Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Butuh teman cerita.


__ADS_3

Happy Reading...


Di saat orang lain sedang bergelung dengan selimut mereka untuk menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya malam, berbeda dengan Alisha dia saat ini sedang mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat.


Alisha menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sedang, air mata masih terus mengalir di kedua pipi tirusnya.


Awalnya Alisha akan istirahat tapi dia tidak bisa tenang dia butuh orang untuk bercerita agar dia bisa lebih tenang dan berpikir dengan jernih.


Saat sampai di depan gerbang sebuah rumah berlantai dua yang sederhana Alisha menekan klakson mobilnya agar security di rumah itu membukakan gerbang untuknya.


Saat gerbang terbuka Alisha memasukkan mobilnya dan memarkirkan mobilnya asal dia keluar dari mobil dengan penampilan yang acak-acakan.


Dia hanya memakai baju tidur dengan sendal jepit mata merah dan bengkak hidung merah, Alisha berjalan menuju pintu utama rumah itu.


Saat sampai di depan pintu Alisha mengetuk pintu rumah itu dia tidak perduli lagi kalau dia akan menggangu si pemilik rumah karena dia tidak tahu harus kemana lagi sekarang.


Saat pintu terbuka seorang wanita yang membuka pintu itu menatap Alisha heran karena Alisha datang ke rumahnya malam-malam seperti ini dengan penampilan yang jauh dari kata baik.


"Kamu kenapa Lis apa semua baik-baik saja?" tanya wanita itu membuka pintu rumahnya lebih lebar agar Alisha dapat masuk ke dalam rumahnya.


Alisha tiba-tiba saja langsung memeluk wanita itu dan menangis di pelukan wanita itu hingga membuat wanita itu semakin bingung dengan apa yang terjadi kepada Alisha.


"Kita masuk dulu ya, biar kita bisa bicara di dalam," ajak wanita kepada Alisha sambil membawa Alisha masuk ke dalam rumahnya sambil mengusap punggung Alisha.


Alisha mengikuti wanita itu, saat sampai di ruang tamu dia duduk di sofa di ikuti oleh wanita itu.


"Jadi ada apa? kenapa kamu malam-malam seperti ini ke sini sendirian lagi itu bahaya Lis," kata wanita itu kepada Alisha.


"Alisha gak tau harus kemana lagi kak, Alisha gak punya siapa-siapa lagi untuk bercerita selain Kakak dan Kak Bara....? kata Alisha dengan terisak.


"Ada apa? apa mau Kak Irene panggilkan Kak Bara juga sekalian," kata wanita bernama Irene yang tak lain adalah istri dari Bara.


"Gak perlu Kak, Kak Bara pasti capek seharian kerja Alish bicara sama Kakak saja, Kakak gak pa-pa 'kan kalau Alish mau cerita?" tanya Alisha menatap Irene.


"Tidak apa-apa kebetulan barusan kakak juga tidak bisa tidur habis nidurin anak-anak makanya pas bel bunyi Kakak langsung buka pintu," kata Irene tersenyum kepada Alisha.


"Alish tidak tau harus bagaimana sekarang Kak, Alish bingung apa Alish harus mengakhiri semuanya sekarang Kak?" cerita Alisha kepada Irene dengan terisak.


Irene langsung tahu maksud Alisha karena suaminya Bara selalu menceritakan tentang Alisha dan kehidupannya kepada Irene.


"Ikuti kata hatimu Lis, karena hatimu akan tau mana yang terbaik untuk dirimu," kata Irene memegang tangan Alisha.


"Alish masih ingin bertahan Kak. tapi Alish tidak mau Mas Nevan semakin berada di jalan yang salah dengan kehadiran Alish di hidupnya," kata Alisha.

__ADS_1


"Kalau gitu coba tanya pada hatimu bisakah kamu pergi dari Nevan dan melupakannya,"


Alisha hanya diam dia sendiri bingung sekarang mau ngambil jalan yang mana untuk masalahnya.


Bertahan dengan pernikahannya dan membiarkan Nevan terus berada di jalan yang salah dan tidak tahu apakah Nevan mau membuka hatinya untuk tidak.


Atau pergi dari Nevan dan melupakan Nevan yang pastinya tidak akan mudah baginya karena Nevan adalah pria pertama yang Nevan cintai setelah Ayahnya.


"Jangan mengambil keputusan di saat kamu sedang emosi Lis, pikirkan saja dulu secara matang setelah yakin dengan keputusanmu itu kamu baru mengambil keputusannya," kata Irene menenangkan Alisha.


