
Rain berlari secepat yang dia bisa turun dari kamarnya saat mendapatkan kabar bahwa dari Mama-nya bahwa Papa-nya sudah berangkat ke Belanda sejak 1 jam yang lalu.
Rain sudah menduga ini, Dia tau cepat atau lambat pasti Penguasa itu akan terbang ke sini.
Dan benar saja apa yang di duganya bahwa Penguasa itu sudah menuju ke sini.
Tidak, Bukan ke sini, Tapi pasti ke perusahaan suaminya.
Sialnya lagi Rain tidak bisa menghubungi nomor suaminya itu.
Hal itu semakin membuatnya frustasi apalagi di tambah dia yang tidak di izinkan keluar rumah sendirian.
Jika begini dia tidak akan bisa sampai ke perusahaan suaminya dengan cepat.
Jika harus memakai supir dia akan terlambat nanti.
Tapi itu lebih baik dari pada tidak di izinkan ke luar sama sekali.
Karena sejak kejadian kemarin, Rain sangat di larang suaminya keluar rumah tanpa penjagaan lagi.
Maka jadi lah dia seorang tawanan seperti Mama-nya.
" Cepat jalan kan mobilnya. Aku harus cepat sampai di perusahaan suami ku. Jika tidak, Suami ku bisa habis di hajar nantinya. " Supir dan bodyguard yang ikut menjaga Rain menatap tak percaya dengan apa yang di katakan Nyonya rumah tempat mereka bekerja.
" Aku bilang cepat jalan kan mobilnya ! Jika sampai suami ku terluka, Aku juga akan membuat kalian terluka sama seperti yang suami ku terima !" Mendapatkan ancaman mengerikan seperti itu dari Nyonya rumah membuat mereka langsung melajukan mobil dengan kecepatan yang di inginkan sang Nyonya.
" Lambat sekali ! Mobil ini bisa melaju 200 km perjamnya. Lalu kalian hanya mengemudikannya di bawah 150 ? kalian gila ya ? bahkan aku bisa mengendarai mobil di atas ini !" Umpatnya lagi.
Dia sudah memperkirakan semuanya, Tidak sia-sia dia belajar dengan tekun hingga pintar seperti sekarang.
Menurut waktu yang di perhitungkan Rain, Bahwa Papa-nya pasti sudah sampai di perusahaan suaminya.
Dan benar saja memang, Di perusahaannya, Lebih tepatnya di ruangan kerja pria gondrong itu. Dia tengah memikirkan apa yang harus di jelaskannya pada papa mertuanya itu ?
Ini memang kesalahannya. Dia yang telah lalai dan membiarkan Rain mengendarai mobil sendiri tanpa pengawalan hingga menyebabkan istrinya berada di dalam bahaya kemarin.
Brandon tidka berani menatap Papa mertuanya yang baru saja duduk di sofa tempat biasa Brandon duduk bersama istrinya.
" Kau terlihat tampak sehat. " Brandon menatap ke arah mertuanya yang dia tau apa maksud kedatangannya kesini.
Brandon bingung ingin menjawab apa. Dia lebih suka jika Pria itu langsung menghajarnya saja dari pada harus terlibat pembicaraan seperti ini.
" Aku rasa kau masih bisa mendengar dengan baik. Aku bertanya pada mu bahwa kau terlihat tampan sehat tapi kau tidak menjawab ya. "
Brak !
__ADS_1
Brandon terkejut saat melihat kaki penguasa itu sudah berada di atas meja dan menghisap sebatang rokok yang sejak tadi berada di sela-sela jarinya.
Hembusan asap rokok yang di keluarkan mertuanya membuat suasana di ruangannya semakin mencekam.
Apalagi saat melihat pria itu berdiri, Dan secara otomatis Brandon juga ikut berdiri.
Dia mengikuti mertuanya berjalan ke arah jendela kaca besar di hadapan mereka.
" Apa putri ku yang cantik itu sehat ? Aku dengar kemarin ada yang ingin mencelakainya. Apa kau sudah membuat perhitungan dengan mereka ? oh tidak ! Karena bukan kau yang memberi pelajaran pada mereka, Tapi aku ! Aku yang akan menghancurkan seluruh keluarga mu ! kau dengar itu !" Brandon hanya bisa menundukkan pandangannya saja.
Dia tidak berani menatap pria yang tengah di selimuti amarahnya itu.
" Aku memberi mu tanggung jawab untuk menjaganya sialan ! bukan malah membahayakannya ! walau aku tau bahwa putri ku tidak selemah itu, Tapi seharusnya kau tau itu. Jika dia keras kepala dan tidak mau menurut imbangi dengan keras kepala mu juga. Jangan sampau dia terluka baru kau mengekangnya bodoh !" Markus hanya bisa menghembuskan nafasnya saja jika sudah begini siapa yang mau ikut campur.
