
Happy Reading...
Alisha keluar dari kamarnya karena dia merasa haus dia berjalan dengan perlahan menuju dapur, dia melihat jam di dinding baru jam dua dini hari.
Dia menuangkan air ke gelas dan langsung meneguknya setelah selesai dia pun akan kembali ke kamarnya.
Saat sampai di ruang tengah pintu apartemen itu terbuka dan masuklah Nevan yang melihat Alisha sekilas kemudian menutup pintu.
"Mas baru pulang?" tanya Alisha.
Nevan hanya berdehem dan melangkah menuju kamarnya saat melewati Alisha dia melihat sekilas kaki Alisha yang terbalut perban.
Alisha melihat punggung Nevan yang semakin menjauh menaiki tangga.
"Apa aku bisa merasakan bersandar di pundak itu sambil menumpahkan keluh kesah yang aku rasakan?" kata Alisha dalam hatinya.
Setelah melihat Nevan menghilang dari balik pintu kamarnya Alisha pun kembali memasuki kamarnya.
"Mas Nevan jam segini baru pulang apa dia melanjutkan yang tadi dilakukannya dengan Mesha," gumam Alisha.
"Ya Allah bukakan lah pintu hati suamiku sadarkan dia kalau yang dilakukannya itu salah," doa Alisha.
Setelah itu dia kembali tidur karena dia ada kelas dan harus ke kampus.
Saat pagi menjelang Alisha keluar dari kamarnya dan saat sampai di dapur dia melihat Nevan sudah duduk di meja makan.
Nevan sudah terlihat rapi dengan kemeja berwarna coklat dan celana warna hitam yang kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih itu.
"Tumben Mas Nevan sudah duduk manis di meja makan pagi-pagi seperti ini," kata Alisha dalam hatinya.
"Buatkan kopi," kata Nevan singkat tanpa melihat Alisha.
"Mas mau kopi?" tanya Alisha senang karena Nevan mau di buatkan sesuatu olehnya.
Nevan hanya menganggukkan kepalanya, Alisha pun segera membuatkan kopi untuk Nevan.
"Ini mas kopinya," Alisha menyimpan secangkir kopi di depan Nevan yang sedang memainkan ponselnya.
"Apa mas mau yang lain lagi?" tanya Alisha.
"Buatkan sarapan," kata Nevan sambil meniup kopinya.
Alisha dengan senang hati melakukannya dia membuat makanan kesukaan Nevan untuk sarapannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama sarapannya pun sudah selesai di buat, Alisha menyajikannya makanan itu di meja makan.
Alisha mendengar suara bel berbunyi dia yakini itu pasti Lastri.
"Itu pasti bu Las, mas Alish mau buka pintu dulu ya," kata Alisha kemudian dia berjalan menuju pintu.
"Pagi Non," sapa Lastri tersenyum saat Alisha membukakan pintu.
"Pagi juga bu," jawab Alisha tersenyum dan membukakan pintu lebih lebar agar Lastri masuk.
"Kita sarapan dulu yuk Bu," ajak Alisha saat mereka sampai ke dapur.
"Saya nanti saja Non," tolak Lastri saat melihat ada Nevan di meja makan.
__ADS_1
Lastri merasa canggung karena ada Nevan di meja makan.
"Oh baiklah kalau gitu Alish sarapan duluan ya Bu," kata Alisha dia tau kalau Lastri pasti merasa canggung karena ada Nevan di sana jadi dia tidak memaksa Lastri untuk ikut sarapan.
Lastri tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia kemudian pergi dari sana untuk mulai mengerjakan pekerjaannya.
Nevan sudah mulai sarapannya Alisha melihat dengan serius saat Nevan mulai memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
"Apa rasa makanannya ada yang kurang Mas?" tanya Alisha.
"Tidak," jawab Nevan singkat dan terus memasukkan makanan itu kedalam mulutnya.
Alisha tersenyum senang karena Nevan mau memakan makanan buatannya itu, dia kemudian memakan makanannya juga.
Alisha sesekali mencuri pandang kepada Nevan yang sedang serius dengan makanannya dia merasa senang karena bisa sarapan satu meja bersama dengan suaminya itu dia langsung melupakan apa yang telah dilakukan Nevan sebelumya.
Saat Nevan sudah selesai sarapannya dia minum dan mengelap bibirnya dengan tisu lalu bangun dari kursinya.
"Mas mau berangkat sekarang?" tanya Alisha yang juga ikut berdiri.
"Iya," jawab Nevan singkat dia kemudian berjalan keluar dari dapur dan menaiki tangga menuju kamarnya.
Alisha tersenyum melihat Nevan yang sudah dari balik pintu dapur.
"Non," panggil Lastri yang melihat Alisha melamun sambil tersenyum seperti itu.
"Eh, Bu Las," kata Alisha tersenyum kepada Lastri.
