Ice Princess

Ice Princess
Aku Menyukaimu


__ADS_3

Brak!


Pintu kamar dibuka dengan keras. Amara mengangkat kepala dari HP untuk melihat siapa yang datang. Ternyata seseorang yang familiar dan dengan wajah khawatir sekaligus kesal.


"Nona Amara, bukankah kau setidaknya harus menjaga dirimu sendiri dan tidak membuat orang khawatir?" omel Letticia sambil menutup pintu.


"Oh, apa kau mengkhawatirkanku?" Amara dengan sengaja melirik rantang di tangan Letticia.


"Terserah," Letticia menghembuskan napas.


Letticia duduk di kursi di samping kasur Amara yang berstatus pasien. Dia membuka rantang. Bau bubur ayam memenuhi ruangan. Letticia sendiri yang membuatnya, dan hasilnya sangat memuaskan. Bubur ayam yang setara dengan buatan Nalie.


"Makan sendiri," Letticia memberi bubur ayam beserta sendok pada Amara. Amara cemberut karena mengira Letticia akan menyuapinya. Tapi dia tidak bisa berharap banyak pada sahabat satu ini.


Di sebelah kasur Amara, ada kasur lain, tempat seorang anak perempuan seumur Letticia dan Amara terbaring. Dia memandang Letticia yang menjenguk dan memberi bubur pada Amara dan terlihat sedih. Letticia memperhatikan hal itu lalu membawa semangkuk bubur ke gadis tersebut.


"Makanlah," kata Letticia dengan senyum ramah.


"Terima kasih," ucap gadis itu sambil menerima bubur, lalu mulai makan dengan lahap.


"Huh, kau bahkan tidak tersenyum saat memberi padaku," Amara cemberut.


"Hey, bersyukur saja masih ada yang mau menjengukmu," balas Letticia, membuat Amara tidak bisa berkata-kata alias speechless menghadapi Letticia yang savage.


Gadis itu tertawa. Raut wajahnya menyiratkan kesedihan dan seperti teringat sesuatu. Sesuatu yang terjadi beberapa hari lalu dan membuatnya seperti ini.


"Kalian beruntung memiliki satu sama lain," kata gadis itu menunduk sedih, "Sahabatku meninggal dalam kecelakaan. Semua karena aku tidak mampu menolongnya."


Letticia menatap gadis itu dengan iba. Dia tidak tahu apa dia dan Amara akan kehilangan satu sama lain suatu hari nanti. Tapi itu pasti menyakitkan.


"Namanya Sylvy. Kami pergi tamasya, tapi kecelakaan itu terjadi. Kaki Sylvy tersangkut dan aku mencoba membantunya, tapi tidak berhasil. Dia menyuruhku menyelamatkan diriku dan berjanji akan baik-baik saja. Aku terpaksa meninggalkannya," cerita gadis itu sedih, "Tapi dia tidak baik-baik saja."

__ADS_1


"Aku turut berduka," ucap Letticia.


"Tidak apa. Aku sudah bisa menerima kepergiannya sedikit demi sedikit," balas gadis itu sambil tersenyum, "Namaku Zie, kalian?"


"Aku Letticia, dan dia Amara," jawab Letticia memperkenalkan dirinya dan Amara, karena Amara lebih sibuk dengan mangkuk bubur keduanya.


"Maukah kalian berteman denganku?" tanya Zie, "Kedua orangtuaku meninggal saat aku masih kecil. Sylvy juga pergi."


Letticia menggenggam tangan Zie, "Tentu. Kami akan menjadi sahabatmu."


Zie sangat senang. Dia langsung memeluk Letticia. Letticia tertegun, lalu membalas pelukannya. Amara hanya memandang dari jauh dan turut senang untuk Zie. Amara berniat menjadi sahabat yang baik untuknya.


Tiba-tiba, pintu terbuka, menampakkan seorang laki-laki tampan. Dia adalah Brandon yang datang menjenguk Amara.


