
Pagi ini, Letticia dan Amara sudah pulang ke kerajaan mereka dan kembali ke sekolah. Hidup mereka dimulai seperti biasa sebagai dua orang pelajar MMS.
MMS : Morton Magic School.
"Aku dipanggil Miss Clarissa," kata Letticia. Letticia mengenakan jaket favoritnya lalu pergi ke kelas alam, kelas Miss Clarissa.
Saat berjalan menyusuri lorong, tiba-tiba Letticia mendengar suara teriakan dan suara tendangan dan belokan di depannya. Sepertinya ada yang sedang menindas seseorang.
Letticia berjalan dan melihat arah kanan dari belokan itu. Tampak seorang gadis yang sepertinya putri bangsawan, sedang menindas seorang gadis lain yang sepertinya adalah orang biasa. Gadis bangsawan itu menendang gadis biasa tersebut tanpa ampun.
"Kenapa kau menindasku seperti ini? Aku tidak melakukan apapun padamu!" tangis gadis yang ditindas.
"Huh dasar miskin! Aku menindas siapapun yang aku mau!" jawab sang gadis penindas dengan angkuh.
Ketika gadis itu hendak memberi satu tendangan lagi, Letticia bergerak dengan kecepatan cahaya dan melindungi gadis itu. Dia menangkap kaki gadis penindas itu dan melemparnya, menyebabkan gadis penindas tersebut terjungkal. Tentu Letticia mengenakan sarung tangan sepuluh lapis saat menangkap kakinya. Sepatu gadis itu bisa mengotori tangan Letticia.
Kedua teman gadis penindas itu buru-buru membantunya. Mungkin lebih tepat disebut bawahan daripada teman.
"Akhh siapa yang berani melawanku?!" tanya gadis itu marah. Dia menatap Letticia dengan mata menyala-nyala pertanda marah.
"Kita selesaikan di arena," kata Letticia.
"Haha baiklah. Kekuatanku sudah cukup untuk membuat murid jelata sepertimu mati dengan satu serangan," tawa gadis itu congkak.
Tanpa berlama-lama, mereka berdua pergi ke arena. Gadis itu, yang bernama Zivanna Khenata, bersiap menyerang Letticia. Sementara Letticia terkesan tidak peduli dan santai.
Tiba-tiba, Zivanna mencoba menyerang Letticia secara diam-diam. Semua orang yang melihat kejadian itu yakin bahwa takdir tidak berpihak pada Zivanna. Ya, mereka mengetahui siapa itu Letticia dan bagaimana nasib orang yang berani mengusiknya. Zivanna tidak tahu akan hal itu, karena dia hampir tidak pernah masuk sekolah dengan berbagai alasan.
Blar!
Zivanna terlempar. Dia muntah darah. Zivanna mengalihkan pandangan ke arah Letticia. Tampak Letticia hanya menggunakan satu jari untuk menangkis serangan barusan.
"Ini tidak mungkin! Aku tidak percaya!" Zivanna tidak terima.
Letticia melangkah mendekati Zivanna. Zivanna merasa gugup. Keringat dingin dan bulu kuduknya berdiri.
__ADS_1
Plak!
"Sadarlah! Kau tidak akan menang melawanku!" Letticia memperingatkan. Kalau Zivanna tidak mau menurut dan lanjut menyerang, maka tidak ada pilihan lain baginya selain membunuh orang tidak tahu diri ini.
Zivanna berdiri dengan tertunduk, memegangi pipinya yang barusan ditampar Letticia. Lalu ia menaikkan kepalanya dan tertawa seperti orang gila.
"Hahaha! Dasar gila! Kau kira kau bisa mengalahkanku?!" tawa Zivanna tak terkendali. Dia seperti kehilangan akal sehatnya saat ini.
Sesosok roh hitam keluar dari tubuh Zivanna. Tubuh Zivanna ambruk ke tanah. Roh tersebut tertawa jahat.
"Siapa lagi bedebah ini?" tanya Letticia muak. Selalu saja ada orang-orang tidak jelas yang berniat jahat. Apa mau mereka?
"Haha Zivanna hanyalah salah satu bonekaku. Aku sudah puas bermain dengannya," kata roh itu dengan menyeramkan, "Sekarang kaulah yang akan jadi bone-"
Blar!
