
Happy Reading...
Alisha berdiam diri di ambang pintu melihat Mae yang sudah ada di meja makan.
"Bu," kata Alisha di ambang pintu.
"Iya Non, Non juga bangun lagi ternyata" kata Mae melihat ke arah Alisha dan tersenyum kepada Alisha.
"Iya Bu seperti biasa Alish lapar," kata Alisha sambil berjalan dengan santai ke dapur mendekati Mae di meja makan.
"Mau Bu Mae buatkan sesuatu Non?" tanya Mae yang sudah berdiri.
"Tidak perlu Bu Alish hanya mau buah-buahan saja," jawab Alisha berjalan membuka kulkas dan mengambil buah-buahan.
Alisha duduk di meja makan dengan santai dia tidak tau kalau dia menginjak sesuatu di bawah sana.
"Bu kenapa ada dua gelas di sini?" tanya Alisha saat melihat ada dua gelas di meja makan itu.
"Eum- itu- eum tadi Ibu lupa kirain belum bawa gelas dari dapur eh ternyata udah, Ibu kembalikan dulu ya gelasnya," kata Mae dengan gelagapan dan akan mengambil gelas itu.
"Tidak perlu Bu biar buat minum Alish saja," kata Alisha mengambil gelas itu dan mengisinya dengan air kemudian dia minum dari gelas yang sama dengan Nevan.
Alisha mengambil buah apel dan buah naga setelah itu Alisha mengupas buahnya dengan santai dan memotongnya kecil-kecil agar di mudah untuk memakannya.
Sementara itu Nevan di bawah meja sedang menahan napasnya karena jari-jari tangannya terinjak oleh Alisha yang sedang memakai sendal rumah.
Tadi saat sedang berbicara dengan Mae, Nevan yang saat itu posisinya menghadap ke pintu masuk dapur melihat bayangan yang mendekat ke arah dapur dan dia yakini pasti itu Alisha hingga akhirnya dia masuk ke kolong meja karena tidak mau ketahuan oleh Alisha karena kalau sampai ketahuan dia pasti akan semakin sulit untuk datang ke rumah itu seperti sekarang.
Alisha masih betah dengan posisinya tidak bergerak sama sekali sehingga membuat Nevan merasakan jari-jarinya seakan mati rasa.
"Bu bisa tolong buatkan susu tidak," kata Alisha kepada Mae.
"Iya Non," jawab Mae kemudian dia membuatkan susu untuk Alisha.
Alisha bangun dari duduknya secara otomatis kakinya semakin kencang menginjak tangannya Nevan.
"Apa Alish sengaja melakukannya? apa dia tau aku di sini kenapa dia terus menginjakku," gumam Nevan dalam hatinya.
Nevan tidak berani menggerakkan tangannya karena takut Alisha menyadari kehadirannya.
Alisha berdiri untuk mengambil air lagi setelah itu dia duduk lagi dan kali ini dia mengangkat kakinya yang menginjak tangan Nevan hingga tangan Nevan bebas dan itu membuat Nevan bernapas lega.
__ADS_1
"Ini Non," kata Mae menyimpan gelas yang berisi susu itu di depan Alisha.
Mae melirik sedikit ke kolong meja dimana Nevan telah bersembunyi di kolong meja sambil meniup keempat jari tangannya yang terinjak Alisha lumayan lama.
"Makasih Bu," kata Alisha dengan tersenyum kepada Mae.
"Iya sama-sama Non," jawab Mae dengan menganggukkan kepalanya.
"Bu Mae sudah lama bangunnya?" tanya Alisha.
"Belum terlalu lama juga Non," jawab Mae.
"Oh," kata Alisha singkat.
Alisha memakan buah-buahan itu dengan lahap, hal seperti itu sudah menjadi kebiasaannya setiap tengah malam selalu terbangun karena merasa lapar.
Nevan sudah merasa pegal berada di bawah meja dia bertanya-tanya dalam hati kenapa Alisha lama sekali makan buahnya dia ingin segera keluar dari sana dan pulang ke apartemennya.
"Non Alish belum ngantuk lagi?" tanya Mae yang sesekali melirik Nevan di kolong meja.
