
Happy Reading...
Setelah beberapa saat kemudian mobil Nevan pun telah sampai di rumah Alisha mereka pun turun dari mobil dan langsung memasuki rumah Alisha.
"Mama mau ke dapur ya mau membuat makan malam untuk kita," kata Ratih saat mereka memasuki rumah.
"Tidak perlu Ma, biarkan Bu Mae saja yang membuatkan makan malamnya," kata Alisha.
"Tidak apa-apa Mama bosen kalau harus diam saja mau pulang juga males, di rumah suka kesepian jadi Mama mau makan malam di sini saja bolehkan?"
"Boleh banget Ma,"
"Ya sudah kalau gitu Mama ke dapur dulu ya," Setelah mengatakan itu Ratih pergi dari sana membiarkan Nevan berbicara secara empat mata dengan Alisha untuk menyelesaikan masalah antara mereka berdua.
Alisha mendudukkan dirinya di sofa sedangkan Nevan tiba-tiba saja bersimpuh di depan Alisha hingga membuat Alisha kaget dengan apa yang Nevan lakukan.
"Mas Nevan apa yang Mas lakukan?" tanya Alisha dengan heran.
"Maafkan aku untuk semua yang aku lakukan padamu dulu, bisakah kamu memberikan aku kesempatan untuk bisa bersamamu dan membuatmu bahagia dengan berada di sisiku," kata Nevan mengambil kedua tangan Alisha dan menggenggam tangannya.
Alisha tidak langsung menjawabnya dia hanya melihat Nevan dengan sangat dalam.
"Aku tau kamu masih ragu untuk menerimaku lagi karena aku bukanlah pria yang baik aku tau aku tidak pantas untuk bisa bersama dengan wanita spesial sepertimu aku hanyalah pria yang...."
Perkataan Nevan terhenti karena Alisha menyimpan satu jarinya di bibir Nevan dia mengusap pipi Nevan seperti yang selalu ingin dia lakukan dulu saat mereka masih tinggal bersama.
"Aku bukan tidak mau bersama denganmu Mas, aku tidak pernah marah sama sekali dengan apa yang telah terjadi antara kita di masa lalu tapi aku hanya takut akan mengecewakanmu lagi dan membuatmu tersiksa dengan kehadiranku di sisimu,itulah kenapa aku ingin membiarkanmu pergi dariku dengan bersikap dingin seperti kemarin-kemarin," jelas Alisha menatap Nevan.
"Kamu sama sekali tidak pernah mengecewakanku justru akulah yang selalu mengecewakan dan menyakitimu aku adalah orang yang tidak punya perasaan karena menyakitimu dengan sangat dalam," kata Nevan mencium kedua tangan Alisha.
"Bagaimana jika nanti Alish menyakitimu Mas?" tanya Alisha dengan tatapan serius kepada Nevan.
"Maka aku akan melakukan apa yang kamu lakukan dulu dengan terus bertahan di sampingmu dan memaafkan kesalahanmu itu seperti yang kamu lakukan sekarang," jawab Nevan dengan yakin.
"Apa Mas tidak akan menyesali keputusan Mas ini untuk bersama dengan Alish lagi, padahal Mas bisa pergi kemanapun Mas mau sekarang tanpa harus memikirkan ikatan antara kita lagi," kata Alisha.
"Aku tidak ingin pergi darimu aku tidak ingin membiarkanmu membesarkan anak kita sendiri dan aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah dariku," kata Nevan dengan serius.
Mendengar hal itu Alisha tiba-tiba saja menangis hingga membuat Nevan khawatir
"Kamu kenapa nangis apa perkataanku memyakitumu?" Nevan mengusap pipi Alisha yang basah.
"Apa ini mimpi Mas?" tanya Alisha menatap Nevan dengan serius.
"Ini bukanlah mimpi Alisha Lavanya ini adalah sebuah kenyataan saat ini aku sedang memohon padamu untuk kembali padaku, untuk memberikan aku sebuah kesempatan untuk bisa bersamamu , aku mencintaimu Alisha Lavanya aku tau rasa itu mungkin datang terlambat tapi ijinkan aku untuk terus mencintaimu terus seumur hidupku," kata Nevan dengan serius.
Secara tiba-tiba Alisha memeluk Nevan yang masih bersimpuh di depannya Alisha menangis antara bahagia dan sedih.
__ADS_1
Dia bahagia karena bisa mendengar kata itu dari Nevan tapi dia juga sedih karena dia tidak tau akan berapa lama lagi dia bisa merasakan cinta Nevan untuknya.
"Mau kah kamu memberikan aku satu kesempatan lagi untuk memulai semuanya dari awal, menebus kesalahan yang aku lakukan padamu dulu," kata Nevan membalas pelukan Alisha dan mengusap punggungnya.
Alisha tidak tau harus berbicara apa dia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan suara isak tangis yang terdengar oleh Nevan.
