Im The Queen ( Raina Queen Alexander )

Im The Queen ( Raina Queen Alexander )
Istri Om Bentala


__ADS_3

Bentala tidak bisa masuk ke dalam kamarnya karena Nana yang menguncinya dari dalam.


Dia juga tau, Pasti istrinya itu menangis, Dan hal itu yang membuat Bentala merasa sangat bersalah.


" Na, Buka pintunya sayang. Mas minta maaf sama kamu sayang. Mas udah nyakitin kamu. " Bentala berusaha untuk mengetuk pintu kamar istrinya.


Berharap Nana mau membukanya, Sebenarnya bisa saja Bentala masuk ke dalam kamar mereka dengan kunci cadangan, Tapi dia tidak ingin membuat Nana semakin maraj padanya hanya karena dia yang berlaku sesuka hatinya.


" Sayang, Buka pintunya, Kita harus bicara sayang. Mas mau bicara sama kamu. " Nana tidak memperdulikan apa yang di lakukan suaminya saat ini.


Dia tidak ingin menangis lagi karena Bentala dan biarkan saja suaminya seperti itu terus.


" Sayang, Nania, Mas minta maaf sama kamu, Bukan pintunya ya, Kita bicarain ini baik-baik. " Nana tetap tidak ingin menjawab dari dalam kamarnya.


Di biarkan nya saja Bentala terus seperti itu, Nanti juga akan berhenti sendiri jika dia lelah.


Dan benar saja, Setelah beberapa lama, Akhirnya bentala menyerah, Dia lebih baik membersihkan diri di kamar tamu saja, Karena waktu sudah menunjukan hampir magrib.


Begitu juga dengan Nana yang juga lebih memilih untuk membersihkan dirinya karena waktu 3 rakaat sudah hampir tiba.


Sekarang yang di pikirannya adalah, Bagaimana dia makan malam ?


" Ah, Bodo amat dah ! Mending gue mandi, terus sholat. Nanti gak sholat Allah gak sayang sama gue. " Nana pun lebih memilih memikirkan hal itu nanti saja setelah dia lapar.


Karena saat ini dia belum lapar, Bahkan sampai saat jamnya makan malam pun Nana juga belum keluar, Padahal Bentala pikir Nana sudah berada di meja makan.


Tapi saat dia sampai di sana istrinya tidak hadir bersama mereka.


" Nana belum turun Bun ?" Bunda Zahira tidak menjawab pertanyaan dari putranya.


Bahkan melirik putranya saja bunda tidak, Bunda lebih memilih untuk melayani suaminya saja dari pada harus menjawab putranya.


" Bun, Bentala tanya loh, Nana kemana ? Kok belum turun ? Apa Nana makan di kamar ?"


" Kamu aja yang suaminya gak tau apalagi bunda. " Bentala hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar karena memang ini kesalahannya.


Lagi pula benar apa yang di katakan bundanya, Bahwa Bentala yang suaminya saja tidak tau di mana Nana, Apalagi bundanya.


Tidak ingin menunda waktu lagi, Bentala langsung berdiri dari kursinya untuk memanggil sang istri dan bunda Zahira membiarkan saja apa yang di lakukan putranya.


Biar Bentala paham bagaimana menyikapi permasalahan rumah tangga mereka.


Baru saja Bentala hendak pergi ke kamar mereka, Di mana istrinya berada, Dia kaget saat mihat Bik Asih membawa paparbag bertuliskan makanan siap saji berupamakanan kesukaan istrinya.


Begitu juga dengan Minuman Boba kesukaan istrinya itu.


Bentala hafal betul kesukaan istrinya, Tapi apa itu memang pesanan istrinya ?


Tidak ingin terus penasaran, akhirnya Bentala bertanya pada pembantu rumah mereka itu.


" Pesanan siapa itu bik ? " Bik asih pun berhenti saat tuan rumah bertanya padanya.


" Oh, Ini pesenan Non Nana Den. " Bentala tIdak kaget lagi karena dia tau bahwa itu memang pesanan istrinya, Tapi yang dia tidak menyangka kenapa Nana harus memilih beli makanan dari luar ? Kenapa tidak makan di rumah saja ?


Mereka juga sudah menunggunya, Lalu kenapa harus beli makanan ?


" Yaudah, Sini Bik, Biar Bentala aja yang mengantarkannya. " Bentala hendak mengambil pesanan istrinya, Tapi bik asih tidak memberikannya.


" Kenapa bik ? Bukannya itu milik istri Bentala kan ? Biar Bentala aja yang mengantarkannya.


