
Happy Reading...
Nevan sudah sampai di kantornya dia langsung menuju ke ruangannya karena banyak yang harus dikerjakannya.
Baru saja Nevan membuka sebuah berkas untuk di periksa sekertarisnya yang bernama Mila mengetuk pintu ruangannya, Nevan menyuruhnya untuk masuk sambil fokus pada berkasnya.
"Maaf Tuan tadi ada telpon dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita dari Malaysia katanya minggu depan perwakilan dari sana akan datang ke Indonesia untuk membahas kelanjutan kerja sama antara perusahaan kita," kata Mila berdiri di depan meja kerja Nevan.
"Syukurlah kalau mereka mau ke sini, kamu siapkan saja semuanya jangan sampai mereka membatalkan rencana kerjasamanya karena kurang puas dengan perusahaan kita," kata Nevan.
"Baik Tuan," jawab Mila menganggukkan kepalanya.
"Sekarang kamu lanjutkanlah pekerjaanmu dan beritahu karyawan lain untuk kumpul di ruang rapat setelah makan siang kita harus rapat," perintah Nevan.
"Baik Tuan," jawab Mila, setelah itu dia keluar dari ruangan Nevan.
Nevan kembali memeriksa berkas-berkas yang sudah tersedia di mejanya, saat sedang serius ponselnya berbunyi pertanda ada pesan masuk ke ponselnya.
Nevan membuka pesan itu dan senyumnya langsung terbit dari bibirnya saat melihat pesan itu, pesan sebuah video yang dikirimkan Mae sesuai perintahnya tadi.
Di dalam video itu nampak Alisha yang sedang menikmati sarapan yang di buatnya dengan sangat lahap, Nevan terus memperhatikan Alisha tidak mengalihkan perhatiannya dari ponselnya sebentar saja hingga Alisha selesai makan.
Alisha meminum segelas susu hingga tandas dan mengusap perutnya yang buncit lalu menyandarkan punggungnya di kursi.
Setelah video itu selesai Nevan kembali melanjutkan pekerjaannya dengan semangat karena hatinya merasa senang makanan yang dibuatkannya untuk Alisha di makan hingga ludes.
Sementara itu Alisha yang baru selesai makan masih berdiam diri di tempatnya itu belum beranjak.
"Pantas saja Mbak Mesha suka banget di masakin makanan oleh Mas Nevan ternyata makanan Mas Nevan itu benar-benar enak," kata Alisha berbicara sendiri.
Sedangkan Mae yang mendengarkan perkataan Alisha barusan hanya menggelengkan kepalanya.
"Tadi saja di tolak mentah-mentah sekarang di puji-puji sepertinya bakal jadi kecanduan mau makan makanan buatan tuan Nevan terus," gumam Mae dalam hatinya sambil memakan sarapannya.
"Alish," panggil seseorang yang mambuat Alisha dan Mae langsung mengalihkan perhatiannya ke arah pintu dapur.
"Mama," kata Alisha kaget karena mertuanya tiba-tiba datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Alisha berdiri mendekati mertuanya itu, tapi tatapan Ratih langsung tertuju ke perut Alisha yang sudah membuncit.
"Lis," panggil Ratih dengan pandangan masih fokus pada perut Alisha.
Alisha yang paham maksud mertuanya itu hanya tersenyum dan mengajak mertuanya untuk duduk di sofa terlebih dahulu.
"Jelaskan semuanya," kata Ratih menatap Alisha serius.
"Seperti yang Mama lihat, Alisha saat ini sedang hamil anaknya Mas Nevan, sebenarnya sebelum Alisha memutuskan untuk bercerai dengan Mas Nevan, Alish meminta satu syarat yaitu meminta hak Alish sebagai istri Mas Nevan dan Mas Nevan menyetujuinya hingga akhirnya hadirlah dia," kata Alisha menjelaskan lalu mengusap perutnya.
__ADS_1
"Berapa bulan?" tanya Ratih tersenyum dan mengusap perut Alisha.
"Empat bulan Ma," jawab Alisha tersenyum.
"Apa kamu sudah mengetahuinya sebelum tanda tangan berkas gugatan cerai itu?" tanya Ratih.
"Tidak Ma, Alish mengetahuinya setelah itu," kata Alisha.
"Apa saat Mama menelponmu untuk berpamitan kamu sudah tau?" tanya Ratih.
"Sudah," jawab Alisha menganggukkan kepalanya.
"Terus kenapa kamu tidak bilang langsung sama Mama," kata Ratih.
"Alish hanya tidak mau mengganggu rencana Mama dan Alish berniat akan memberitahukannya nanti," kata Alisha.
"Untung Mama ke sini sekarang kalau tidak entah kapan Mama tau kalau Mama akan punya cucu," kata Ratih ngambek.
