Ice Princess

Ice Princess
Kisah George


__ADS_3

George Lebarte. Dia adalah anak haram yang ditinggalkan oleh ayah dan ibunya. Seorang wanita berumur 45 tahun bernama Kelly Isma Chander menemukannya di pinggir hutan tempat ibu George meninggalkan George yang saat itu masih berumur dua hari.


Kelly mengambil dan membawa George ke rumahnya. Dia merawat dan menyayangi George seperti anaknya sendiri.


Kelly meninggal di umur 60 tahun. Kala itu, George masih berumur 15 tahun. Umur yang masih terbilang sangat muda. Bahkan belum mencapai usia dewasa. George sangat berduka atas kepergian orang yang sudah merawatnya selama ini. Tanpa Kelly, mungkin dia sudah mati dimakan hewan buas atau mati kelaparan.


George menggunakan harta peninggalan Kelly yang tidak banyak untuk hidup. Namun, tentu lama kelamaan harta itu semakin menipis. George memutuskan untuk mencari pekerjaan.


George mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Dia membantu di toko, mencuci piring, mencuci pakaian tetangga, menjadi pembantu, dan lain-lain. Semua itu dilakukannya untuk bertahan hidup.


George merasa lelah dengan semua pekerjaan yang dia kerjakan. Setiap hari, dia selalu bekerja dan hanya punya waktu istirahat yang sangat sedikit. Dan ini tentu saja sangat berat bagi anak seumurannya.


Di saat George merenungkan hidup dan masa depannya, serta mengenang Kelly, datanglah seorang pria misterius berpakaian serba hitam dan mengenakan masker mendekatinya. George sudah bersiap jika ia diserang oleh pria itu.


Tapi pria itu diam saja dan mengamati George. George merasa heran dengan hal itu dan mendekatinya.


"Siapa kau?" tanya George.


Orang itu tersenyum tipis di balik maskernya.


"Apa kau merasa menderita? Apa kau lelah harus kerja banting tulang demi bertahan hidup? Apa kau ingin hidupmu menjadi lebih baik?" tanya pria itu.


"Tentu saja aku mau," jawab George tanpa ragu. Siapa juga yang tak menginginkan hal itu.


"Maka bekerja samalah dengan kami," pria itu mengulurkan tangannya.


"Baiklah," jawab George menjabat tangan pria tersebut. Dia akan melakukan apapun demi menghasilkan uang. Dan George juga ingin merasakan yang namanya bahagia tanpa harus memikirkan uang dan makan sehari-hari.


Pria itu membawa George ke sebuah markas. Di sana banyak orang berwajah garang yang membuat George agak gemetaran. Tapi demi pekerjaan ini, dia tak menunjukkan ekspresi apapun dan tetap tenang.


"Di dalam adalah bos besar kami. Bersikap hormatlah padanya," kata pria itu. George mengiyakan saja.


Pria itu membuka pintu besar yang menunjukkan sebuah ruangan yang cukup besar. Di sebuah sofa, tampak seorang pria sedang memegang segelas anggur.


"Hormat kami pada tuan," pria itu membungkuk pada pria yang duduk di sofa. George mengikuti dan membungkuk juga.


"Apa dia adalah anggota baru?" tanya pria itu sambil mengamati George dengan serius yang membuat George sedikit gugup.


"Benar, tuan," jawab pria tersebut mengangkat kepalanya, diikuti George.


"Kau diterima," Willy tersenyum, "Namaku Willy Tareki Azmith. Aku adalah tuanmu mulai sekarang."


"Terima kasih, tuan," ucap George membungkuk senang pada Willy.


"Kau harus mengerjakan tugas-tugas yang aku berikan. Dan jangan membantah," Willy memperingatkan George.

__ADS_1


"Saya tidak berani."


Mulai saat itu, George tinggal di asrama yang terdapat di markas besar itu. Dia sudah cukup senang karena diberi makanan dan tempat tinggal yang layak.


Dua hari setelah ia diterima, George diberi tugas oleh Willy. George mengira, tugasnya hanya tugas normal dan tidak akan terlalu sulit.


"Curi guci berharga dari rumah nyonya Watson. Guci itu terletak di tangga rumahnya," perintah Willy.


"Mencuri?" tanya George.


"Ya. Cepat laksanakan tugasmu atau kau akan diusir dan mati mengenaskan!" seru Willy.


Mau tak mau, George melaksanakan misi itu walau dengan berat hari. Sebenarnya, George adalah pribadi yang jujur dan tidak akan melakukan hal-hal seperti ini kalau tidak terdesak. Tapi sekarang dia terpaksa melakukannya, karena nyawa serta masa depannya terancam.


"Maafkan aku, nyonya," batin George saat mencuri guci antik tersebut.


George menjalankan pencurian dengan lancar. Dia memberikan guci itu pada Willy.


"Hm kerjamu cukup bagus," ujar Willy, "Hans akan memberikan bayaranmu."


"Terima kasih, tuan," ucap George membungkuk lalu meninggalkan ruangan Willy.


Begitulah George hidup selama beberapa tahun. Dia hidup dengan nyaman. Namun, disamping itu, ada rasa bersalah dan gelisah menyelimuti hati George.


Hari ini, Willy menyuruh George mencuri di kamar asrama Letticia. George menerima misi itu.


