Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Diterima dengan baik.


__ADS_3

Happy Reading....


Nevan, Alisha dan Fariz turun dari mobilnya mereka berjalan memasuki rumah mereka dengan beriringan Fariz mengencangkan genggaman tangannya pada tangan Alisha saat mereka mulai memasuki rumah itu.


Alisha melihat ke arah Fariz dan tersenyum lembut dia tau anak itu pasti merasa khawatir saat menginjakkan kakinya di rumah yang baru untuknya.


"Tenang saja semuanya akan baik-baik saja," kata Alisha menenangkan Fariz.


Fariz hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan dia kembali melihat sekeliling rumah yang akan ditinggalinya entah sampai kapan itu.


Terdengar suara nyaring Aaric yang tertawa dari arah ruang keluarga itu dan terdengar juga suara nenek dan kakeknya yang sedang mengobrol.


Nevan dan Alisha berjalan mendekati ruang keluarga. saat sampai di sana Aaric yang sedang menonton film cartoon kesukaannya melihat kedatangan mereka dan langsung memanggil mereka dengan antusias.


"Mama, Papa!" kata Aaric dengan sedikit berteriak dan bejalan menuju ke Mama dan Papanya.


"Pa, gendong," kata Aaric mengangkat tangannya ke atas meminta agar digendong oleh Nevan.


"Papa sama Mama darimana saja? pergi gak ajak Aaric dan pulangnya malam seperti ini," kata Aaric saat di gendongan Nevan dia melingkarkan tangannya di dada menatap Nevan dengan cemberut.


"Maaf ya Papa dan Mama tadi ada urusan jadi kita gak ajak Aaric, Aaric juga pergi tadi sama Nenek dan Kakek gak ajak-ajak Papa," kata Nevan berbicara sambil berjalan menuju sofa dan mendudukkan dirinya di sofa.


Saat Nevan dan Aaric sedang berbicara Alisha membawa Fariz untuk duduk di sofa yang tidak jauh dari Nevan dan Aaric.


Ratih dan Harry menatap Alisha dan Nevan dengan bingung karena melihat Fariz yang mereka bawa itu.


"Siapa anak ini Lis? kenapa dia ikut bersama kalian ke sini?" tanya Ratih pada Alisha.


Mendengar pertanyaan Ratih Nevan dan Aaric yang sedang serius dengan pembicaraan mereka pun mengalihkan perhatiannya kepada Alisha dan Ratih.


Aaric juga menatap Fariz dengan heran anak itu bahkan memiringkan kepalanya dan terus memperhatikan Fariz sehingga membuat Fariz terlihat canggung dan menundukkan kepalanya.


"Dia anaknya Mbak Mesha Ma," jawab Alisha tersenyum kepada mertuanya itu.


"Apa anaknya Mesha? kenapa dia bisa ada bersama kalian dan kenapa kalian berhubungan lagi dengan wanita itu," kata Ratih menatap anak dan menantunya secara bergantian.


"Mesha sudah meninggal Ma. dan kami berencana mengurus Fariz karena tidak ada yang merawatnya lagi," jelas Nevan kepada Ratih.


"Kemana ayahnya dan juga nenek, kakeknya? kenapa kalian yang harus merawatnya?" tanya Ratih kepada Nevan.


Nevan tidak langsung menjawabnya karena di sana ada Aaric dan Fariz dia meminta Alisha untuk membawa Fariz dan Aaric terlebih dahulu untuk pergi dari sana.


Alisha mengangguk dan meminta Aaric untuk pergi dari sana ke kamarnya untuk mandi terlebih dahulu.


"Aaric kita ke kamar kamu dulu yuk, kamu pasti belum mandi 'kan kita mandi dulu sebelum makan malam?" kata Alisha kepada Aaric. dia kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Aaric dan tangan yang satunya menggandeng Fariz.

__ADS_1


"Iya Ma," jawab Aaric menganggukkan kepalanya dan turun dari pangkuan Papanya dan menerima uluran tangan Alisha.


Setelah itu Alisha pergi bersama dengan Aaric dan Fariz menuju ke kamar Fariz meninggalkan Nevan dan mertuanya yang akan berbicara.


Alisha membawa Aaric dan Fariz memasuki kamar untuk memandikan mereka tapi saat Alisha mengajak Fariz dia malah menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau mandi sendiri?" tanya Alisha kepada Fariz yang langsung dijawab anggukkan kepala oleh Fariz.


"Kamu bisa memang mandi sendiri?" tanya Alisha kurang yakin. Tapi Fariz menjawabnya dengan anggukkan kepala lagi.


Akhirnya Alisha pun pasrah, dia tidak memaksa Fariz untuk memandikannya karena dia tidak mau membuat Fariz malah tidak nyaman di hari pertamanya berada di sana.


"Baiklah kalau gitu kamu mandi duluan ya biar Tante siapkan dulu peralatan mandinya." Alisha berjalan memasuki kamar mandi dan menurunkan sabun dan peralatan mandi lainnya agar Fariz tidak kesusahan.


Aaric yang dari tadi sangat penasaran dengan anak yang seumuran dengannya itu pun mulai membuka suaranya untuk berkenalan dengan Fariz.


