Ice Princess

Ice Princess
Tingkah Aneh Ashley


__ADS_3

Letticia memandang Ashley yang berjalan dengan pandangan kosong. Jiwa Ashley seolah telah pergi meninggalkan tubuhnya. Mirip seperti zombie.


Akhir-akhir ini ada yang aneh dengan Ashley. Dia selalu memandang kosong. Seolah tidak ada jiwa di dalam tubuhnya. Ashley juga selalu mengigau tidak jelas setiap jam 12 malam. Letticia sudah mencoba melihat apa yang ada di mimpi Ashley sampai dia mengigau seperti itu. Dan ternyata apa yang ada di mimpinya memang sangat mengerikan.


Ashley juga sering tidak merespon saat dipanggil. Saat menjawab dan bicara pun dia akan berkata singkat, padat, dan jelas. Berbeda dengan Ashley yang biasanya.


"Kita harus menyelidiki masalah ini. Bisa jadi ini masalah serius," kata Letticia pada penghuni kamar 17 lainnya. Ashley sedang tidak ada di kamar saat ini.


"Aku setuju. Aku sudah cukup lama mengenal Ashley dan dia tidak pernah seperti ini. Walau sedang sangat terpukul pun, dia tidak akan sampai seperti ini," kata Charlotte.


Akhirnya, mereka memutuskan membuntuti Ashley diam-diam. Tentu dengan sihir tidak terlihat, atau mereka akan tertangkap mengikuti Ashley.


Mereka mengikuti Ashley selama beberapa hari, tapi hasilnya nihil. Keseharian Ashley tampak sangat normal seperti biasa. Tidak ada yang patut dicurigai.


"Aku menyerah," keluh Lucia.


"Yah, sepertinya tidak ada cara lain," kata Letticia.


"Apa itu?" tanya Amara.


"Aku harus menyedot ingatannya."


Semua mematung. Menyedot ingatan adalah tindakan berbahaya. Orang yang disedot ingatannya bisa mengalami amnesia, bahkan kematian. Cara ini memang efektif, tapi terlalu berisiko.


"Apa kau yakin?" tanya Halley ragu.


"Tidak ada cara lain," jawab Letticia menghela napas, "Aku juga tidak ingin melakukan ini."


...****************...


Selama beberapa hari, Letticia terus melatih jurus menyedot ingatannya. Dia harus melakukan ini dengan sangat hati-hati agar tidak membahayakan dan melukai Ashley.


"Aku rasa ini cukup," gumam Letticia.


"Kapan kau akan menyedot ingatan Ashley?" tanya Amara. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu Letticia.


"Siang ini," jawab Letticia.


Siangnya, mereka semua berkumpul di kamar. Termasuk Ashley yang hanya duduk di atas kasur dengan pandangan kosong.


Letticia dan yang lain bersiap. Mereka akan mengikat Ashley dan membiarkan Letticia melakukan rencananya.


Sat! Sat!


Dalam sekejap, Ashley sudah terikat dengan ikatan yang sangat kencang dan kuat. Tali ini dibuat dengan gabungan sihir mereka semua, jadi hampir mustahil dilepaskan.


Ashley tidak bereaksi. Dia seperti tidak peduli apa yang terjadi padanya.


Letticia berjalan mendekat dengan hati-hati. Dia harus melakukan semua dengan sempurna. Kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal.


"Maafkan aku," ucap Letticia..


Letticia memulai penyedotan ingatan. Ashley berteriak saat Letticia mulai menyedot ingatannya. Proses ini memang menyakitkan. Sebenarnya Letticia juga tidak tega. Tapi ia tahu bahwa ia harus melakukan ini. Bahkan Letticia juga tidak bisa membantu kalau tidak tahu permasalahannya.


"Selesai," kata Letticia dengan napas tersengal-sengal. Dia memasukkan ingatan Ashley yang masih ada dalam genggaman tangannya ke sebuah toples yang sudah ia buat khusus sebelumnya.

__ADS_1


Ashley ambruk ke kasur. Walau Ashley pingsan, mereka tidak melepas ikatannya. Takut Ashley tiba-tiba bangun dan mengamuk. Lagipula hanya ikatan tidak akan membuat Ashley mati


"Ayo kita lihat ada apa di dalam sini," kata Letticia.


Setelah beristirahat beberapa menit, Letticia membuka toples. Dia mengeluarkan ingatan Ashley dan cepat-cepat menangkapnya, atau ingatan itu akan pergi dan sangat sulit dicari.


Letticia memukulkan tangannya yang berisi ingatan Ashley tersebut ke kepalanya. Ingatan menyeruak masuk ke kepala Letticia. Ingatannya dan ingatan Ashley bertabrakan. Letticia berusaha mengendalikan semua ini, atau itu akan membahayakan dirinya.


