
Letticia memasuki kediaman keluarga Gornard. Ya, dia akan menemui Irene Virsihen Gornard. Untuk apa? Untuk menjalankan rencana besar yang sudah dia bicarakan dengan Lora dan beberapa orang yang akan ikut serta dalam rencana ini. Tentu Letticia tidak sembarang memilih orang. Dia memilih orang yang paling bisa dipercaya.
"Halo, saya ingin bertemu nona Irene," ucap Letticia.
Note : Saar bertemu murid/guru bangsawan, kita melupakan status sebagai murid dan guru dan memanggil mereka sesuai status.
"Tentu, tuan putri. Nona Irene sudah menunggu tuan putri sedari tadi," jawab penjaga sopan.
Penjaga membawa Letticia ke dalam. Di dalam, Irene sudah menunggu Letticia di ruang tamu.
"Ah, silahkan duduk," ucap Irene ramah.
Letticia duduk. Pelayan menyuguhkan kue basah dan susu. Ya, Letticia sedang tidak ingin minum teh sekarang.
"Bagaimana kabar Viscount?" tanya Letticia sekadar untuk membuka pembicaraan.
"Ayah baik-baik saja. Dia semakin mencintai ibu sekarang," jawab Irene sambil tertawa.
Sepanjang obrolan mereka, sebenarnya Letticia tidak terlalu memperhatikan obrolan. Dia lebih memperhatikan Irene dan ruangan ini. Seperti yang Letticia duga, Irene jadi agak lemah dan sering tidak nyambung. Ruangan ini pun ditutup sepenuhnya agar cahaya Matahari dan Bulan tidak bisa masuk.
"Apa nona tidak ingin keluar melihat langit di bulan Mort?" tanya Letticia memancing.
"Tidak. Aku tidak terlalu tertarik," jawab Irene. Aktingnya cukup mulus. Tapi tubuh dan akal yang melemah itu tidak bisa disembunyikan.
Letticia tersenyum licik. Dia membayangkan ketika rencananya berjalan. Irene akan dikurung di ruangan 'itu'. Entahlah, akhir-akhir ini Letticia merasa dirinya jadi sedikit pyscho.
"Maaf kalau saya lancang, tapi bolehkah saya melihat lukisan Perang Rotten yang legendaris itu?" tanya Letticia.
"Tentu saja. Silahkan," jawab Irene tak curiga.
Irene membawa Letticia ke ruang seni rumah keluarga Gornard. Di salah satu sisi dinding, tergantung lukisan Perang Rotten. Lukisan ini dilukis oleh seorang bocah laki-laki yang selalu bermimpi menjadi pelukis. Dia melukisnya di tengah ganasnya perang. Bocah itu meninggal bahkan sebelum ada yang melihat lukisannya. Lukisan ini akhirnya jatuh ke tangan keluarga Gornard.
"Wow ini lebih luar biasa dari yang aku kira," puji Letticia.
"Haha tentu saja," jawab Irene.
"Hm maafkan aku sekali lagi, Miss..."
"Apa?"
...****************...
Jari telunjuk Irene bergerak. Tubuhnya terasa nyeri dan tidak bertenaga. Irene juga merasa seolah dirinya tidak lagi memiliki akal. Dia hampir tidak bisa berpikir.
"Akhh... Di mana aku?" gumam Irene.
Dengan pemikiran keras, akhirnya otak Irene berhasil memproses keadaannya saat ini. Kini Irene diikat dengan tali es tingkat tinggi di sebuah ruangan yang Irene sendiri tidak tahu ruangan apa ini. Ruangan tempat Irene berada diterangi oleh sebuah lubang kecil di atas kepalanya. Tapi cahaya dari lubang kecil tersebut sudah cukup untuk membuat efek tanggal satu bulan Mort pada Irene semakin parah.
Tap! Tap! Tap!
Terdengar suara langkah kaki. Irene memicingkan matanya pada arah langkah kaki tersebut.
Seorang gadis berambut putih dengan untaian pelangi muncul. Kedua matanya yang berwarna ungu dan biru menatap Irene. Bibir merahnya tersenyum licik, seakan puas dengan apa yang dia lakukan.
