Ice Princess

Ice Princess
Desa Axle


__ADS_3

"Berhenti," kata Letticia, yang membuat Amara dan Arin berhenti berjalan.


"Ada apa?" tanya Amara.


Sepertinya Arin tahu apa yang Letticia lihat. Dia ikut memperhatikan kaki gunung yang memiliki energi aneh. Arin sudah merasakannya sejak lama, tapi tidak berani meneliti hal ini. Dia merasakan energi samar-samar, padahal biasanya energi biasa sulit dirasakan oleh orang setingkat dirinya. Itu berarti energi ini sangat kuat sampai bisa dirasakan oleh Arin.


Energi ini tidak terasa jahat. Tapi itu tidak bisa menipu Letticia. Energi ini memiliki sedikit campuran energi gelap di dalamnya. Sangat sedikit sampai hampir tidak terasa.


"Kita harus masuk," kata Letticia serius.


"Oke ayo kita- Tunggu... APA?!" seru Amara kaget. Apa dia benar-benar menjadikan orang gila sebagai sahabatnya?


"Ya. Aku tidak bercanda," jawab Letticia dengan wajah serius yang justru terlihat lucu.


Tanpa berkata apa-apa dan tanpa meminta persetujuan, Letticia memeluk Amara dan Arin erat, lalu membawa mereka terbang. Amara dan Arin berteriak kencang dan meronta karena kaget. Letticia yang merasa jengkel langsung membuat mereka tidak bisa bergerak seperti patung.


Sesampainya di mulut gunung, Letticia kembali membuat mereka berdua bisa bergerak.


"Dasar gil- AAAAA!"


Beberapa detik kemudian, mereka bertiga sampai di dalam gunung. Ternyata gunung ini memiliki sebuah desa di dalamnya.


Amara muntah. Untung Letticia yang sudah menduga hal ini menyiapkan plastik untuk menampung muntah Amara. Dia langsung membuangnya ke dimensi tempat sampah miliknya.


Note : Dimensi tempat sampah adalah dimensi yang bisa dibeli dan digunakan sebagai tempat sampah portabel. Sampah bisa dibuang ke sini untuk nanti dibuang ke 'tempat sampah nyata'.


Semua orang di desa tersebut menatap mereka aneh. Orang-orang desa ini sama seperti manusia biasa. Hanya saja, mereka memancarkan energi yang sangat aneh dan kuat.


Tiba-tiba, seorang pria tua menghampiri mereka bertiga. Tampaknya dia adalah kepala desa tempat ini.


"Selamat datang di Desa Axle. Namaku Jenner, kepala desa tempat ini. Kami tidak pernah bertemu pendatang baru. Bagaimana kalian bisa sampai ke sini?" tanya kepala desa ramah.


"Namaku Letticia. Ini Arin dan Amara," Letticia memperkenalkan dirinya serta Arin dan Amara secara singkat.

__ADS_1


Jenner mengantar Letticia, Amara, dan Arin ke penginapan terdekat. Dia bilang mereka bisa beristirahat di sini terlebih dahulu dan berkeliling desa besok.


"Ada yang aneh," kata Letticia sambil berbaring dan memandang langit-langit kamar.


"Apa yang kau curigai? Mereka memberi kita penginapan dan makanan gratis," Arin menggigit sepotong kue.


Letticia mengalihkan pandangan ke arah Arin, lalu menatap kue itu dalam-dalam. Wajahnya tampak sangat terkejut.


"Jangan makan itu!"


Terlambat. Arin sudah muntah darah dan pingsan. Amara juga pingsan walau tidak makan kue. Letticia cepat-cepat memasukkan sebuah pil ke dalam mulut Arin. Wajah Arin terlihat membaik, tapi masih pingsan. Setidaknya pil ini akan mencegahnya dari kematian.


"Ternyata seperti ini," kata Letticia dingin. Letticia memindahkan Amara dan Arin ke dimensi miliknya, lalu terbang ke luar jendela.


Di luar, seluruh warga desa sudah berkumpul. Mereka jelas-jelas berniat jahat.


"Kep*rat! Apa yang kalian lakukan?!" teriak Letticia marah. Tanpa mereka sadari, gunung itu sedikit terguncang karena teriakan Letticia barusan.


