Ice Princess

Ice Princess
Penampakan


__ADS_3

Amara berjalan sendirian menuju tangga. Tadi dia dipanggil Miss Sheran dan sekarang sudah malam sehingga tidak ada orang selain dirinya di luar ruangan.


"Uhh dinginnya," gumam Amara. Sayang, dia tidak memiliki sihir api untuk menghangatkan diri.


Amara menapaki tangga dan naik secepatnya. Dia lelah hari ini dan sekarang sangat dingin hingga membuat Amara menggigil.


Tap tap tap


Tiba-tiba, Amara mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Amara berbalik. Tidak ada seorangpun di sana.


"Mungkin hanya khayalanku saja," batin Amara. Dia harus berpikir positif sekarang.


Tap tap tap


Suara langkah kaki kembali terdengar. Sekarang Amara benar-benar ketakutan.


Amara berbalik sekali lagi. Tidak ada siapapun. Amara sangat takut. Dia menyesal tidak membiarkan Letticia menemaninya tadi.


Amara menghadap ke depan. Namun, sekilas dia melihat sosok berambut panjang tergantung di ranting pohon dengan tali di lehernya. Seperti orang yang baru saja bunuh diri.


"AAAAA!!" Amara berteriak sekencang-kencangnya.


Teriakan Amara tadi tentu mengagetkan orang-orang di kamar sekitarnya. Beberapa dari mereka keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi.


Amara tak peduli lagi. Dia berlari sekencang-kencangnya dan membuka pintu dengan tergesa-gesa.


Setelah pintu terbuka, Amara buru-buru masuk dan mengunci pintu. Letticia, Flo, Emily, Lucia, Charlotte, dan Ashley heran melihat Amara yang terlihat sangat ketakutan.


Nafas Amara tak teratur. Adegan tadi masih terbayang jelas di kepalanya. Adegan yang sangat mengerikan yang membuat bulu kuduk Amara berdiri.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Letticia.


Amara tak mempedulikan pertanyaan Letticia. Dia segera melepas jaketnya dan berbaring di kasur. Pikiran Amara masih agak kacau dan dia belum sepenuhnya tenang.


"Hey, jawab pertanyaanku atau aku akan mencari sendiri jawabannya di pikiranmu," ancam Letticia yang kesal pertanyaannya diacuhkan Amara.


Amara bangkit dari tidurnya dan duduk di pinggir kasur. Dia berusaha menenangkan diri dan menghela napas.


"Aku melihat sesuatu," jawab Amara.


"Hantu?" tanya Ashley.


"Hantu itu tidak nyata, Ashley," balas Charlotte.


"Tapi aku benar-benar melihatnya," ujar Amara. Masih terbayang adegan tadi di pikirannya.


"Dia tergantung di pohon dengan tali di lehernya. Terlihat seperti orang yang bunuh diri," jelas Amara.


"Seingatku tidak ada kejadian aneh apapun di sekolah ini," kata Charlotte.


"Letticia, coba cari identitas hantu itu," kata Flo.


"Kau memerintahku?" Letticia mengernyitkan dahi.


"Ti-tidak."


"Haha aku hanya bercanda."


Letticia bersila dan berusaha fokus. Teman-temannya berusaha diam agar tidak mengganggu Letticia.

__ADS_1


Tak lama, Letticia membuka mata.


"Jadi, apa identitas hantu itu?" tanya Emily.


"Namanya Lora. Aku tidak tahu lebih dari itu," jawab Letticia.


"Kau payah," Amara cemberut.


"Kita bisa menyelidikinya besok," Lucia mengunyah biskuitnya.


"Kasus ini tidak sesederhana yang kita kira," Letticia menghela napas. Dia merasa bahwa kasus ini akan ribet dan berbelit-belit.


"Memangnya kenapa?" tanya Emily.


"Entahlah. Aku merasa ada seseorang yang melatarbelakangi hal ini. Dan ya, gadis itu memang bunuh diri karena depresi," kata Letticia.


Amara terdiam. Sepertinya gadis itu meminta bantuannya.


"Kita harus membantu gadis itu. Sepertinya dia meminta bantuan," kata Amara.


"Kau gila?!" seru Charlotte, "Kalau soal hantu, aku tidak ikut."


Charlotte memang sangat takut pada hantu. Dia takut sendirian dan berada di ruangan gelap, jadi Charlotte selalu menghidupkan lampu di manapun dia berada.


"Kau masih penakut rupanya," kata Lucia pada kembarannya itu.


"Aku akan membantu gadis itu," kata Amara.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2