Ashley berjalan menyusuri lorong sepi. Hanya ada dia di sana. Tiba-tiba, sebuah bayangan lewat. Ashley tidak mempedulikan dan mengira itu hanya imajinasinya semata.


Semuanya menjadi gelap. Ashley tidak bisa melihat apapun. Beberapa saat kemudian,tubuhnya seperti ditusuk-tusuk dan seperti ada yang menerobos tubuh dan jiwanya.


"Tubuhmu milikku!"


Letticia membuka mata dengan perasaan ngeri. Dia cepat-cepat berbalik dan menghempaskan semua orang menjauh dari Ashley. Amara, Lucia, Charlotte, dan Halley kebingungan dengan apa yang Letticia lakukan.


Tiba-tiba, tubuh Ashley bergetar hebat. Ikatan di tubuhnya terlepas. Mereka semua terkejut. Ikatan yang sangat kuat itu bisa lepas? Padahal hal itu hampir mustahil terjadi.


Roh hitam keluar dari tubuh Ashley. Roh itu adalah roh jahat. Bisa dilihat dari warnanya yang hitam dan sepertinya dialah yang sudah membuat Ashley jadi seperti ini.


"Siapa kau?" tanya Letticia.


"Terlalu dini untuk mengetahui siapa aku," jawab roh itu,"Yang jelas, suatu saat aku akan kembali dan memilikimu. Kau akan mencintaiku."


Letticia bingung. Bagaimana mungkin dia akan mencintai orang yang bahkan tidak ia ketahui?


"Apa kau adalah salah satu penggemar gila itu?" tanya Letticia bergidik, mengingat banyaknya surat cinta datang padanya. Isi surat-surat itupun penuh dengan kalimat yang membuat Letticia agak jijik. Tapi dia tidak membuang surat-surat itu karena Letticia masih menghargainya.


"Aku lebih gila dari semua penggemar itu, sayang."


Sebenarnya roh tersebut ingin tinggal lebih lama lagi. Tapi tentu Letticia tidak akan membiarkannya. Roh itupun memberi dua buah kalung ke tangan Letticia lalu bergegas pergi.


Tak lama, Ashley bangun. Pandangan matanya tidak lagi kosong dan sepertinya sudah kembali normal. Ashley merasa tubuhnya lemas dan kepalanya pusing. Amara mendekati Ashley.


"Sepertinya dia demam," Amara menyentuh dahi Ashley.


"Apa yang terjadi?" tanya Ashley linglung.


"Tidak ada. Kau sedang sakit, jadi istirahat saja. Aku akan meminta izin beberapa hari untukmu," kata Charlotte.


Sementara yang lain mengurus Ashley, Letticia menatap dalam-dalam kalung di tangannya. Ada semacam energi aneh terpancar dari kalung tersebut. Tapi energi itu seperti tersegel dan hanya beberapa orang mampu menyadarinya.


Amara mendekati Letticia dan memandang kalung itu dan merasa pernah melihatnya.


"Ini seperti kalung yang kakekku berikan sebelum meninggal," kata Amara, akhirnya mengingat di mana ia pernah melihat kalung seperti itu.


"Bisakah kau bawa kalung itu besok?" tanya Letticia. Dia akan meneliti kedua kalung itu besok karena hari ini ia sudah terlalu lelah.


"Tentu," jawab Amara.


Letticia menaruh kalung tersebut ke dalam ruang penyimpanan. Lalu ia memutuskan pergi ke luar.


Di luar, badai sangat kencang. Hujan turun deras dengan petir menyambar. Sepertinya efek dari roh jahat tadi. Beberapa roh jahat memang meningalkan efek pada lingkungan sekitar.


"Sekuat apa roh tadi sampai ada badai seperti ini?" batin Letticia bertanya-tanya.

__ADS_1


Letticia menyusuri lantai dan sampai di tangga. Ia menaiki anak tangga satu persatu dan naik lagi sampai lantai lima. Sebenarnya Letticia bisa saja menggunakan sihir teleportasi. Tapi Letticia ingin berolahraga sekali-sekali.Letticia menyusuri tempat itu dan sampai di kamar nomor 45.


Tok! Tok! Tok!


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Menampakkan seorang gadis berambut merah dan bermata hijau yang melihat Letticia lalu tersenyum.


"Ayo masuk," kata Lynn.


Kamar Lynn terlihat sederhana dan tidak sebesar kamar Letticia. Tentu saja. Lantai dua adalah tempat kamar VVIP, lantai tiga tempat kamar VIP, lantai tiga sampai tujuh tempat kamar biasa, dan lantai-lantai selanjutnya adalah kamar murid yang tidak berkecukupan. Murid-murid ini adalah murid yang mendapat bantuan pemerintah.