"Maaf ya Ma Alish rencananya akan memberi tahu Mama secara langsung dengan berkunjung ke rumah Mama tapi Alish belum bisa menempuh perjalanan jauh," kata Alisha.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Ratih.
"Semuanya baik-baik saja Ma apalagi dia sangat sehat," kata Alisha tersenyum senang dan mengusap perutnya lagi.
"Syukurlah kalau semuanya baik-baik saja," Ratih bernapas lega.
"Tidak, Mama ke sini sama Papa tapi dia tidak mampir dulu karena harus segera ke kantor ada masalah di kantornya," jawab Ratih.
"Mama sudah sarapan?" tanya Alisha.
"Sudah tadi Mama sarapan di jalan," jawab Ratih.
Saat mereka sedang berbicara Mae datang membawakan dua cangkir teh untuk mereka.
"Terima kasih Bu," kata Alisha.
"Iya sama-sama Non," jawab Mae.
Ratih hanya tersenyum kepada Mae dan mengambil secangkir teh itu dan meminumnya.
"Apa Nevan sudah tau kalau kamu hamil?" tanya Ratih saat selesai meminum sedikit tehnya.
"Sudah Ma, Mas Nevan juga baru tau beberapa hari yang lalu," jawab Alisha.
"Terus gimana reaksinya?" tanya Ratih penasaran.
"Ya begitulah Ma, Mas Nevan meminta rujuk," jawab Alisha.
__ADS_1
"Jangan langsung di terima, jangan membuat semuanya mudah untuknya biar dia tau rasa," kata Ratih terdengar kesal.
"Alish juga tidak berniat menerima Mas Nevan lagi Ma," jawab Alisha menundukkan kepalanya.
"Maksudnya, kamu tidak mau menerima Nevan lagi apa kamu tidak mencintainya lagi?" tanya Ratih memegang pundak Alisha.
"Bukan tidak mencintainya lagi Ma tapi Alish tidak bisa bersama dengan Mas Nevan lagi," kata Alisha menatap Ratih dengan serius.
"Kenapa?" tanya Ratih.
Alisha tidak bicara dia hanya menggelengkan kepalanya Ratih pun tidak memaksanya, Ratih menarik Alisha ke dalam pelukannya.
"Kalau kamu tidak mau cerita tidak apa-apa kalau kamu memang sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Nevan juga tidak apa-apa kamu berhak untuk itu tapi Mama harap kamu jangan membohongi dirimu sendiri kamu boleh menghukum Nevan sesukamu tapi kalau kamu masih memiliki perasaan untuknya kamu jangan pernah membohongi dirimu sendiri," kata Ratih mengusap punggung Alisha yang sudah mulai menangis.
"Apa kamu masih memiliki perasaan terhadap Nevan?" tanya Ratih dijawab anggukkan oleh Alisha.
"Kalau kamu masih meragukannya maka buatlah dia membuktikan kalau dia mencintaimu," kata Ratih lagi.
"Apa Mama sudah tau kalau Mas Nevan sudah tidak berhubungan lagi dengan Mbak Mesha?" tanya Alisha mengangkat kepalanya menatap Ratih dengan serius.
"Tau, Papa mengawasinya karena khawatir kalau dia semakin melakukan kesalahan saat kita tidak ada dan Papa kamu baru melepaskan pengawasannya saat Nevan sudah terlihat baik-baik saja dan yang tentunya sudah tidak berhubungan lagi dengan wanita itu," jelas Ratih.
"Mama dari awal memang sudah tidak suka dengan wanita itu karena mama sering melihatnya jalan dengan pria lain bahkan saat Nevan masih di luar negeri, Mama selalu mencoba memberitahu Nevan tentang itu tapi Nevan lebih percaya padanya di banding Mama," jelas Ratih lagi.
"Terus kenapa hubungan mereka berakhir bukankah waktu itu Mbak Mesha bilang mereka akan segera bertunangan?" tanya Alisha heran.
"Mesha hamil dan Nevan awalnya percaya bahwa itu anaknya sehingga mereka memutuskan untuk segera menikah dan saat tau kabar itu Mama tidak tenang dan berniat akan kembali lagi ke sini untuk mencegah pernikahan mereka tapi papa melarangnya Papa bilang Nevan sama sekali tidak akan mempercayai omongan kita jadi biarkan dia tau sendiri nantinya."
"Dan beruntunglah dia benar-benar tau semuanya di saat terakhir menjelang pernikahannya kalau anak yang Mesha kandung bukanlah anaknya," jelas Ratih.
"Mas Nevan pasti hancur saat tau semua itu," gumam Alisha.
"Ya Nevan memang hancur tapi Mama rasa karena semua itu dia jadi bisa menyadari bagaimana ketulusanmu padanya," kata Ratih.
"Tapi meskipun begitu kamu harus membuat dia membayar untuk semua yang telah dilakukannya dulu padamu untuk menebus semua kesalahannya," kata Ratih lagi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...