Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Membantu Mesha.


__ADS_3

Happy Reading...


Nevan telah sampai di rumahnya dia hanya disambut oleh Alisha karena Aaric sudah pasti sudah tidur karena sekarang sudah jam sepuluh malam.


"Mas, kamu mandi dulu lah dulu pakai air hangat biar gak masuk angin, aku siapin dulu makan malam ya," kata Alisha.


"Iya terima kasih ya," kata Nevan tersenyum kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya untuk mandi terlebih dahulu.


Alisha menghangatkan makanan yang sudah dingin karena dia memasak makanannya dari magrib jadi sekarang sudah dingin lagi.


Beberapa saat kemudian Nevan keluar dari kamarnya dan langsung menuju ke dapur untuk makan malam karena sudah merasa sangat lapar.


"Mas makanlah dulu makanannya sudah Alish hangatkan," kata Alisha saat melihat Nevan memasuki dapur.


"Iya terima kasih ya, kamu pasti belum makan juga 'kan," kata Nevan.


"Iya Mas, Alish nungguin Mas mau barengan sama Mas makannya," jawab Alisha mendudukkan dirinya di kursi.


Alisha menyiapkan makanan ke piring Nevan terlebih dahulu setelah itu baru dirinya mengambil makanan untuknya.


"Kenapa telat banget Mas sampainya?" tanya Alisha membuka percakapan di tengah-tengah makannya.


"Iya tadi Mas membantu Mesha saat bertemu dia di jalan," kata Nevan dengan memakan makanannya.


Alisha yang sedang menyuapkan makanannya ke mulutnya berhenti sejenak saat mendengar perkataan Nevan.


"Mbak Mesha?" Alisha menatap Nevan dengan seksama.


"Iya tadi Mas lihat dia sedang hujan-hujanan sambil membawa anaknya yang sedang sakit karena kasihan melihat anaknya sudah pucat dan tidak sadarkan diri akhirnya Mas bantu anterin dia ke rumah sakit," jelas Nevan santai dia tidak menyadari perubahan di wajah Alisha karena terlalu fokus pada makanannya.


"Apa Mas tidak bisa membantunya mencarikan taksi saja," kata Alisha dengan suara yang dia buat sebiasa mungkin.


"Kalau Mas nungguin dia mendapatkan taksi pasti akan memakan waktu lagi, sementara anaknya sudah sangat pucat," kata Nevan.


"Oh gitu ya," kata Alisha singkat dan berusaha mengenyahkan perasaan tidak nyaman di hatinya saat mendengar suaminya seperti perhatian kepada Mesha.


"Mungkin hanya perasaanku saja Mas Nevan pasti membantu Mbak Mesha karena membantu sebagai sesama manusia," kata Alisha dalam hatinya.


"Kenapa melamun?" tanya Nevan yang sudah selesai makan.


"Tidak apa-apa Mas, tiba-tiba saja Alish merasa kenyang," kata Alisha tersenyum kepada Nevan.


"Tapi makanan kamu belum habis," kata Nevan menunjuk piring Alisha yang masih terisi banyak makanan.


"Alish sudah kenyang Alish mau beresin ini dulu ya," kata Alisha berdiri dari kursinya dan membereskannya meja makan.


"Mas mau ke kamar dulu ya mau istirahat, capek banget," pamit Nevan.


"Iya Mas, Mas istirahatlah," jawab Alisha sambil berjalan membawa piring kotor bekas mereka makan ke wastafel.


Alisha mencuci piring-piring kotor itu terlebih dahulu setelah itu dia baru ke kamar menyusul Nevan.


Saat memasuki kamarnya dia melihat suaminya sudah terlelap di ranjang mereka, Alisha ikut menidurkan dirinya di samping Nevan dia membenarkan selimut di tubuh suaminya dan tubuhnya.

__ADS_1


Alisha memiringkan tubuhnya agar menghadap pada Nevan, dia memperhatikan wajah tenang Nevan itu.


"Entah kenapa Alish merasa tidak nyaman saat Mas mengatakan tentang Mbak Mesha lagi apa ini yang dinamakan cemburu Mas," gumam Alisha menatap wajah Nevan.


Beberapa saat kemudian Alisha tertidur dengan posisi yang masih menghadap ke arah Nevan.


...****************...


Pagi harinya...


Alisha bangun karena merasa di sisinya terasa dingin dan saat membuka matanya di sampingnya sudah kosong.


Kemudian Alisha mendengar suara anaknya yang tengah tertawa dengan keras Alisha turun dari ranjang dan langsung ke kamar mandi. Sedangkan di ruang keluarga Aaric dan Nevan sedang bercanda hingga beberapa kali Aaric tertawa karena digoda oleh Nevan.


Saat masih subuh Aaric sudah membangunkan Nevan karena dia rindu dengan papanya setelah beberapa hari tidak bertemu.


"Pa kenapa semalam Papa pulangnya lama, Aaric jadi ketiduran karena nungguin Papanya kelamaan," kata Aaric cemberut mengembungkan pipinya


"Maaf ya semalam Papa menolong seseorang dulu untuk pergi ke rumah sakit," kata Nevan.


