Ice Princess

Ice Princess
Pertarungan di Arena : Semifinal


__ADS_3

Apa kabar penghuni kamar nomor 17 setelah babak penyisihan? Ya, Charlotte, Flo, dan Ashley teriliminasi. Jadi hanya Emily, Lucia, dan Halley yang maju ke semifinal.


"Huh kenapa aku bisa kalah," protes Flo entah pada siapa.


"Kau menyerang Huo di kaki dan bukannya di tangan yang jadi alat serangnya. Tentu kau kalah," jawab Letticia. Flo hanya bisa garuk-garuk kepala karena memang dia yang salah.


"Apa salahku?" tanya Ashley. Dia merasa tak melakukan kesalahan apapun.


"Sebenarnya kau sedikit sial. Kekuatan lawanmu sedikit lebih kuat. Teknikmu lebih bagus. Kau akan menang kalau saja menggunakannya di awal, bukan di akhir," jawab Letticia, "Tidak semua musuh harus dibantai di akhir. Identifikasi lawanmu dengan baik."


Ashley cemberut. Padahal dia akan menang kalau mendengarkan penjelasan Letticia tentang cara menghadapi berbagai tipe lawan. Tapi dia terlalu malas kemarin dan memilih fokus makan keripik sambil membaca kisah romantis dan berkhayal daripada mendengarkan penjelasan Letticia.


"Baiklah, aku akan mendengarkan penjelasanmu lain kali," kata Ashley.


...****************...


"Amara Brianna Chehade dan Olivia Penters Han!"

__ADS_1


Amara memasuki arena. Olivia nampak tenang. Dia memandang sayu ke arah Amara dan tidak ada ekspresi di wajahnya. Dia terlihat seperti lawan yang mudah dan bisa ditumbangkan dengan satu serangan.


Dan begitulah pertarungan mereka dimulai. Amara tidak tahu, bahwa yang dilawannya bukan hanya seorang murid introvert biasa dengan wajah datar.


...****************...


Letticia berlari ke UKS. Dia menerobos orang yang menghalangi dan membuka pintu UKS dengan tergesa-gesa. Nampak Amara berbaring di ranjang dengan perban di banyak bagian tubuh. Miss Anna, dokter UKS, baru saja selesai memakaikan perban pada Amara.


"Dia akan sadar dalam beberapa jam," kata Miss Anna sebelum meninggalkan ruangan.


Tiba-tiba, pintu ruang UKS terbuka. Nampak Charlotte berdiri di pintu. Sementara yang lain beristirahat di kamar. Tapi Charlotte tidak terlalu lelah dan memutuskan menjenguk Amara.


"Pas sekali kau datang," kata Letticia lega.


Letticia menjelaskan masalahnya. Charlotte langsung setuju untuk membantu Amara. Bagaimanapun, Amara adalah sahabatnya juga.


Letticia mulai mentransfer darah mereka berdua ke Amara. Sebagian besar darah adalah darah Letticia, karena jika dibagi dua, mungkin tubuh Charlotte tak akan sanggup menahannya dan bisa mengancam nyawa.

__ADS_1


"Selesai," kata Letticia lega, "Istirahatlah."


Charlotte berbaring di kasur di samping Amara. Sementara Letticia keluar UKS. Dengan kekuatannya, dia tak perlu istirahat seperti Charlotte. Walau tak bisa dipungkiri tubuhnya agak lemas setelag transfer darah itu. Tapi tubuh Letticia akan otomatis memproduksi darah sedikit demi sedikit sampai mencapai jumlah darah yang hilang.


"Ah, semifinal hari ini sangat sengit," gumam Letticia melihat murid-murid yang bertarung seolah hidup mereka bergantung pada pertarungan ini. "Kalau semifinal saja sudah seperti ini, bagaimana final nanti?"


Letticia berteleportasi ke kamar. Dia lelah sekarang dan ruang UKS penuh dengan murid-murid yang terluka. Dia tidak mau egois dan mengambil tempat murid-murid itu.


"Kau kembali. Bagaimana kabar Amara?" tanya Emily begitu melihat Letticia.


"Darahnya sangat banyak. Aku dan Charlotte mentransfer darah padanya," jawab Letticia. Dia menghempaskan dirinya ke kasur, lalu kembali duduk untuk minum minuman pemulih energi.


"Istirahatlah. Kau pasti lelah," kata Lucia.


"Iya."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2