INCOMPARABLE: Lord Of Darkness

INCOMPARABLE: Lord Of Darkness
Chapter 123. The Commandments


__ADS_3

...*Medan perang, di luar kastil....


peperangan telah berjalan selama 6 jam lamanya. semua orang terus berusaha sebisa mungkin untuk menang dengan meminimalisir kan korban sedikit mungkin.


namun, yang namanya juga "perang" tidak ada yang namanya "tak ada korban perang".


"hey.. kau sudah kelihatan sangat lelah. kembalilah ke kamp dan serahkan kepada kami."


"tidak terimakasih.. jika aku mundur, akan sangat disayangkan. kita kekurangan tenaga kekuatan untuk melawan mereka."


"maka dari itu.. kau harusnya mundur lah terlebih dahulu, kami akan menahannya sampai yang lainnya siap siaga"


"benar. walaupun kita memerlukan tenaga tambahan, tetapi jika memaksakan diri juga tidak baik untuk mu. kau akan berguna di perang beberapa jam yang akan datang."


"kalian semua.."


seluruh orang di Medan perang sangat lah setia kawan satu sama lain. tidak ada perbedaan antara keduanya.


mereka memiliki tekad yang kuat, dan juga memiliki tujuan yang sama. yaitu, melindungi tanah mereka dari penjajah.


hanya saja.. sangat disayangkan.. jika kejadian ini benar benar terjadi tanpa campur tangan orang lain. maka itu akan membentuk suatu sejarah yang sangat keren.


sayang nya..


"apa yang kalian lakukan? kita harus segera menyelesaikan perang ini secepat mungkin." ucap Abaddon kepada mereka


"pemimpin! bagaimana anda bisa di sini?"


"aku sedang melakukan sesuatu di belakang kamp."


"kalau begitu, apakah anda akan ikut membantu kami di garis terdepan? kami membutuhkan tenaga yang kuat untuk menahan Undead"


"tentu saja. aku akan melakukan sesuatu untuk membuka jalan yang luar demi kalian."


"baiklah! kalau begitu mohon kerjasamanya, pemimpin!"


mereka pun kembali ke garis garda terdepan. terkecuali satu orang, dia terlihat sangat kelelahan di Medan perang.


jadi, Abaddon menyuruh nya untuk beristirahat selama beberapa menit dan menenangkan pikirannya.


Abaddon juga mengawasi alur pertempuran di Medan perang agar terlihat seimbang satu sama lain.

__ADS_1


dia menunggu waktu yang tepat untuk melakukan serangan terakhir kepada seluruh Undead yang ada.


*DUAR DUAR


Abaddon mengamati peperangan.


di saat dirinya sedang sibuk mengamati seluruh alur pertempuran yang ada, datang seseorang menyapa Abaddon.


"kau menikmati hal hal seperti ini? Abaddon?" tanya Asmodeus


Abaddon pun menengok kebelakang, dia terkejut bahwa ada seseorang dari Perintah Tuhan yang datang jauh jauh menemuinya.


"aku terkejut kau datang kepada ku, Asmodeus. ada masalah apa kau datang kepada ku?" jawab Abaddon


"untuk saat ini. jawaban ku sama seperti mu. menikmati suasana ini." -Asmodeus


"jawaban mu kurang memuaskan, Asmodeus. aku memiliki jawaban yang jauh lebih memuaskan dari pada jawaban sampah mu itu." -Abaddon


"woah! apakah itu? apakah itu sesuatu rencana pemusnahan suatu daratan? ataukah ada sesuatu yang jauh lebih menarik?" -Asmodeus


"benar. kau tahu? akhir akhir ini Raja sedang menerima murid yang menurutnya menarik, atau bisa di bilang dia itu berbakat." -Abaddon


"hm? lalu kenapa? apakah kau juga membantu nya mencari murid yang berbakat?" -Asmodeus


"Bakat ilahi! katamu!? bakat ilahi itu apa?"