"Siapa, Pa dan kenapa dia dibawa ke rumah sakit, apa dia sedang sakit?" tanya Aaric yang serba ingin tahu.


"Iya dia sakit makanya Papa mengantarkan dia dan Mamanya ke rumah sakit. dia usianya hanya beda sedikit denganmu," jelas Nevan.


"Oh ya, dia sakit apa Pa?" tanya Aaric.


"Papa juga tidak tau dia sakit apa karena semalam Papa pulang sebelum dia selesai diperiksa oleh dokter," jelas Nevan.


Aaric hanya menganggukkan kepalanya dan tidak bertanya lagi dia kembali memainkan mainan yang diberikan oleh Nevan sebagai oleh-oleh dari luar kota.


"Halo,"


"Halo maaf apa ini dengan Tuan Nevan kerabatnya Nyonya Mesha," kata seorang wanita yang menelponnya yang Nevan perkirakan itu adalah suster rumah sakit tempat Fariz dirawat.


"Iya saya sendiri ada apa ya," kata Nevan.


bisakah anda ke rumah sakit tuan saat ini nyonya Mesha tidak sadarkan diri, kata suster itu.


"Baiklah saya akan segera ke sana," jawab Nevan setelah itu dia mematikan telponnya.


"Siapa Mas?" tanya Alisha yqng sudah berada di samping Nevan.


"Suster dari rumah sakit tempat anaknya Mesha dirawat, dia mengabarkan jika Mesha tidak sadarkan diri dan meminta Mas untuk ke sana," kata Nevan.


"Terus apa Mas akan ke sana?" tanya Alisha.


"Iya bolehkan? Mas cuma melihatnya sebentar," kata Nevan.


Alisha tidak menjawabnya bagaimana mungkin dia bisa mengijinkan suaminya untuk menemui mantan pacarnya itu tapi Alisha juga tidak berani melarang Nevan secara terang-terangan.


"Mas hanya sebentar," kata Nevan lagi.


"Tapi Mas belum sarapan, ini juga masih terlalu pagi," kata Alisha berusaha menahan Nevan agar tidak pergi.

__ADS_1


"Mas bisa sarapan nanti, sepertinya terjadi sesuatu yang serius dengan Mesha dan anaknya," kata Nevan.


"Ya udah terserah Mas saja," kata Alisha pengalihan perhatiannya kepada anaknya.


"Mas mau ganti bqju dulu," kata Nevan pergi begitu saja meninggalkan Alisha dengan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.


Alisha berusaha mengalihkan perasaannya dengan bermain bersama anaknya.


"Papa mau kemana?" tanya Aaric saat melihat Nevan sudah rapi dan membawa kunci mobilnya.


"Papa akan pergi sebentar kamu tunggu dulu di rumah sama Mama oke," kata Nevan mengusap kepala Aaric.


"Oke Pa," jawab Aaric menganggukkan kepalanya.


"Mas pergi dulu ya," Nevan mencium kening Alisha sedangkan Alisha hanya menganggukkan kepalanya singkat berusaha tersenyum.


"Hati-hati," kata Alisha singkat dengan tersenyum kecut.


Nevan pergi dari sana sedangkan Alisha masih menatap Nevan yang semakin menghilang.


"Apa kamu benar-benar hanya ingin menolong Mbak Mesha atau kamu memang masih mempunyai perasaan kepada Mbak Mesha Mas," gumam Alisha dengan suara pelan.


"Mama kenapa nangis? sedih ya karena di tinggalkan Papa lagi, Mama jangan sedih Papa 'kan cuma pergi sebentar," kata Aaric membuat Alisha segera mengusap pipinya.


"Mama gak pa-pa kok," kata Alisha tersenyum kepada anaknya setelah itu dia mengajak anaknya untuk mandi.


Sementara itu Nevan baru sampai di rumah sakit dia menanyakan ruang perawatan Mesha kepada suster.


Saat sampai di sana Nevan bertemu dengan dokter yang baru saja memeriksa Mesha dan dokter meminta Nevan untuk ikut ke ruangannya karena ada yang mau dokter itu beritahukan kepada Nevan.


"Setelah memeriksa hasil lab nyonya Mesha sebelumnya, ternyata dia mengidap penyakit kanker darah yang terlambat diketahui dan terlambat ditangani sehingga sekarang kankernya sudah parah," jelas dokter.


"Kanker darah," kata kata Nevan bingung.


"Kanker darah merupakan kondisi ketika sel darah menjadi abnormal. Sebagian besar kasus kanker ini berawal di sumsum tulang, sebagai diproduksinya sel darah. Kanker darah sendiri terdiri dari tiga jenis, yaitu limfoma, multiple myeloma, leukemia dan kasus nyonya Mesha adalah jenis leukemia," jelas dokter.


"Sudah separah apa?" tanya Nevan.


"Menurut hasil sebelumnya sudah sampai di stadium empat," jawab Dokter.


"Apa masih ada harapan untuk sembuh Dok?" tanya Nevan.


"Sangat kecil, harapan untuk kesembuhannya meskipun melakukan operasi sekalipun," jawab Dokter itu dengan berat.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2