Saat dia siuman, gadis itu menyetrumnya lagi tanpa ampun. George kembali pingsan.


Beberapa saat kemudian, George membuka matanya. Dia melihat sebuah wajah yang familiar. Namun otaknya yang masih dalam keadaan baru siuman dari pingsan masih memproses wajah siapa itu.


"Tu-tuan putri!" George langsung berseru dengan gugup dan duduk saat mengetahui siapa gadis yang berada di hadapannya saat ini.


George hendak menjelaskan semuanya. Namun, sebelum dia membuka mulut, Letticia menghunuskan pedang di lehernya yang membuat George ketakutan dan berpikir bahwa ini adalah akhir hidupnya.


"Aku sudah menyegel sihirmu. Dan kau tidak akan bisa menyegel sihirku karena sihirku sudah di atas level 6. Katakan, apa yang kau lakukan di sini?" kata Letticia dengan aura menyeramkan.


George memang tidak berniat melawan sejak awal. Dia tahu, bahwa melawan Letticia namanya bunuh diri.


"Ampuni aku, aku hanya disuruh," ujar George ketakutan dan reflek bersujud pada Letticia. Dia berharap Letticia mengampuninya.


"Bangunlah. Siapa yang menyuruhmu?"


George menaikkan kepalanya. Dia lega saat melihat Letticia memasukkan pedangnya ke dalam ruang penyimpanan. Letticia juga bertanya padanya, yang artinya dia masih punya kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Bos Terotenia, Willy Tareki Azmith," jawab George. Dia jelas tahu harus berpihak pada siapa sekarang. Jika dia berpihak pada Willy, maka dia akan mati di tangan Letticia.

__ADS_1


"Kenapa kau menuruti perintahnya?" tanya Letticia yang membuat George agak ketakutan dengan aura mengintimidasinya.


"Aku hanya anak sebatang kara, tuan putri. Dan aku tidak punya pekerjaan. Willy menjanjikan uang yang besar untukku sebagai imbalan mencuri dari kamar ini," jawab George takut-takut.


Letticia menghela napas. George yang melihat mimik wajah Letticia berubah, menjadi agak tenang. Setidaknya resiko matinya berkurang.


"Aku kasihan padamu. Kali ini aku akan mengampunimu. Tapi berjanjilah untuk tidak melakukan hal ini lagi," kata Letticia.


"A-aku janji," jawab George. Dia kegirangan dan bersyukur dalam hati.


"Aku akan memberimu sebuah rumah sederhana dan mengirimimu makanan setiap minggu. Aku juga akan memberi sihir pelindung yang akan membunuh siapapun dan apapun yang akan membahayakanmu," kata Letticia.


"Sungguh?! Terima kasih, tuan putri!" seru George bahagia.


George sangat bahagia sekarang. Kini dia punya tempat tinggal dan bisa makan dengan baik tanpa harus melakukan pekerjaan kotor dan disuruh oleh Willy. Sebenarnya sejak awal George memang tak ingin melakukan hal-hal yang Willy suruh. Tapi keadaan memaksanya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor tersebut.


"Tuan putri adalah penyelamat hidup saya," George berkata seraya menangis. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membela dan membantu Letticia seumur hidupnya. George memastikan akan membalas budi pada Letticia suatu hari nanti.


"Bukan masalah besar. Sebagai imbalannya, kau harus memberitahuku rahasia Terotenia."


"Tentu. Saya akan memberitahu semua yang saya ketahui," jawab George tanpa ragu. Bagaimanapun, dia punya Letticia yang melindunginya. Dan dia juga sudah punya jaminan tempat tinggal dan makanan setiap hari. Jadi untuk apa lagi dia bekerja pada Willy?


Letticia menyihir semangkuk sup ayam. Dia memberikannya pada George.


"Makanlah dulu. Setelah itu, ceritakan pelan-pelan," kata Letticia, "Kau terlihat lapar."


George menerima sup pemberian Letticia dengan senang hati. Dia memang sudah tidak makan selama beberapa hari. Karena itulah dia berani melaksanakan perintah Willy untuk merampok kamar Letticia.


George makan dengan lahap. Letticia memperhatikannya yang membuat George agak malu.


Selesai makan, George minum dan mulai bercerita.


"Seperti yang kalian tahu, Terotenia adalah kelompok gangster yang melakukan kegiatan seperti penyelundupan, pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan. Bos kami bernama Willy.


"Tidak banyak yang tahu tentang kekuatan Willy. Tapi aku pernah mendengarnya berbicara dengan saudaranya secara tidak sengaja. Dan aku mendengar bahwa kekuatannya adalah elemen petir level 6 dan elemen api level 6."


"Dia cukup kuat," gumam Letticia yang bisa didengar oleh George.


"Tentu saja. Jika dia tidak kuat, tidak mungkin dia menjadi bos," kata George, "Tapi dengar-dengar, dia punya satu kekuatan lagi."


"Apa?" tanya Letticia.


"Aku juga tidak tahu."


George memang pernah mendengar pembicaraan Willy dan saudaranya secara tidak sengaja. Dia tak menyangka ternyata informasi itu bisa digunakan sekarang.

__ADS_1


George segera pulang setelah berterima kasih pada Letticia. Kini dia berjan ke rumah barunya dengan bahagia.


...****************...


__ADS_2