Roh itu menghilang tanpa bekas. Semua karena satu serangan dari Letticia. Letticia sudah tidak mau mendengar ocehan roh itu lagi, jadi dia membunuhnya. Atau lebih tepatnya, memusnahkan roh tersebut.
Letticia mendekati mayat Zivanna. Sekarang dia harus menjelaskan pada Marquis dan Marchioness Khenata tentang hal ini. Merepotkan. Dan seperti kebanyakan cerita yang dibaca Letticia, kemungkinan besar Marquis dan Marchioness Khenata akan balas dendam padanya karena menganggap dialah yang sudah membunuh Zivanna. Ada kemungkinan juga mereka akan membalas pada gadis yang ditindas Zivanna tadi. Karena kalau bukan karena gadis itu, Zivanna tidak akan bertemu Letticia.
Letticia pergi sambil bersiul. Dia berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Letticia mengetuk dan membuka pintu kelas alam 1-A.
Miss Clarissa mematung selama beberapa saat ketika melihat Letticia. Tadi dia mendengar suara ledakan dan sempat melihat keluar. Seperti orang lain, Clarissa juga tidak berani keluar. Itu sama saja dengan mengantar nyawa kalau sampai terkena imbas dari ledakan tersebut.
Tapi sekarang penyebab ledakan itu berdiri di depannya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ada apa Miss memanggil saya?" tanya Letticia menyadarkan Clarissa.
"Ah, ya. Aku memanggilmu untuk mengikuti ujian praktek yang belum kau ikuti karena absen di hari itu," jawab Clarissa dengan masih agak gugup.
"Baiklah, aku akan ujian sekarang," kata Letticia.
...****************...
Selesai ujian praktek, Letticia keluar dari kelas. Lorong sedang sepi. Hanya ada Letticia seorang di sini.
__ADS_1
Merasa ada yang memperhatikan, Letticia membalikkan tubuh ke belakang. Dia tidak melihat siapapun. Tapi Letticia tahu, instingnya tidak pernah salah.
"Keluar," perintah Letticia.
Seorang gadis keluar dari persembunyiannya di balik tiang. Ternyata dia adalah gadis yang ditindas oleh Zivanna tadi.
"Kenapa mengikutiku?" tanya Letticia curiga.
Gadis itu langsung membungkukkan badan pada Letticia, "Terima kasih sudah membantuku sekaligus membalaskan dendamku!"
Letticia tertegun. Ternyata gadis ini ingin berterima kasih padanya. Yah, Letticia tahu, dibully itu tidak enak. Dia pernah melihat beberapa temannya yang dibully. Mereka sangat menderita.
"Bangunlah," kata Letticia.
Gadis itu menaikkan tubuhnya. Kalau diperhatikan, gadis ini cukup cantik. Dia terlihat seperti seorang bangsawan walau mengenakan pakaian orang biasa.
"Namaku Cha Lynn Han. Panggil saja Lynn," Lynn memperkenalkan diri. Dia gugup karena memperkenalkan diri pada seorang putri.
"Salam kenal. Kau sudah tahu namaku, kan?" tanya Letticia.
"Tentu. Tuan putri Lettcia, kan."
"Jangan panggil tuan putri. Panggil Letticia saja," pinta Letticia. Dia agak risih dan tidak suka dipanggil tuan putri.
"Baiklah," ujar Lynn dengan senyum manis. Letticia sampai terpana dengan pesona gadis ini. Senyumannya sangat cerah dan memancarkan aura positif. Gadis seperti ini pasti akan menjadi idaman para pria.
Letticia dan Lynn mulai berteman. Mereka mengobrol sepanjang jalan. Lynn menjelaskan betapa menderitanya ia ketika dibully Zivanna. Zivanna suka menendangnya, mengambil uangnya, dan hal-hal tidak manusiawi lainnya. Zivanna juga membully beberapa anak lain.
Setelah mendengar cerita Lynn, Letticia jadi bersyukur sudah membunuh Zivanna. Dia adalah orang jahat yang hanya pantas mati.
"Sepertinya di sekolah ini masih memandang kasta," ujar Letticia tidak suka. Dia benci orang yang hanya memperhatikan status sosial dan kasta.
"Itulah hidup," kata Lynn.
...****************...
__ADS_1