Ice Princess

Ice Princess
Pertarungan di Arena


__ADS_3

"Huaahhh besok ada acara Pertarungan di Arena," desah Halley. Dia menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan putus asa.


"Memangnya kenapa?" tanya Emily.


"Pertarungan di Arena adalah acara dimana semua murid akan bertarung hingga didapatkannya satu pemenang," jelas Lucia sambil mengibaskan rambut, bangga karena berhasil menjelaskannya dengan baik.


"Semuanya bertarung sekaligus?!" tanya Flo kaget.


"Tentu tidak. Ada 4 babak. Babak awal, babak penyisihan, babak semifinal, dan babak final," jawab Charlotte tak mau kalah dari kembarannya.


Letticia terdiam. Dia bukan khawatir tidak akan menang. Sebaliknya, dia khawatir dirinya akan melukai murid lain jika dia kelepasan dan gagal menahan diri. Tentu satu serangan kecil Letticia sudah cukup membuat murid biasa menjadi abu.


"Kau takut membunuh orang?" Amara menepuk pundak Letticia. Dia tahu persis isi hati sahabatnya itu.


"Iya," jawab Letticia. Dia gelisah.


"Tebang, sekolah tidak akan membiarkan murid-muridnya dibantai olehmu. Mereka pasti akan memberi cara," kata Amara menenangkan Letticia.


"Semoga itu benar."


...****************...


Hanya adegan untuk memperpanjang episode.


"Luciaaaaaaaaaaaaaaaaaa..........."


"Mm?" jawab Lucia pendek.


Charlotte yang merasa terkacangi, terkhianati, dan terbully pun mencubit lengan Lucia. Lucia tak bereaksi dan melanjutkan pekerjaannya. Pekerjaan ini sangat penting, jadi dia tidak punya waktu untuk meladeni Charlotte.

__ADS_1


Note : The one and only pekerjaan Lucia adalah memandang langit sambil menunggu jam berjalan detik demi detik untuk bertemu jodoh.


Charlotte menyembuhkan lengan Lucia yanv merah karena dia cubit. Charlotte tidak mau dimarahi ibunya hanya karena mencubit pelan Lucia.


Karena tidak dipedulikan saudarinya, Charlotte memilih pergi. Dia pergi menemui Alvian, salah satu pengawal yang paling dekat dengannya.


"Alvian, gendong," kata Charlotte. Alvian menggendong Charlotte yang terasa ringan baginya. Alvian sudah menganggap Charlotte adiknya sendiri. Dia sudah menjadi pengawalnya sejak Charlotte baru lahir.


Alvian membawa Charlotte keliling istana sambil mengajaknya mengobrol. Charlotte curhat pada Alvian tentang Lucia, kembaran yang tidak peduli padanya.


"Kepribadian orang bisa berubah seiring berjalannya waktu, nona muda," kata Alvian.


"Maksud Alvian?" tanya Charlotte yang tidak mengerti kata-kata 'berlevel tinggi' itu.


"Mungkin nona Lucia dingin dan cuek sekarang, sementara nona Charlotte riang dan ceria. Tapi kepribadian kalian bisa berbalik saat sudah besar," jelas Alvian.


"Haha tentu saja. Charlotte tetap Charlotte. Iya, kan?"


"Iya," jawab Charlotte sambil tersenyum. Dia memeluk Alvian, "Aku suka Alvian. Alvian mau kan nikah sama Lottie pas Lottie udah besar?"


Alvian tertegun. Itu tidak mungkin. Lagipula jarak umur mereka berdua terlalu jauh. Tapi Alvian hanya mengangguk dan tertawa demi menyenangkan Charlotte, adik kecilnya.


...****************...


Letticia berjalan ke ruang Irene. Sebenarnya Letticia benci pergi menemui wanita ini. Tapi dia harus menyembunyikan semuanya, setidaknya sampai rencana berjalan.


"Ada apa Miss memanggilku?" tanya Letticia, berusaha tersenyum dan bersikap sopan. Walau dalam hatinya, dia sangat ingin menikam Irene.


"Mengenai Pertarungan di Arena besok," kata Irene to the point, "Kau tidak perlu ikut."

__ADS_1


"Oh oke," balas Letticia singkat. Dia tak bisa menyembunyikan kebenciannya terlalu lama.


Letticia keluar dari ruangan begitu Irene menyuruhnya keluar. Dia cukup lega karena tidak perlu ikut. Atau Pertarungan di Arena tahun ini mungkin akan jadi yang tersadis sepanjang masa.


Note : Semua keturunan kerajaan Morton sebelumnya juga tidak mengikuti Pertarungan di Arena karena kekuatannya yang terlalu kuat.


"Apa yang dikatakan j*lang itu?" tanya Amara begitu Letticia sampai di kamar.


"Hush jaga mulutmu," tegur Letticia.


"Maaf, aku terlalu kesal saat kau menceritakan tentang Lora," kata Amara.


"Dia bilang aku tidak perlu ikut," kata Letticia menjawab pertanyaan Amara tadi.


"Bagus kalau begitu. Aku masih ada kesempatan menang," kata Lucia.


"In your dream," ejek Charlotte yang membuat Lucia kesal. Tapi dia sudah bertekad menjadi lebih dewasa dan tidak mudah marah dan kesal seperti anak kecil.


"Wow kembaranku sudah dewasa," kata Charlotte melihat Lucia yang tidak marah.


"Tahan, Lucia... Tahan... Dia kembaranmu..."


"Haha termyata kau sudah dewas-"


BLETAK!


Charlotte pingsan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2