Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Suasana tegang.


__ADS_3

Happy Reading...


POV NEVAN...


Aku melihat dari balik kaca sosok yang selalu tersenyum itu tengah memejamkan matanya dengan tenang seolah dia begitu nyaman dengan tidurnya itu.


Semakin dekat jarakku dan jaraknya semakin terasa panas mata ini seolah ingin menumpahkan air yang begitu banyaknya.


Lagi-lagi aku menghela napas untuk kesekian kalinya aku memegang gagang pintu penghubung ke ruangan itu. ruangan yang terasa dingin, sepi dan hanya terdengar beberapa alat medis.


Aku melangkahkan kaki ini semakin mendekatinya. padahal aku berharap saat pulang senyuman itu yang menyambut lagi seperti biasanya.


Tapi sekarang bukanlah senyuman yang ada di hadapanku melainkan wajah tenangnya yang menjadi penyambut kepulanganku.


"Apa ini hukuman untukku Lis?"


"Kenapa kamu menghukumku dengan mengorbankan dirimu sendiri seperti ini?"


"Kenapa kamu begitu pinter menyembunyikan semuanya dariku Lis, sekarang aku benci dengan senyumanmu itu Lis, senyuman yang penuh dengan kebohongan di baliknya."


Aku duduk di kursi yang ada di sana menundukkan kepalaku dan menyembunyikan wajahku.


Untuk beberapa saat suasana kembali hening aku kemudian mengangkat wajahku yang sudah basah oleh air mata.


"Aku mohon bertahanlah Lis, aku tidak akan bisa mengurus anak kita sendiri aku membutuhkanmu. kalau kamu masih mau menghukummu, hukum aku dengan cara lain. jangan dengan cara seperti ini."


Aku terus berbicara dengan air mata yang mengalir di pipi. sekarang aku benar-benar merasakan ketakutan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya ketakutan yang begitu besar.


"Bagaimana dengan aku dan anak kita kalau kamu menyerah Lis, apa yang harus aku katakan kepada anak kita kalau dia tau bahwa aku adalah penyebab terbesar kamu pergi, dia pasti akan sangat membenciku Lis."


"Aku mohon bertahanlah Lis, untukku dan anak kita."


"Aku tau kamu pasti mendengarkan aku 'kan, kamu adalah wanita yang kuat kamu pasti bisa bertahan biar kita bisa hidup dengan bahagia membesarkan anak kita dengan penuh kasih dan sayang."


Ku cium tangan dingin Alish beberapa kali dengan perasaan sedih yang membuncah dalam hati ini.


Sekarang aku hanya bisa berdoa kepada sang Pencipta agar dia mau memberikan kesempatan lagi untukku, untuk bisa bersama dengan Alish.


Aku menatap wajah tenangnya dan terlihat setitik air mata jatuh dari sudut matanya, aku yakin dia bisa mendengarkan setiap perkataanku.


"Aku mencintaimu Lis, bertahanlah demi aku dan anak kita, kami sangat membutuhkanmu Lis aku mohon," kataku lagi dan mengusap sudut matanya yang basah.


"Tuan waktu Anda sudah habis, sebentar lagi operasi akan segera di mulai," kata suster memasuki ruang tempat Alish.


"Iya sus," jawabku menatap suster itu sekilas kemudian mengalihkan lagi pandanganku ke Alish.


"Aku pergi dulu ya, aku akan menunggumu dan anak kita," kataku sebelum pergi dari sana aku mencium kening Alish terlebih dahulu setelah itu baru keluar dari sana.


...****************...

__ADS_1


Beberapa jam kemudian waktu operasi pun akan segera dimulai. ranjang Alish dibawa oleh para suster untuk menuju ke ruang operasi.


Aku pun ikut mendorong ranjang Alish menuju ke ruang operasi dengan hati yang tidak berhenti berdoa agar Alish dan anakku selamat.


Saat hampir sampai di depan pintu ruang operasi aku mengusap perut Alish dan berbicara dalam hatiku kepada calon anakku bahwa aku di sini menantinya.


"Dokter tolong selamatkan anak dan istriku," kataku kepada Dokter Desi dan Dokter yang akan menangani Alish.


"Kami pasti akan berusaha semampu kami, kamu bantu doa saja," jawab Dokter Desi setelah itu dia masuk menyusul yang lainnya.


Aku menatap pintu ruangan operasi yang sudah tertutup rapat itu dan beberapa saat kemudian lampu di atas pintu itu pun menyala pertanda operasi sudah di mulai.


"Semua pasti baik-baik saja," kata Mama mengusap punggungku menenangkanku.


Aku pun membalikkan badan dan menganggukkan kepalaku tersenyum kepada Mama.


"Doain ya Ma agar Alish dan anak kami baik-baik saja," kataku pada Mama.