-Asmodeus


"kau tidak tahu?" -Abaddon


"sungguh. aku tak pernah peduli kepada mereka yang berada di surga." -Asmodeus


"bakat ilahi adalah bakat yang dianugerahi oleh surga. bakat ini dikhususkan untuk mahkluk fana saja. mereka yang mendapat kan bakat ini akan menjadi jauh lebih kuat dari mahkluk fana lainnya. juga, kekuatan mereka bukan lah main." -Abaddon


"Anugerah dari Surga? yang benar saja? dia akhirnya bergerak?" -Asmodeus


"tidak tahu. dia melakukan ini murni karena keinginannya atau dia melakukan ini karena perintah dari seseorang." -Abaddon


"yang bisa menggerakkan mereka.. kurasa hanya ada satu orang." -Asmodeus


Abaddon dan Asmodeus, mereka berdua terus melanjutkan pembicaraan mereka mengenai sesuatu hal yang janggal.

__ADS_1


setelah beberapa menit berbicara satu sama lain, Asmodeus pun memutuskan untuk pergi melanjutkan tugasnya.


sedangkan Abaddon sendiri. dia melanjutkan misinya untuk membangun sebuah kerajaan yang sangat besar dan megah untuk Rajanya itu.


meski ia tak tahu bagaimana cara nya melakukan revolusi terhadap suatu tempat yang baru dengan benar. dia melakukan revolusi dengan caranya tersendiri.


dengan cara yang cukup kejam dan melakukan pengorbanan. dia sama seperti para prajurit yang berjuang saat ini.


rela melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi dan mereka cintai, serta melindungi keluarga mereka. itu untuk para prajurit.


sedangkan untuk Abaddon. dia tak punya orang yang disayanginya, dia tak punya orang yang dicintainya, dia juga tak memiliki sebuah keluarga untuk dilindungi.


dia hanya memiliki satu orang, yang menjadi prioritas nya, walaupun nyawanya terancam. walaupun dia harus mati demi orang itu.


dia tidak mempermasalahkan nya, karena orang yang menjadi prioritas itu adalah seseorang yang telah memberikan Abaddon kehidupan.


......


sedari awal penciptaan The Commandments. mereka hanya jiwa yang dipenuhi kekuatan berlimpah yang dimasukkan ke dalam sebuah wadah tubuh untuk mereka bergerak.


mereka tidak memiliki hati maupun jantung. mereka tidak bisa mati maupun hidup bebas seperti mahkluk lainnya.


mereka hanya akan menuruti perintah dari Rajanya, apapun yang terjadi. apapun yang menimpanya. apapun yang harus dilakukan nya.


walaupun itu mengakibatkan hancurnya dunia, mereka tak memperdulikan hal itu. bahkan, mereka rela mati demi mengorbankan seluruh alam semesta sebagai persembahan untuk Raja mereka.


kesetiaan mutlak yang mereka miliki itu bukan lah dari paksaan di saat mereka diciptakan. mereka setia dikarenakan melalui keinginan mereka tersendiri.


itulah sisi The Commandments yang tak diketahui oleh mereka tersendiri.


telah banyak sekali perang yang mereka lewati, telah banyak sekali orang dan mahkluk yang mereka bunuh.


telah banyak sekali orang yang mereka adu domba dan manipulasi. telah banyak sekali orang yang kehilangan nyawanya karena mereka.


tetapi, di saat mereka membunuh, di saat mereka melakukan hal hal tercela, di saat mereka melakukan hal hal keji. tak sedikitpun mereka menangis ataupun bersedih. bahkan mereka tak merasa bersalah sedikitpun.


mereka bukan lah mahkluk sempurna seperti para Dewa, mereka tidak bisa hidup damai seperti para manusia. mereka tidak bisa hidup bebas seperti mahkluk abadi.


mereka hanya ingin melakukan tugas yang diperintahkan oleh Rajanya. mereka tidak akan bergerak satu CM pun jika tak diperintahkan.


mereka akan mengikuti Raja mereka kemanapun dia pergi. walaupun dia menjadi musuh dari semesta alam.

__ADS_1


...Mereka akan tetap setia kepada Raja nya!...


...TO BE CONTINUED...


__ADS_2