Ice Princess

Ice Princess
Rumah Baru


__ADS_3

"Oi George."


George menoleh. Dia melihat Aiden di depan pintu. Sepertinya dia baru selesai pelajaran tambahan.


"Kau akan pergi?" tanya Aiden sambil berjongkok di samping George. Dia melihat George yang menyiapkan tasnya dan memasukkan semua barang ke dalam. Tas George tidak besar, karena barangnya memang tidak banyak. Hanya beberapa pakaian dan barang penting.


"Ya,", jawab George singkat.


Hari ini, George akan pulang. Dia akan kembali ke Georgia. George yakin, adiknya pasti sangat senang mendengar berita bahwa ia memenangkan Pertarungan di Arena.


Sebenarnya, ada sedikit kekhawatiran dalam hati George. Dia khawatir Georgia sudah tiada selama ia pergi. Bagaimanapun, kondisi Georgia sangat buruk dan entah bisa bertahan atau tidak. Tapi George mengesampingkan pemikiran itu dan berusaha positive thinking bahwa Georgia baik-baik saja.


...****************...


George mengendarai Sniff yang berlari kencang. Sniff adalah kuda putih yang George beli. Dia membeli kuda itu sebagai kendaraannya untuk pulang.


"Sebentar lagi sampai," gumam George. Dia bersiul senang, tak sabar bertemu adiknya tercinta.


Tak lama, George sampai di depan sebuah rumah. Rumah yang sederhana. Hanya punya dua ruangan dan satu kamar mandi yang dindingnya terbuat dari kayu. Tapi sebentar lagi, George akan memastikan Georgia dan nenek Mei tidak tinggal di sini lagi. Dia akan membawa mereka ke kehidupan yang lebih baik.


Tok tok tok!


"Siapa?" tanya suara dari dalam.


"Ini aku, nek."


Nenek Mei membuka pintu. Dia tersenyum hangat melihat George.


"George? Bagaimana hasilnya?" tanya nenek Mei.


"Aku ceritakan di dalam nek."

__ADS_1


George masuk ke dalam. Dia melihat Georgia yang berbaring di kasur. Wajahnya masih pucat, tapi tidak terlihat terlalu parah. George lega. Setidaknya Georgia masih ada.


"Georgia, kakak pulang," ucap George sambil memeluk Georgia.


Tiba-tiba, mata Georgia terbuka, menampilkan pupil berwarna abu-abu.


"Kakak!" seru Georgia. Dia reflek duduk, tapi George langsung menyuruhnya berbaring lagi.


"Jangan banyak bergerak," kata George tegas. Georgia mengangguk dan menurut.


"Jadi, kamu menang?" tanya nenek Mei sambil menaruh teh dan kue kering di meja kecil di samping kasur.


"Iya," kata George bahagia. Dia menyeruput teh dan mengambil satu kue kering.


Nenek Mei dan Georgia terlihat sangat senang. Georgia menggenggam tangan kakaknya.


"Terima kasih. Aku tahu kakak berjuang untukku," kata Georgia dengan mata berkaca-kaca.


...****************...


Hari ini aku kembali. Kembali ke Georgia dan nenek Mei. Mereka menyambutku dengan hangat dan senang dengan berita yang aku bawa. Ya, aku memenangkan Pertarungan di Arena. Dan sebentar lagi hidup kami akan berubah ke yang lebih baik.


...****************...


George membimbing nenek Mei ke sebuah rumah besar. Nenek Mei membawa sebuah tas jinjing, sementara George sendiri menggendong Georgia.


"Ini rumah kita?" tanya nenek Mei tak percaya. Di hadapannya, berdiri sebuah rumah besar yang mewah dan megah.


"Iya, nek," jawab George.


Rumah ini adalah pemberian pada pemenang Pertarungan di Arena. Ada juga kendaraan dan uang dalam jumlah besar. George sendiri hampir tak percaya dengan kekayaannya saat ini yang bagi mimpi.

__ADS_1


George membuka pintu dengan kunci yang diberikan Irene padanya. Pintu terbuka, memperlihatkan bagian dalam rumah. Rumah ini memiliki furnitur yang lengkap. Ada kasur, sofa, lemari, dan lain-lain.


George menggendong Georgia ke lantai atas. Dia membuka salah satu kamar lalu menaruh Georgia di kasur.


"Aku akan mengemas barang dan melihat rumah ini. Kau istirahat saja," kata George. Georgia mengangguk. Sebenarnya ia juga mau melihat rumah ini, tapi kondisinya tidak memungkinkan.


"Kak, tolong carikan dokter yang bisa menyembuhkanku," pinta Georgia dengan nada memelas.


"Aku akan segera mencarikan dokter terbaik untukmu," balas George. Dia juga khawatir dengan kondisi Georgia.


George keluar kamar dan menutup pintu. Dia kembali ke bawah, tempat nenek Mei sedang duduk di sofa ruang tamu dan memandang sekeliling.


"Makasih ya George. Kita bisa tinggal di rumah ini berkatmu," kata nenek Mei. Sebenarnya dia sedikit tidak enak karena ia bahkan bukan keluarga George.


"Tidak apa-apa, nek. Kita sudah lama bertetangga dan nenek sering membantuku menjaga Georgia."


Di pinggir hutan, George, Georgia dan nenek Mei hanya tinggal bertiga. Rumah nenek Mei hanya berjarak beberapa meter dari rumah George. Mereka sudah lama bertetangga. George sering membantu nenek Mei, dan nenek Mei sering membantu menjaga Georgia. Mereka saling membantu satu sama lain dan selama ini sangat rukun.


"Nenek bisa pilih salah satu kamar untuk jadi kamar nenek. Nenek pilih yang di bawah saja, supaya tidak sulit naik turun," saran George.


"Iya."


Nenek Mei pergi melihat kamar. Dia segera memilih salah satu kamar di dekat ruang tamu dan memasukkan barang-barang ke dalam.


George sendiri membawa barang-barangnya ke atas. Dia masuk ke kamar di samping kamar Georgia. George sengaja memilih kamar di samping kamar Georgia agar dia bisa menjaga Georgia.


George kembali memasuki kamar Georgia.


"Kamar kakak ada di sebelah. Kalau ada apa-apa, panggil saja," pesan George.


"Iya, kak."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2