"Kau masih hidup rupanya. Tapi kau akan segera mati," kata seorang pemuda kekar di tengah barisan paling depan.


Terdengar suara tawa dari belakang. Letticia mendarat. Kepala desa maju dengan tongkat di tangannya. Sepertinya dia tidak takut dengan serangan Letticia barusan.


"Kau kuat juga, gadis kecil. Tapi kekuatanmu masih belum cukup untuk melawanku," kata Jenner, sama sombongnya dengan pria tadi.


Jenner mengayunkan tongkatnya ke udara. Guntur menyambar. Letticia terkejut. Sebenarnya dia bukan kaget karena melihat kekuatan sebesar ini, karena dirinya juga memiliki kekuatan seperti ini.


"Bagaimana? Sudah takut?" tanya Jenner congkak melihat keterkejutan Letticia.


Satu hal yang jelas, pria tua ini sangat sombong. Padahal kalau dilihat lagi, tingkat kekuatannya tidak begitu tinggi. Hanya bisa mengendalikan cuaca dan membuat aura mengerikan.


"Rupanya kau pandai berbohong, Jenner," Letticia mengeluarkan smirknya.


"Hey, kau masih bisa mengatakan ini di ambang kematianmu?" tanya Jenner heran. Diam-diam, keringat dinginnya keluar.

__ADS_1


Blarr!


Dengan satu serangan itu, Jenner ambruk ke tanah. Dia tidak mati, hanya koma. Pria sombong tadi berlari kr arah Jenner dan menaruh pria tua itu di pangkuannya.


"Ayah!" seru pria itu histeris.


"Cih ternyata ayah dan anak sama saja," ujar Letticia, "Sombong padahal tidak berkemampuan."


Pria itu mengangkat Jenner dan memberikannya pada seseorang untuk dibawa pergi. Kemudian ia menghadap Letticia dengan tatapan nyalang.


"Nona, kau sangat tidak beretika. Menyerang pria tua yang seorang kepala desa," kata pria itu marah, "Aku, Yeonda Jenner, tidak akan memaafkanmu!"


"Ayahmu yang memprovokasiku duluan!" balas Letticia tidak mau kalah. Dia merasa tidak adil kalau dirinya yang disalahkan, padahal Jenner lah yang sudah membuat sahabat dan temannya pingsan serta menaruh racun pada kue. Bahkan berani berbohong dengan kekuatan yang tidak seberapa.


Sepertinya Yeonda sudah terlalu marah untuk berargumen dengan Letticia. Dia segera bergerak dengan kecepatan cahaya dengan tombak berlapis kekuatan petir level enam di tangannya.


Tang!


Tabrakan itu bahkan mampu membuat tanah berguncang dan menyebabkan tanah menjadi seperti kabut, sehingga kedua orang yang bertarung tidak kelihatan.


"Haha kau pasti mati, pembunuh!" teriak Yeonda penuh kemenangan seperti orang gila. Dia sangat yakin tombak berkekuatan penuh ini bisa ditahan oleh Letticia.


Plak!


"Kau kira bisa menang dariku dengan kekuatan seperti ini?!" nada Letticia meninggi. Masih mending kalau dia sombong tapi benar-benar hebat. Tapi kalau sombong dan lemah, itu tidak bisa dimaafkan.


"Akhh bagaimana mungkin?" tanya Yeonda. Tubuhnya penuh darah dan sekarat. Tak lama, tubuh Yeonda terkulai. Sama seperti Jenner, dia tidak mati, tapi koma.


Melihat kedua orang terkuat mereka kalah, warga desa yang tersisa berlari melarikan diri tidak karuan. Letticia mendengus dan mengangkat tangan. Seketika, samar-samar cahaya hijau terlihat mengelilingi bagian dalam gunung, lalu menghilang.


"Aku sudah menaruh sihir pengawas. Kalau kalian berani berbuat macam-macam lagi, nyawa taruhannya," Letticia memberi peringatan. Ini adalah peringatan terakhirnya untuk warga Desa Axle, karena mereka tidak sepenuhnya bersalah.


"Kami pasti akan mengingatnya," jawab para warga. Mereka tidak akan berani berbuat jahat lagi.

__ADS_1


Letticia melompat dan terbang meninggalkan Desa Axle. Dia membuka portal segera kembali ke istana.


...****************...


__ADS_2