"Non sepertinya sedang bahagia," kata Lastri.
"Semoga ini awal yang baik ya Non, Bu Las yakin Tuan Nevan pasti akan mencintai Non Alish suatu saat nanti," kata Lastri.
"Semoga ya, Bu," kata Alisha tersenyum.
Terdengar pintu kamar Nevan terbuka dan Nevan keluar dari kamarnya dengan sudah memakai jas dan membawa tas kerja ditangannya.
Alisha segera menuju Nevan yang sudah menuruni tangga.
"Mas mau berangkat kerja sekarang?" tanya Alisha saat sudah di depan Nevan.
Nevan hanya menjawabnya dengan deheman dan anggukkan kepala.
"Bolehkah Alish mencium tangan Mas?" tanya Alisha memberanikan diri.
Nevan melihat Alisha terlebih dahulu setelah itu dia mengangkat tangannya tepat di depan wajah Alisha.
Melihat hal itu Alisha lagi-lagi tersenyum manis dan dia langsung memegang tangan Nevan setelah itu mencium punggung tangannya.
"Terima kasih, Mas hati-hati di jalannya ya," kata Alisha dengan tersenyum lebar.
Nevan hanya menganggukkan kepalanya dan keluar dari apartemennya,
"Semoga kamu bisa segera menerima aku dan pernikahan kita ini mas," gumam Alisha.
Dia senang karena Nevan tidak terlalu dingin seperti hari-hari sebelumnya dan sudah mau di cium tangannya oleh Alisha.
Sementara itu Nevan yang sudah sampai di lobby dia mengambil tisu basah dari dalam tasnya dan mengelap tangan yang Alisha cium tadi.
__ADS_1
"Si al kalau bukan karena papa pagi-pagi sudah ribut nelpon dan ngancem tidak akan memberikan modal lagi padaku aku tidak akan mau lama-lama ada di dekatnya," gerutunya dia kemudian membuang tisu basah bekasnya ke tempat sampah.
Nevan masuk ke dalam mobilnya dan baru saja dia akan menjalankan mobilnya ponselnya berbunyi dan yang menelponnya adalah Mesha.
"Ya halo, Sha," kata Nevan memasak handsfree dan dia mulai menjalankan mobilnya.
"Apa kamu sudah sampai di kantor?" tanya Mesha.
"Belum aku baru mau berangkat," jawab Nevan.
"Tumben jam segini baru berangkat bisanya juga sudah sampai di kantor, kamu kesiangan?" tanya Mesha.
"Tidak, tapi aku sarapan di apartemen," jawab Nevan.
"APA! kamu sarapan di apartemen, itu berarti kamu sarapan dengan istri kamu itu!" kata Mesha terdengar marah.
"Iya, tapi aku benar-benar terpaksa melakukannya, sungguh," jelas Nevan dengan suara yang lembut untuk menenangkan pacarnya itu agar tidak marah.
"Kenapa kamu sarapan dengannya hah? apa kamu sudah mulai memiliki perasaan padanya, kalau benar seperti itu aku akan pergi saja dari hidupmu," kata Mesha si drama Queen.
"Aku benar-benar terpaksa melakukannya, apa kamu tau papa lihat kita semalam saat kita jalan-jalan dan dia mengancam tidak akan memberikan dana lagi untuk usaha ku kalau aku masih berhubungan denganmu dan tidak memperlakukan wanita itu dengan baik," jelas Nevan.
"Terus sekarang hubungan kita bagaimana?" tanya Mesha.
"Untuk sementara kita tidak bisa bertemu terlalu sering dulu ya," kata Nevan.
"Maksud kamu kita hanya bisa bicara lewat telpon seperti ini gitu! aku tidak mau, kamu tau 'kan aku paling tidak bisa lama-lama tidak bertemu denganmu," rajuk Mesha yang malah membuat Nevan gemas.
"Ayolah sayang hanya beberapa saat saja aku sesekali akan menemui mu tapi tidak bisa terlalu sering, ya," bujuk Nevan tangannya sambil sibuk dengan setir.
"Berapa kali dalam seminggu kita akan bertemu?" tanya Mesha.
"Mungkin dua kali atau sekali," kata Nevan.
"Apa kamu bilang dua kali atau sekali, aku tidak mau," tolak Mesha terdengar dari suaranya sangat kesal.
"Ayolah sayang aku lakuin ini demi kebaikan kita di masa depan, apa kamu mau papa aku benar-benar menghentikan suntikan dananya di usaha yang baru aku rintis ini," bujuk Nevan dengan sabar.
"Aku tidak perduli meskipun kamu tidak punya apa-apa kita bisa memulai semuanya dari awal lagian aku dan keluargaku pasti bisa membantumu membangun usaha lagi kalau papa kamu tidak mau membantumu lagi," kata Mesha.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1