amara melihat dengan jelas mobil tadi menabrak.
"Tetap di sini," kata Brandon. Amara mengangguk pelan.
Brandon segera menelepon ambulans dan meminta mereka datang secepatnya. Lalu ia pergi melihat keadaan mobil yang kecelakaan tersebut.
"Gawat! Mobilnya akan meledak!" batin Brandon panik.
Dengan gerakan secepat kilat, Brandon membuka pintu mobil dan mengeluarkan pria pemilik mobil tersebut. Dia menggendong pria itu dan membawanya pergi secepat mungkin.
DUAR!
Tepat setelah Brandon membawa pria tersebut, mobil meledak. Mereka akan terkena efek ledakan kalau saja tidak dua meter lebih jauh dari jangkauan efek ledakan. Brandon segera berlari membawa pria itu ke bangku tempat Amara berada.
"Te-terima kasih banyak, tuan..." ucap pria tersebut, lalu pingsan.
Tak lama, ambulans datang. Mereka membawa pria itu dan Amara. Brandon yang menyuruh Amara merawat dirinya di rumah sakit karena kakinya terkilir. Awalnya Amara menolak, tapi Brandon memaksa.
"Aku akan membayarkan tagihannya," kata Brandon.
"Apa dia kira aku kekurangan uang?" pikir Amara kesal.
"Berikan mereka perawatan terbaik," kata Brandon.
"Hey, aku anak orang kaya dan tidak kekurangan uang," ujar Amara yang kesal karena dia diperlakukan seolah dia tidak punya uang untuk biaya rumah sakit.
"Haha baiklah, nona muda. Yang penting kau harus dirawat sekarang."
Ambulans membawa Amara ke rumah sakit. Amara memandang pria itu yang sedang berada dalam kondisi sangat buruk. Dokter berjaga untuk memastikan pria itu baik-baik saja dan bertahan sampai rumah sakit.
Di rumah sakit, kaki Amara diberi pengobatan dan dia disuruh istirahat selama satu atau dua hari. Sebenarnya Amara bahkan tidak perlu dirawat, tapi karena Brandon memaksa, entah kenapa Amara menurutinya.
__ADS_1
...****************...