"Belum Bu, bentar lagi mau ngabisin dulu buah-buahan dan susunya kalau Bu Mae sudah ngantuk Ibu tidur lagi saja Bu, Alish gak pa-pa kok sendirian," kata Alisha sambil menyuapkan buahnya ke dalam mulutnya.
"Tidak Non Ibu juga belum ngantuk," jawab Mae.
Karena merasa perutnya sudah kenyang lagi Alisha pun memutuskan untuk kembali tidur.
"Sekarang kita kembali istirahat ya," kata Alisha berbicara sambil mengusap perutnya.
Alisha berdiri dari kursi sambil menguap dan menutup mulutnya oleh tangannya.
"Bu Alish tidur duluan ya," pamit Alisha kepada Mae.
"Iya Nona," jawab Mae menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Alisha.
Alisha berjalan dari sana keluar dari dapur dan menaiki tangga menuju ke kamarnya dan kembali tidur dengan tenang.
Sementara itu Nevan keluar dari tempat persembunyiannya dan bernapas lega karena Alisha tidak sampai memergokinya.
"Untunglah Alish tidak melihatku Bu," kata Nevan berdiri.
"Iya Tuan untung saja tadi Anda menyadari kehadiran Non Alish dan Anda cepat-cepat sembunyi," kata Mae.
__ADS_1
"Kalau gitu saya pulang dulu ya Bu," pamit Nevan kepada Mae.
"Iya Tuan tapi itu tangan Anda merah seperti itu apa mau di obati dulu?" tanya Mae yang melihat tangan Nevan sangat merah.
"Tidak perlu Bu, ini tidak apa-apa kok, Saya pulang dulu ya Bu takut Alish kembali bangun lagi," kata Nevan mulai melangkahkan kakinya keluar dari dapur.
"Iya hati-hati di jalannya Tuan," kata Mae.
"Iya Bu kalau ada apa-apa dengan Alish langsung hubungi Saya ya," kata Nevan di jawab anggukkan oleh Mae.
Mae mengikuti Nevan keluar untuk kembali mengunci pintu rumahnya.
Sementara Rudi masih menunggu di posnya, setelah Nevan keluar menuju mobilnya Rudi kembali mengunci gerbangnya.
Nevan masuk ke dalam mobilnya dia melihat tangannya yang merah dan terasa perih itu kemudian mulai menjalankan mobilnya untuk kembali ke apartemennya.
Saat sampai di Apartemennya Nevan langsung merebahkan tubuhnya di ranjangnya untuk terlelap karena sudah melihat Alisha dan calon anaknya sekarang dia bisa tidur dengan nyenyak.
"Bagaimana kalau Alisha tetap seperti ini dia tetap tidak mau menerimaku lagi dan bagaimana kalau ternyata Alisha sudah memiliki perasaan kepada pria lain apa aku harus merelakannya?" gumam Nevan sambil melihat langit-langit kamarnya.
Nevan melihat secara langsung bagaimana Dokter pribadi Alisha dan teman Alisha begitu memperhatikan Alisha sehingga dia masih beranggapan kalau mereka memiliki perasaan terhadap Alisha.
Padahal sebenarnya Bara sudah memiliki istri dan memiliki anak dan Bara begitu memperhatikan Alisha karena kondisi Alisha yang tidak sepenuhnya baik-baik saja sedangkan Nevan tidak tahu akan hal itu.
Dan meskipun Fino memang memiliki perasaan terhadap Alisha tapi dia sadar dia tidak mungkin bisa menggapainya karena Alisha sangat mencintai Nevan terbukti dengan Alisha yang rela mempertahankan anaknya itu meski nyawanya jadi taruhannya.
Nevan menghela napas dia selalu berharap Alisha mau kembali padanya, entah apa yang akan terjadi pada Nevan saat tahu semuanya tentang Alisha yang masih punya kesempatan untuk hidup hanya jika ada pendonor ginjal untuk Alisha nanti.
Tapi jika sampai waktunya nanti tidak ada juga pendonor untuk Alisha secara otomatis nyawa Alisha tidak akan mungkin bisa bertahan lebih lama lagi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading...