
Halley bangun pagi hari ini. Dia bermimpi buruk dan terbangun dengan sendirinya. Tapi Halley tidak mau tidur lagi, takut mimpi buruknya kembali.
Karena yang lain masih tidur dan hari ini libur, Halley memutuskan untuk jalan-jalan keliling sekolah. Dia baru di sekolah ini dan harus mengingat denahnya kalau tidak mau tersesat.
"Sekolah ini lebih luas dari yang aku kira," gumam Halley saat memandang sekolahnya dari balkon.
Halley mulai berjalan melewati lorong kamar. Dia sampai ke sebuah tangga dan turun ke bawah.
Di bawah, suasananya sepi. Hanya ada sedikit guru dan dirinya. Tidak ada murid sama sekali. Sepertinya murid-murid lain lebih memilih memanfaatkan hari libur mereka untuk tidur dan istirahat di kamar.
"Uhh dingin..." gumam Halley. Dia kesal kenapa dirinya tidak punya sihir api.
Tiba-tiba, Halley merasa seseorang memakaikan jaketnya ke tubuh Halley. Saat Halley menoleh, tampak seorang anak perempuan dengan rambut cokelat tua panjang diikat satu.
"Makasih," ucap Halley.
"Tidak masalah. Namaku Jocelline. Namamu?"
"Halley."
Halley dan Jocelline berjalan di pagi hari bersama. Ternyata tujuan Jocelline sama dengannya, yaitu mengenal sekolah ini, karena Jocelline juga murid baru. Hanya saja, dia ada di kelas yang berbeda dengan Halley.
__ADS_1
"Aku iri dengan orang-orang yang punya sihir api," kata Jocelline.
"Aku juga. Mereka bisa menghangatkan tubuh mereka kapan saja," balas Halley yang sependapat.
Halley dan Jocelline sampai di taman bermain TK. Dulu, sekolah ini menerima murid taman kanak-kanak. Dan dulu sekolah ini juga bukan sekolah berasrama. Setelah diubah menjadi sekolah asrama dan tidak lagi menerima murid TK, taman bermain ini jadi jarang digunakan.
"Kok agak serem ya," kata Jocelline takut melihat taman bermain yang sudah lama digunakan, dipadu dengan pagi hari yang terbilang cukup gelap, sehingga menciptakan suasana yang menakutkan.
"Tenang. Kita berdua di sini," Halley menenangkan Jocelline.
"Tapi hantu itu bisa ada 10!" kata Jocelline. Dan perkataannya cukup masuk akal.
"Aku dengar Letticia bahkan punya teman hantu," kata Halley. Letticia pernah bercerita padanya tentang Lora.
"Apa dia terkenal di sini?"
"Lumayan. Beberapa orang membicarakannya," jawab Jocelline. Dia jarang bergosip dengan gadis lain, jadi tidak terlalu tahu tentang hal ini.
"Aku dengar identitasnya tidak biasa. Mungkinkah dia orang penting?" tanya Halley.
"Mungkin. Karena mendengar itu, tidak ada yang berani menantangnya," jawab Jocelline.
__ADS_1
Halley dan Jocelline berjalan tanpa henti. Mereka tidak lelah. Lagipula bosan di kamar terus menerus dan tidak baik untuk kesehatan.
Setelah 20 menit, Halley pamit pulang. Dia lelah sekarang dan Matahari sudah menampakkan diri, jadi udaranya mulai panas. Yah, tidak panas. Hanya saja tidak sedingin tadi.
"Oh baiklah. Kita ketemu lagi kapan-kapan ya," kata Jocelline.
"Iya," jawab Halley, lalu melangkah pergi ke kamarnya.
...****************...
"Halley, ke mana saja kau?" tanya Letticia.
"Aku hanya berkeliling sekolah dengan Jocelline," jawab Halley.
"Jocelline? Aku belum pernah dengar ada murid bernama Jocelline," kata Ashley bingung.
"Iya. Jocelline Anchor Brige, anak Baron dan Baroness Brige," kata Halley.
"Hah?? Tapi Jocelline Anchor Brige sudah meninggal 10 tahun yang lalu," kata Charlotte. Dia pernah membaca tentang profil murid Morton Magic School selama 20 tahun terakhir, dan ia secara tak sengaja membaca tentang Jocelline.
"Ta-tapi itu berarti..."
__ADS_1
...****************...