
" Kenapa sejak tadi kamu berisik terus ? Tidak bisa kah diam untuk sebentar saja ?" Tarisa sudah tidak sanggup menghadapi suaminya yang semakin tua akan semakin berisik.
Dia baru saja membuka perban operasi lukanya tapi kamu sudah berbuat ulah lagi.
" Kenapa semakin tua kau juga semakin berani pada aku Tarisa ? Apakah sudah tidak mencintaiku lagi ? Karena semakin hari kau semakin cerewet saja. " Tarisa hanya bisa memutar bola matanya malas mendengar apa yang di katakan suaminya.
Tidak kah pria itu sadar bahwa dia juga sama ? Bahkan dia juga lebih cerewet dari Tarisa.
Apa dia tidak sadar diri ? Entahlah Tarisa malas mendengarkan pria itu tuh yang terus saja mengomel sejak tadi.
" Hei kau Tarisa orang Cina. Mau ke mana kau hah ?"
" Aku mau keluar. Di sini udara tidak sehat dan membuatku sesak nafas. "
" Lalu aku bagaimana ? Jangan pernah berani keluar selangkah pun dari pintu ruangan ini jika tidak ingin aku menghukum mu. " Tarisa pun berbalik arah menatap suaminya dan berkacak pinggang.
Dia berusaha sebisa mungkin untuk membuat raut wajah seseram mungkin saat menatap suaminya.
" Hukum saja jika berani. " Mendapatkan tantangan dari istrinya seperti itu membuat Alex semakin merasa di remehkan.
Dia pun melepas jarum infusnya begitu saja dan berjalan ke arah Tarisa.
Melihat suaminya yang dengan enteng yang melepas jarum infusnya masih menancap di punggung tangannya Tarisa langsung panik dan menghampirinya.
" Kenapa melakukan hal ini ? Lihat saja kulit keriput mu ini. Kamu sudah tidak sekuat saat muda dulu. Kulit mu sudah tipis setipis kertas dan mudah disobek. Jadi jangan bertingkah macam-macam "
" Aku tidak akan macam-macam jika kau mendengar keluhan ku. Anak dan menantumu pergi ke Indonesia. Anak-anak yang lain sudah kembali ke London. Lalu aku ? Aku masih harus di rumah sakit ini bersamamu. Bukankah itu sangat menyebalkan ?"
" Biarkan anak-anak melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Jangan terus memantau mereka dengan pengawasan ketat. Mereka juga ingin memiliki kehidupan yang senang layaknya manusia pada umumnya. Tidak semua orang bisa tahan di kurung seperti aku. Jadi biarkan mereka hidup dengan sendirinya." Alex terlihat menghembuskan nafas yang panjang.
Dia juga tidak tahu harus melakukan apalagi karena memang dia ingin anak-anak mereka itu berada di dalam pengawasan ketat olehnya.
Mendengar apa yang dikatakan istrinya, Alex menjadi sadar bahwa memang tidak semua orang bisa sekuat Tarisa yang bisa tahan di kurung bertahun-tahun olehnya.
Demi keamanan mereka semua. Beruntung juga Tarisa tahan dengan semua itu.
Sementara itu Raina dan Brandon yang tengah menikmati perjalanan mereka menuju Indonesia terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
Terutama Raina, karena dia begitu sangat antusias untuk pergi ke Indonesia tempat kakaknya berada.
Perjalanan kurang lebih selama 30 jam akhirnya Raina dan Brandon sampai di Indonesia.
Di sana mereka berdua sudah di sambut oleh anak buah kakaknya yang untuk menjemput mereka.
Masih ingatkah kalian siapa anak-anak menyebalkan kakaknya itu ?
Anak kembar yang begitu luar biasa siapa lagi bukan Sheila dan Sheela.
" Di mana kakakku kenapa tidak dia menjemput ? " Tanya Raina pada sopir yang telah menjemput mereka.
" Tuan Matheo ada pekerjaan penting dan beliau berpesan bahwa siang nanti beliau akan makan siang di rumah untuk menyambut anda. Dan disilakan masuk nona. " Raina pun akhirnya masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan bersama suaminya.
Ini adalah pertama kalinya Brandon menginjakkan kaki di Indonesia dan itu cukup membuatnya tercengang.
Bagaimana banyaknya kendaraan umum di sana, Kemacetan di sana-sini, dan yang paling membuatnya tidak habis pikir adalah banyaknya orang yang berjualan di pinggir jalan.
Berbagai macam makanan sudah di temui brandon di sini. Walau belum mencicipinya tapi dia sudah melihat begitu banyak makanan yang berjejer di sana.
