
Pagi yang cerah. Charlotte berjalan menyusuri taman sekolah yang dipenuhi bunga mekar. Beberapa murid dan guru tampak berada di sana juga, menikmati musim semi. Mereka diberi liburan musim semi selama lima hari.
Seorang gadis melompat riang ke sebelah Charlotte, ikut mengamati bunga matahari yang indah. Matahari berada di belakang Charlotte dan gadis itu, sehingga bunga matahari terlihat seperti condong menatap ke arah mereka berdua.
"Indah, ya," kata gadis itu tiba-tiba.
"Iya," jawab Charlotte, walau dia sama sekali tidak mengenal gadis itu. Sepertinya dia seumuran dengannya. Mungkin dari kelas lain.
Gadis tersebut mengulurkan tangan, "Namaku Sunny. Kau?"
"Charlotte," jawab Charlotte, menjabat tangan Sunny.
Tanpa diduga, Sunny langsung memeluk Charlotte. Sepertinya gadis ini adalah tipe orang yang riang dan mudah bergaul. Dia tidak sungkan memeluk orang yang baru dia kenal.
"Akhirnya aku punya teman di sekolah ini," ujar Sunny senang.
"Apa kau tidak punya teman?" tanya Charlotte kasihan. Bagaimana seorang gadis periang seperti Sunny bisa tidak punya teman?
"Aku baru pindah sekolah. Kau adalah teman baruku," jawab Sunny. Sekarang Charlotte mengerti kenapa gadis itu belum punya teman di sekolah ini.
Mereka berdua segera akrab. Sunny sangat terbuka dan menceritakan banyak hal tentang dirinya. Charlotte mendengarkan dan sesekali membalas atau juga bercerita tentang dirinya. Dia bukan orang seperti Sunny yang terkesan cerewet, tapi Charlotte mengikuti omongan Sunny agar Sunny tidak merasa diabaikan dan menyakiti perasaannya.
Sunny membawa Charlotte ke kamarnya. Kamarnya adalah kamar nomor 31. Kebetulan hanya Sunny penghuni kamar itu saat ini. Charlotte pun berkata akan sering mengunjungi Sunny agar dia tidak kesepian, dan Sunny senang dengan itu.
"Kau punya teman baru?" tanya Letticia di kamar. Dia melihat Charlotte bersama anak tak dikenal sejak pagi.
__ADS_1
"Ya. Namanya Sunny. Dia murid baru," jawab Charlotte.
"Aku tidak merasa terlalu baik tentang Sunny. Lebih baik kau hati-hati," Letticia memperingatkan. Firasatnya tidak terlalu baik tentang Sunny. Sepertinya ada yang Sunny sembunyikan. Tapi itu masih kemungkinan, hanya firasat.
Brak!
"Kalau kau tidak suka temanku, jangan melarang seperti itu," kata Charlotte dingin.
Letticia terkejut. Apa-apaan ini? Sejak kapan Charlotte jadi seperti ini? Pertemanan memang bisa mengubah seseorang. Tapi apa Charlotte bisa berubah drastis dalam satu hari?
"Maafkan aku."
Tidak punya pilihan, Letticia memasukkan Charlotte ke sebuah dimensi khusus. Dimensi ini lebih sempit dari dimensi milik Letticia. Charlotte meronta. Tapi Letticia menaruhnya di dimensi itu dan membiarkannya di sana. Walau kasihan, tapi ini yang terbaik.
Selanjutnya, Letticia mengubah dirinya menjadi Charlotte. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan Sunny..
"Oh, ternyata kau," kata Charlotte, alias Letticia, saat melihat Sunny membawa sekeranjang buah.
"Iya. Boleh aku masuk?" tanya Sunny dengan wajah polos dan riangnya, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Sunny.
"Tentu, tentu. Ayo masuk."
Di dalam, Letticia mempersilahkan Sunny duduk. Sunny memberi Letticia buah yang dia bawa. Letticia ragu, tapi dia memakan buah itu. Penelitian tidak akan bisa dilakukan tanpa eksprimen. Dia harus mengetahui tujuan Sunny.
"Kep*rat! Ada racun di buah ini," umpat Letticia dalam hati. Untung racun tidak bekerja padanya. Kalau Charlotte yang memakan buah ini, maka dia sudah mati sekarang.
__ADS_1
Diam-diam, Letticia memperhatikan Sunny yang melihat tidak suka ke arahnya. Sepertinya dia kesal karena rencananya tidak berhasil.
"Sial! Aku tidak tahu dia kebal racun," batin Sunny.
Sekarang Sunny punya dua pilihan. Menyerang langsung atau buat rencana baru. Sepertinya Charlotte lebih lemah darinya, jadi Sunny tidak sungkan lagi.
Blarr!
Sunny tersenyum puas. Murid biasa seperti Charlotte tidak akan mampu bertahan dari serangan besarnya.
Seseorang berjalan ke arah Sunny melewati kabut. Itu bukan Charlotte, melainkan Letticia.
"Dasar. Kau mencoba membunuh temanku," kata Letticia tidak suka.
"Orang gila dari mana lagi ini?" tanya Sunny dengan nada mengejek.
"Hoho kau yang minta, nona."
Letticia mengarahkan tangan ke arah Sunny dan memutar jari telunjuknya. Seketika, tubuh Sunny beku total. Dia tidak bisa bergerak sama sekali.
Blarr!
Tubuh Sunny sudah hangus. Letticia bahkan tidak berbelas kasih sedikit pun. Dia mengambil jiwa Sunny untuk melihat apa yang direncanakan gadis ini.
Setelah mengetahui rencana Sunny, Letticia semakin murka. Dia meninju tembok di depannya. Tembok itu retak. Tapi Letticia masih sangat marah.
__ADS_1
"Aku pasti akan membunuhmu."
...****************...