
Hari ini adalah hari paling sunyi dan menegangkan di Morton Magic School sepanjang tahun. Hanya bunyi pedang dan sihir yang terdengar. Para murid tidak punya waktu bicara satu sama lain karena sibuk latihan.
"Hari ini terlalu sunyi," kata Ashley. Suasananya jadi membosankan karena kebanyakan teman memilih diam dan tidak mengganggu teman mereka berlatih. Tapi ini berlebihan.
"Sekolah ini seperti tidak berpenghuni," komentar Lucia.
Penghuni kamar nomor 17 menemani Halley latihan. Ya, hanya Halley yang lolos ke babak final diantara mereka. Ini sudah suatu keajaiban karena dia murid baru yang baru masuk ke sekolah ini seminggu yang lalu.
"Terkadang aku diajari sihir di rumah," jawab Halley saat teman-temannya bertanya.
Orangtua Halley sudah menyadari kemampuan sihir Halley sejak kecil. Dan Halley sendiri tertarik dengan itu. Jadi mereka mempekerjakan guru terbaik untuk mengajari Halley. Tapi mereka tidak memaksa Halley mempelajari dan melatihnya. Dia hanya belajar ketika dia mau.
"Letticiaaaaaa pokoknya kamu harus jadi guruku ya hari ini," kata Halley dengan puppy eyesnya yang imut.
"Loh tapi kan ada guru?" kata Letticia.
"Kamu lebih pro dari mereka."
*guru yang ternistakan
"Iya deh iya. Tapi harus nurut. Aku tidak menerima murid bandel, nakal, suka halu..."
Halley membungkam mulut Letticia. "Iya, iya. Tenang, aku murid yang baik kok."
Letticia mulai mengajari Halley. Ternyata pelajaran yang diajarkan Letticia cukup sulit, tapi sangat berguna dan membuat sihir jadi lebih kuat berkali-kali lipat. Mau tak mau, Halley harus mempelajarinya. Dia harus membiasakan diri di dunia di mana tidak semua hal bisa dilakukan sesuai keinginan dan mood kita.
"Jangan pakai tangan kiri setelah menggunakan tangan kanan. Gunakan mereka bergantian agar ketika yang satu digunakan, yang satunya mengisi kembali energi. Tapi di beberapa momen, kau bisa menggunakan satu tangan saja atau menggunakan keduanya. Maka dari itu, pandai-pandailah menganalisa," jelas Letticia panjang lebar.
Guru-guru yang berada di sekitar mereka cukup terkejut dan kagum dengan Letticia. Bahkan mereka tidak pernah mengajarkan hal sedetail ini. Tapi Letticia memikirkan hingga hal terkecil untuk hasil yang maksimal.
"Kenapa kau tidak menjadi guru, Letticia?" tanya Miss Katt.
"Aku belum dewasa dan tidak bisa menjadi guru," jawab Letticia beralasan, "Dan aku juga tidak berniat menjadi guru."
Miss Katt mengerti. Jika itu bukan keinginan Letticia, maka tidak ada yang bisa memaksanya.
"Ayo latihan lagi," kata Letticia saat melihat Halley yang duduk sambil minum boba.
"Sebentar lagi. Aku istirahat dulu," tolak Halley. Dia lelah dan ingin istirahat, lalu berlatih lagi.
__ADS_1
"Jangan lama-lama."
"Iya."
...****************...
Final. Inilah yang ditunggu-tunggu seluruh murid sejak Pertandingan di Arena dimulai. Final akan menentukan, siapa pemenang pertandingan ini. Tentu akan sangat membanggakan jika menang. Dan hadiahnya juga tidak sedikit. Tapi biasanya para murid bangsawan tak terlalu peduli dengan uang. Mereka ingin menang dan menjadi terhormat serta terkenal. Beberapa murid laki-laki ingin menang dan menunjukkan pesonanya pada para siswi.
Hari ini akan dilakukan final 1 terlebih dahulu. 4 orang bertanding satu sama lain dan 2 pemenang bertanding besok untuk menentukan siapa pemenangnya.
"Pertandingan pertama. Halley Jung Hae melawan Margaret Aiden Ning!"
Halley dan Margaret memasuki arena. Keduanya nampak serius dan memegang senjata masing-masing. Keduanya mencoba menganalisa musuh sebelum pertandingan dimulai.
Note : Hanya final yang diperbolehkan memakai senjata.
"Mulai!"
Halley tidak gegabah. Dia tahu Margaret adalah petarung agresif dengan melihat semifinalnya kemarin. Maka dari itu, Halley akan menggunakan teknik bertahan di awal dan menyerang di akhir saat kekuatan Margaret sudah terkuras habis.
Seperti dugaan Halley, Margaret menyerang duluan. Dia mengarahkan tombak yang dilapisi sihir api ke arah Halley. Hallet membuat perisai batu dan bertahan.
Margaret kesal karena tombak apinya tidak mengenai Halley. Dia mencoba teknik lain dengan menyerang dari belakang. Tapi Halley sudah siap. Letticia sudah memperingatkannya bahwa musuh yang serangannya gagal biasanya akan mencoba dari arah lain. Dan kata-kata itu sangat tepat.