" Maaf Den, Tapi Non Nana bilang kalau ini harus bibik atau siapa yang anter gitu. Non Nana gak mau kalau sampai Den Bentala yang mengantarkannya. " Sakit sekali hati Bentala saat mendengar penolakan dari istrinya yang di sampaikan langsung oleh bik asih seperti itu.

__ADS_1


Apa sebegitu marahnya Nana sama Bentala ? Bahkan untuk bertemu suaminya saja dia enggan.


" Maaf Den, Bibik permisi ya, Takutnya Non Nana nungguin. Kasihan atuh Den kalau sih Non sampai kelaparan. " Dengan lemas Bentala membiarkan Bik Asih pergi untuk mengantarkan pesanan istrinya.


Akhirnya Bentala pun memilih kembali ke meja makan, Rasanya melihat makanan yang sudah tersaji seperti itu nafsu makannya mendadak hilang begitu saja.


Apa nama membencinya ? Seperti yang di katakan istrinya tadi ?


" Makan tuh egois ! Gak peka banget sama perasaan istri !"


" Bun, Udah dong. Ini meja makan, Lagi pula anak sama menantu ada masalah bukannya bantu, malah makin kayak gini. " Bunda Zahira hanya mencebik saja mendengar nasihat dari suaminya.


Dia sudah terlanjur kesal dengan putranya, Jadi biarkan saja lah pikirnya.


Bentala juga sudah dewasa, Jadi sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk.


Tapi kok ya gak ngerti juga ?


" Tau ah ! Biarin aja kenapa sih yah, Seharusnya Bentala itu sadar kalau dia itu--"


" Bun sudah ! Ini meja makan. Jangan sampai keberkahan dalam makanan ini hilang karena rasa tidak bersyukur kita. " Baik bunda Zahira atau pun Bentala keduanya hanya bisa diam dan menurut saat ayah Batara sudah memberikan ultimatumnya.


Yang lebih bersalah di sini itu Bentala, Dia yang bersalah karena tidak bisa mengontrol emosinya dan meluapkannya begitu saja pada istrinya


Bentala juga khawatir dengab Nana, Bagaimana tangan istrinya yang di cengkramnya tadi ? Apakah baik-baik saja ?


Atau malah lebam ?


" Makan Bentala ! Kamu bukan ABG labil yang galau dan gak mau makan. Kamu adalah laki-laki dewasa. Berpikir lah dewasa, jangan berpikir bahwa kamu kepala rumah tangga bisa mengatur istri kamu sesuka hati kamu, Apalagi sampai mengatakan istri kamu egois dan menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak. Tanyakan kebenarannya lebih dulu baru bisa berspekulasi. "


" Tuh denger kata ayah kamu !"


" Maaf Yah. " Jawab Bentala untuk semua kesalahannya.


" Bukan sama ayah ! Tapi sama istri kamu, Dan kamu juga Zahira Az-Zahra, Jangan jadi kompor !"


" Ish...." Bunda Zahira langsung mencebik saat mendapatkan bom atom dari suaminya.


" Sekarang makan ! Jika tidak makan maka gak usah makan lagi untuk seterusnya ! Masih banyak orang yang mau makan di luar sana !" Akhirnya bunda Zahira pun melanjutkan kegiatan mereka.


Begitu juga Bentala, Mau tidak mau dia harus makan karena perintah dari ayahnya.


Mereka kembali makan dengan p enuh hikmat, Dengan pemikiran mereka masing-masing, Tapi tidak bagi Nana.


Dia merasa bodo amat dengan Bentala, Dia sudah lapar dari malas memikirkan hal lainnya lagi.


Besok ya biarkan besok lagi dia memikirkan caranya untuk bertemu Bentala, Atau menghindar dari suaminya.


Untuk saat ini biarkan saja dia sibuk dengan dunianya, Makan, Minum dan menonton drama kesukaannya.


Sampai malam berlalu pun, Bentala tetap tidak bisa bertemu dengan istrinya hingga pagi hari juga tetap sama.


Dia sudah siap dengan pakaian kerjanya, Tapi tetap tidak ada istrinya di meja makan ini.


Bentala mendapatkan pakaian gantinya dari ruang laundry di rumah mereka sendiri, Tidak dengan di siapkan Nana istrinya seperti biasa.


" Nana juga gak ikut sarapan ya Bun ?"


" Tau deh ?" Jawab bunda Zahira sambil mengendikkan kedua bahunya menanggapi pertanyaan putranya.


