Ice Princess

Ice Princess
Sekolah Baru


__ADS_3

Letticia menghampiri Sarah. Dia sedang merapikan, menumpuk, dan mengecek kelengkapan pakaian.


"Siapa yang sekolah?" tanya Letticia saat Sarah mengambil satu set seragam sekolah dari keranjang.


"Tentu saja tuan putri," jawab Sarah.


"Memangnya aku akan sekolah di mana?" tanya Letticia.


"Tentu saja di Morton Magic School. Di sana tuan putri akan tinggal di asrama."


Letticia tersenyum senang. Dia sudah berangan-angan untuk tinggal di asrama sejak kecil. Karena Letticia ingin merasakan tingal bersama teman-teman.


"Apa Amara, Flo, dan Emily akan bersekolah di sana juga?" tanya Letticia.


"Tidak. Tapi kalau tuan putri mau, saya akan mendaftarkannya," jawab Sarah.


"Daftarkan mereka."


...****************...


"Kau gila?!" seru Amara.


"Hey aku mendaftarkanmu di sekolah yang bagus. Kita bisa tinggal bersama," jawab Letticia.


"Tapi kami sama sekali tidak punya kekuatan sihir!" seru Amara frustasi.


"Hoho aku sudah memikirkan itu."


Tiba-tiba, Letticia menggenggam tangan Amara. Kemudian dia menutup mata dan mengucapkan kata-kata tidak jelas.


Feeling Amara menyuruhnya untuk diam dan menunggu apa yang akan Letticia lakukan. Dia yakin, sahabatnya itu tidak mungkin menyakitinya.


Tak lama, muncul cahaya biru dan ungu dari kaitan tangan Letticia dan Amara. Amara terkejut.

__ADS_1


Letticia membuka mata, "Apa warna cahayanya?"


"Biru dan ungu," jawab Amara.


"Berarti kau mendapat kekuatan air dan petirku," ujar Letticia tersenyum, "Kau cukup beruntung mendapatkan elemen petir. Ini cukup kuat."


"Hm... Aku hanya penasaran. Apa ada kemungkinan aku mendapatkan kekuatan esmu?" tanya Amara.


"Tidak. Kekuatan es ini tidak akan bisa diberikan pada siapapun. Dia bagai tersegel dalam tubuhku dan tidak bisa berpindah dan digunakan oleh orang lain," jawab Letticia.


Setelah Amara, Letticia juga memberi kekuatan pada Flo dan Emily. Flo mendapat warna hijau dan merah, yang berarti elemen alam dan api. Sedangkan Emily mendapat warna coklat dan ungu, yang berarti elemen tanah dan petir.


Note : Pemberian kekuatan ini sepenuhnya tergantung pada keberuntungan. Ada kalanya seseorang tidak menerima kekuatan sama sekali.


"Terima kasih," ucap Emily yang senang dengan kekuatan barunya.


Iseng, Emily mencoba kekuatan tanah. Dia membuka jendela dan mengarahkan tangan pada taman di bawah.


Tak lama, tanah taman istana bergejolak dan naik turun sesuai gerakan tangan Emily. Dia tertawa sendiri melihat orang-orang di sekitar taman istana bingung dan panik dengan apa yang terjadi.


Emily menghentikan apa yang dia lakukan. Flo membantu Emily. Dia menggunakan kekuatan alamnya untuk membuat rumput, bunga, dan tanaman lainnya kembali seperti semula.


"Elemen alam dan tanah adalah combo yang bagus," kata Letticia.


"Kami bisa bekerja sama," kata Flo.


...****************...


Sesampainya di Morton Magic School, Letticia dan ketiga sahabatnya turun dari kereta kuda yang mereka naiki. Jarak dari istana ke Morton Magic School tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu 10 menit dengan kereta kuda


Letticia mengamati tempat dia akan bersekolah. Sekolah ini cukup megah. Ada pagar besi dengan kekuatan sihir yang membuat sekolah ini tidak akan bisa dimasuki orang dengan aura hitam.


Note : Orang yang memiliki niat jahat dan hasrat atau niat untuk melukai dan membunuh orang lain, darahnya akan dialiri sedikit cairan hitam. Cairan hitam ini akan memancarkan aura hitam di sekitar orang tersebut yang bisa dideteksi oleh beberapa orang. Tapi beberapa orang bisa menyamarkan atau bahkan menghilangkan aura hitam.

__ADS_1


"Sekolah ini cukup bagus," kata Letticia.


Penjaga sekolah membungkuk dan membukakan gerbang untuk Letticia.


Letticia, Amara, Flo, dan Emily masuk ke sekolah yang tampak indah dan megah tersebut. Saat itu suasana sekolah cukup hening. Mungkin karena masih jam belajar, dan sebagian besar murid ada di dalam kelas.


Letticia dan yang lain pergi menuju ruang administrasi yang ada di lantai dua. Di sana, mereka langsung disambut oleh petugas administrasi dengan hormat.


"Putri Letticia dan sahabat-sahabatnya bukan? Kalian berempat akan ditempatkan di kamar VVIP," kata petugas administrasi tersebut, "Tapi akan ada 3 murid lain, apa tidak apa-apa?"


Sebenarnya, mereka bisa saja meminta sebuah kamar VVIP untuk mereka berempat saja. Tapi Letticia ingin berteman dan bersosialisasi dengan orang lain selain mereka bertiga.


"Tidak apa. Memang aku yang memintanya," jawab Letticia sambil mengambil nomor kamar yang diberikan petugas administrasi, "Terima kasih."


"Sama-sama, tuan putri."


"Ayo, teman-teman."


Mereka berempat ditempatkan di kamar nomor 17 yang berada di lantai dua, lantai yang sama dengan tempat mereka berada sekarang. Kamar VVIP memang berada di lantai dua, karena kebanyakan murid belum bisa menggunakan sihir teleportasi, sehingga akan melelahkan pergi ke lantai atas. Sementara lantai pertama berisi kelas dan tempat umum lainnya.


"Dari tadi aku hanya melihat perempuan," kata Flo heran.


Letticia langsung tertawa, "Tentu saja. Ini memang area perempuan. Area laki-laki berada di gedung sebelah dan dibatasi dengan pagar besi tinggi."


"Oh begitu," kata Flo malu.


Tak lama, mereka sampai di kamar nomor 17. Dari luar, terdengar seperti suara dua perempuan sedang bernyanyi. Suara mereka cukup merdu.


"Sepertinya kita akan dapat konser gratis setiap hari," canda Amara.


"Kita harus menghentikan konser mereka," kata Letticia.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


...****************...


__ADS_2