Amara menatap Brandon heran sekaligus tidak percaya. Ada apa laki-laki ini tiba-tiba menjenguknya? Apa ada yang salah dengan Brandon? Biasanya dia tidak peduli pada gadis manapun dan selalu bersikap dingin. Tapi apa ini? Brandon bahkan membawa beberapa hadiah dan makanan.


Setelah menaruh makanan di atas meja, Brandon berniat pergi. Tapi Amara memegang tangannya, menahan Brandon. Brandon berbalik dan memandang Amara dengan pandangan 'Kenapa kau memegang tanganku?'


Amara melepas pegangan tangannya. Dia kesal karena lelaki ini terlihat seperti tsundere. Bahkan orang bodoh pun tahu itu. Tapi dia masih berusaha menyembunyikannya walau sudah terlihat jelas.


Apa orang jatuh cinta memang bertindak gegabah dan tidak terkendali saat sesuatu berhubungan dengan orang yang dicintainya? Sungguh, perasaan apa ini?


"Hey, itu tidak mungkin, Brandon. Kau sudah berniat memecahkan rekor sebagai jomblo seumur hidup dan di kehidupan-kehidupan selanjutnya," batin Brandon.


Brandon mengacak-acak rambutnya. Beberapa orang menatap Brandon dan menyangka dia stres atau gila. Tapi itu bukan masalah bagi Brandon sekarang. Masalah yang sesungguhnya adalah bagaimana dia harus mengendalikan perasaan dan tindakan ketika bertemu Amara serta tidak bertindak gegabah lagi. Gunakan otak, bukan hati.


Dengan tekad dan nekad, Brandon berjalan ke kamar 123, kamar tempat Amara dirawat. Ya, ini harus dilakukan. Sekarang atau tidak selamanya.


Blam!


Semua orang di ruangan menatap Brandon. Tapi Brandon tidak terlalu peduli. Dia segera berjalan ke arah Amara dan memegang tangannya.

__ADS_1


"AKU MENYUKAIMU!" teriak Brandon. Bahkan mungkin semua orang di rumah sakit bisa mendengarnya. Apalagi dengan pingu yang terbuka.


Amara membeku. Apa pria ini benar-benar gila? Ini adalah apa yang Amara harapkan, tapi sedikit lucu melihat Brandon yang seperti ini.


"Emm... Jadi... Apa yang ingin kau katakan?" tanya Amara dengan wajah merah.


"Aku ingin kau jadi pacarku," jawab Brandon menembak Amara dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah."


Cup!


Amara mencium pipi Brandon, lalu memalingkan wajah dengan malu. Letticia hanya menyoraki Brandon dalam diam dari jauh.


"Terima kasih," Brandon memeluk Amara. Amara terkejut, tapi membalas pelukan pacar barunya. Atau lebih tepatnya, pacar pertama Amara.


"SELAMAAAAAAATTT!!!"


Amara dan Brandon menoleh. Di pintu, tampak banyak orang menyoraku dan memberi selamat pada mereka. Bahkan beberapa orang tampak melihat dari jendela.


"Terima kasih, semua," ucap Amara malu, "Dan terima kasih padamu, pacar baruku."


Letticia mengambil tisu dan menyeka air mata. Tidak disangka sahabatnya selangkah lebih maju dalam hal ini. Tidak seperti dirinya yang jomblo dan bahkan meragukan apa dia tertarik pada pria atau tidak.


"Jangan sedih, Letti. Kau akan segera menemukan pacarmu sendiri," Amara memeletkan lidah sambil memeluk Brandon.


"Huft jangan iri nanti," kata Letticia kesal.


"Hehe aku tidak akan iri. Aku punya milikku," Amara memandang Brandon eyes to eyes.


"Kau benar, sayang," Brandon pertama kali memanggil Amara dengan panggilan 'sayang'.

__ADS_1


Baiklah pasangan baru, nikmati hari kalian!


...****************...


__ADS_2