Di belakang gadis itu, nampak seorang gadis lain. Dia tidak berwujud manusia, melainkan roh. Ya, gadis di belakang Letticia tersebut adalah Lora Anderson Smith.
Lora menatap Irene tajam. Di matanya, Irene tak lebih dari pelakor yang merebut ayahnya dan bahkan memiliki anak diluar nikah dengan ayahnya. Ayah yang Lora kira baik dan mencintai keluarga, sekarang telah hancur berkat Irene.
Plak! Plak!
Irene terkejut. Lora menamparnya tanpa ragu. Sementara Letticia hanya diam. Dia memperbolehkan Lora melakukan apapun pada Irene. Letticia memahami perasaaan Lora. Tentu dendam yang sudah lama dipendam akan dibalaskan berkali-kali lipat saat dibalaskan. Mungkin Irene hanya bisa berdoa agar mati dengan tenang hari ini.
__ADS_1
"Kau...!" seru Lora marah, "Pelakor! Kau merebut ayahku!"
"A-apa maksudmu?" tanya Irene. Letticia heran dengan wanita ini. Dia jelas-jelas sudah tertangkap. Apa masih mau berbohong?
"Diam!"
Plak! Plak!
Pipi Irene merah. Lora tidak menahan apapun saat menamparnya. Letticia juga sudah meningkatkan kekuatan Lora agar bisa menyakiti Irene sepuasnya.
"Ah, Miss Irene yang baik hati. Kurasa sudah waktunya kita memperjelas ini," ujar Letticia akhirnya bicara.
Letticia maju mendekati Irene. Letticia mengangkat dagunya, menatap wajah Irene yang cantik. Pantas Count Smith tertarik padanya.
"Kau punya anak dengan Count Smith, kan?" tanya Letticia, "Kau keturunan klan minowolf, kan?"
Irene terkejut. Letticia mengetahui rahasia-rahasia terbesarnya. Bahkan raja dan ratu sebelumnya tidak mengetahui hal ini walau mereka juga sempar curiga. Kekuatan apa yang digunakan Letticia untuk meneliti sampai sejauh ini?
"Haha aku hanya akan membantu Lora membalaskan dendamnya. Hari ini, aku akan membiarkan Lora balas dendam dengan tangannya sendiri. Sebentar lagi, Count Smith kekasihmu itu akan pergi ke neraka bersamamu!" seru Letticia senang, seolah dirinya sudah gila.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Irene tak terima. Dia bergerak-gerak, berusaha melepaskan diri.
"Ini adalah tali es tingkat tinggi buatanku. Tak sembarang orang bisa melepaskannya," kata Letticia sambil tertawa melihat perjuangan Irene yang sia-sia.
"Sial," pikir Irene.
Tidak ada harapan bagi Irene. Dia hanya bisa menerima saat Lora tak hanya menamparnya, tapi juga menyerangnya habis-habisan. Ini bahkan lebih menyakitkan daripada mati langsung.
"Biarkan aku mati saja!" seru Irene. Dia lebih baik mati daripada merasakan semua penderitaan ini.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu mati semudah itu?" tanya Lora. Sorot matanya tidak menunjukkan belas kasihan sama sekali. Lora bukan lagi dirinya yang dulu. Sekarang ia sudah berubah menjadi pembunuh tanpa belas kasih pada orang yang sudah menyakitinya.
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki lagi. Amara dan Ashley muncul bersama Count Smith. Count Smith mengerang dan memberontak. Tapi Amara dan Ashley menahannya dengan baik. Dia tidak akan bisa lepas.
Letticia mendudukkan Count Smith di samping Irene. Dia juga diikat dengan tali es tingkat tinggi yang sama.
"Sekarang kalian sudah bersama," ujar Lora puas.
Lora mendekati Count Smith perlahan. Dia tidak akan tanggung-tanggung pada pria ini. Walau Count Smith adalah ayahnya, tapi Lora tidak lagi benar-benar menganggapnya ayah. Count Smith sudah berselingkuh dari ibunya dan ini tidak bisa diterima dengan mudah.
Plak!
"Anak kurang ajar! Berani memukulku?!" bentak Count Smith marah. Anaknya sendiri berani menamparnya sekeras ini.
