Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Mempertahankannya.


__ADS_3

Happy Reading...


Alisha mulai membuka matanya secara perlahan dia melihat sekeliling kamar yang terasa asing.


"Dimana ini?" tanyanya pada diri sendiri.


"Alish kamu sudah sadar, syukurlah," kata Dilla yang baru keluar dari kamar mandi yang ada di kamar itu.


"Ini dimana Dil?" tanya Alisha kepada Dilla dia berusaha duduk dan Dilla segera membantunya.


"Ini masih di rumah Fino, semalam kamu pingsan dan membuat kami panik, aku sama Angga sampai gak jadi pulang karena kamu tidak sadar juga semalaman," kata Dilla duduk dipinggir ranjang.


"Pingsan," kata Alisha menatap Dilla.


"Iya semalam kamu pingsan. apa ada yang kamu rasakan sebelum pingsan?" tanya Dilla.


"Semalam setelah makan malam aku hanya merasa kepalaku terasa berat aku kira itu hanya sakit kepala biasa saja, terus apa yang terjadi padaku sebenarnya?" tanya Alisha.


"Biar Mamanya Fino dan Kakaknya saja yang menjelaskannya," kata Dilla dia menatap Alisha dengan dalam seolah ada yang di sembunyikan olehnya.


"Baiklah kalau gitu aku mau ke kamar mandi dulu deh," kata Alisha turun dari ranjang.


"Apa kamu bisa sendiri? apa mau aku bantu saja?" tanya Dilla khawatir.


"Aku bisa sendiri kali Dil, aku baik-baik saja," kata Alisha terkekeh karena menganggap Dilla berlebihan.


"Awas hati-hati jangan sampai jatuh," kata Dilla saat Alisha berjalan menuju kamar mandi.


"Iya, kamu tenang saja," kata Alisha berjalan santai ke kamar mandinya.


"Kasihan kamu Lis, ada saja masalahnya," gumam Dilla.


Alisha mencuci mukanya dan setelah selesai dia keluar dari kamar mandi menemui Dilla yang yang masih menunggunya di ranjang.


Saat Alisha sampai didekat ranjangnya pintu kamar terbuka dan keluarga Bara datang dengan Angga juga.


"Syukurlah kamu sudah sadar Lis," kata Mamanya Fino tersenyum kepada Alisha.


"Iya Tante, maaf ya Tante, Om dan semuanya karena sudah merepotkan kalian dan membuat kalian khawatir dan mengganggu istirahat kalian," kata Alisha tidak enak hati karena merepotkan keluarga Bara.


"Tidak apa-apa, sekarang gimana keadaan kamu apa yang kamu rasakan?" tanya Mamanya Bara.


"Cuma sedikit pusing saja Tan," jawab Alisha.


"Baiklah sekarang kamu duduklah dulu karena ada yang ingin kita sampaikan," kata Bara serius.


"Apa Kak?" tanya Alisha menuruti perintah Bara dengan bingung.


Setelah Alisha duduk tidak ada yang membuka suaranya semua orang yang ada di sana hanya diam dengan tatapan yang membuat Alisha semakin bertanya-tanya.

__ADS_1


Karena tidak sabar menunggu Bara berbicara Alisha pun membuka suaranya dan bertanya apa yang akan katakan.


Bara menghela napas terlebih dahulu sebelum berbicara sehingga membuat Alisha jadi harap-harap cemas.


"Kamu hamil Lis," kata Bara singkat.


Mendengar hal itu tentu saja Alisha kaget bercampur senang.


"Maksud Kak Bara, aku sebentar lagi akan jadi seorang ibu Kak, ibu dari anaknya Mas Nevan," kata Alisha secara reflek memegang perutnya dengan wajah berbinar.


"Tapi...."


Bara ingin berbicara tapi dia tidak ingin menghilangkan binar dan senyum yang ada di wajah Alisha itu.


"Tapi apa Kak?" tanya Alisha mengerutkan keningnya karena Bara tidak melanjutkan perkataannya.


"Janin kamu tidak boleh di pertahankan karena akan membahayakan nyawamu juga janin itu."


Mendengar perkataan Bara, Alisha menatap Bara tak percaya.


"Tidak Kak, Alish dan anak Alish akan baik-baik saja," Alisha menggelengkan kepalanya dan memeluk perutnya.


"Kalau kamu tetap mempertahankan janin itu kesempatan untuk dia lahir sangat tipis dan bisa saja anak kamu lahir dengan tidak sempurna," Bara berusaha menjelaskan kondisinya kepada Alisha.


"Alish akan menerima apapun kondisi anak Alish nanti, selama dia sendiri bisa bertahan di sini Kak," kata Alisha memegang perutnya dan menatap semua orang yang ada di sana dengan tatapan menyedihkan.


Bagaimana tidak sedih baru saja dia merasa senang karena tahu dia hamil dan disaat bersamaan juga dia harus siap kehilangan anaknya yang bahkan belum berbentuk itu.