Sementara ayah Batara hanya bisa menghembuskan nafasnya berat karena istrinya yang masih memusuhi putra mereka.

__ADS_1


" Mungkin masih tidur. Biarkan saja, Nanti kalau sudah bangun kan pasti akan turun. "


" Tapi setelah kamu pergi kerja. " Lanjut bunda Zahira lagi membuat mental Bentala semakin down karena masalahnya dengan Nana.


" Sudah ayo makan. " Perintah ayah Batara.


Saat mereka bertiga tengah sarapan, Tiba-tiba orang yang sejak kemarin tidak terlihat kini terlihat dan sudah emmakai seragam sekolahnya dengan lengkap.


" Loh, Sayang, Kamu mau sekolah ? Keadaan kamu gimana ? Udah baikan Na ?" Bentala langsung menghentikan kegiatan sarapannya saat melihat istrinya yang turun dari kamar mereka dengan seragam lengkapnya.


Apa istrinya benar-benar sudah sehat ? Bagaimana jika Nana sakit lagi ?


" Sayang, Mas--"


" Nana berangkat Bun, Yah... Assalamualaikum. " Nana langsung memotong ucapan suaminya karena dia tidak ingin berlama-lama bertemu suaminya.


" Pamit Bun. Yah..." Nana melewati suaminya begitu saja saat Bentala sudah mengulurkan tangannya berharap Nana melakukan hal yang sama, Tapi Nana malah mengabaikannya begitu saja.


" Sayang, Tunggu dulu, Kamu belum pamit sama Mas, Kamu--"


" Pamit Mas. assalamualaikum. " Nana pun langsung mengambil tangan Bentala dan menciumnya begitu saja tanpa perasaan apapun.


Dan itu membuat Bentala merasa semakin bersalah di sini.


" Mas yang antar kamu ya, Ehm tunggu sebentar, Mas gak punya uang cash, Mas pinjem bunda dulu ya, Tunggu Mas sayang. " Bentala pun hendak meminjam uang apda bundanya untuk uang saku istrinya, Tapi perkataan Nana membuat hatinya merasa hancur seketika.


" Gak usah ! Aku masih ada uang Cash, Gak usah antar aku juga. Aku bisa pergi sama pak Imron. "


" Kok gitu Na, Mas yang antar kamu sekolah ya, Mas masih ada waktu kok ya. "


" Gak perlu ! Nanti kamu terlambat. Lagi pula bukannya sekertaris baru kamu bilang hari ini ada meeting pagi ya ? Jadi gak perlu antar aku. Kamu jemput ada sekertaris baru kamu. !"


Deg !


Jantung Bentala seakan di remas oleh tangan tak kasat mata yang membuatnya hancur berkeping-keping saat mendapatkan penolakan dari istri ya.


" Mas akan tetap antar kamu sayang, Mas yang akan antar kamu sampai ke sekolah hari ini dan seterusnya kayak dulu lagi. "


" Terserah kamu !" Nana pun langsung meninggalkan suaminya begitu saja.


Terserah Bentala mau melakukan apa yang apsti Nana tidak ingin perduli lagi dengan suaminya.


Biarkan saja Bentala mengantarkannya, Toh juga bukan Nana yang memintanya.


Nana pun benar-benar di antar oleh suaminya pergi ke sekolah, Bahkan di sepanjang jalan suaminya terus saja mengajaknya bicara, Tapi Nana sama sekali tidak menanggapinya.


Saat Bentala turun ke ATM sebentar pun Nana tetap tidak memperdulikan suaminya.


Sampai-sampai Bentala sendiri yang memasukan uang saku istrinya ke dalam tas yang memang di pangkuan Nana, Karena hari ini istrinya membawa iPad dan laptopnya juga.


" Na, Kok--"


" Pamit Mas, Aku udah terlambat. " Nana langsung keluar begitu saja saat mobil sudah berhenti, Bahkan Bentala yang ingin membuka kan pintu mobil untuk istrinya kaget saat dia belum sampai di samping pintu mobil sang istri, Tapi Nana sudah keluar dan pergi begitu saja meninggalkannya.


" Waalaikumsalam sayang. " Jawab Bentala dengan lesu saat melihat Nana yang menolaknya begitu saja seperti ini.


Kenapa diamnya Nana kali ini rasanya sangat luar biasa sekali pengaruhnya bagitu Bentala ?


Kenapa Bentala merasa kekecewaan yang begitu besar.


Nb : Kalian bisa baca dan liat keseruan sih om sama istri bocilnya di apk dollar sebelah ya 😁

__ADS_1


__ADS_2