"Kenapa aku tidak berani?" tanya Lora. Dia sama sekali tidak takut pada bentakan Count Smith. Toh, ayahnya yang malang ini juga sudah tidak bisa apa-apa lagi.
"Aku ayahmu!" seru Count Smith.
"Kau bukan ayahku. Karena kau sudah berselingkuh dari ibu," jawab Lora dingin.
"Kau..."
Lora tertawa. Inilah yang dia inginkan. Memukul, menampar, membunuh orang sesuka hatinya terasa hebat.
Tap! Tap! Tap!
Aline Jeremy Watson
Merry Harryson Styles
Wheein Kian Ramon
__ADS_1
Febi Anderson Lian
Lucia dan Charlotte muncul. Mereka membawa Merry Harryson Styles, Wheein Kian Ramon, dan Febi Anderson Lian, orang yang membunuh Lora atas perintah Irene.
Halley juga datang. Dia membawa Aline Jeremy Watson, orang yang menyebarkab berita miring tentang Lora.
Mereka berempat diikat berdampingan satu sama lain. Kini semua sudah lengkap. Lora sangat senang.
"Haha akhirnya hari ini datang juga!" seru Lora.
"Lora! Bukankah kau sudah mati?!" tanya Merry ketakutan.
Plak!
"Aku memang mati," jawab Lora dengan tatapan dingin, "Dan itu berkat kalian."
Lora menghampiri Irene dan menatap tajam, memperhatikan dari atas sampai bawah.
"Cuih! Ibuku masih lebih cantik dan baik darimu!" Lora meludah pada Irene.
"Kurang ajar!"
Plak!
"Sepertinya kau tidak paham situasi di sini, Irene Virsihen Gornard."
Lora menyiksa semua orang di hadapannya satu persatu. Dia menyiksa mereka seperti orang gila yang lepas kendali. Lora bahkan merobek mulut Wheein dan membakar rambut Irene tanpa ragu.
"Haruskah kita hentikan?" tanya Halley yang ngeri dan jijik dengan pemandangan di hadapannya saat ini.
"Tidak. Biarkan dia memuaskan dendamnya," jawab Letticia.
Letticia juga sudah lama kesal dengan Count Smith dan Irene. Kedua bangsawan ini terkadang membuat onar dan menimbulkan rumor tidak jelas. Jadi Letticia ikhlas saja saat Lora menghajar mereka habis-habisan.
"Sudah puas?" tanya Letticia. Dia mendekati Lora.
"Lumayan," jawab Lora. Tubuhnya dipenuhi darah.
"Kau harus mandi nanti," komentar Letticia melihat darah di sekujur tubuh Lora.
"Tentu. Aku tidak suka darah orang-orang menjijikkan ini," jawab Lora.
Setelah Lora menyiksa semuanya sampai sekarat, Letticia memberi Antealer pada Lora. Antealer adalah busur milik Lora dulu.
Lora membuat beberapa panah sihir campuran. Dia membidik dengan baik, lalu menghadiahi setiap orang satu panah tepat di titik vital mereka.
Note : Panah sihir campuran adalah panah yang dibuat dengan berbagai elemen yang dicampur.
"Aku akan memusnahkan jiwa mereka," kata Letticia. Letticia memusnahkan semua jiwa orang yang dibunuh Lora. Kini mereka tidak akan bisa bereinkarnasi dan kekal di tempat tujuan akhirnya nanti.
Lora mendekati Letticia. Bulir air mata jatuh dari mata indahnya. Lora memeluk Letticia dan menangis tersedu-sedu.
"Terima kasih sudah membantuku," ucap Lora tulus. Dia tak percaya dia berhasil membalaskan dendam abadinya.
"Sama-sama," balas Letticia.
...****************...
Sesampainya di sekolah, Lora memeluk mereka satu persatu dan pamit. Dia akan pergi ke alam tempat ia seharusnya berada, bukan terkurung di dunia ini sebagai roh lagi.
"Selamat tinggal, semuanya."
__ADS_1
Roh Lora perlahan menghilang menjadi butiran cahaya kecil yang terbang ke langit. Sekarang jiwanya sudah tenang di alam sana, tempat ia seharusnya berada.
...****************...