
Drap! Drap!
Puluhan ribu prajurit dan penyihir berbaris di tempat latihan kerajaan Morton. Letticia maju ke depan untuk menjadi pelatih mereka secara langsung.
Mereka semua memberi hormat pada Letticia. Letticia hanya mengatakan terima kasih, memperkenalkan diri secara singkat, lalu segera memulai latihan. Dia tidak suka membuang waktu. Terutama latihan ini sangat penting.
"Cara kalian salah," tegur Letticia pada para penyihir. Dia lalu mengajarkan cara mengendalikan serta mencampur elemen api dan air yang benar.
Setelah tempat penyihir, Letticia berlalu ke tempat prajurit. Prajurit-prajurit ini sudah cukup bagus. Tapi tidak ada yang lolos di matanya.
"Ini salah! Begini cara yang benar! Ini juga salah! Seharusnya seperti ini!"
Dengan pelatih seperti Letticia, pelatihan berjalan lancar. Sangat lancar. Tidak ada yang berani membantah. Mereka melakukan semua dengan sempurna.
Pelatihan khusus berjalan selama sebulan. Setelah penilaian akhir, mereka kembali ke kerajaan masing-masing. Sekarang prajurit-prajurit dan penyihir-penyihir itu sudah lebih kuat daripada awal mereka datang kemari.
Letticia menguap dan meraba sekitar. Dia menemukan sebuah apel di keranjang buah dan memakannya. Pelatihan itu benar-benar menguras tenaga. Dan lebih melelahkan lagi bagi Letticia yang merupakan orang yang cukup malas.
"Tunda semua jadwal. Aku mau istirahat," kata Letticia, padahal tidak ada siapapun di ruangan ini. Pengawal di luar ruangan mendengarnya, lalu menyampaikan apa yang Letticia katakan. Letticia beberapa kali melakukan ini. Dia memberi perintah tanpa ada siapapun di ruangan. Seperti sudah menjadi kebiasaan tersendiri.
"Pelatihan kedua akan dimulai beberapa hari lagi. Kali ini untuk kerajaan-kerajaan lain. Melelahkan. Tapi setidaknya ini perbuatan baik," batin Letticia sedikit mengeluh, "Hanya saja, bagaimana kalau bencana tiba-tiba muncul? Apa semua akan mengandalkan aku?"
...****************...
Letticia mengelilingi para prajurit dan penyihir yang latihan. Tapi ada sepasang pria dan wanita yang menarik perhatiannya. Teknik mereka berdua sangat sempurna. Hampir tidak ada kesalahan atau kekurangan. Dan mereka berdua jelas sangat kuat.
"Kalian bagus juga," puji Letticia.
"Terima kasih, tuan putri," ucap pria dan wanita itu senang.
"Maaf kalau lancang bertanya, tapi apa hubungan kalian berdua?" tanya Letticia hati-hati. Kedua orang itu tampak memiliki hubungan dekat.
"Oh, kami pasangan suami istri yang sama-sama menjadi prajurit-penyihir. Kalau salah satu mati, kami akan mati bersama," jelas si suami.
Note : Prajurit-penyihir adalah orang yang bisa bertarung dengan baik dan punya kekuatan sihir.
"Oh, begitu. Oke, lanjutkan latihan kalian," Letticia manggut-manggut mengerti, lalu pergi.
Semua berjalan lancar seperti biasa. Kecuali beberapa kejadian kecil yang sedikit aneh. Beberapa orang mengatakan melihat sesuatu, terjadi gempa selama beberapa detik, dan lain-lain. Tapi sepertinya itu bukan masalah besar.
Tempat latihan dipindahkan ke puncak Wailo, tempat yang bisa menekan sihir dengan kekuatan setara penyihir tingkat menengah. Mereka akan dilatih cara mengendalikan dan menggunakan sihir saat sihir mereka ditekan.
__ADS_1
Perjalanan ke puncak Wailo memakan waktu setengah jam. Mereka pergi menggunakan Persailes yang segera berlayar di udara menuju puncak Wailo.
Setiba di puncak Wailo, semua orang turun dengan tertib. Karena mereka adalaj prajurit, jadi sudah dilatih untuk berbaris dan berjalan dengan tertib. Tidak ada yang dorong mendorong, jadi semua turun dengan aman.
"Aku merasa sihirku ditekan. Seperti hampir hilang."
"Tekanannya sangat kuat."
"Apa ini kekuatan tingkat menengah? Kalau begitu seperti apa tingkat atas?"
"Sudah, semua. Ini adalah puncak Wailo yang memiliki tekanan setara kekuatan penyihir tingkat menengah. Kalian akan dilatih untuk menahan tekanan ini dan mengendalikan kekuatan kalian. Apa ada yang mau bertanya?" ujar Letticia.
Seseorang mengangkat tangan. Letticia mempersilahkannya bertanya.
"Bagaimana kami menghadapi tekanan setara penyihir tingkat atas?" tanya orang itu.
"Aku akan mengajari kalian setelah kalian berhasil menghadapi tingkat menengah. Kalian tidak bisa menghadapi tingkat atas kalau tidak belajar tingkat menengah terlebih dahulu," jawab Letticia.
