
Letticia masuk ke dalam mansion milik keluarga Smith. Mansion itu sangat indah dan dihias sedemikian rupa oleh nyonya Smith yang memang ahli dalam hal-hal seperti ini.
"Ah, tuan putri sudah datang," Count Smith menyambut Letticia dengan senyum lebar.
Letticia menatap laki-laki itu dingin. Bagaimanapun, dia merasa bahwa Count Smith memiliki hubungan dengan kematian Lora.
Letticia duduk di sofa ruang tamu. Pelayan mengantar makanan dan minuman untuknya.
Letticia menyeruput teh dan mulai bicara,
"Langsung saja ke intinya. Aku ke sini untuk membicarakan tentang kematian Lora Anderson Smith."
Begitu Letticia menyebut nama Lora, ekspresi Count Smith berubah. Dia agak gemetaran dan terlihat ketakutan. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya.
"Lora sudah lama meninggal. Dia bunuh diri karena depresi. Tidak baik membicarakannya lagi," Count Smith mencoba mengelak.
Letticia merasa ada yang tidak beres dengan pria ini. Mungkin tebakannya benar.
Count Smith memiliki hubungan dengan kematian Lora.
"Jangan gemetaran begitu, Count. Aku hanya ingin bertanya beberapa hal karena ibuku memiliki hubungan yang baik dengan Lora," kata Letticia dengan smirknya.
"Lora memiliki hubungan baik dengan Yang Mulia Ratu? Kenapa aku tidak mengetahuinya?" pikir Count Smith.
Tanpa dia ketahui, sebenarnya Letticia sudah membaca pikiran Count Smith sedari tadi. Namun sejauh ini belum ada yang menarik.
__ADS_1
Letticia diam untuk beberapa saat, memikirkan apa yang harus dia lakukan.
Tiba-tiba, Tiffany, anak Count dan Countess Smith, berlari masuk dan memeluk ayahnya.
"Ayah, siapa kakak aneh ini?" tanya Tiffany.
"Dia putri Letticia," jawab Count, berharap Tiffany tidak mengatakan apapun lagi.
"Apa itu berarti aku bahkan lebih cantik dari seorang putri?"
Seketika, terasa tatapan mencekam dari Letticia.
"Ma-maafkan putri saya, tuan putri. Tiffany memang tidak terlalu ramah pada orang asing," kata Count Smith.
Letticia hanya mengangguk. Dia memperhatikan Tiffany.
"Rambut merah?" pikir Letticia. Dia melihat seutas rambut merah, yang walaupun hanya tiga helai, tapi masih bisa terlihat oleh Letticia.
Seketika, Letticia langsung teringat pada rambut merah menyala Irene. Rambut milik Tiffany sangat mirip dengan rambut Irene.
"Tuan putri?"
"Ah, maafkan aku. Aku melamun."
Letticia mengobrol sebentar dengan Count. Tentu sambil memperhatikan Tiffany. Beberapa menit kemudian, Letticia pamit pulang.
__ADS_1
...****************...
"Aldrian, bisakah kau membuat portal ke dimensiku?" pinta Letticia pada Aldrian yang sedang sibuk dengan beberapa dokumen.
"Tuan putri bisa melakukannya lebih baik daripada aku," jawab Aldrian sambil tetap fokus pada dokumen di tangannya.
Letticia maju. Dia menyentuh dagu Aldrian dan menaikkan kepala Aldrian sehingga kini mereka berdua bertatap mata.
"Kau punya dua pilihan. Buatkan atau ajari aku," kata Letticia dengan nada mengancam.
Aldrian melepas tangan Letticia dari dagunya.
"Baiklah, aku akan mengajari tuan putri. Tapi untuk apa tuan putri ingin membuat portal antar dimensi?"
"Aku ingin melakukan tes DNA," jawab Letticia.
"Tes DNA? Untuk apa?"
"Bukan urusanmu."
Aldrian diam. Dia memutuskan untuk tidak ikut campur lebih jauh. Dan sepertinya Letticia juga tidak terlalu suka jika ada orang yang suka mencampuri urusan pribadinya.
Aldrian mengajari Letticia cara membuat portal ke bumi. Beberapa saat saja, Letticia sudah bisa.
Letticia pamit dan masuk ke dalam portal. Lalu portal itu tertutup.
__ADS_1
"Ada-ada saja calon ratuku ini."
...****************...