"Hey, nama kamu siapa?" tanya Aaric kepada Fariz.


Fariz hanya diam menatapnya tanpa menjawab pertanyaannya hingga membuat Aaric yang terbiasa mendapat jawaban dari lawan bicaranya, kembali berbicara agar mendapatkan jawaban.


"Hey bicaralah aku janji tidak akan jahat, kamu kenapa ikut mama dan papa aku ke sini?" tanya Aaric lagi.


"Kamu tidak bisa bicara ya? atau kamu tidak mau bicara dengan Aaric? padahal 'kan Aaric anak yang baik loh, Aaric gak bakal jahat asal kamu sendiri jangan jahat dan nakal." Aaric terus berbicara sedangkan Fariz hanya diam tidak menanggapinya.


Alisha keluar dari kamar mandi dia tersenyum saat melihat Aaric yang sedang berusaha mendekati Fariz.


"Baiklah Tante siapkan bajunya di kasur ya, sekarang mandilah semuanya sudah Tante siapkan," kata Alisha dijawab anggukkan kepala lagi oleh Fariz dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.


Saat melihat Fariz masuk ke kamar mandi. Aaric menarik tangan Alisha yang sedang mengambil baju Aaric untuk Fariz pakai, karena mereka seumuran dan badan mereka juga sama, jadi Alisha memakaikan baju Aaric untuk Fariz karena baju Fariz masih di apartemen belum diambil.


"Apa Ric?" tanya Alisha kepada Aaric tanpa melihat ke arah anaknya itu. Dia sibuk menyiapkan baju untuk Fariz dan untuk Aaric.


"Ma dia siapa sih? kenapa Aaric ngajak dia bicara tapi dia tidak menjawabnya apa dia tidak suka sama Aaric?" tanya Aaric menatap Alisha dengan mata bulatnya.


Mendengar perkataan Aaric, dia tersenyum dan menyimpan baju yang sudah didapatkannya ke kasur. dia kemudian membawa anaknya untuk duduk di ranjang.


"Aaric, apa Aaric bisa berteman dengannya? berbagi kamar dengannya dan berbagi mainan dengannya?" tanya Alisha menatap Aaric dengan serius.


"Aaric mau kok berteman dengannya," jawab Aaric dengan menganggukkan kepalanya.


"Kalau berbagi kamar dan mainan mau gak?" tanya Alisha dijawab anggukkan lagi oleh Aaric.


"Tapi Ma, bagaimana caranya Aaric membagi kamarnya? Aaric 'kan tidak bisa membelah kamar ini jadi dua," kata Aaric dengan polos hingga membuat Alisha terkekeh.


"Bukan berbagi seperti itu maksudnya. Tapi, kamu dan Fariz akan tidur bersama di kamar ini," jelas Alisha, Aaric mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kita tidur di sini bareng-bareng Ma?" tanya Aaric menepuk kasurnya.


"Iya, nanti kamu dan Fariz tidur di sini bareng-bareng," jawab Alisha.


"Namanya Fariz Ma?" tanya Aaric dijawab anggukkan kepala oleh Alisha.


"Kenapa dia tidak menjawab perkataan Aaric Ma, apa dia tidak menyukai Aaric?" tanya Aaric memasang wajah cemberutnya.


"Dia bukan tidak menyukai Aaric tapi saat ini dia sedang sakit jadi dia tidak bisa bicara dan menjawab perkataan Aaric," jelas Alisha.


"Sakit apa Ma?" tanya Aaric ingin tahu.


"Sakit yang sulit untuk dijelaskan. Yang jelas Aaric mau 'kan membantunya untuk sembuh?" tanya Alisha kepada Aaric.


"Aaric 'kan bukan Dokter Ma," jawab Aaric polos.


"Kamu memang bukan Dokter tapi kamu adalah jagoan mama dan papa jadi kamu pasti bisa membantu Fariz untuk sembuh," kata Alisha.


"Baiklah Aaric akan membantunya sembuh Aaric 'kan hebat iya 'kan Ma," kata Aaric dengan semangat hingga membuat Alisha gemas.


Alisha menganggukkan kepalanya dan tersenyum dia mengacak-acak rambut tebal anaknya yang sudah mulai panjang belum dipangkas lagi itu.


"Tapi apa yang harus Aaric lakukan Ma agar Fariz sembuh?" tanya Aaric.


"Kamu hanya perlu mengajaknya bermain dan mengajaknya berbicara agar dia bisa kembali berbicara lagi," kata Alisha.


Aaric menganggukkan kepalanya mengerti, setelah itu mereka melihat Fariz keluar dari kamar mandi dengan handuk yang sudah melingkar di badannya.


"Ini bajunya, Tante mau bantuin Aaric mandi dulu ya," kata Alisha menunjuk baju untuk Fariz yang terletak di kasur.


Fariz menganggukkan kepalanya lagi, Alisha dan Aaric pun masuk ke dalam mandi untuk memandikan Aaric. sedangkan Fariz mulai memakai bajunya sendiri dia memakai bajunya dengan benar, terlihat bahwa dia sudah biasa melakukan hal itu.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2