Nevan melepaskan pelukan antara mereka dia menatap Alisha dengan lembut dan tersenyum, kedua tangannya menangkup wajah Alisha dan menghapus air mata di pipi Alisha dengan kedua ibu jarinya.
"Kamu benar-benar menerima aku lagi?" tanya Nevan lagi untuk memperjelas.
Alisha menganggukkan kepalanya lagi dan tersenyum karena merasa senang Nevan pun langsung mencium kening Alisha dan menatap Alisha dengan senyuman yang mengembang.
Melihat perlakuan Nevan dan tatapan Nevan yang seperti itu membuat Alisha tersipu Alisha menundukkan wajannya tapi Nevan mengangkat wajah Alisha dia kemudian mendekatkan wajahnya pada Alisha.
'Ekhemm ekhemm'
Suara deheman menghentikan aksi Nevan itu yang semakin mendekati wajah Alisha.
Nevan mengalihkan perhatiannya dan melihat ke arah pintu masuk dan terlihat teman-teman Alisha sudah berdiri di sana.
'Pengganggu,' batin Nevan saat melihat teman-teman Alisha di sana.
Fino, Angga dan Dilla berjalan santai menuju ke sofa tempat Alisha dan Nevan berada.
"Kalian sudah datang kirain gak jadi datang," kata Alisha tersenyum kepada taman-tamannya.
Nevan pun berdiri kemudian mendudukkan dirinya di sofa tepat di samping Alisha.
"Jadilah, kita 'kan penasaran si bytrong itu jagoan 'kan," kata Dilla dengan antusias.
"Sesuai tebakanmu dia laki-laki," jawab Alisha tersenyum kepada teman-temannya.
"Tuh 'kan apa yang aku bilang dia itu pasti laki-laki," kata Dilla melihat kepada Angga dan Fino yang kemarin-kemarin menebak calon anak Alisha adalah perempuan.
"Iya iya,kamu benar," kata Angga kepada Dilla.
"Aku sudah yakin kalau dia itu laki-laki," kata Dilla dengan bangga.
"Gimana semuanya baik-baik saja 'kan Lis?" tanya Angga serius.
"Semuanya baik-baik saja kalian tenang saja," kata Alisha tersenyum kepada teman-temannya.
"Baguslah kalau semuanya baik-baik saja," jawab Angga.
Saat mereka sedang mengobrol Mae datang dengan membawa minuman dan cemilan untuk mereka berlima.
"Ini minuman dan cemilannya Nona-nona dan Tuan-tuan," kata Mae tersenyum dan menyimpan minuman dan cemilannya ke meja.
__ADS_1
"Terima kasih Bu Mae," kata Dilla langsung mengambil minumannya karena merasa haus.
"Iya sama-sama Non" jawab Mae tersenyum kepada Dilla.
"Kalau begitu saya kembali lagi ke dapur ya Non,mau lanjutkan lagi masaknya," pamit Mae pada Alisha.
"Iya Bu, masaknya agak banyakan ya karena mereka akan makan malam di sini juga," kata Alisha kepada teman-temannya.
"Iya Non," jawab Mae menganggukkan kepalanya kemudian pergi dari sana.
"Apa ini sebagai acara syukuran karena kalian sudah rujuk," kata Angga menaik turunkan alisnya menggoda Alisha.
"Apaan sih, bukankah sudah biasa kalian makan di sini," kata Alisha dengan tersipu.
Sedangkan Nevan dari tadi hanya diam dia terus memperhatikan Fino yang dari tadi melihat Alisha dengan pandangan yang lain tidak seperti Angga.
"Kamu kenapa Fin? tumben dari tadi diam terus?" tanya Alisha melihat Fino yang hanya diam saja tidak biasanya.
"Palingan dia lagi galau karena wanita yang disukainya kembali lagi pada mantan suaminya," kata Angga asal dan langsung mendapatkan injakan lumayan keras dari Fino.
"Aaww sakit Fin," kata Angga mengusap kakinya yang terasa nyeri.
"Makanya kalau bicara itu jangan asal," kata Fino menatap Angga tajam.
"Masih saja kamu menyukai wanita yang sudah bersuami Fin," kata Alisha menggelengkan kepalanya.
"Tidak bukan seperti itu, aku sudah tidak menyukainya lagi, aku hanya lagi memikirkan masalah kampus saja," elak Fino.
"Tumben masalah kampus kamu pikirkan biasanya lempeng-lempeng saja," Kata Alisha.
"Iya karena sebentar lagi kita akan ujian jadi takut gak dapat nilai," jawab Fino tersenyum kepada Alisha.
Sementara Nevan sudah tau semuanya saat mendengar perkataan Angga dan melihat reaksi Fino dia tahu bahwa Fino benar-benar memiliki perasaan terhadap Alisha.
Teman-teman Alisha terus berbicara banyak hal sedangkan Nevan hanya menjadi pendengar saja hingga Papanya pulang barulah dia berbicara dengan Papanya dan Ratih pun memanggil semua orang untuk makan malam.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...