"Iya," kata Mama menganggukkan kepalanya.


Aku melihat teman-teman Alish masih berada di sini padahal ini sudah subuh.


"Kalian pulanglah ini sudah hampir pagi, orang tua kalian pasti khawatir dengan kalian yang tidak pulang," kataku pada teman-teman Alish.


"Tidak mau, aku mau di sini," jawab teman Alish yang perempuan.


"Iya Tante Ratih benar, sebaiknya kita pulang dulu," kata teman Alish yang bernama Angga kepada teman-temannya.


"Baiklah," kata Fino dan teman wanita Alish pun menganggukkan kepalanya setuju.


Akhirnya teman-teman Alish pun pergi dari sana. kini tinggal aku dan kedua orang tuaku yang masih menunggu di sana.


Aku mondar-mandir karena merasa cemas sampai Mama memintaku untuk duduk dengan tenang.


Akhirnya aku pun menurut dan mendudukkan diriku di kursi dengan memejamkan mata dan mendongak tidak ada kata lain yang terucap dalam hati selain doa dan doa untuk Alish dan anakku.


'Ya Allah aku mohon selamatkan istri dan anakku berikan aku kesempatan untuk bisa membahagiakan istri mereka,'


Beberapa jam pun berlalu dan masih belum ada kabar dari dalam ruangan itu, lampu di ruangan itu pun masih menyala, aku kembali memejamkan mataku.


Suara pintu terbuka dan langkah kaki terburu-buru membuatku membuka mata untuk melihat apa yang terjadi.


Terlihat suster keluar dengan wajah tegangnya dan melangkah terburu-buru karena penasaran dengan apa yang terjadi aku pun mencoba bertanya pada suster itu.


"Suster apa semuanya baik-baik saja?"


"Ada masalah dengan istri Anda, saya harus memanggil Dokter Bara dulu Tuan," kata suster itu dengan terburu-buru meninggalkan tempat itu.


Mendengar hal itu tentu saja aku merasa semakin tidak tenang.

__ADS_1


"Kamu harus baik-baik saja Lis, jangan tinggalkan aku."


Aku terus berdoa dalam hati meminta agar Alish dan anakku baik baik-baik saja.


Aku merasa tidak tenang, pikiranku benar-benar kacau.


Aku mondar-mandir di depan pintu itu dengan menatap pintu yang tertutup rapat itu.


Mama dan Papa berusaha menenangkan aku. tapi bagaimana aku bisa tenang? sekarang aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana bagaimana dengan keadaan Alish.


Apakah Dokter di dalam sana berhasil menyelamatkan anak dan istriku atau mereka hanya berhasil menyelamatkan salah satunya saja atau bahkan tidak keduanya.


Berbagai pikiran buruk kembali menghantuiku lagi ketakutan akan kehilangan anak dan istri membuat aku hampir gila.


Aku menyalahkan diriku sendiri, seandainya dulu aku memperlakukan Alish dengan baik mungkin semuanya akan baik-baik saja, dia tidak perlu mengalami hal seperti ini dia tidak akan berada di posisi ini sekarang.


"Aakhhh," aku memukulkan tangan di dinding beberapa kali untuk melampiaskan kekesalan pada diriku sendiri yang menjadi penyebab Alish berada di sini sekarang.


"Nevan, kamu harus sabar Nak."


"Ini salah Nevan Ma, seandainya dulu Nevan memperlakukan Alish dengan baik semua ini pasti tidak akan terjadi Ma, Nevan gak mau kehilangannya Ma."


"Semua pasti akan baik-baik saja, sekarang bukan waktunya untuk kamu menyalahkan dirimu sendiri Nevan, kamu sebaiknya berdoa untuk istri dan anakmu agar mereka baik-baik saja," kata Papa dengan mengusap punggungku untuk menenangkanku.


Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat, terlihat Dokter Bara dengan seorang laki-laki seumuran Papa memakai baju khusus untuk melakukan operasi berjalan mendekat dan akan memasuki ruang operasi di ikuti oleh beberapa suster lagi di belakangnya.


Aku menatap mereka dengan bingung dan Dokter Bara yang sepertinya mengerti dengan kebingunganku berbicara sebelum memasuki ruangan itu.


"Beliau adalah Dokter yang aku panggil dari Singapura untuk membantu menangani Alish, awalnya aku berniat membawa Alish ke Singapura tapi karena sekarang tidak memungkinkan jadi aku meminta beliau untuk datang ke sini," jelas Dokter Bara.


Mendengar hal itu aku merasa ada secercah harapan akan kesembuhan Alish.


"Terima kasih," kataku pada Dokter Bara


"Ya berdoalah semoga semuanya berjalan dengan baik," Setelah mengatakan itu Dokter Bara memasuki ruang operasi.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2