Dia pun begitu, Jika sampai Alisa terluka dan itu karena menantunya itu maka dengan senang hati Markus mencabut jantungnya saat itu juga.
Tapi apa dia berani ? Jika dia mencabut jantung Thunder, Jantungnya juga akan di cabut oleh manusia tanpa hati dan hanya memiliki hati terhadap satu wanita yang bernama Tarisa.
" Maaf Brandon Pa. "
Bugh...
Alex menghantam Rahang Brandon begitu saja.
Tidak tahukan Brandon jika Alex paling membenci orang minta maaf atas kesalahannya ?
" Maaf Pa, Brandon hanya--"
Bugh...
Satu pukulan lagi menghantam perut pria itu.
Dan hebatnya Brandon tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya karena memang dia sudah siap dengan amukan yang akan di terimanya saat ini.
" Pa, Brandon minta maaf karena---"
Bugh...
" PAPA !" Suara Rain terdengar menggelegar di ruangan suaminya.
Dia bahkan membanting pintu itu begitu saja.
Nafasnya termegah dan dadanya naik turun karena terlalu banyak berlari.
" Aku sudah menduganya bahwa istri mu akan sampai di sini untuk membela mu. " Alex tersenyum licik pada Brandon yang menatap tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Bagaimana bisa Rain sampai di sini ? Siapa yang memberi tahukan pada istrinya ?
__ADS_1
Raina tidak memperdulikan lagi apa yang di katakan Papa-nya karena saat ini yang sangat di khawatirkannya adalah suaminya.
Dan benar saja, Dia melihat bahwa sudut bibir suaminya pecah dan membiru.
Rain tau siapa pelakunya, walau sudah tua, Dia tau bahwa pukulan Papa-nya tidak main-main. Itu terbukti dari luka di sudut bibir suaminya.
" Kenapa sampai seperti ini ? Kenapa Papa memukul kamu ?" Tanya Rain yang menatap iba pada suaminya.
Dia ingin marah pada Papa-nya yang telah membuat wajah suaminya lebam seperti itu.
" Aku yang salah sayang. Aku membiarkan mu membawa mobil sendiri dan hampir celaka. Maka aku minta maaf pada Papa. " Rain memejamkan kedua matanya dan menghembuskan nafasnya dengan berat.
Brandon salah. Seharusnya jangan pernah meminta maaf dengan pria itu. seharusnya Brandon akui saja kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Jika minta maaf akan percuma. Karena pria itu tidak akan menerima maaf dari orang yang berbuat salah padanya.
Rain menatap marah pada Papa-nya yang masih berdiri tegak di antara mereka dengan kedua tangannya yang masuk ke dalam saku celananya.
" Kenapa memukul suami Rain ?" Tanya Raina pada Papa-nya.
Dia bahkan berani mendorong dada bidang pria sombong itu.
" Rain, Sudah sayang, Jangan seperti itu. Aku baik-baik saja. " Brandon mencegah istrinya karena dia tidak ingin di anggap gagal mendidik istrinya oleh papa mertuanya.
" Kenapa memukul wajah suami Rain ? kenapa membuatnya seperti itu ? Suami Rain tidak salah ! Brandon tidak salah. Jadi kenapa memukulnya ?" Tanya Rain lagi pada Papa-nya.
" Dia salah !"
" Brandon tidak salah ! Rain yang salah. Rain yang tidak menurut pada suami Rain lalu kenapa Suami Brandon yang di pukul ?" Alex Diam saja sengaja tidak menjawab pertanyaan putrinya karena dia tau apa yang di rasakan putrinya saat ini.
Alex bahagia saat mengetahui bahwa putrinya juga mencintai buaya gondrong itu.
" Jadi apa yang kau inginkan ?" Tanya Alex pada akhirnya yang melihat emosi putrinya.
" Pukul juga Papa seperti Papa memukul kamu tadi. " Brandon menggelengkan kepalanya.
Mana mungkin dia memukul mertuanya ?
Tidak ! Brandon tidak akan melakukan hal itu.
" Ayo pukul. Bukan kah tadi Papa juga memukul kamu ? Aku berani menjamin bawah kali ini Papa tidak berani membalas mu. " Melihat anggukan kepala dari mertuanya membuat Brandon menghembuskan nafasnya berat.
Mau tidak mau dia harus memukul Papa mertuanya.
Bugh...
" Impas ! Sekarang Papa boleh pulang !"
__ADS_1
...🐊🐊🐊...