Secara status, sebenarnya Lynn masuk ke kamar murid tidak berkecukupan. Tapi Lynn adalah murid beasiswa, jadi kamarnya ada di lantai lima.


Teman-teman sekamar Lynn kaget melihat Letticia datang. Mereka langsung berdiri dan menyambutnya.


"Ada apa tuan putri datang ke sini?" tanya Krista.


"Aku hanya berkunjung," Letticia mencari alasan.


Mereka semua melongo. Bagaimana bisa Letticia mengunjungi kamar mereka hanya karena dia ingin?


Letticia duduk di sofa yang ada di kamar tersebut. Lynn bergerak ingin mengambil sesuatu ke dapur, tapi Letticia menahannya.


"Sebenarnya aku ke sini karena ingin bertanya beberapa hal," kata Letticia mengemukakan alasan sebenarnya dari kedatangannya.


"Apa itu?" tanya Lynn sambil duduk di depan Letticia. Dia juga mengisyaratkan teman-temannya untuk duduk. Akhirnya mereka semua duduk walau agak ragu dan canggung.


"Lika, apa kau pernah melihat sosok misterius di sini?" tanya Letticia pada salah satu anak bernama Lika.


"Ah, bagaimana tuan putri tahu?" tanya Lika heran. Dia hanya pernah memberitahu pada teman-teman sekamarnya dan mereka mengatakan bahwa itu hanya halusinasi.


Tiba-tiba, Letticia berdiri. Dia berjalan ke sudut ruangan dan melakukan sesuatu. Muncullah sesosok wanita berpakaian putih dan berambut panjang berwarna hitam. Makhluk ini bisa dibilang hantu, tapi dia bisa kembali ke tubuhnya dengan dua syarat. Pertama, kalau ia menemukan tubuh yang bisa ditempati, boleh tubuh orang yang sudah ditinggalkan jiwanya atau tubuhnya sendiri. Syarat kedua, ada orang yang membantunya masuk ke tubuh tersebut.


Makhluk itu terkulai lemas dan jatuh dengan posisi telungkup. Letticia berjongkok dan menaruh telapak tangannya di punggung hantu tersebut. Cahaya kuning keemasan keluar. Wanita itu merasa kekutaannya kembali sedikit demi sedikit. Dia langsung duduk dan menatap Letticia dalam-dalam.


"Terima kasih. Bagaimana kau tahu energi spiritualku hampir habis?" tanya wanita itu tersenyum. Wajahnya cantik walau bukan lagi manusia.


"Kau jatuh lemas, siapa yang bisa tidak menyadari itu?" jawab Letticia. Dia mengeluarkan jarum perak dari sakunya. "Berbaring. Aku akan melakukan pengobatan lebih lanjut."


Letticia membantu makhluk itu berjalan dan berbaring ke salah satu kasur, karena kekuatan makhluk itu belum pulih sepenuhnya. Jadi masih harus sedikit dibantu.


Setelah posisinya sempurna, Letticia memulai pengobatan akupunturnya. Dia menusukkan jarum perak pada beberapa bagian tubuh sang wanita dengan gerakan cepat dan cekatan. Lynn dan teman-temannya kagum melihat hal itu. Mereka pernah melihat tabib menggunakan cara ini, tapi belum ada yang seprofesional Letticia. Dia bahkan tidak berhenti satu detik pun.


Beberapa saat kemudian, jarum itu terangkat beberapa senti dengan tangan Letticia mengendalikannya. Letticia mengendalikan jarum tersebut berputar-putar di atas tubuh wanita itu. Jarum itu segera mengeluarkan cahaya kuning keemasan. Wanita itu mengerang karena proses ini memang sedikit sakit.


"Tahan sebentar lagi atau ini akan gagal," Letticia memperingatkan dengan tegas. Wanita itu hanya mengangguk pelan sambil berusaha menahan sakit.


Beberapa menit kemudian, Letticia mengambil jarum itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku.


"Selesai. Kau bisa coba berjalan," kata Letticia.


Wanita itu menurut. Dia berdiri dan mulai berjalan. Ternyata dia sudah bisa berjalan normal dan bahkan berlari kecil. Wanita itu sangat bahagia.


"Terima kasih banyak," ucap wanita itu tersenyum.


"Sama-sama. Bisakah kau membantuku satu hal? Hal ini akan membantumu juga dalam waktu bersamaan," pinta Letticia.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk, "Tentu. Katakan saja."


...****************...


__ADS_2