Melawan penekanan kekuatan sihir cukup sulit. Di pelatihan ini, hanya 30% yang berhasil mengeluarkan kekuatan sepenuhnya dalam tekanan. 50% berhasil mengeluarkan setengah. Sisanya, kekuatan mereka tertekan sepenuhnya.
Kerajaan lain jarang ada yang melatih melawan penekanan sihir, karena tidak banyak profesional yang bisa mengajari hal ini. Tidak ada guru, tidak ada yang mengajari.
"Ini kekuatan tingkat tinggi. Hari ini aku hanya akan menunjukkannya terlebih dahulu dan kita akan lanjut besok. Bagi yang belum berhasil menahan tekanan tingkat menengah sepenuhnya, tetap di sini dan aku akan mengajari kalian sampai bisa," ujar Letticia, "Bagi yang mampu menahan kekuatan tingkat menengah sepenuhnya, bubar."
Tersisa 70% orang. 30% lainnya yang berhasil menahan tekanan tingkat menengah sudah pergi untuk beristirahat, mandi, dan makan setelah pelatihan yang melelahkan.
Letticia melatih sisa orang dengan ketat. Yang belum mampu maka belum boleh pulang. Mereka tidak bisa kabur di bawah pengawasan dan dikelilingi kekuatan tidak terlihat seperti ini. Jadi hanya bisa pasrah dan berlatih sampai bisa. Lagipula ini untuk kebaikan.
Setelah semua bisa, mereka bubar. Letticia sendiri pergi ke pemandian air panas yang sengaja disediakan di gunung ini sejak lama untuk para pendaki dan wisatawan yang tidak tahan dengan dinginnya puncak Wailo.
"AAAAA!"
Setelah jeritan yang sangat nyaring, suasana hening sejenak. Mereka saling tatap menatap.
"Astaga. Kukira laki-laki yang menyelinap masuk," salah satu gadis mengelus dada, "Pakai handuk pink, tuan putri, jangan yang biru. Handuk biru itu untuk laki-laki."
Saat Letticia masuk tadi, mata semua orang langsung merespon handuk berwarna biru yang dia pakai. Yiran, asistennya, membawakan Letticia handuk ini dan Letticia sama sekali tidak tahu tentang biru untuk laki-laki dan pink untuk perempuan di pemandian air panas ini.
"Ah, maaf. Aku tidak tahu," Letticia garuk kepala, merasa bersalah. Dia memasuki kolam. Rasanya hangat. Seakan sendi-sendi yang membeku sudah mencair.
"Tidak apa," jawab gadis itu, "Namaku Nutel."
__ADS_1
Gadis-gadis itu mulai mengobrol dan bergosip layaknya wanita pada umumnya. Letticia juga melakukan hobi yang sudah mendarah daging dalam dirinya dan ikut bergosip. Dia mengetahui banyak kabar di istana. Mulai dari kehamilan anak ketiga Duchess Tiz, Lord Ouli yang berselingkuh dari tunangannya, dan berita-berita lain yang hanya diketahui beberapa orang.
"Tidak disangka tuan putri pandai bergosip juga," canda Xiulinye atau dipanggil Xiu.
"Tidak usah panggil tuan putri," kata Letticia.
"Baiklah, kalau itu yang anda inginkan," Xiu pura-pura membungkuk 90 derajat.
"Hahaha."
...****************...
Malam hari, Letticia duduk di balkon dengan segelas coklat panas di tangannya. Aldrian yang membuatkan coklat panas itu dengan alasan coklat panas akan cocok dengan udara puncak Wailo yang dingin. Tawaran itu tidak buruk, jadi tidak ada salahnya diterima.
Di bawah, tampak sekelompok orang hendak memasuki rumah secara diam-diam. Tapi itu tidak akan pernah berhasil di bawah pengawasan sang putri. Mereka mati mengenaskan dalam satu serangan.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk."
Aldrian masuk setelah mendapat izin. Dia mendapati Letticia dengan rambut beterbangan ditiup angin malam. Dia terlihat cantik.
"Apa anda tidak tidur?" tanya Aldrian, "Udaranya dingin. Tidak baik berada di luar."
"Aku akan tidur setelah menghabiskan coklat panas ini," Letticia mencari alasan.
"Baiklah," ujar Aldrian, "Sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya berikan."
"Apa itu?"
Aldrian mengeluarkan tangan dari belakang punggungnya. Tampak sebuket bunga mawar yang sangat indah. Sepertinya ini dipetik sendiri, melihat tangan Aldrian yang ada sedikit goresan seperti tergores duri mawar.
"Cantik sekali. Terima kasih," ucap Letticia tulus. Dia mengambil buket itu dari tangan Aldrian dan mencium aromanya. Harum.
"Saya senang kalau tuan putri senang," senyum Aldrian yang tidak tampak seperti dibuat-buat, "Kalau begitu, saya pergi dulu, tuan putri."
Aldrian langsung pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Letticia mengganti ekspresinya. Dia memandang Aldrian yang berjalan pergi dan menutup pintu.
"Aku tahu perasaanmu. Tapi aku tidak bisa memberi apa yang kau inginkan."
...****************...
__ADS_1