Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Kehadiran Mesha.


__ADS_3

Happy Reading...


Lima tahun kemudian....


Nevan sedang serius dengan pekerjaannya saat sekertarisnya mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangannya itu.


"Tuan ada yang ingin bertemu dengan Anda," kata sekertaris.


"Siapa?" tanya Nevan masih fokus dengan pekerjaannya.


Sekertaris Nevan tidak langsung bicara dia seperti ragu untuk mengatakannya.


"Kenapa kamu diam, suruhlah orang yang mau bertemu denganku untuk masuk ke sini," kata Nevan dengan perhatiannya masih ke berkas-berkasnya.


"Tapi Tuan, orang yang mau bertemu dengan Anda adalah...."


"Aku," seseorang memotong perkataan sekertaris Nevan.


Wanita yang tidak lain adalah Mesha memasuki ruangan itu tanpa di persilahkan untuk masuk terlebih dahulu. Mesha datang ke sana tidak sendirian dia datang dengan menggandeng seorang anak laki-laki yang umurnya tidak terlalu jauh dengan Aaric.


"Kamu! apa yang kamu lakukan di sini pergilah aku tidak ada waktu untuk berbicara denganmu," usir Nevan dingin hanya melihat sekilas kepada Mesha dan anaknya.


"Aku mau berbicara masalah penting denganmu aku mohon Nevan, beri aku waktu untuk berbicara," kata Mesha melihat Nevan dengan tatapan memohon.


"Aku tidak mau berbicara denganmu pergilah sebelum aku memanggil security untuk menyeretmu dari sini," ancam Nevan.


"Bisakah kamu membawa anakku ke luar sebentar aku ingin berbicara dengan Nevan sebentar," Mesha tidak mendengarkan ancaman Nevan itu.


Mesha malah meminta sekertaris Nevan untuk membawa anaknya pergi dari ruangan itu karena dia ingin berbicara serius dengan Nevan.


Sekertaris Nevan tidak bergerak karena Nevan belum memerintahkannya.


"Aku mohon Nevan, biarkan aku berbicara sebentar saja," kata Mesha memohon lagi.


Akhirnya Nevan pun menyetujui untuk berbicara dengan Mesha dia memberikan isyarat kepada sekertarisnya untuk membawa anak Mesha pergi dari sana.


Anak Mesha menggelengkan kepalanya cepat dan menggenggam tangan Mesha dengan erat saat sekertaris Nevan akan membawanya.


Mesha tersenyum kepada anaknya itu dia mengusap rambut anaknya dengan lembut.


"Mama mau bicara sebentar dengan om itu Fariz tunggu di luar sebentar ya, nanti mama akan membelikan ice cream untuk Fariz," bujuk Mesha kepada anaknya.


Anak Mesha hanya menganggukkan kepalanya dia tidak bersuara sama sekali dan mengikuti sekertaris Nevan keluar dari ruangan itu.


"Apa yang mau kamu bicarakan. cepatlah aku mau pulang ini sudah waktunya untuk pulang istri dan anakku sudah menungguku," kata Nevan dengan memasang wajah dinginnya.


"Kamu sudah punya anak juga," kata Mesha tersenyum.


"Cepatlah aku tidak punya banyak waktu," kata Nevan datar.


"Aku mohon bantu aku," kata Mesha terus terang.


"Bantu apa?" tanya Nevan.


"Bantu aku untuk bersembunyi dari Bima," kata Mesha menatap Nevan.

__ADS_1


"Aku tidak mau, aku tidak mau dianggap ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian, sebaiknya kamu pergilah dan minta bantuan kepada orang lain saja," jawab Nevan datar tanpa melihat Mesha.


Mendengar penolakan dari Nevan, Mesha langsung menjatuhkan dirinya ke lantai di bersimpuh di depan meja kerja Nevan.


"Apa yang kamu lakukan," kata Nevan dengan suara lumayan keras.


"Aku mohon bantu aku Nevan, aku tidak punya siapapun lagi untuk dimintain pertolongan, orang tuaku tidak mempercayai perkataanku mereka lebih mempercayai perkataan Bima," kata Mesha dengan berderai air mata.


"Bima semakin lama semakin menjadi, dia selalu meyiksaku, aku tidak tau sebenarnya apa yang terjadi padanya sehingga dia berubah seperti itu," Mesha duduk di lantai dan menutupi wajahnya dengan tangannya.


"Kalau seandainya hanya aku yang dia siksa mungkin aku akan menerimanya. tapi dia juga menyiksa Fariz anaknya sendiri, dia seolah tidak punya hati melampiaskan kemarahan kepada anak yang tidak tau apa-apa itu."


"Bantu aku Nevan bantu aku untuk bersembunyi beberapa saat dari Bima aku tidak punya siapapun yang bisa aku mintai pertolongan, aku tidak tau harus kemana aku tidak punya tempat tujuan," Mesha menatap Nevan dengan wajah kusutnya dan air mata yang terus mengalir.


"Aku juga tidak punya uang semua uangku di tahan oleh Bima aku mohon tolong aku Nevan tolong anakku, kamu lihat bahkan sekarang anakku tidak bisa berbicara karena selalu mendapatkan dan melihat perlakuan tidak baik dari sosok ayahnya,"


Nevan tidak berbicara dia hanya membiarkan Mesha terus berbicara, jujur dia merasa iba melihat keadaan Mesha sekarang tapi dia ragu apa yang Mesha katakan itu benar arau tidak.