"Alish tidak perduli Kak, Alish akan mempertaruhkan nyawa Alish untuk tetap bertahan demi anak Alish, Kak, Kakak juga seorang Ibu 'kan apa Kakak akan bisa hidup dengan tenang saat Kakak hidup dengan baik-baik saja sedangkan anak Kakak yang bahkan belum sempat Kakak lihat sudah tidak ada, Alish gak mau hidup kalau Alish harus membunuh anak Alish sendiri Kak, kalau memang kita tidak bisa bertahan itu lebih baik Kak, Alish akan merasa lebih tenang kalau Alish dan anak tidak bisa selamat karena setidaknya Alish sudah mencoba berjuang untuknya."


Semua yang ada di sana tidak mencela perkataan Alisha, mereka ikut merasa sedih melihat Alisha seperti itu.


"Alish mohon Kak biarkan Alish mempertahankan anak Alish setidaknya sampai kita benar-benar menyerah bersama," kata Alisha menjatuhkan tubuhnya ke lantai dia menangis, meraung kepada Bara.


Semua orang yang ada di sana ikut menangis, Irene, Mertua perempuannya dan Dilla beberapa kali mengusap pipinya.


Sedangkan Bara, Fino dan Angga mengusap sudut mata mereka juga, sambil mengalihkan pandangannya dari Alisha mereka tidak tega melihat Alisha seperti itu.


"Alish bangunlah jangan seperti itu Nak, " kata Papanya Bara.


"Tidak Om, Alish tidak mau bangun sebelum Kak Bara mendukung Alish untuk mempertahankan anak Alish," kata Alisha tidak mau berdiri meskipun Irene sudah berusaha membuatnya berdiri.


"Alish ini semua demi kebaikanmu dan anakmu juga karena anakmu belum tentu bisa bertahan meski kamu mempertahankannya," bujuk Bara sekali lagi.


"Meskipun anakku tidak bertahan setidaknya dia menyerah dengan sendirinya Kak, bukan karena Alish yang melenyapkannya Alish mohon Kak, biarkan Alish berusaha mempertahankan anak Alish terlebih dahulu," kata Alisha mengatupkan kedua tangannya dan mendongak menatap Bara yang berdiri di depannya.


Bara melihat Mamanya dan terlihat Mamanya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kamu bisa mempertahankannya tapi ingat kalau nanti sampai terjadi sesuatu Kak Bara akan langsung mengambil tindakan meskipun tanpa persetujuan darimu sekalipun," kata Bara.

__ADS_1


"Iya Kak," kata Alisha menganggukkan kepalanya antusias.


"Sekarang berdirilah Nak," Mamanya Bara membantu Alisha berdiri.


"Mulai sekarang kamu harus selalu mengikuti apapun yang Tante dan Bara katakan, dan saran Tante sebaiknya kamu cuti dulu kuliahmu karena kamu harus benar-benar istirahat jangan melakukan hal apapun yang membuatmu capek dan stres kalau kamu memang ingin berjuang untuk mempertahankan kandunganmu," kata Mama Bara.


"Iya Tante Alisha akan melakukan apapun yang kalian katakan termasuk cuti dulu kuliah," kata Alisha dengan tersenyum senang.


"Semoga kamu dan anak kamu bisa melewati semua ini," kata Mama Bara mengusap kepala Alisha.


"Terima kasih Tante, terima kasih Kak," kata Alisha kepada Bara dan Mamanya.


"Ya jagalah dirimu baik-baik, Kakak dan Mama Kak Bara akan berusaha membantumu melewati masa ini," kata Bara.


"Terima kasih."


"Selamat atas kehamilannya ya Lis, kita juga akan membantu sebisa kita untuk membantumu melewati ini," kata Dilla memeluk Alisha.


"Terima kasih, maaf kalau nanti aku akan sering-sering merepotkan kalian semua," kata Alisha membalas pelukan Dilla sambil melihat Angga dan Fino.


"Asal jangan ngidam ingin lihat aku menjatuhkan diri dari atap gedung saja Lis, selain itu aku akan berusaha wujudin keinginanmu," kata Angga dengan nada bercanda untuk mencairkan suasana agar lebih santai tidak semelow tadi.


"Kalau kamu mau sesuatu dari kakak tinggal bilang saja ya Lis," kata Irene dijawab anggukkan kepala oleh Alisha.


"Apa kamu akan memberitahu tentang kehamilanmu ini pada suami kamu Lis?" pertanyaan itu dilemparkan oleh Fino yang tiba-tiba saja membuat suasana yang sudah mulai mencair kembali kaku.


"Alish akan memberitahu Mas Nevan karena dia ayah dari anak yang aku kandung dan dia juga berhak tau, mau dia menerimanya atau tidak nantinya," jawab Alisha yakin.


"Kalau dia tidak mau menerima anak itu gimana?" tanya Fino lagi.


"Maka aku akan menjadi ayah sekaligus ibu untuknya," jawab Alisha tersenyum.


"Sudah kita membahas masalah itu nanti saja sekarang sebaiknya kita sarapan dulu sekarang sudah hampir tengah hari," kata Papanya Bara memotong pembicaraan antara Fino dan Alisha.


Semua orang pun menganggukkan kepalanya dan menuju ke meja makan untuk sarapan bersama sebelum Alisha dan teman-temannya pulang ke rumah mereka masing-masing.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2