"Sampai kapan kau mau terus bertahan?" tanya Margaret di sela-sela pertarungan. Halley diam tak menjawab. Mana mungkin dia memberitahu strategi pada musuh. Itu bodoh namanya. Halley yang tidak menjawab membuat Margaret kesal, "Cih! Dasar sombong!"
Margaret menyerang dengan membabi buta. Tapi Halley berusaha tetap tenang sambil menahan serangan demi serangan.
Margaret terlihat mulai kelelahan. Sepertinya energinya sudah mulai habis. Halley tersenyum puas. Tapi seperti kata Letticia, jangan gegabah. Dia akan menyerang disaat yang tepat.
Kini saatnya late game, saat dimana Halley akan bersinar. Ketika Margaret lengah sedikit saja, Halley langsung menyerangnya tepat di dada kiri dengan panah batu miliknya.. Tentu dia sudah memperhitungkan letak jantung Margaret.
Margaret sesak napas. Dia jatuh pingsan dengan banyak darah. Keadaannya sangat mengenaskan.
"Pemenangnya Halley Jung Hae!"
Tim medis segera membawa Margaret, atau dia akan mati kehabisan darah.
Halley bangga pada dirinya sendiri. Dia berhasil mengalahkan Margaret dan maju ke Final 2. Tentu Halley tidak melupakan Letticia yang sudah mengajarinya. Menurut Halley, berkat Letticia-lah dia bisa sampai ke tahap ini.
__ADS_1
...****************...
George melatih sedikit sihirnya di ruang tunggu. Ya, George berhasil maju ke babak final setelah berjuang mati-matian di babak semifinal. Bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa George hampir mati di babak semifinal.
Di babak semifinal, George melawan Carl John Houston yang kekuatannya satu tingkat lebih tinggi dari George. Jadi tentu pertarungan mereka tidak imbang. Namun dengan berbagai cara, George berhasil menang saat cakarnya sedikit keluar dan matanya mulai memerah.
"Pertandingan pertama. George Alberto melawan Tony Watson!"
George dan Tony memasuki arena. Keduanya nampak gugup. Mungkin ini kebetulan, George dan Tony sama-sama yatim piatu. Dan mereka punya tujuan penting masing-masing dalam memenangkan lomba ini. Maka dari itu, keduanya akan berusaha keras untuk menang.
"Mulai!"
George dan Tony sama-sama menyerang. Keduanya tampak agresif. Bagi mereka, pertarungan ini bagai penentuan hidup. Apakah akan berhasil atau gagal.
Tony menggunakan beberapa combo diawal. Dia cukup pandai menggunakannya. Sementara George memilih bertahan terlebih dahulu dan berencana melakukan serangan tiba-tiba.
Tony menyerang tangan George dengan petir. George menahannya dengan air, tapi sedikit petir berhasil mengenai tangannya yang menyebabkan tangan George mati rasa selama beberapa saat.
Tak mau kalah, George mengeluarkan apinya. Dia menggunakan combo yang jarang ada orang bisa menggunakannya. Yaitu combo air dan api. Pada dasarnya, kedua elemen ini saling bertolak belakang. Namun, George sudah melatihnya beberapa kali dan berhasil 1 kali dalam 15 percobaan.
George mengeluarkan combonya. Namun apa yang terjadi tidak sesuai harapan. Combo itu gagal dan air memadamkan apinya. Tentu hal tersebut memberi banyak celah bagi Tony.
Tony tak menyia-nyiakan kesempatannya. Dia menyerang George dari berbagai arah. George jatuh dengan lutut menghantam lantai dan muntah darah.
Tony tertawa senang. Dia sudah menang.
"Tidak... Georgia..."
Mengingat adiknya, George kembali berdiri. Semua orang kaget. Biasanya kalau sudah sampai jatuh dan muntah darah, kebanyakan orang tak akan sanggup berdiri lagi. Tapi George terlihat masih punya banyak energi. Padahal baru beberapa detik yang lalu dia kehabisan energi dan bisa mati dengan satu serangan.
Cakar George keluar. Matanya memerah. Dia menyerang Tony dengan hening. Satu serangan itu cukup untuk membuat Tony jatuh terbaring. Tubuhnya menghantam lantai dan memar dengan darah keluar dari hidungnya.
Melihat Tony yang akan berdiri, George menarik kakinya dan membanting Tony ke sisi lain. Tentu dia melapisi lantai dengan sedikit air agar Tony tak terlalu keras menghantam lantai dan tidak mati.
"Pemenangnya adalah George Alberto!"
Cakar George menghilang dan matanya kembali normal. Dia melihat semua orang bertepuk tangan untuk kemenangannya. George hampir menangis. Kini Georgia bisa menjalani hidup yang layak. Dia telah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang kakak.
Letticia terkejut melihat George. Hal macam apa yang memotivasi anak itu sampai bisa berdiri walau sudah sekarat?
__ADS_1
"Aku rasia punya tujuan yang sangat penting," gumam Letticia, "Jika tidak, untuk apa dia bahkan rela memberi resiko pada nyawanya sendiri hanya demi menang."
...****************...