Sementara itu di luar ruangan itu sekertaris Nevan berusaha mengajak Fariz anaknya Mesha untuk berbicara tapi anak itu masih duduk diam di kursi sekertaris Nevan dengan pandangannya lurus ke pintu ruangan Nevan.


"Nama kamu Fariz ya?" tanya sekertaris.


"Kamu tenang saja Mama kamu cuma sebentar saja berbicara dengan om itu-nya," kata sekertaris itu tapi masih tidak ditanggapi oleh Fariz.


"Ini anak cakep-cakep bisu ya barusan di depan mamanya juga dia hanya menggelengkan kepalanya tidak berbicara sama sekali atau nangis," gumam sekertaris Nevan dengan suara yang sangat pelan agar tidak kedengaran oleh Fariz.


Sekertaris Nevan terus melihat Fariz yang masih memasang wajah datarnya.


Beberapa saat kemudian Mesha keluar dari ruangan Nevan, dia tersenyum kepada anaknya, Fariz membalas senyuman Mesha dan menurunkan dirinya dari kursi sekertaris Nevan.


Fariz hanya menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan Mesha lagi dengan erat.


"Anak Mama memang baik, kita pergi sekarang ya," kata Mesha mengusap rambut anaknya dengan sayang.


Fariz masih tidak mengeluarkan suara dia hanya menganggukkan kepalanya.


"Makasih ya sudah jagain anakku," kata Mesha kepada Sekertaris Nevan.


"Iya sama-sama Non Mesha," jawab Sekertaris Nevan tersenyum ramah.


"Aku permisi ya," kata Mesha.


"Iya silakan Non Mesha," jawab Sekertaris Nevan.


Setelah itu Mesha dan Fariz pergi dari sana, tak selang berapa lama Nevan keluar dari ruangannya untuk pulang karena hari sudah sore.


"Tuan apa Anda akan pulang sekarang?" tanya sekertarisnya kepada Nevan.


"Iya. jika pekerjaanmu sudah selesai segeralah pulang," kata Nevan kepada sekertarisnya itu.


"Baik Tuan," jawab Sekertarisnya membungkukkan sedikit badannya.


Setelah itu Nevan pergi dari sana memasuki lift untuk membawanya ke lantai bawah, sekarang bisnis Nevan semakin maju dan dia bersyukur dengan semua itu.


Nevan sampai di lobby kantornya dia melihat Mesha baru saja menaiki mobil bersama putranya.

__ADS_1


"Apa keputusanku ini sudah tepat?" tanya Nevan pada dirinya sendiri.


Nevan tidak mau terlalu memikirkan masalah Mesha. dia segera menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumahnya.


Nevan turun dari mobilnya saat mobilnya sudah sampai di depan rumahnya, rumah almarhum orang tua Alisha karena Alisha tidak mau meninggalkan rumah itu akhirnya Nevan pun menuruti keinginan Alisha untuk tetap tinggal di sana.


Saat kakinya memasuki rumah itu terlihat anaknya sedang berlari ke arahnya. "Papa," teriaknya dengan suara nyaring.


"Aaric Papa sudah sering bilang jangan berlari seperti itu bahaya, nanti kamu jatuh," kata Nevan pada anaknya yang sedang berlari itu.


"Pa, gendong Pa, sebelum Mama berhasil tangkap Aaric," katanya dengan mengangkat kedua tangannya meminta di gendong.


"Sudah besar masih saja mau di gendong," jawab Nevan menyimpan tas kerjanya ke sofa dan mengangkat tubuh anaknya.


"Aaric takut ketangkep Mama Pa," kata Aaric dengan menyembunyikan wajahnya di leher Nevan dan melingkarkan tangannya.


"Memang kalian sedang apa kenapa kamu takut mama kamu tangkap kamu?" tanya Nevan mendudukkan dirinya di sofa.


Aaric tidak langsung menjawabnya dia hanya melihat Nevan dengan serius.


"Kenapa, apa kamu berbuat salah sampai menatap Papa seperti itu?" Nevan menatap anaknya dengan serius.


"Aaric mau cerita tapi Papa janji jangan marah," kata Aaric dengan serius dan malah terlihat lucu sehingga membuat Nevan gemas melihatnya.


"Kenapa?" tanya Nevan serius.


"Janji dulu Pa," kata Aaric memaksa.


"Baiklah Papa janji," kata Nevan.


"Aaric bosen makan sayur terus Pa, akhirnya Aaric selalu membuang sayuran ke pot bunga saat makan dan tadi Aaric ketauan Mama," jawab Aaric menundukkan kepalanya takut Nevan memarahinya seperti Mamanya.


"Apa Mama marah sama kamu?" tanya Nevan.


"Iya, tapi Papa jangan marah juga, Papa 'kan udah janji gak marah," kata Aaric menatap Nevan dengan mata bulatnya.


Bagaimana Nevan bisa marah jika anaknya sudah menatapnya dengan tatapan seperti itu.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Maaf jika ada yang typo ya pembaca semuanya.

__ADS_1


__ADS_2