Ice Princess

Ice Princess
Pesta Penyambutan


__ADS_3

"Tuan putri, bersiap untuk turun sebentar lagi. Semua orang sudah menantikan tuan putri," Aldrian mengingatkan, "Saya akan menjemput tuan putri."


Letticia mengangguk. Aldrian membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan kamar Letticia.


Letticia mematut dirinya di cermin. Hari ini, dia akan tampil sebagai putri dan calon ratu kerajaan Morton. Letticia bertekad untuk tidak mengecewakan rakyatnya. Dia harus menjadi ratu yang sempurna!


"Tenang saja, kau sudah cantik," kata Amara yang tiba-tiba memeluk Letticia dari belakang.


"Aku tahu. Tapi aku tetap gugup," kata Letticia, "Bagaimana aku yang sebelumnya hanya orang biasa akan memimpin kerajaan."


"Aldrian sudah bilang akan membantumu. Semuanya sudah terkendali, jadi kau hanya perlu fokus untuk menjadi yang lebih baik."


"Kata-katamu ada benarnya."


Tak lama, Aldrian menjemput Letticia dkk. Letticia dan dayang-dayangnya segera pergi ke bawah. Mereka akan masuk lewat sebuah pintu besar yang dikhususkan untuk keluarga kerajaan.


"Hormat kepada tuan putri Letticia Chandealer Morton dan Aldrian Qingnam Smith!"


Pintu terbuka. Letticia dan Aldrian berjalan berdampingan. Di belakang mereka, ada teman-teman Letticia dan para dayang. Semua orang membungkuk memberi hormat pada mereka.


Letticia dan Aldrian duduk di tahta. Aldrian memberi isyarat pada Letticia. Letticia langsung mengerti isyarat itu. Dia berdiri dan memandang rakyatnya.


"Saya, Letticia Chandealer Morton, selaku putri sekaligus pewaris tahta kerajaan Morton. Saya diasingkan bertahun-tahun yang lalu dan kini saya telah kembali untuk memimpin kerajaan ini. Mohon kerjasamanya," kata Letticia dengan berwibawa.


Semua orang bertepuk tangan kagum dengan kata-kata Letticia barusan. Dia terdengar dan terlihat seperti seorang pemimpin. Letticia kembali duduk di tahtanya. Diam-diam, Letticia menghela napas lega karena berhasil berpidato dengan lancar.


Pesta dimulai. Letticia menonton orang-orang menari dan bersenang-senang di bawah. Lama-lama Letticia bosan hanya duduk dan menonton.


"Aku akan pergi ke bawah," kata Letticia.


"Untuk apa?" tanya Aldrian.


"Menikmati pesta."

__ADS_1


Sebelum Aldrian mengeluarkan kalimat selanjutnya, Letticia sudah berlalu dan turun ke bawah. Aldrian hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan tuan putrinya itu.


Letticia memandang sekitar. Semua orang makan, minum, dan mengobrol. Beberapa orang menari di lantai dansa. Di dekat Letticia, ada sekelompok gadis bangsawan sedang berbincang-bincang.


"Oh, tuan putri? Sedang apa anda di sini?" tanya seorang gadis dengan penampilan sedikit lebih mewah dari gadis lainnya. Gadis itu memiliki rambut pirang dan bola mata berwarna kuning. Tapi tentu saja penampilan Letticia jauh lebih mewah dan cantik.


"Aku hanya berkeliling," jawab Letticia.


"Bergabunglah dengan kami," kata gadis itu, "Namaku Britney Doelly Spears, anak Marquis dan Marchioness Spears."


"Namaku Aline Yoela Dornidt, anak Count dan Countess Dornidt," kata seorang gadis berambut cokelat dan bola mata berwarna hijau.


"Namaku Halley Fordness Zeneth, anak Count dan Countess Zeneth," kata seorang gadis berambut cokelat tua dan bola mata berwarna biru.


Letticia bergabung dengan mereka bertiga dan mulai mengobrol. Rata-rata isi obrolan mereka adalah gosip tentang gadis bangsawan lain.


"Kalian sudah tahu berita tentang Irene?" tanya Halley.


"Irene Northeast Yolk anak dari Baron dan Baroness Yolk?" kata Letticia. Walau baru datang, dia sudah mengenal sedikit bangsawan.


"Kabarnya, Irene sangat kejam dan jahat. Kemarin dia tertangkap basah membunuh seorang pelayan hanya karena terlambat sedikit mengantar supnya. Sekarang dia sudah dipenjara," kata Halley.


"Perbuatannya sungguh tidak manusiawi. Seharusnya dia mentorelil pelayan itu. Mungkin dia tidak tahu bagaimana sulitnya menjadi seorang pelayan," kata Britney sambil meminum tehnya dengan anggun.


"Apa pendapat kalian kalau aku mengubah hukum kerajaan ini?" tanya Letticia.


"Kenapa tuan putri tiba-tiba bertanya seperti itu? Dan hukum apa yang mau tuan putri ubah?" tanya Aline.


"Aku hanya kepikiran saja," jawab Letticia, "Sepertinya aku ingin mengubah hukuman untuk seorang pembunuh dengan hukuman mati."


"Aku rasa itu ide bagus," jawab Halley, "Mati harus dibalas mati."


"Wah wah wah sepertinya kau terlalu sibuk bicara dengan mereka sampai melupakan aku. Aku sudah mencarimu dari tadi."

__ADS_1


Letticia menoleh ke belakang. Ternyata Amara.


"Maaf, ini teman-teman baruku. Tadi mereka sedang mengobrol dan aku bergabung," kata Letticia.


"Siapa gadis ini, tuan putri? Kalian terlihat sangat dekat," tanya Britney.


"Ini Amara, sahabatku dari bumi," jawab Letticia tersenyum.


"Ah, ternyata sahabat tuan putri. Perkenalkan, namaku Britney. Ini Aline dan ini Halley," Brianna memperkenalkan diri.


"Namaku Amara," balas Amara.


Mereka mengobrol cukup lama. Letticia yang mulai bosan dengan pembicaraan itu pamit dan pergi meninggalkan mereka.


Letticia memandang sekitar. Dia pergi ke sebuah meja dan mengambil secangkir teh.


"Apa anda Putri Letticia?" tanya seseorang.


Letticia menoleh ke belakang. Tampak seorang pria yang sangat tampan menghampirinya. Semua gadis yang berada di sekitar mereka mematap pria itu kagum. Sepertinya pria itu cukup terkenal di kerajaan ini.


"Ya, saya Letticia. Dan siapa anda?" tanya Letticia.


"Namaku Leonardo Vinca Spears, panggil saja Leo," jawab pria itu memperkenalkan diri.


"Kakaknya Britney?" tanya Letticia yang memperhatikan marga Britney dan Leo yang sama.


"Tuan putri sudah mengenal adik saya?"


"Aku berbincang dengannya sebentar tadi."


"Kalau anda mengizinkan, maukah tuan putri melakukan dansa pertama dengan saya?" kata pria itu.


"Umm... Boleh."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2