Dan yang cukup membuatnya tercengang adalah bagaimana bisa orang jualan bahan bakar kendaraan bersebelahan dengan penjual kelapa muda ?
" Kenapa terus melihat ke arah luar jendela ? Apa kamu menginginkan sesuatu ?" Tanya Raina pada suaminya karena sejak masuk ke dalam mobil Brandon terus saja menatap ke arah sekeliling mereka.
Mendapat pertanyaan yang seperti itu dari istrinya Brandon pun harus mengalihkan pandangannya sejenak dan menetapkan istri.
" Aku tidak menginginkan apa pun sayang. Hanya saja aku sedikit terkejut dengan pemandangan di sini. Apakah ini kota metropolitan ? Pusat kota dan ikon Negara ?"
" Ya sebentar lagi kita akan melewati yang namanya Monas. Monumen Nasional yang dimiliki oleh negara ini. "
" Apa itu sejenis menara ?"
" Ya sebagai salah satu ikonik Negara ini. Jangan banyak bertanya aku lelah dan tolong aku dan usap punggung ku sayang. " Brandon melakukan apa yang dikatakan istrinya.
Dia membawa anak ke dalam pelukannya dan mengusap punggung wanita kesayangannya tersebut.
Perlahan usapan yang di lakukannya berhasil membuat Raina terpejam dan tidur untuk beberapa saat.
__ADS_1
Brandon kembali tercengang saat dia melihat sebuah benteng besar yang mengelilingi sebuah tempat.
Dan saat pintu tersebut di buka ternyata dalamnya benar-benar hutan.
" Apa ini rumah Tuan Matheo ?"
" Benar Tuan, Ini Mansion milik Tuan Matheo yang di hadiahkan oleh Tuan besar. Mansion ini berada di tengah-tengah hutan lindungi ini. Tapi tenang saja ini hutan pribadi yang memang dijual dulunya, Dan Tuan besar lah yang membelinya. Tempat ini juga pernah menjadi tempat tinggal Tuan sky untuk sementara. Jadi selamat datang di mansion Tuan Matheo. " Brandon tidak bertanya lagi karena dia sibuk menikmati pemandangan menuju rumah kakak ipar yang tersebut.
Berusaha membangunkan istrinya selembut mungkin karena tidak membuat Raina terganggu.
Mendengar bisikan dari suaminya membuat Raina langsung membuka matanya dan ternyata mereka sudah sampai di rumah kakak tertuanya.
" Aunty hujan...." Raina sudah di sambut 2 keponakan yang nakal itu.
Yang membuat Raina kesal adalah mereka yang selalu memanggil Raina dengan aunty hujan.
Memang namanya memiliki arti hujan tapi tidak perlu juga di panggil aunty hujan, Dan mereka bisa memanggil Raina dengan panggilan aunty Rain apa susahnya ?
" Sudah Aunty bilang jangan memanggil aunty panggilan aunty hujan. Panggil saja Aunty Raina atau Aunty Rain. Pangan memanggil dengan panggilan hujan. "
" Kami orang Indonesia, Lidah kamu tidak biasa memanggil dengan panggilan luar negeri seperti itu. Kami sudah terbiasa memakan seblak, bakso dan juga gado-gado. Jadi kami sudah terbiasa dengan bahasa itu. " Raina hanya bisa memutar bola matanya malas saat mendapatkan jawaban yang luar biasa dari kedua keponakannya.
Sementara kakak iparnya dia hanya udah tersenyum saja melihat interaksi kedua anak kembarnya bersama adik iparnya.
" Selamat datang Raina, Maaf tidak bisa ikut menjemputmu ke bandara. Anak-anak sekolah dan baru saja pulang. "
" Its oke, Lalu di mana Kak Matheo ?"
" Kamu mengetahuinya. Bahwa tidak ada satupun dari keluarga kita di mana para pria memiliki waktu luang di rumah jadi ya kakak kamu berada di kantor saat ini. " Terdengar Rena hanya bisa berdetak kesal saja.
Kenapa di katakan kakak ipar itu memang benar bahwasanya keluarga mereka itu gila kerja sama dan itu membuat orang ini kesal.
" Sudah mengenal suami Rain kan ? Jadi tidak perlu berkenalan lagi karena kami butuh istirahat sejenak. "
" Masuklah, Kamar kalian sudah di siapkan. " Brandon tersenyum kaku menanggapi kakak iparnya.
Karena dia merasa malu saat baru datang langsung mau minta istirahat.
__ADS_1
Mana istrinya yang meminta, Tapi itu juga berpengaruh baginya karena memang dia juga ingin berendam di air dingin agar menenangkan otot-ototnya.
...🐊🐊🐊...