"Alisha akan berpikir secara matang dulu Kak," jawab Alisha menganggukkan kepalanya.


"Sekarang sudah malam sebaiknya kamu tidur di sini kamu bisa tidur di kamar tamu," kata Irene.


"Iya Kak, maafkan Aliish ya karena sudah menganggu Kakak malam-malam seperti ini, tadi Alish benar-benar tidak tau harus bercerita ke siapa lagi," kata Alisha kepada Irene.


"Tidak apa-apa lain kali kalau kamu butuh teman cerita lagi datang lah ke Kak Irene, Kak Irene siap jadi pendengar untukmu," kata Irene tersenyum kepada Alisha.


Irene dan Alisha sudah kenal lumayan lama karena dulu Irene adalah tetangga Alisha saat orang tua Irene masih tinggal di kota itu tapi sekarang orang tua Irene tinggal di luar kota di kampung halaman mereka.


Itulah kenapa Alisha bisa dekat dengan Bara karena Irene juga.


"Sekarang kamu istirahatlah besok kita bicarakan lagi masalah kamu ini dengan Bara," kata Irene berdiri dari duduknya untuk mengantarkan Alisha ke kamarnya.


"Sekarang istirahatlah sudah malam jangan terlalu banyak pikiran dulu," kata Irene saat mereka sampai di depan kamar tamu yang ada di lantai bawah rumah itu.


"Iya Kak, sekali lagi terima kasih untuk semuanya," kata Alisha yang sudah mulai bisa tersenyum lagi.


"Jangan terus berterima kasih bukankah kamu sudah menanggap Kakak, Kakak kamu sendiri," kata Irene tulus.


Alisha menganggukkan kepalanya dan setelah itu Irene pergi dari sana menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.


Alisha masuk ke kamar itu dia merebahkan tubuhnya di ranjang, dia kembali ingat kata-kata Nevan yang berterus-terang tentang hubungan terlalu jauhnya dengan Mesha.


"Apa yang harus aku lakukan Ya Allah, berilah aku petunjuk mu Ya Rabb," gumam Alisha dengan mata terpejam.


Saat pagi menjelang Alisha mulai membuka matanya kemudian dia turun dari kasurnya dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Saat dia melihat wajahnya di cermin dia hanya menghembuskan napasnya karena penampilan yang benar-benar kacau.


Wajahnya pucat matanya bengkak seperti habis kena tonjok karena efek nangis terlalu lama semalaman.


Alisha bergegas membersihkan wajahnya terlebih dahulu setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan terdengar pintu kamar di ketuk oleh seseorang.

__ADS_1


Alisha berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamar itu dan ternyata yang mengetuk pintu adalah art di rumah itu.


"Non sudah ditunggu oleh tuan dan nyonya di meja makan," kata art yang masih lumayan muda itu.


"Iya Mbak," jawab Alisha tersenyum dia kemudian keluar dari kamarnya menuju meja makan dimana Bara dan Irene beserta kedua anaknya yang sudah menunggunya.


"Kak Alish," sapa anak pertama Bara yang perempuan sambil tersenyum melihat Alisha.


"Hai Seryl kamu sudah besar ya," kata Alisha tersenyum dan mengusap kepala anak perempuan yang manis itu yang baru berumur 6 tahun itu.


"Itu karena Kak Alish tidak pernah main ke sini," jawab Seryl.


Alisha hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Seryl biarkan Kak Alish sarapan dulu, kamu juga sarapan lah," kata Bara kepada Seryl yang dituruti oleh Seryl dengan langsung memakan sarapannya.


"Alish sarapan lah dulu nanti kita bicara," kata Bara kepada Alisha.


"Iya Kak," kata Alisha lalu duduk di samping Seryl.


Anak kedua Bara dan Irene berjenis kelamin laki-laki dan baru berusia 3 tahun jadi dari tadi dia hanya fokus pada makanan di depannya.


Mereka pun memulai sarapannya dengan tenang, hingga sarapannya selesai Bara mengajak Alisha ke ruang tamu untuk berbicara sebelum dia berangkat bekerja.


Sedangkan Irene mengantarkan Seryl yang akan berangkat sekolah ke depan rumahnya, Seryl akan diantar sekolah oleh pengasuhnya.


Sebelum berangkat Seryl meminta Alisha agar Alisha menunggunya sampai dia pulang sekolah. Alisha tidak menjawabnya dia hanya menjawab dengan senyuman.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2